Pacaran Islami dalam Novel “Ayat-Ayat Cinta”

ayat-ayat cinta

PACARAN DALAM ISLAM (kajian Analitis terhadap Pemikiran Habiburrahman El-Shirazy dalam Novel Ayat Ayat Cinta)

By teraskita

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (QS. Ali Imran :14).

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

Tapi, cinta seperti apa yang mampu memberikan rasa indah dalam pandangan manusia? Apakah cinta dalam pacaran termasuk didalamnya? Baca lebih lanjut

Iklan

Indahnya pacaran setelah SEBELUM menikah (+ foto pacaran islami ala Kalimantan Selatan)

Setiap kali aku mendengar seruan “indahnya pacaran setelah menikah”, “pacaran dalam Islam adalah setelah menikah”, dan sebagainya, aku merasa geli. Kupikir, mereka yang berseru seperti itu belum mengetahui (atau pura-pura tak tahu) bahwa makna asli kata “pacaran” adalah “persiapan nikah”.

8 pasang calon pengantin dari Polres Tapin, Kalimantan Selatan

Foto 8 pasang calon pengantin dari Polres Tapin, Kalimantan Selatan, 17 Februari 2009

Kata “pacaran” berasal dari kata bahasa Kawi (Jawa Kuno) “pacar” yang bermakna “calon pengantin“. Dengan diimbuhi akhiran “-an”, “pacaran” itu berarti “aktivitas calon pengantin”, yaitu “persiapan nikah”.

Dengan demikian, pacaran setelah menikah itu mustahil. Mustahilnya itu seperti mustahilnya pernyataan “indahnya menjadi janin setelah lahir”. Sebab, setelah lahir, kita tidak lagi menjadi janin (calon manusia) yang hidup di rahim. (Seandainya setelah lahir itu kita masih menjadi janin di luar rahim, hiii…. ngeriiii….) Demikian pula antara pacaran dan menikah. Setelah menikah, kita tidak lagi menjadi calon pengantin. Jadi, mustahil pacaran setelah menikah.

Karena itu, kalau mau membicarakan indahnya pacaran, tentunya SEBELUM menikah. Hanya saja, yang indah ini adalah pacaran yang sehat atau yang islami.

penataran pranikah

Foto penataran pranikah bagi 8 pasang calon pengantin, 17 Februari 2009

Lantas, apa saja keindahannya? Banyak deh, sampai tak terhitung. Di antaranya:

  1. menjadi lebih siap untuk menikah, termasuk karena sudah lebih mengenal pasangan dan untuk menghadapi segala risikonya
  2. menjadi lebih menikmati pernikahan, karena “pohon” percintaannya telah tumbuh subur sewaktu pacaran, tinggal memetik buahnya setelah menikah
  3. lebih merasakan nikmatnya cinta dengan lebih lengkap, yaitu bukan hanya setelah menikah, melainkan juga sebelum menikah
  4. menjadi lebih dewasa karena ditempa berbagai pengalaman, baik yang manis maupun yang pahit, sewaktu pacaran
  5. ……… (silakan tambahkan apa saja keindahan pacaran SEBELUM menikah menurut dirimu)

Bagaimana kalau pacarannya tidak sehat atau kurang islami? Tentu saja keindahannya menjadi berkurang drastis atau bahkan menjadi TIDAK ADA sama sekali, seperti karya lukis yang dinodai kotoran.

