Konsultasi: Ingin Nikah Islami Tapi Keluarga Si Dia Ingin Secara Adat

Ibu Emmy yth., saya gadis (26 tahun), keturunan suku Jawa yang tinggal di kota B, alhamdulillah baru saja diterima sebagai PNS. Keluarga saya sangat menjunjung tinggi nilai agama atau sangat religius. Kini saya tengah menjalin hubungan serius dengan seorang lelaki, sebut saja I yang juga orang Jawa tulen.
Hubungan kami sudah berjalan selama 2 tahun. Kedua orangtua kami sudah saling tahu dan menyetujuinya. Meski begitu mereka belum pernah bertemu, hanya berkirim salam melalui saya atau I.

Akhir-akhir ini, kami saya dan I tengah merencanakan pernikahan, namun kami menemui masalah yang cukup besar bagi saya. Ketika I mengemukakan niatnya kepada orang tuanya, mereka setuju, tapi dengan syarat memakai tata cara pernikahan adat Jawa lengkap.

Sejujurnya, saya pribadi tidak setuju dengan persyaratan itu. Bayangkan Bu, saya yang pakai jilbab harus melakukan urut-urutan tata cara pernikahan yang saya rasa tidak praktis. Sementara keluarga saya pun menginginkan yang serba ‘simple’ yang penting sesuai dengan syari’at Islam. Seperti pernikahan kakak, yang hanya ijab qabul dan walimahan sederhana.

Orang tua saya kecewa, mendengar jawaban I ketika ditanya masalah kebenaran keinginan keluarganya dan seberapa usahanya untuk mengusahakan untuk memakai acara pernikahan secara islami saja. Sejak itu, orang tua berbalik menjadi tidak suka dengan I dan malah menawari saya pria lain pilihannya. Tentu saja saya menolak. Saat ini saya merasa bingung dan sedih, sebab I terkesan kurang peduli dengan masalah ini. Tampaknya, ia tidak tegas dan tidak berani mengutarakan secara gamblang menyampaikan masalah ini kepada orangtuanya.

Dia merasa masih bergantung pada orang tuanya, sehingga bila melawan mereka bisa sulit baginya untuk mencari nafkah. Karena terlalu bingung, pernah ia mengajak saya untuk kawin lari. Saya tidak mau, saya ingin menikah secara baik-baik. Mohon saran dari ibu, agar saya bisa mendapat jalan keluar yang bisa diterima semua pihak. Terima kasih dan jazakumullah. Amin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Nona, di kota B

Jawaban Bu Emmy di Suara Muhammadiyah: Baca lebih lanjut

Konsultasi: Menikahi Mantan Pelacur

Ustadz Shodiq Mustika yth, yang insyaAllah dimuliakan-Nya
Dengan bercucuran air mata saya menuliskan kisah ini..[maaf kalo mungkin ini cengeng bagi seorang laki2]

Perkenankanlah saya memohon nasehat,petuah dari anda dan sidang pembaca yg terhormat. Karena ketika saya menuliskan kisah sejati saya ini keseimbangan emosional dan jiwa saya masih sangat terguncang. Forum ini saya temukan setelah saya mencari lewat google entah saya lupa urutannya sampai landing kesini dengan kata kunci “menikahi pelacur”
Ustadz Shodiq, saya seorang laki2 32 thn menikah dengan seorang perempuan non-pri sudah 7 bulan ini.

Dari masa perkenalan, pacaran jarak jauh selama kurang lebih 3 tahun. Setelah 2 bulan berkenalan di sebuah cafe saya harus pergi karena mendapat pekerjaan kontrak di luar negeri selama 2.5 thn. Sebenarnya saya sudah patah arang dengan mahluk yg namanya perempuan, kepergian saya ke luar negeri ini juga bagian dari untuk melupakan kegagalan pernikahan saya yang pertama. Tapi dengan janji dan sumpah setia dia mampu meyakinkan saya bahwa dia akan setia menunggu sampai saya pulang. Begitupun saya berjanji setia untuknya.

Hari-hari saya lalui dengan bekerja dan setiap kali telp dan sms tak pernah putus. Awal pacaran jarak jauh ini selama 2.5 tahun ini kami lalui dengan senang dengan sedikit duka, karena awalnya kadang dia pergi pamit ke jakarta sebulan dua bulan untuk cari kerja yg sebenarnya saya tdk setuju ijinkan krn kebutuhan bulanan sudah saya cukupi sampai sering dia pergi tanpa ngasih tahu, hingga sakit hati yg sesungguhnya ketika saya menelopon berpuluh kali bahkan ratusan dia ga mengangkat telp, sms juga tak terbalas. Waktu itu dia masih di jakarta, padahal sampai detik terakhir hari kemarennya kita masih baik2 saja bercanda ria lewat telepon. Ketika akhirnya mengangkat telp dia ucap salam dengan berbagai alasan yg saya coba menerimanya saya mendengar suara lelaki disampingnya dia berbohong klo laki2 itu keponakanya ketika saya minta bicara dengan laki2 itu laki2 tsb mengaku teman dekatnya [dari pengakuannya nanti dia sehabis berhubungan badan dengan laki2 itu kuatir aku tahu dia berbohong,tapi pasangannya malah bilang kalo dia temen deket] Ketidak percayaan dan kegelisahan saya berawal dari situ.
Dalam pekerjaan konsentrasi saya hilang,nafsu makan berkurang berhari2 aku memikirkan apa yg sebenarnya terjadi. Tapi dengan kata2 manis dan rayuan dia berusaha meyakinkanku bahwa dirinya menantiku pulang untuk menikah.

