Konsultasi: Ingin Nikah Islami Tapi Keluarga Si Dia Ingin Secara Adat

Ibu Emmy yth., saya gadis (26 tahun), keturunan suku Jawa yang tinggal di kota B, alhamdulillah baru saja diterima sebagai PNS. Keluarga saya sangat menjunjung tinggi nilai agama atau sangat religius. Kini saya tengah menjalin hubungan serius dengan seorang lelaki, sebut saja I yang juga orang Jawa tulen.
Hubungan kami sudah berjalan selama 2 tahun. Kedua orangtua kami sudah saling tahu dan menyetujuinya. Meski begitu mereka belum pernah bertemu, hanya berkirim salam melalui saya atau I.

Akhir-akhir ini, kami saya dan I tengah merencanakan pernikahan, namun kami menemui masalah yang cukup besar bagi saya. Ketika I mengemukakan niatnya kepada orang tuanya, mereka setuju, tapi dengan syarat memakai tata cara pernikahan adat Jawa lengkap.

Sejujurnya, saya pribadi tidak setuju dengan persyaratan itu. Bayangkan Bu, saya yang pakai jilbab harus melakukan urut-urutan tata cara pernikahan yang saya rasa tidak praktis. Sementara keluarga saya pun menginginkan yang serba ‘simple’ yang penting sesuai dengan syari’at Islam. Seperti pernikahan kakak, yang hanya ijab qabul dan walimahan sederhana.

Orang tua saya kecewa, mendengar jawaban I ketika ditanya masalah kebenaran keinginan keluarganya dan seberapa usahanya untuk mengusahakan untuk memakai acara pernikahan secara islami saja. Sejak itu, orang tua berbalik menjadi tidak suka dengan I dan malah menawari saya pria lain pilihannya. Tentu saja saya menolak. Saat ini saya merasa bingung dan sedih, sebab I terkesan kurang peduli dengan masalah ini. Tampaknya, ia tidak tegas dan tidak berani mengutarakan secara gamblang menyampaikan masalah ini kepada orangtuanya.

Dia merasa masih bergantung pada orang tuanya, sehingga bila melawan mereka bisa sulit baginya untuk mencari nafkah. Karena terlalu bingung, pernah ia mengajak saya untuk kawin lari. Saya tidak mau, saya ingin menikah secara baik-baik. Mohon saran dari ibu, agar saya bisa mendapat jalan keluar yang bisa diterima semua pihak. Terima kasih dan jazakumullah. Amin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Nona, di kota B

Jawaban Bu Emmy di Suara Muhammadiyah: Baca lebih lanjut

Iklan

Bukan Nikmat Sejati

Kenikmatan aktivitas seks, walau di luar nikah, agaknya telah memabukkan banyak orang. Konon, ada seorang oknum kapolsek yang tertangkap basah Berhubungan Intim Dengan Istri Anak Buahnya Sendiri. Konon pula, ada seorang artis yang bertelanjang dada di kover majalah luar negeri. Ah, tapi “pameran” ini “belum seberapa”.

Kalau diantara orang yang sudah menikah itu terjerumus dalam perselingkuhan, diam-diam tanpa sepengetahuan suami/istri masing-masing, maka kaum remaja yang pacaran (secara non-islami) lain lagi. Disamping diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua dan guru, mereka (yang non-islami itu) bahkan terang-terangan memamerkan kemesraan di luar rumah. Mereka (dan kita?) seakan tak kenal malu, padahal memalukan.

Rupanya, minat kita terhadap “kenikmatan seksual” begitu besar. Begitu besarnya perhatian kita terhadap “kenikmatan seks” itu, sampai-sampai ada pula buku Kamasutra Arab. Kalau perhatian kita dimaksudkan untuk berjaga-jaga sih bagus. Tapi kalau untuk mengumbar syahwat? Alamaaak….

Baca lebih lanjut

Awas! Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!

Update, 6 Juli 2008:

Saya telah mempertimbangkan pemuatan artikel ini dalam waktu yang lama. Bayangkan! Buku yang saya kupas tersebut sudah saya baca di awal terbitnya, yaitu November 2006. Sudah hampir dua tahun saya menahan diri untuk tidak mengemukakan kupasan saya itu di depan publik.

Saya sudah beberapa kali mengingatkan penerbit melalui moderator di milisnya. (Penulis buku tersebut adalah salah seorang editor di penerbit tersebut.) Pada mulanya pesan itu secara halus (tanpa menyebut istilah bid’ah). Namun pesan saya tidak ditanggapi. Mereka masih saja menerbitkan buku yang mengandung bid’ah itu, sehingga mereka menjangkau pembaca yang semakin banyak. Karenanya, kemudian terpaksalah saya sampaikan pesan tersebut secara terbuka supaya para pembaca buku seperti itu dapat kita ingatkan. Jika saya tidak mengingatkan pembaca buku tersebut, maka saya merasa berdosa.

—-Naskah semula:

Disamping bahaya zina pada budaya pacaran, kita juga perlu mewaspadai bahaya lain yang bahkan lebih mengerikan, yaitu bid’ah pada budaya ta’aruf praNikah. Mengapa lebih mengerikan? Sebab, bahaya ini cenderung kurang disadari. (Pelakunya menyangka menunaikan sunnah Rasul, padahal melakukan bid’ah yang sesat dan menyesatkan.)

Baca lebih lanjut

Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami)

Sejumlah orang masih belum mengerti mengenai pacaran dalam Islam. Mereka menyangka: “Islam hanya mengenal ta’aruf sebelum pernikahan.” Lantas untuk menolak islamisasi pacaran, mereka pun mengajukan pertanyaan: “Apakah pernah Siti Khadijah pernah pacaran dengan Nabi Muhammad SAW sebelum menikah? Apakah pernah salah satu sahabat Rasullah SAW pernah pacaran sebelum menikah? Bukankah pacaran itu merupakan produk Barat?”

Baca lebih lanjut

Supaya Siap Menikah

“Ah, nggak perlu gamang dan takut begitu… Lihat nih, Pak De mu… tiga kali menikah, tiga kali cerai, dan nggak kapok juga…” Demikian kata-kata dalam ilustrasi kartun “Gamang Memasuki Gerbang Perkawinan” di kolom konsultasi psikologi, Jawa Pos, 30 Juni 2008. Namun, saya tidak hendak membahas humor tersebut. Di sini, saya lebih tertarik untuk mengutip kalimat-kalimat terpenting di kolom Baca lebih lanjut