7 Cara Pacaran Islami ala Khadijah-Muhammad

Saya belum begitu paham dengan postingan yang satu ini [yaitu: “Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami)“]. Tidak dijelaskan bagaimana Rasulullah SAW menjalin hubungan dengan Khadijah r.a. Emang, “pacaran”-nya beliau kayak apa?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Postingan tersebut memang hanya menjawab pertanyaan apakah Nabi Muhammad saw. pernah pacaran ataukah tidak. Untuk membahas pacaran beliau kayak apa, kita membutuhkan penjelasan tersendiri seperti di bawah ini:

Seperti telah kita ketahui bersama, makna asli “pacaran” adalah “persiapan nikah”. (Lihat “Definisi & Bentuk Nyata Pacaran Islami“.) Dengan definisi tersebut, di bawah ini hendak aku paparkan pengamatanku mengenai bagaimana berlangsungnya proses yang menjadikan Khadijah-Muhammad siap menikah:

1. TA’ARUF PASIF: Khadijah mulai “naksir” Muhammad lantaran mendengar kabar mengenai kemuliaan akhlak beliau.

Saat itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran hati, sementara para pemuda pada umumnya suka berfoya-foya. Khadijah naksir itu bukan lantaran ketampanan atau pun kekayaannya. Malah, saat itu Muhammad saw. merupakan pemuda yang miskin.

2. TA’ARUF AKTIF: Khadijah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Muhammad melalui perbincangan dalam tatap muka langsung.

Pada mulanya, ketertarikan Khadijah kepada Muhammad bukanlah dalam rangka kepentingan asmara, melainkan bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah seorang pengusaha kaya. Lantas, Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dengan perbincangan seperti ini, Khadijah bisa mulai mengecek apakah benar bahwa Muhammad berakhlak mulia.

3. TANAZHUR (TA’ARUF INTERAKTIF): Khadijah dan Muhammad menjalin kerja sama pengembangan karir.

Melalui perbincangan tersebut tadi, Khadijah menganggap bahwa Muhammad adalah sosok yang ia butuhkan untuk berdagang ke negeri Syam. Muhammad pun menerima tugas itu dengan senang hati. Dengan interaksi seperti ini, Khadijah dapat me-recheck atau melakukan pengujian terhadap Muhammad sebelum benar-benar yakin bahwa Muhammad memang berakhlak mulia.

4. TANAZHUR LANGSUNG: Khadijah mengalami sendiri indahnya menjalin kebersamaan dengan Muhammad yang berakhlak mulia.

Sepulangnya Muhammad saw. dari negeri Syam, Khadijah menerima laporan langsung dari beliau mengenai penunaian tugas berdagang tersebut tadi. Khadijah sangat gembira dan terlihat antusias sekali menyimak laporan tersebut. Secara demikian, tumbuhlah rasa cintanya kepada beliau. Dari hari ke hari, cintanya semakin mendalam.

5. TANAZHUR BERJARING: Khadijah memanfaatkan jaringan (network)-nya untuk memperlancar interaksinya dengan Muhammad.

Maisarah ialah orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad berdagang ke Syam. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Laporan-laporannya mengenai kemuliaan Muhammad menjadikan Khadijah semakin berhasrat untuk menjadi istri beliau.

6. TANAZHUR BERMEDIA: Khadijah mengerahkan “agen cinta” untuk memperlancar hubungannya dengan Muhammad.

Dalam tradisi Arab ketika itu, bila seorang perempuan kaya mendatangi seorang pemuda untuk meminta menikahinya, maka itu dipandang memalukan. Untuk menyiasatinya, Khadijah pun mengutus Nafisah, seorang kepercayaannya lainnya, untuk membujuk Muhammad supaya mau melamar dirinya.

7. KHITBAH: Muhammad melamar Khadijah untuk menjadi istri beliau.

Di depan keluarga Khadijah, Muhammad saw. melamarnya. Maharnya 20 ekor unta. Lamaran pun diterima. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan pada waktu 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Usia Muhammad saat itu 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

Wallaahu a’lam.

Saat Akhwat Kewalahan Menahan Syahwat

Pak Shodiq, saya ingin mencari jalan keluar. Dulu, pertama kali saya pacaran, saya tidak bisa mengontrol diri. Begitu banyak setan yang menggoda. Saya mulai mengenal ciuman, saling raba, dan jadi ketagihan. Saya merasa tidak tenang karena tahu itu salah. Akhirnya saya memutuskan hubungan.