Beberapa bulan kemudian setelah hampir 2.5tahun dan alhamdulillah sebelumnya saya sempat menunaikan ibadah haji sambil menangis deras memohon petunjuk Allah apakah rencana pernikahan saya yg masih terluka ini baik bagiku dllnya, tibalah saatnya cuti liburan ke Indonesia yg hanya sebulan yg memang sudah saya rancang untuk melangsungkan pernikahan yg telah saya bicarakan dengannya sebelum kejadian itu. Tapi setelah kejadian itu ketika saya bertemu dengannya dan orangtuanya saya sempat berucap bahwa kita hanya akan bertunangan saja karena feeling saya sejak awal ga bisa mempercayai calon istriku ini. Entah karena dorongan nafsu sekian lama untuk bercinta atau karena saya merasa rugi selama ini saya mencukupi kebutuhannya tiap bulan selama hampir 2.5 tahun ini,tagihan telpon yg puluhan juta dirupiahkan, yang memeluk dia pun hanya sekali waktu saya pamit pergi. Karena walopun saya brengsek tapi alhamdulillah hati saya tidak pernah berani menyentuh[berhubungan badan] dengan perempuan sebelum ijab qobul, lagian dalam hati saya waktu itu dia memang akan saya jadikan istri di kemudian hari sepulang saya dari luarnegri jadi saya tak berpikir untuk menodainya.

Prahara pertama terjadi, dia mengaku dengan menangis waktu kutanya apakah masih gadis? alih2 gadis ternyata dia udah punya anak. Anak itu yg aku jumpai waktu aku datang pertama kali dan sekarang sudah kelihatan besar. Bagai disambar petir dia cerita “sebagian” masa lalunya mengapa sampai mempunyai anak yang ternyata adalah anak haram hasil kumpul kebo selama 2tahun tanpa nikah namun ketika dia hamil pasangannya pergi begitu saja karena masih punya istri yang sah. Lalu karena malu dia menjebak temannya untuk menggauli dia hingga dia dituduh yang menghamilinya hingga diminta menikahinya. Pernikahan itu hanya seminggu tapi karena mantan suaminya bener2 punya nafsu buas dia bercerita dengan menangis kalo setiap hari harus melayani shahwatnya puluhan kali. Hanya seminggu mereka bercerai karena kakak laki2nya mengusir mantan suaminya karena adiknya ga tahan tersiksa dengan perilaku seks yang buas, mungkin mantan suaminya yg dijebak ini minta jatah sebagai imbalan menyelamatkan muka keluarga non-pri ini di masyarakat.

Dengan lapang dada dan hati yang hancur karena dibohongi selama ini aku menerima dia dan anaknya sebagai istri dan anak yg kuanggap sebagai anakku sendiri. Akhirnya kita menikah january 2009, status dia sudah cerai tahun 2006. Sampai sebulan jatah liburan yg cuma seminggu saya nikmati untuk bulan madu, saya balik lagi ke luarnegeri untuk menghabiskan kontrak tambahan.
Ketika kembali beraktifitas kerja, batinku serasa bergejolak keras pikiran curiga,kecewa,marah,sedih,sakit hati karena hatiku selalu tidak tenang. Hampir tiap hari aku menelpon hanya untuk memastikan semuanya baik baik saja. Tapi tetap hatiku selalu curiga,tidak tenang, hingga sampai kemaren malam…

Prahara yang paling besar dalam kisah ini setelah aku mendesak dan coba merayu bahwa aku ingin tahu cerita yang sesungguhnya terjadi tentang masa lalunya..
MasyaAllah.. mungkin ini jawaban doa yang selalu aku panjatkan:”Allahumma arinal haqqo-haqqo warzuqnattiba-ah Waarinal bathila bathila warzuknaztinaabah”
Ustadz Shodiq, entah dengan menangis yang dibuat2 ketika aku telp mendesak ingin tahu kehidupan masa lalu yang “sebagian” sudah aku ketahui.. dia,perempuan yang menjadi istriku ini adalah dulunya melacurkan diri[Pelacur] karena himpitan ekonomi setelah keperwananya direnggut oleh teman modelnya sewaktu masih SMA. Jadi sejak usia 17tahun sampai terakhir kepergok waktu aku telp bersama laki2 sudah ratusan mungkin ribuan kali melakukan hubungan seksual dengan pria hidung belang.
LANGIT DIATASKU BAGAI RUNTUH MALAM ITU… tapi hatiku kukuatkan dengan doa
Ya Allah.. ya rahman-ya rahiem apakah ini coba untuk hambaMu yang lemah dan hina ini.
Bagaimana aku begitu buta dengan semua keputusan yang aku ambil. Terakhir kali aku katakan jujurlah sejelek apapun kamu aku tetaplah suamimu yang syah sekarang asalkan kamu mau bertobat dan berhenti melacurkan diri. Sudah ratusan kali sumpah atas Nama Allah dan Nabi yang dia ucapkan [yang memang dia sudah masuk islam sejak SMA walo non-pri], tapi karena keadaan, dia tetap melacurkan diri. Sumpah atas nama Allah itu diucapkan tiap kali berbohong ketika kutanya hal apapun yang akhirnya terbukti firasatku dengan pengakuannya sendiri kemaren malam itu..

