Prasyarat supaya cinta kita abadi (selama-lamanya)

“Cinta adalah kecenderungan permanen yang dialami oleh kalbu orang yang dimabuk asmara.” Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Qayyim, Taman Jatuh Cinta, bab Akar Kata Nama-Nama Cinta dan Maknanya, ketika mulai menjelaskan pengertian cinta (mahabbah). Jadi, cinta sejati berlangsung abadi, selama-lamanya.

Bila ada “ilmuwan” yang mengemukakan hasil “penelitian” (yang kurang teliti) bahwa cinta antara pria-wanita hanya berlangsung selama 4 tahun, sedangkan seterusnya nafsu seks birahi, maka itu berarti bahwa sang “ilmuwan” belum mengenal cinta sejati lantaran kurang teliti. Sebab, dia hanya meneliti “gairah” cinta dan belum mendalami cinta sejati itu sendiri. Padahal, Baca lebih lanjut

Iklan

Manakah definisi "cinta" yang benar?

Inilah pertanyaan pertama yang mengemuka dari seorang “santri offline” (yaitu yang langsung berinteraksi dengan tatap muka) di Pesantren Cinta:

“Cinta” itu apa? Apa definisinya? Bagaimana kita bisa membicarakan cinta bila kita tidak tahu arti kata “cinta” yang sesungguhnya?

Jawaban M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Perlukah kita mempelajari ilmu cinta? Mengapa?

Di sekolah atau di kampus, kita diajari banyak ilmu dan pengetahuan. Diantaranya: matematika, bahasa, olahraga, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan masih banyak lagi. Ilmu-ilmu seperti itu tentu bermanfaat bagi kehidupan kita. Alhamdulillaah… seandainya kita tidak pernah mempelajari ilmu-ilmu itu, apalah jadinya diri kita kalau bukan seperti katak dalam tempurung?

Akan tetapi, bagaimana dengan ilmu cinta? Apakah sekolah kita selama ini sudah mengajari kita ilmu cinta? Ataukah orangtua kita sudah mengajarkannya kepada kita dalam kehidupan sehari-hari? Kalau mereka telah mengajari kita, itu sudah memadaikah bagi kita?

Kita sering menyaksikan, ada orang yang amat cerdas di bidang matematika atau bahasa atau olahraga atau yang lainnya, tapi mendadak “berubah” menjadi tolol banget manakala berhadapan dengan cinta. Ada apa gerangan? Apakah kita tidak perlu cerdas di dunia cinta? Kalau tidak perlu, mengapa? Kalau perlu, mengapa?

Seraya terus bertanya-tanya dan berusaha mencari jawabannya, alangkah baiknya bila kita perhatikan “Kata Pengantar” Ibnu Qayyim, sang pakar cinta, di buku Taman Jatuh Cinta. (Versi online-nya baru saja kami tampilkan di http://juziyah.wordpress.com/kata-pengantar/ .) Insya’ Allah dari situ kita bisa mendapatkan gambaran mengenai seberapa kecil atau seberapa besar pentingnya mempelajari ilmu cinta. Silakan menyimak.

Begitukah definisi pacaran yang benar?

Apa definisi pacaran yang “benar” (yang bisa berlaku bagi kita bila kita berbicara tentang pacaran)? Seorang penentang islamisasi pacaran (selanjutnya disebut SPIP) menolak definisi pacaran menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), yaitu “bercintaan dengan kekasih-tetap”. Di forum MyQuran, 2 Desember 2007, SPIP menulis:

Sebagaimana definisi “gerhana matahari” … kita merujuk kepada ahli fisika atau ahli astronomi, pada makna “pacaran” kita merujuk kepada ahli sosiologi atau ahli psikologi, yang memang berkompeten menjawab dan memaparkan fenomena hubungan antara laki2 dan wanita pra nikah semacam “pacaran”.

Diantaranya “..Pacaran adalah hubungan antara cowok dan cewek yang diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar”. Demikian definisi yang dikemukakan Reiss dalam buku Marriage and Family Development karangan Duval and Miller, keluaran tahun 1985. So, pacaran berarti kita sudah melangkah lebih jauh dalam hal usaha mengenal lawan jenis. Di sini kita sudah bikin komitmen sama si pacar. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/26/muda/584131.htm).

Jadi 2 orang lain jenis yang disebut “berpacaran” itu adalah ketika hubungan diantara mereka ditandai dengan “keintiman”, “perasaan cinta”, dan yang terpenting “saling mengakui pasangan sebagai pacar”.