Lalu setelah menjadi aktivis tarbiyah, ada lagi yang mendekati saya. Dia sesama kader tarbiyah. Kami pun diam-diam pacaran sampai beberapa bulan. Lagi-lagi saya tidak dapat menahan gejolak muda, bahkan lebih parah. Kami pun putus karena merasa sangat tidak nyaman. Itu yang kedua.

Tidak lama berselang, saya mulai didekati lagi oleh seorang aktivis dakwah. Awalnya saya hanya kagum, namun kemudian saya pacaran juga dengannya. Ternyata dia pun termasuk orang yang susah menahan nafsu syahwat, sehingga kami melakukan perbuatan yang sangat memalukan sebagai aktivis dakwah. Saya akhirnya putus dengannya. Itu yang ketiga.

Beberapa waktu kemudian, saya didekati oleh teman saya. Saya pun menerima cintanya, tetapi lagi-lagi perbuatan memalukan itu terjadi, bahkan mencapai “puncak” (hampir melakukan hubungan seksual, namun urung karena saya takut). Kami pun jadi ketagihan. (Saya tidak ingin mendekskripsikan apa yang saya lakukan. Saya sendiri malu untuk mengingatnya. Saya merasa benar-benar berlumur dosa yang menggunung.) Akhirnya, saya juga putus dengannya. Itu yang keempat.

Setelah empat kali mengalami pengalaman memalukan itu, saya sempat berfikir tidak mau menikah karena kasihan dengan suami saya nanti. Namun entah mengapa, gejolak ingin menikah begitu besar dalam diri saya. Saya pun tidak tenang, lalu memberanikan diri untuk berta’aruf dengan seorang ikhwan melalui bantuan murobbi.

Tak lama kemudian, alhamdulillah, si ikhwan mengatakan ingin menjadikan saya istrinya secepatnya. Saya merasa senang. Saya tidak ingin melakukan hal yang sama seperti dulu, Pak. Saya takut pacaran. (Memang dari dulu saya diberi pemahaman bahwa pacaran itu tidak boleh, tapi saya tetap saja melakukannya secara diam-diam.)

Meskipun ingin menikah secepatnya, ternyata si ikhwan masih membutuhkan waktu untuk persiapan nikah. Saya jadi bimbang. Di tengah kebimbangan, saya menemukan blog bapak yang menulis mengenai pacaran islami. Lantas saya mengusulkan kepada si ikhwan untuk pacaran secara islami sebagai langkah persiapan menuju pernikahan.

Dia sependapat dengan saya. Bismillah, jadilah dia imam saya dalam pacaran islami ini.

Dia tidak pernah dan tidak mau menyentuh saya sedikit pun sebelum “waktunya”. Saya jadi merasa dihargai.

Kami jarang ketemu. Saat dilanda kerinduan, kami hanya mengobatinya dengan komunikasi melalui handphone. Saya pikir, kalau ketemu langsung saat kangen, bisa-bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Menurut bapak, apakah yang saya lakukan terakhir itu sudah tepat? Saya benar-benar ingin bertobat, pak.

Semoga Allah memberi bapak kelapangan waktu sehingga berkenan membaca dan membalas email ini. Alhamdulillah, saya sering membaca postingan bapak. Banyak hikmah yang saya peroleh sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi diri. Terima kasih, pak.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Pertama, aku pun berterima kasih telah dipercaya untuk turut menyampaikan pendapat dalam rangka menyelesaikan persoalanmu. Kedua, aku mohon dimaklumi bahwa eMailmu yang kukutip di sini telah aku edit seperlunya. Aku hapus informasi-informasi tertentu yang dapat menunjukkan identitas dirimu. Dengan demikian, aku yakin kehormatanmu tetap terjaga.