Ustadz Shodiq, maafkan saya jika kisahku ini terlalu panjang jujur saya butuh bantuan dorongan moral untuk menentukan kira-kira jalan apakah yang harus saya tempuh ketika akhir bulan ini saya pulang ke Indonesia karena kontrak kerja sudah habis.
Apakah saya harus mempertahankan pernikahan saya yang baru sebentar dan saya hanya bersanding seminggu untuk waktu berpisah yang sudah 3tahun ini? Ataukah saya harus berpisah dalam arti saya melepas tanggung jawab untuk membawanya ke jalan yang baik[itu yang dia katakan terakhir ditelp untuk bertaubat setelah menikah dan tidak melacur lagi]dan saya kuatir karena cinta saya yg besar tidak rela kalo dia kembali melacurkan diri…

MasyaAllah .. La haula walaa quwwata Illa billah
Mohonkan ampun untuknya dan untukku… Ya Allah…
Wassalam..
Hamba Allah yang berduka
The place of no where

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Tidak ada salahnya lelaki mengucurkan air mata ketika bersedih. Apalagi dirimu tetap mampu berpikir jernih, terbukti dengan kemampuanmu untuk menuliskan curhatmu ini dengan selengkap-lengkapnya. Dengan demikian, tidaklah sungkan-sungkan aku sampaikan saran singkat sebagai berikut.

Seandainya aku menjadi dirimu, maka aku pertahankan dia untuk tetap menjadi istriku. Bahkan, akan aku usahakan supaya dia benar-benar bertaubat, sehingga menjadi wanita yang shalihah. Sebab, tujuanku menikah bukanlah untuk memperoleh hak eksklusif sebagai pria satu-satunya yang berhubungan seks dengannya. Aku menikah dalam rangka menggenapkan pengabdianku kepada Sang Mahakuasa.

Sama sekali aku tidak merasa rugi bila menikah dengan wanita shalihah yang pernah berhubungan seks dengan ribuan lelaki. Sebab, Allah Sang Mahaadil akan mengganjar kebaikan kita berlipat-lipat. Kelak di surga, Dia sediakan bagi kita bidadari-bidadari yang senantiasa perawan. Dan kita bisa menikmatinya selama-lamanya. (Lihat “http://muhshodiq.wordpress.com/2009/07/10/andaikan-bidadari-di-surga-secantik-sandra-dewi-maka/“.)

Demikianlah masukan dan saran dariku. Mudah-mudahan akan ada pembaca lain yang menambahkan masukan/saran.

Nikah dengan dia yang pernah cerai, salahkah?

pak shodiq, senang rasanya bisa menemukan blog bapak, terutama yang membahas hal2 pra nikah.
saya ingin sekali dengar pendapat bapak soal masalah saya ini.
sekarang saya menjalani suatu hubungan serius dan ingin segera menikah dengan seorang duda (inisial D), 1 anak (perempuan, umurnya 5 tahun). dia duda karena cerai pak. saya diceritakan olehnya kenapa dia bercerai. tapi menurut saya, dari cerita dia, dia berhak untuk menceraikan istrinya. tapi saya belum tau bagaimana cerita versi dari istrinya. tapi wallahua’lam, saya percaya dengannya pak.

saya menceritakan kepada orang tua saya, dengan siapa saya menjalin hubungan. mendengar cerita saya, kedua orang tua saya langsung bilang tidak setuju. bagi mereka, laki-laki yang bercerai itu, pasti ada masalah. dan orang tua saya sudah men-cap bahwa laki-laki itu yang salah, yg tidak bisa membimbing mantan istrinya. orang tua saya mengkhawatirkan itu pak, hal itu akan terjadi kembali sama saya. selain itu orang tua saya mengkhawatirkan kehidupan ekonomi saya nantinya, karena pria pilihan saya seorang pengusaha pelebur logam. kalopun saya jadi menikah dengannya, orang tua saya langsung memberi ultimatum, kalo pas akad nikah nanti, ayah saya tidak bersedia menjadi wali. saya sedih sekali pak

saya dan D sudah bertekad ingin menikah, terutama D, dia gak ingin kejadian yang dulu terulang lagi dan dia sudah percaya dengan saya. kami bertekad, ingin menunjukkan hasil kerja keras kami selama ini, kepada orang tua saya, dan meyakinkan mereka kalo saya insyaAllah akan baik-baik saja.

sangat dilema buat saya pak.disatu sisi saya ingin sekali bisa menikah dengannya. karena setelah istikharah, meminta ketetapan hati, subhanallah, hati ini rasanya ringan sekali. tapi sisi lain, ada masalah di orang tua. beliau bersedia wali nya digantikan oleh saudara lain. pak, kalo pun saya tetap menikah dengan D, apakah saya termasuk orang yang tidak berterima kasih? hanya memperturutkan egoisme?
saya hanya ingin menjalankan sunnah Rasul pak, dan kami berdua hanya ingin memiliki keluarga yg sakinah, bahagia dunia akhirat.
apakah bapak setuju dengan pernyataan ini, jika wanita dan laki-laki tetap melangsungkan pernikahan tanpa persetujuan orang tua tidak bisa dikatakan keduanya sudah durhaka malah orang tuanya lah yang sudah tidak mentaati apa yang diperintahkan Allah agar tidak menghalangi-halangi anak-anaknya untuk menikah. Allah berfirman dalam Al Quran yang artinya: “…maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya apabila telah terdapat kerelaan di antara keduanya dengan cara yang ma’ruf” QS. Al Baqarah: 232.
terima kasih sebelumnya pak Shodiq

Jawaban M Shodiq Mustika:

Benar, pada dasarnya, orangtua/wali tidak berhak menghalang-halangi anaknya untuk menikah. (Lihat “Walau Bukan Siti Nurbaya“.) Namun, itu berlaku bila si anak sudah “dewasa”.