Terhadap definisi tersebut, kita perlu menyampaikan beberapa catatan sebagai berikut:

Baca lebih lanjut

Ternyata Cinta Tidak Mustahil Abadi

Salah satu alasan utama penghujat ‘pacaran islami’ adalah seruan: “Oiii … Ternyata Cinta tuh, Nggak Abadi!” (KHP: 130). Benarkah seruan ini? Mari kita periksa.

KHP mendasarkan seruannya itu pada pernyataan antropolog Helen Fischer bahwa “kasus-kasus perceraian muncul ketika telah mencapai empat tahun masa perkawinan” dan “kalaupun bertahan, pasti karena faktor-faktor lain” di luar cinta (KHP: 132). Mengapa hanya empat tahun masa perkawinan? Menurut teori Fischer (Four Years Itch), itu karena bekerjanya sejumlah hormon yang diproduksi di otak selama orang jatuh cinta hanya empat tahun (KHP: 132).

Layakkah teori itu untuk dijadikan sandaran? Dalam pengamatan saya, penyandaran tersebut sesat-pikir lantaran ‘bersandar pada otoritas’ yang tidak tepat. (Lihat JSP: 12-13.) Lain halnya bila yang dirujuk ialah pakarnya: psikolog atau dokter yang berkecimpung di bidang hormon. Sekalipun begitu, mungkin masih ada manfaatnya bila kita periksa teorinya. Sebab itu, marilah kita asumsikan bahwa Helen Fischer memang ahli di bidang hormon.

Menurut teori Four Years Itch itu, hormon pemicu gelora cinta cuma bertahan sekitar empat tahun, setelah itu tak berbekas lagi. Karenanya, KHP menyimpulkan dengan memakai hitung-hitungan, “misalnya, orang yang pacarannya sudah tiga tahun, berarti kan [gelora cintanya] cuma bisa bertahan setahun setelah menikah, hehehe…” (KHP: 132)

Akan tetapi, kita bisa bertanya-tanya: Benarkah teori tersebut? Kalau iya, mengapa daya tahan hormon penggelora itu empat tahun saja? Apakah sudah merupakan ‘kodrat biologis’ yang berlaku universal sepanjang masa? Mungkinkah karena itu pria yang berpoligami cenderung lebih mencintai istri-baru daripada istri-lama? Dan yang bermonogami tergoda untuk berselingkuh? Ataukah karena penghayatan interaksi dengan lawan-jenis secara ‘modern’ lah penyebab sang hormon berumur pendek? Bukankah angka empat tahun itu hanya data statistik dari penelitian terhadap sekian orang di zaman modern ini?

Pertanyaan utama kita: Apakah teori four years itch itu berlaku pula pada gelora cinta Muhammad Rasulullah saw. kepada istri-istri beliau? Mari kita periksa melalui hadits-hadits.

Baca lebih lanjut

Definisi Pacaran Sangat Jelas

Sebagian penghujat ‘pacaran islami’ mendefinisikan, “Pacaran adalah aktivitas menumpahkan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis.” (JNC: 58) Dalam pandangan saya, definisi tersebut sesat-pikir lantaran ‘terlalu sempit’ dan ‘membingungkan’. (Lihat JSP: 33-34.) Kata ‘menumpahkan’ di situ membingungkan karena bersifat sangat konotatif. Selain itu, di situ hanya diungkap hubungan searah, padahal pacaran adalah aktivitas timbal-balik dua pihak. Jadi, jika definisi tersebut yang dipakai, tentu saja definisi ‘pacaran’ menjadi tidak jelas.

Sementara itu, walau mereka berargumen dengan ‘tidak jelasnya definisi pacaran’, ada kalanya mereka malah berusaha menjelaskan definisi ‘pacaran’. Alasan mereka, “Supaya simpel dan kita nggak terjebak pada definisi yang mengaburkan.” (KHP: 114) Mereka menerangkan: “Pacaran yang nggak jelas definisinya itu, sebenarnya cuma ekspresi … perasaan ‘suka’ pada lawan jenis, terus ditindaklanjuti dengan perilaku-perilaku yang dianggap romantis dan kemudian publik memberikan pengakuan si A pacaran dengan si B, si A pacarnya si B.” (KHP: 113) “Pokoknya yang namanya pacaran tuh, hubungan laki-laki perempuan yang bukan muhrim dalam sebuah komitmen selain Nikah! Titik.” (KHP: 114)

Begitulah mereka berusaha menunjukkan definisi-definisi ‘pacaran’ yang ‘simpel dan tidak mengaburkan’. Padahal, mereka juga menyatakan bahwa definisi ‘pacaran’ tidak jelas. Dengan begitu, saya pandang argumentasi tersebut sesat-pikir lantaran kontradiktif. Mengapa sampai kontradiktif dan bagaimana mengatasinya? Mereka belum menjelaskannya di buku mereka itu. Titik?

Baca lebih lanjut