Aku mengasumsikan bahwa curhatmu sudah lengkap, tak ada yang kututup-tutupi. Dengan asumsi ini, jawabanku atas pertanyaanmu adalah: Ya, sikapmu yang terakhir itu sudah tepat. (Lihat “Mengapa Sengaja Jauh di Mata“.) Namun, jawaban “sudah tepat” itu belum memadai. Aku masih perlu menambahkan beberapa catatan yang perlu kau perhatikan:

  1. Ketika kalian berkomunikasi dengan media, utamakanlah media tulisan (SMS, eMail, dsb.) daripada audio-visual (telepon, video calling, dsb.). Sebab, nafsu birahi lebih mudah terangsang melalui audio-visual daripada tulisan.
  2. Karena kau kewalahan menahan syahwat, janganlah bersentuhan dengan pria nonmuhrim, baik dengan pacarmu maupun dengan orang lain. (Lihat “Mengapa Wanita Mudah Terangsang…“)
  3. Karena kau kewalahan menahan syahwat, janganlah bertemu dengan pacar, kecuali kalau ada orang lain yang mengawasi kalian, sehingga kalian tak mungkin bersentuhan.
  4. Mohonlah bantuan kepada Allah supaya terjaga dari zina, misalnya dengan berdoa/berzikir yang relevan seperti yang kupaparkan dalam Bab 18 di buku Doa & Zikir Cinta.
  5. Kerahkanlah jurus-jurus penangkal zina.
  6. …. (yang ini bersifat pribadi, lewat eMail aja, ya!)

Wallaahu a’lam.

Konsultasi: Pacar nonmuslim bagaimana?

saya sedang menjalani hubungn dengan seorang pria….pada awalnya saya menerima dia karena kasihan saja..tetapi pada akhirnya saya sayang dengan dia…akan tetapi masalahnya adalah dia non muslim…awalnya saya menerimanya juga karena dy begitu tertarik dengan islam, dan ketika kami menjalin hubungan ini dy ingin menikahi ku dan akan masuk islam, saya belum membicartakn hal ini pada orang tua saya, tetapi kakak saya sudah tau..dan ia marah besar,, kami sempat putus karena diriku masih mempermasalahkan perbedaan agama itu, tetapi sekali lagi dia meyakinkan saya kalau dia akan masuk islam…saya harus bagaimana ustadz…dia berkata tolong dukung dia dan membimbingnya dalam islam….setiap saya berdoa saya berdoa tolong berikan yang terbaik buat saya apakah ini jodoh yang terbaik..kenapa saya tidak bisa jauh dari dia….apa yang harus saya lakukan??

Jawaban M Shodiq Mustika:

Menurutku, kamu perlu mempertegas posisimu: selaku calon istrinya ataukah selaku da’i yang membimbing dia untuk masuk Islam. Untuk membimbing dia menuju Islam, kamu tidak membutuhkan status “pacar” (atau calon istri). Kalau berstatus pacar, akan sulit bagi kita untuk menilai apakah dia itu nantinya masuk Islam lantaran kesadaran sendiri ataukah berpamrih untuk bisa menikah dengan dirimu.

Mungkin melepas status pacar itu agak berat bagi dirimu. Namun Allah SWT telah menyampaikan kabar gembira bagi hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya dengan mengorbankan segalanya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. … Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 111)

Seberapa besar kemenangan itu? Minimal sebesar yang disabdakan Rasulullah saw: “Barang siapa yang menunjukkan kebaikan, maka ia memperoleh pahala [pula] sebesar pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, kalau kau menghendaki status sebagai pacarnya, aku sarankan jadilah pacarnya hanya apabila dia masuk Islam. Pernyataan dia “akan masuk Islam” belum cukup memadai. Selama dia beragama lain, perlakukanlah dia sebagai teman biasa saja.