Dalam ceritamu itu, umurmu belum kau sebutkan. Karenanya, aku belum tahu apakah kau sudah bisa menikah dengan wali hakim. Di Indonesia, perempuan yang sudah “dewasa” (dalam arti bisa menikah dengan wali hakim) ialah yang telah berusia 21 tahun. (Begitulah seingatku. Untuk konfirmasi, silakan hubungi KUA terdekat.)

Mengenai ketidaksetujuan orangtuamu, aku kurang sepakat bila kau katakan bahwa beliau menghalang-halangi dirimu untuk menikah. Beliau sudah bersedia walinya digantikan oleh saudara lain. Secara demikian, beliau tidak menghalang-halangi pernikahanmu.

Mengenai tekad kalian untuk menunjukkan kerja keras kalian, bagus itu. Aku mendukung tekad kalian ini. Akan lebih bagus lagi bila kalian mampu menunjukkan bukti-bukti (atau kesaksian orang-orang terpercaya) kepada orangtuamu bahwa perceraian si dia itu bukanlah lantaran kesalahan dia. Untuk itu, kamu bisa mengutus 1-2 orang saudaramu untuk menggali informasi mengenai sebab-musabab perceraian tersebut, termasuk informasi dari mantan istrinya. Dengan adanya bukti-bukti begitu, besar kemungkinan bahwa orangtuamu akan merestui pernikahan kalian.

Demikianlah saranku, wallaau a’lam.

Konsultasi: Pilih menikah ataukah bekerja?

Saya seorang gadis berusia kurang dari 30 tahun. Saya bekerja sebagai pegawai tetap di sebuah bank bumn dengan gaji pokok “lebih dari cukup”, belum termasuk tunjangan dsb. Saya kos karena penempatan kerja di luar kota tempat tinggal. Saat ini saya berpacaran dengan salah seorang teman satu perusahaan, usia lebih dari 30 tahun. Saya sudah berpacaran sekitar 5 th. Karena kesibukan masing2, walaupun satu kota tapi kami hanya bertemu seminggu sekali. Peraturan perusahaan melarang pernikahan satu atap, salah satu harus mengundurkan diri. Pembicaraan antara saya dan dia sepakat saya yg mengundurkan diri dengan pertimbangan usia saya masih banyak kesempatan untuk mencari kerja lagi. Supaya tidak kena denda (yg jumlahnya cukup besar) karena resign sebelum menyelesaikan ikatan dinas selama 5 th, maka kami sepakat untuk menyelesaikan ikatan dinas tsb. Saya sampaikan kepada orang tua dan keluarga saya jika saya menikah maka saya harus resign. Mereka keberatan karena saya adalah kebanggaan keluarga & keluarga besar dan bisa dikatakan saya penyumbang dana terbesar dalam keluarga (saya ikhlas). … Saya sangat memahami ortu, … punya anak pegawai bank adalah kebanggaan luar biasa menurut mereka. Gaji tiap bulan saya gunakan untuk keperluan saya, membantu keluarga, dan menabung. Ikatan dinas saya habis tahun ini, saya persiapkan diri untuk bisa menikah:
1. nglamar kerja kesana sini untuk dapat kerjaan baru. Syarat ortu, saya boleh keluar dari kerjaan dan boleh menikah jika sudah dapat kerjaan baru (kerja kantoran kalo bisa yang selevel dengan perusahaan sekarang). saya tidak boleh nganggur…
2. karena rumah dekat dengan kampus, saya membuat kosan untuk ortu saya, dengan pertimbangan jika saya menikah dan ortu sudah tidak bisa kerja, maka mereka tetap dapat uang tiap bulan dari uang pembayaran kos…
3. sekarang saya berusaha hemat & menabung untuk persiapan biaya menikah (tabungan sebelumnya habis untuk membuat kosan)
4. saya lakukan pendekatan supaya keluarga bisa menerima jika saya keluar dari pekerjaan dan menikah
sampai sekarang keluarga tetap merasa keberatan. pada dasarnya secara pribadi mereka setuju saya menikah dengan pacar saya. mereka cocok dengan pacar saya, tapi mereka tetap keberatan jika saya keluar dari kerjaan.
5. sejujurnya saya sangat bingung antara keluarga atau pacar=menikah atau bekerja?
saya berusaha untuk sholat tahajud, istikaroh, memperbanyak sedekah dan konsultasi kesana kemari untuk masalah saya. skitar 2 bulan ini keinginan saya untuk menikah semakin besar dan merasa mantap, saya tidak tau apakah ini napsu untuk memiliki ataukah petunjuk dari alloh atas doa saya. mohon saran dan pendapat pak shodiq.
6. kami pernah putus nyambung lagi. gak tau kenapa, sulit mencari pacar baru. saya dan dia benar-benar merasa cocok.. walaupun sedikit kami sudah memahami kekurangan dan kelebihan masing2.
7. saya sekolah lagi dengan biaya sendiri, agar lebih mudah dpt pekerjaan. alhamdulillah sudah selesai jadi sarjana. (ayah tambah bangga) dulu ayah menyekolahkan saya d3.

