Hikayat Zulaikha-Yusuf
“Muda belia, gagah, dan tampan tiada duanya. Vaness Wu dan Ade Rai pun bukan bandingannya. …” Pariwara persuasif ini berkibar-kibar di atas gapura alun-alun. Dipajang di situ oleh Rahwana, sang pedagang budak.
Syahdan, tersedotlah tokoh-tokoh dunia komik ke tengah alun-alun. Paman Gober datang menawar. Yusuf, si budak ganteng, hendak dibarter dengan selembar kain kafan. “Pernah berusaha memiliki Mr. Universe merupakan kehormatan besar bagiku,” pikirnya.
“Satu juta Yen!” teriak Sin-chan di atas panggung sambil goyang ngebor, ngecor, ngekor. Tetapi pelelangan belum usai.
“Kutukar Yusuf dengan chip mikro-prosesor tercanggih seberat bobot dia!” sembur Richie Rich.
“Tidak!” tukas si cantik Zulaikha, istri Aziz. Yusuf adalah segalanya bagiku, batin wanita ini. “Kubayar dengan kilang-kilang minyak Sumatera, hutan-hutan kayu Kalimantan, dan gunung-gunung emas Papua,” ujarnya.
Kali ini, tawaran tak tertandingi. Maka, Yusuf diboyong ke istananya yang megah. Mirip aquarium.
Di aquarium sekokoh piramid itu, si Kucing Jelita membuka mata. Ia pun memasang umpan pada mata kail, pancing, jaring, pukat, dan segala macam jerat.
Namun, si Ikan Rupawan mengenali mana vaksin, mana virus. Dengan gesit, ia terus berenang di sela-sela perangkap.
Zulaikha tak kurang akal. Ia jebloskan Yusuf ke dalam kamar kostku.
Haaahhh? Kamar kostku? Mimpi ‘kali….
–Aisha Chuang,
Nikmatnya Asmara Islami