Jika dia masuk Islam, maka dia bisa menjadi jodoh terbaikmu. Tapi selama dia beragama lain, dia bukanlah jodoh yang disediakan Tuhan untuk dirimu. Allah SWT berfirman: “…. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS al-Baqarah [2]: 221)

Demikian jawabanku, wallaahu a’lam. Semoga Dia senantiasa memberi petunjuk kepada dirimu pada khususnya dan kepada kita semua pada umumnya. (Aamiin.)

Pacaran… tetapi secara islami

[0] saya kurang sependapat dengan pemaparan saudara mengenai pacaran, karna menurut pandangan saya pacaran itu banyak mudharatnya.
1. pacaran itu ikatan uang mengikat hubungan laki-laki dan perempuan tanpa ada hukum yang sah menurut islam seperti nikah.
2. nabi muhammad yang menurut saudara pernah pacaran , menurut saya itu bukanlah pacaran melainkan sebatas kontrak kerja dengan khatidjah, dan jika terdapat perasan suka itu tidak ada ikatan yang mengikat.
3. dan ikatan itu bila tidak terjalin dengan baik akan menimbulkan patah hati (istilah dalam pacaran), dan itu akan merusak hubungan persaudaraan sesama muslim, bahkan tak jarang ada seseorang yang bunuh diri gara-2 putus pacaran.

[4] mohon maaf jika pemaparan saya sebelumnya kurang tertata dengan baik, tapi yang perlu anda koreksi ialah pernyataan anda yang menyatakan nabi pernah pacaran. karna pendapat anda mengenai pacaran bisa menjadi sebuah alasan seseorang berpacaran yang secara tidak langsung mengarahkan kepada perbuatan zina… [5] iya kalo langsung nikah kalo masih main-2. he…he… kan kalo memang mau serius langsung nikah saja… [6] kan ALLA SWT sudah menjamin laki-2 baik akan mendapatkan wanita baik-2 (Al-Qur’an) [7] jadi pernyatan untuk mengenal itu hanyalh sebuah alasan saja.

Jawaban M Shodiq Mustika:

0) Kita boleh berbeda pendapat. Kalau bagimu “pacaran itu banyak mudharatnya”, aku mendukung sikapmu untuk tidak pacaran. Namun aku juga mendukung saudara-saudara kita lainnya yang berpendapat bahwa “tanpa pacaran, mudharatnya lebih banyak lagi”.

1) Masalah ikatan pranikah dalam Islam telah kubahas di “Diskusi: Janji Menikah Tapi Belum Khitbah” .

2) Definisi pacaran itu ada banyak, tergantung pada sudut pandangnya. Dalam sudut pandang tertentu, memang percintaan Khadijah r.a dan Muhammad saw. itu bisa saja tidak kita anggap sebagai pacaran. Namun dengan sudut pandang lain, hubungan mereka dapat kita pandang sebagai pacaran. Intinya, dengan menyadari bahwa definisi pacaran itu banyak, kita bedakan antara pacaran yang tidak islami dan pacaran yang islami. Karena itulah, aku tidak sekadar mengatakan bahwa “Nabi Muhammad saw. pernah pacaran”, melainkan juga menambahinya dengan penjelasan “tetapi secara islami“.

3) Putus cinta, patah hati, dan bahkan putus silaturrahim tidak hanya terjadi pada pacaran, tetapi juga pada pernikahan. Bahkan, putus cinta pada pernikahan itu lebih menyakitkan. Sungguhpun demikian, pernikahan tidaklah lantas menjadi haram hanya karena dapat mengakibatkan patah hati yang amat menyakitkan.

4) Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak sekadar mengatakan bahwa “Nabi Muhammad saw. pernah pacaran”, melainkan juga menambahinya dengan penjelasan “tetapi secara islami“. Dengan secara islami, kita TIDAK mengarah kepada perbuatan zina.

5) Dalam urusan yang bukan darurat, yang lebih serius bukanlah yang “langsung”, melainkan yang dengan persiapan lebih dulu sematang-matangnya, sehingga tidak main-main. Begitulah yang diajarkan dalam ilmu manajemen.