agar bisa segera menikah pacar saya juga berusaha menabung untuk pra & pasca menikah, pendekatan dengan ortunya (malah ortunya sudah pengin ngelamar saya) & ortu saya, nyari info kerjaan buat saya, nganter saya tes kerja dll. dia bersedia tetap menunggu saya menyelesaikan ikatan dinas dan menunggu sampai dapat pekerjaan. saya sangat menghargai penantiannya.. kadang saya merasa kasian karena dia sudah didesak keluarganya untuk segera menikah. dia bersikeras tetap menikah dengan saya dan tidak mau dengan orang lain. menurut dia apa yang dia cari ada pada diri saya. dia sepakat untuk tidak menikah selama belum ada restu dari ortu saya. dia tetap ingin saya bekerja seperti keinginan ortu saya agar kebanggaan keluarga saya tidak hilang. dia merasa karena dialah saya jadi keluar dari kerjaan.
oiya, pada dasarnya saya senang wirausaha, saya punya warung lesehan dan punya bisnis distributor kecil-kecilan. saya tidak senang bekerja pada orang lain. tapi menurut ortu itu bukan pekerjaan itu cuma sampingan. dalam pikiran mereka yang namanya bekerja ya di kantor (saya sangat maklum dengan pendapat mereka).

melalui email ini saya mohon saran pak shodiq atas masalah saya :
1. apa yang harus saya lakukan, saya takut berbuat dosa karena pacaran terlalu lama. bukankah menikah adalah mulia dan ladang amal? tetapi mengapa keluarga saya merasa keberatan karena alasan materi dan kebanggaan? saya takut jadi anak durhaka dan tidak tau terima kasih. saya takut mengecewakan ortu saya. saya takut berbuat sesuatu yang tidak diridhoi ortu saya.
2. saya juga takut dan bingung, jika saya keluar dari pekerjaan apakah berarti saya tidak bersyukur pada alloh yang telah memberikan pekerjaan yang bagus untuk saya saat ini?
dan jika saya tidak menikah dengan pacar saya, apakah saya menyianyiakan kesempatan yang alloh berikan pada saya yang telah mempertemukan saya dengan pacar saya? walaupun saya tidak tau apakah dia jodoh saya.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Seperti pada kasus “Ingin Nikah Tapi Dibutuhkan Keluarga“, kamu dihadapkan dengan dua alternatif yang sama enaknya. Kalau kau segera menikah, maka kau menjalankan sunnah Nabi yang berupa pernikahan. Sedangkan bila kau tunda dulu pernikahanmu demi memenuhi keinginan keluarga, maka kau pun menjalankan sunnah Nabi pula yang berupa berbakti kepada orangtua dan kerabat dekat. Oleh karena itu, jawabanku:

1. Pilihlah keduanya: menikah dan sekaligus bekerja. Dalam keadaanmu yang terikat oleh ikatan dinas, pacaran kamu tidaklah tergolong terlalu lama. Apalagi pacarmu bersedia menunggumu hingga memperoleh pekerjaan baru. Jadi, dapatkanlah pekerjaan baru setelah masa ikatan dinas selesai supaya kamu dapat menikah dengan pacarmu.

Adapun supaya kalian tidak tergoda untuk berbuat dosa, khususnya zina, maka hendaklah kalian lebih menjaga diri. Diantaranya dengan mengerahkan jurus-jurus penangkal zina dan tidak bertatap muka, kecuali bila dalam keadaan terawasi, sehingga tak mungkin berzina.

2. Jika informasimu itu sudah relatif lengkap (tidak ada yang kau tutup-tutupi), maka aku yakin bahwa pacarmu ini adalah jodoh terbaik bagimu. Seandainya kau meninggalkannya demi “pekerjaan yang bagus saat ini”, maka menurutku kau menyia-nyiakan jodoh yang telah disediakan Allah untukmu.

Bagaimanapun, mencari jodoh sebaik dia itu jauh lebih sulit daripada mencari pekerjaan baru yang juga bagus. Dengan ijazah dan pengalaman kerjamu, kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan baru yang juga bagus. Apalagi, syarat dari orangtuamu juga tidak terlalu kaku, yaitu asalkan kantoran dan “kalo bisa yang selevel”. Jadi, syarat minimalnya hanyalah kerja kantoran. Dengan syarat ini, aku yakin kamu mampu memenuhinya.

Demikianlah jawaban dan saranku. Wallaahu a’lam. Semoga Dia senantiasa membimbing langkah kalian dan menjauhkan kalian dari segala dosa. Aamiin.

Bagaimana Meluluhkan Hati Orangtua

Pak Shodiq… Saya sangat senang sekali bisa menemukan website bapak ini.. Saya bisa mendapatkan informasi – informasi yang sangat berharga, yang kebetulan juga saya sedang menghadapi masalah tentang percintaan. Saya harap bapak tidak keberatan untuk menyumbangkan saran bapak..

Begini Pak…

Saya berumur 25 thn, dan saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang pria yang perbedaan usianya 8 taun lebih tua dari saya. Kami telah melakukan pacaran jarak jauh hampir 1 taun, karena saya kerja di Jakarta dan dia kerja di Jogja. Pertemuan kami pun tidak menentu. Kadang 2 bulan sekali ato bahkan lebih. Komunikasi kami (telpon, SMS, dan email), Alhamdulillah lancar. Saya sangat menikmati hubungan ini.. Walo kata orang susah.. namun saya berusaha untuk menikmatinya.. dan Alhamdulillah.. hingga saat ini.. kami belum pernah bertengkar… Dan kami berusaha untuk pacaran yang biasa – biasa saja.. sperti pacaran Islami..

Namun, Pak.. masalah datang dari keluarga saya.. Orang tua saya kurang menyetujui hubungan kami dengan beberapa alasan, yaitu pekerjaan, umur, latar belakang keluarga. Mungkin akan saya jelaskan satu persatu..

– Mengenai pekerjaan
Pacar saya bekerja di perusahaan leasing, sudah hampir 3 taun, dengan penghasilan tetap, dan gaji yang lumayan (menurut saya), karena dia sudah bisa membeli kebutuhannya sendiri. Namun menurut orang tua saya, pacar saya belum mapan. Karena perusahaannya yang kurang bonafid, tidak memberikan kesejahteraan di hari tua nanti sperti tunjangan kesehatan, pensiun, dll. Maklum orang tua saya adalah pensiunan BUMN, dimana sampai saat ini masih mendaptkan pensiun dan dana kesehatan. Dan juga.. terkadang orang tua saya menyinggung soal gaji. Menurut mereka.. gaji pacar saya lebih kecil dari saya.. Dan mereka khawatir, jika suatu saat kami menikah, sayalah yang akan menanggung semua biaya hidup rumah tangga kami.
Saya sudah membicarakan masalah ini kepada pacar saya.. Dan dia akan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, yang sesuai dengan keinginan orang tua saya. Paling tidak, pacar saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya, jika dia akan bertanggung jawab atas saya.
Namun.. saat saya mencoba membicarakan hal ini kepada ibu saya.. Ibu saya malah mengatakan “Iya kapan usaha nya.. kapan suksesnya.. Nanti aja kalo uda sukses baru deket – deket lagi. Kalo sekarang ga usah deket deket dulu…”
Pak.. saya harus bagaimana?

– Mengenai umur
Orang tua saya mengatakan bahwa pacar saya terlalu tua untuk saya. Bagaimana nanti jika kami punya anak yang masih keci, dan ayahnya sudah berumur banyak. Yah memang sih.. masuk akal.. Tapi.. apakah iya.. itu merupakan patokan?

– Mengenai latar belakang keluarga
Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, ayah saya adalah pensiunan BUMN. Dan pernah suatu saat, saya bersitegang dengan kedua org tua saya tentang hal ini… Mereke mengatakan bahwa saya harus dapat jodoh yang setara.. Setara keluarganya dengan kita dan juga setara pekerjaannya. Terus terang.. saya tidak pernah mengorek lebih dalam tentang keluarga pacar saya itu. KArena saya pikir itu privacy keluarga nya dia. Namun secara garis besar saya tau, karena saya sudah dekat dengan keluarganya, terutama ibunya. Alhamdulillah. Mereka adalah keluarga yang utuh, sederhana, dan tidak pernah neko – neko. Memang jika dilihat dari segi materi.. orang tua saya lebih dari orang tua pacar saya… Tapi.. apa iya.. itu yang dijadikan patokan… toh keluarga pacar saya adalah keluarga baik – baik..

Pernah suatu hari.. saya mendengar dari sepupu saya.. klo orang tua saya pernah berfikir saya dipelet. Ya Allah.. Pak Shodiq… sedih rasanya..

Begitu juga klo saya pulang ke Jogja, dan pacar saya main ke rumah saya.. Orang tua saya lebih sering mengabaikan dia. Terkadang dicuekin.. Dan pacar saya bilang kalau dia merasa tidak nyaman maen ke rumah saya… Namun dia berusaha positif thinking.. dan ingin pelan – pelan mendekati kedua orang tua saya.. dan itulah yang membuat saya terharu, Pak.

Pak.. saya bingung.. di satu sisi.. saya sayang kepada orang tua saya.. dan saya tidak ingin menjadi anak durhaka. Kalaupun menikah, saya ingin mendapat restu dari keduanya. Namun di sisi lain, Pak.. Saya juga sayang dengan pacar saya.. Karena dia sangat mengerti saya.. saya merasa nyaman saat bersama dia.. Dan dalam diri saya.. ada keyakinan bahwa dia akan menjadi suami yang baik & bertanggung jawab, serta ayah yang baik bagi anak – anak kami kelak. Apakah boleh pak, saya berfikir demikian?

Pak Shodiq.. menurut pak Shodiq saya harus bagaimana?

Pacar saya slalu kasi support kepada saya untuk selalu tetep berusaha dan bersabar. Juga berdoa kepada Allah untuk minta petunjuk dan dibukakan jalan untuk masalah kami.. Itu lah pak.. kesabaran dan usaha gigih dia yang membuat saya jadi semakin semangat untuk siap mengarungi bahtera rumah tangga bersama dia.

Saya pribadi tidak masalah, Pak, kalau orang tua saya tidak setuju dan menyuruh saya meninggalkan pacar saya. Tapi itu pun jika alasannya jelas. Misalnya pacar saya nakal atau narkoba, dan lain sbg nya. Namun permasalahannya, mereka tidak suka dengan pacar saya karena status sosial.. karena pekerjaan.. yang menurut saya.. semua itu akan bisa didapat jika kita mau berusaha, karena itu kan hanya bersifat duniawi… Toh pacar saya juga sudah pegawai tetap. Tapi mereka tetap tidak bisa terima dengan alasan perusahaannya tidak ada masa depan..