6) Jaminan Allah “laki-2 baik akan mendapatkan wanita baik-2″ itu benar. Supaya menjadi baik, tentunya kita perlu mengikuti petunjuk-Nya. Allah sudah memberi kita petunjuk untuk berikhtiar semaksimal mungkin, maka mestinya petunjuk-Nya ini kita ikuti.

7) Semua amal kita justru harus ada alasannya. Kita jangan beramal secara asal-asalan! Innamal a’maalu bin niyaat. (Sesungguhnya amal itu [bergantung] pada niatnya.)

Demikianlah jawabanku, semoga cukup jelas.

Sejarah Asal-Mula Istilah “Pacaran Islami”

Sejumlah orang, terutama yang suka browsing di internet pada tahun-tahun belakangan ini, menyangka bahwa aku adalah pencetus istilah “pacaran islami”. Persangkaan tersebut keliru. Untuk meluruskan kekeliruan tersebut, berikut ini hendak aku jelaskan “sejarah” asal-mula munculnya istilah “pacaran islami”. Baca lebih lanjut

Konsultasi: Lantaran perbedaan, haruskah mengakhiri hubungan?

ini pertama kali saya melihat situs yang benar2 bisa menggetarkan hati saya, krn ketika saya sedang bingung tentang masalah cinta, situs ini bisa menunjukan jalan keluar dari kebingungan saya, tapi saya masih punya satu masalah cinta yang saya harap abi bisa memberikan jalan keluarnya.
saya adalah akhwat berumur 26 thn yang lumayan aktif mengikuti pengajian dan kegiatan2 dakwah, saya sudah bekerja, dan alhamdulillah memiliki banyak teman yang baik di sekitar saya.
di tempat kerja saya sekarang saya dikenalkan dengan seorang ikhwan yang katanya menaksir saya, dan ternyata ikhwan tsb lumayan menarik bagi saya.
sekarang kami berdua dekat sekali, jarang jalan berdua tapi sering sms-an dari bangun tidur hingga akan tidur lagi (alhamdulillah isi sms-nya masih tdk keluar dari batas2 kesopanan), walaupun kami tidak selalu setuju akan hal yang sama tapi kedekatan kami berdua bisa dibilang “seperti” sedang pacaran.
kami pernah membicarakan tentang pernikahan, karena kami berdua mengerti bahwa apa yang kami lakukan ini bisa menjrumuskan kami ke dalam zina,tapi pembicaraan ini belum membuahkan hasil, karena kami memiliki perbedaan2 yang signifikan.
salah satunya seperti yang di sebutkan dalam artikel abi yang menjabarkan kriteria siap menikah.
di situ disebutkan bahwa pria harus lebih tua dari wanita, sedangkan ikhwan yang dekat dengan saya ini lebih muda 4 thn dari saya, selain itu ikhwan ini aktifis di aliran islam yang berbeda dengan saya.
makanya walaupun dekat tapi sepertinya untuk menikah kami berdua masih ragu2 karena perbedaan2 itu & untuk mengakhiri hubungan kami ini sepertinya amat tidak mungkin untuk kami berdua.
tolong berikanlah pandangan abi untuk masalah saya ini.
untuk perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Benarkah ta’aruf = pendekatan pranikah?

Kl ngikut 7 aturan d artikel “Fiqih Pacaran“, tu sih bkn pacaran,kl q nyebutny pendekatan sblm nikah (ta’arruf) gt. Ky’ny q g asing ma pmilik blog nie, p’nah liat nmany d tko bku, tlong kl unt hal ini jgn pke kata pacaran, ’pacaran’ terkesan unt acara senang2 j, bkn p’siapan unt nikah

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Boleh-boleh saja kau menggunakan istilah lain. Namun, karena kita berbicara di depan publik, marilah kita gunakan pengertian yang obyektif. Baca lebih lanjut