Pak Shodiq.. harap bapak tidak bingung ya membaca curhatan saya yang menggebu gebu ini.. Hehehehehe..

Smoga Bapak tidak keberatan untuk memberikan saran… Terima kasih..

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Pilih menikah dengan pacar ataukah dengan orang lain yang lebih baik?

Saat ini saya berusia 21 tahun. Saya memiliki hubungan dengan seorang pria, katakanlah si R, selama 3 tahun atas dasar saling cocok. Dia pria yang baik dan setia. Namun memang gaya pacaran kami sudah jauh melebihi batas. Kami sangat sadar bahwa itu salah, namun karena dorongan perasaan & nafsu, kami selalu mengulangi dosa yang sama. Kami memiliki niat baik untuk menikah. Saat ini pun kami sedang berusaha mempersiapkannya. Permasalahannya, sebenarnya dia bukan tipe pria idaman saya, karena dari segi ilmu agama, pendidikan & status sosial, saya jauh lebih tinggi dari dia. Apalagi dia hanya seorang karyawan biasa yang gajinya tidak sampai 2 juta perbulan. Orang tua saya pun sedikit keberatan akan hal itu. Tapi karena saya lihat dia sangat tulus mencintai & menyayangi saya, saya mencoba untuk menerima dia apa adanya.

Saat ini, saya sadar bahwa selama ini kami telah banyak melakukan dosa & maksiat. Saya banyak bertaubat kepada ALLAH dengan tahajud setiap malam & memohon ampunan-NYA. Saya pun melakukan istikharah agar ALLAH senantiasa memberikan pilihan jodoh yang diridhoi-NYA untuk saya. Saya juga mengajaknya untuk bertaubat & saling menjaga jarak. Karena hubungan kami memang jarak jauh, saya cukup terbantu dengan itu untuk mengurangi intensitas pertemuan kami.

Yang membuat saya bingung, saat ini ada seorang pria lain, katakanlah si F, yang ingin melamar saya jika saya sudah lulus kuliah. Dia teman lama saya, kami bertemu 3 tahun lalu dalam sebuah kegiatan pesantren mukim 1 bulan. Si F memang sudah menyukai saya & pernah menyampaikan ingin melamar saya 3 tahun lalu jika saya sudah lulus kuliah, namun karena saya belum terlalu kenal dia & belum ada chemistry, jadi saya hanya menganggapnya teman saja. Selama 3 tahun ini, si F masih sekali-kali mengontak saya & menanyakan kabar saya & menanyakan kapan saya lulus kuliah. Dari segi pendidikan & status sosial, si F sepadan dengan saya, bahkan dia sudah bisa dikatakan mapan.

Tahun ini saya lulus kuliah, rencana awal saya memang saya ingin menikah segera setelah saya lulus karena tidak ingin menyia-nyiakan masa muda dengan terus melakukan dosa & maksiat. Sekarang saya sangat bingung untuk memilih antara si R atau si F?

Jika saya mengikuti hati & perasaan, saya sudah sangat cocok dengan si R, walaupun dengan keadaan dia yang serba terbatas. Saya merasa tidak bisa membahagiakan orang tua saya dengan pilihan ini. Namun, saya juga terkadang takut kalau-kalau dosa yang telah kami lakukan selama ini akan berpengaruh terhadap rumah tangga kami nanti.
Jika saya mengikuti keinginan orang tua & membahagiakan mereka dengan mendapatkan seseorang yang sepadan dengan kami yaitu si F, saya harus berusaha untuk belajar mencintai si F ketika kami sudah menikah nanti. Walaupun secara fisik, si F cukup tampan karena dia seorang keturunan Arab.

Apa yang harus saya lakukan? Setiap malam saya masih melakukan tahajud & istikharah untuk memohon petunjuk-NYA. Tapi saya juga merasa harus berkonsultasi dengan alim ulama untuk mendapatkan saran & nasehat.

Saya takut menyakiti si R jika saya menikah dengan si F, karena perasaan & hati kami yang sudah sangat saling mencintai. Namun, saya juga masih takut tidak bisa mencintai si F jika kami sudah menikah nanti dan menyesal karena tidak memilih si R yang saya cintai.

Orang tua saya & beberapa orang lain pernah berkata, bahwa cinta itu pasti tumbuh setelah menikah dengan adanya kebersamaan. Jadi tidak usah khawatir tidak bisa cinta dengan suami. Tapi saya juga banyak mendengar kisah rumah tangga yang sudah bertahun-tahun tapi tetap tidak bisa mencintai pasangannya. Bagi saya, pernikahan adalah hal yang sangat sakral, sekali seumur hidup. Saya tidak ingin menyesal dengan pilihan saya nanti.

Mohon nasehatnya, apa yang harus saya lakukan selain saya terus memasrahkan diri ini pada ALLAH SWT karena saya yakin hanya DIA-LAH yang dapat memberikan jalan atas semua ini.

Terima Kasih. Saya sangat menunggu saran dan nasehat dari ustadz.

Jawaban M Shodiq Mustika:

Aku menduga, kebingunganmu disebabkan oleh hadirnya F sebagai orang ketiga diantara dirimu dan R. Seandainya F tidak berkehendak untuk menikahimu, kamu pasti menerima R sepenuhnya, ‘kan?

Kalau memang begitu, maka kebingunganmu timbul lantaran munculnya tawaran yang lebih menggiurkan, yaitu dari F. Dengan kata lain, kamu ingin “mengejar keutamaan”.

Menurut kaidah Islam, “menghindari kemudharatan” lebih perlu kita utamakan daripada “mengejar keutamaan”. Jadi, kamu perlu lebih mempertimbangkan kemudharatan yang mungkin timbul diantara dua altrnatif itu.

Ketika kamu memilih satu diantara R dan F, maka salah satu di antara mereka akan merasa kecewa atau sakit hati. Manakah yang lebih sakit hati bila tak menikah denganmu? Dengan memperhitungkan bahwa kamu sudah berhubungan akrab dengan R, maka R lah yang akan lebih sakit hati. Kalau begitu, memilih R mungkin lebih baik daripada memilih F.

Akan tetapi, kamu tidak perlu buru-buru menetapkan begitu. Aku sarankan dirimu untuk bermusyawarah lebih dulu dengan R. Yang penting, perhatikanlah bahasa nonverbal (bahasa tubuh, raut wajah, dsb) si R ketika kalian membicarakan hal ini. Dari sini mungkin kamu bisa menyimpulkan apakah R benar-benar akan sakit hati bila putus hubungan cinta denganmu.

Seandainya R malah lega bila tak jadi menikah denganmu, tentunya kamu takkan merasa berat untuk menikah dengan F. (Memang, cinta tidak pasti tumbuh setelah pernikahan, tapi DAPAT ditumbuhkan. Selama ada kemauan, di situ ada jalan.) Namun kalau R tampak jelas akan sakit hati bila hubungan cinta kalian terputus begitu saja, maka tentunya kamu akan lebih mantap untuk memilih R. Untuk lebih mantapnya, kusarankan kau lakukan istikharah lagi. Wallaahu a’lam.

Konsultasi: Lantaran perbedaan, haruskah mengakhiri hubungan?

ini pertama kali saya melihat situs yang benar2 bisa menggetarkan hati saya, krn ketika saya sedang bingung tentang masalah cinta, situs ini bisa menunjukan jalan keluar dari kebingungan saya, tapi saya masih punya satu masalah cinta yang saya harap abi bisa memberikan jalan keluarnya.
saya adalah akhwat berumur 26 thn yang lumayan aktif mengikuti pengajian dan kegiatan2 dakwah, saya sudah bekerja, dan alhamdulillah memiliki banyak teman yang baik di sekitar saya.
di tempat kerja saya sekarang saya dikenalkan dengan seorang ikhwan yang katanya menaksir saya, dan ternyata ikhwan tsb lumayan menarik bagi saya.
sekarang kami berdua dekat sekali, jarang jalan berdua tapi sering sms-an dari bangun tidur hingga akan tidur lagi (alhamdulillah isi sms-nya masih tdk keluar dari batas2 kesopanan), walaupun kami tidak selalu setuju akan hal yang sama tapi kedekatan kami berdua bisa dibilang “seperti” sedang pacaran.
kami pernah membicarakan tentang pernikahan, karena kami berdua mengerti bahwa apa yang kami lakukan ini bisa menjrumuskan kami ke dalam zina,tapi pembicaraan ini belum membuahkan hasil, karena kami memiliki perbedaan2 yang signifikan.
salah satunya seperti yang di sebutkan dalam artikel abi yang menjabarkan kriteria siap menikah.
di situ disebutkan bahwa pria harus lebih tua dari wanita, sedangkan ikhwan yang dekat dengan saya ini lebih muda 4 thn dari saya, selain itu ikhwan ini aktifis di aliran islam yang berbeda dengan saya.
makanya walaupun dekat tapi sepertinya untuk menikah kami berdua masih ragu2 karena perbedaan2 itu & untuk mengakhiri hubungan kami ini sepertinya amat tidak mungkin untuk kami berdua.
tolong berikanlah pandangan abi untuk masalah saya ini.
untuk perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Bercinta dengan Pria Hiperseks Yang Telah Beristri

Assalamu’alaikum ustad, saya hamba Allah di jakarta. Saya seorang wanita yg blm menikah, saat ini saya berhasil membuat seorang laki2 hipersex (telah beristri, inisial Z) bertaubat.Dan entah kenapa, mengapa ALLAH membuat kita menjadi semakin dekat dan semakin yakin bahwa kita berjodoh, apalagi dengan kita dipertemukan oleh ALLAH dengan seorang Ustad (mantan hiperseks, punya istri ke2, istri pertama diceraikan). Kita berdua merasa semenjak kita berdua dipersatukan, kita semakin rajin beribadah ke allah.

Kita berdua punya kebiasaan buruk & ternyata saya baru tahu dari si Z, bahwa kebiasaan yang saya lakukan selama ini yaitu Onani. Dan kita berdua sekarang sedang menjalani niat untuk menikah. yang saya mau tanyakan ke ustad,

1.Si Z mengajak saya menikah utk mencegah onani lagi, tetapi saya menolak karena saya tidak mau dipoligami, & saya bilang ke dia tunggu jawaban dari allah, karena waktunya sekarang belum tepat.Apakah penolakan saya benar ustad?Dosakah saya kalau saya meminta ke dia untuk memilih salah satu diantara saya/Istrinya, mengingat semakin lama saya akrab sama dia semakin takut dosa ke allah?Niat si Z ke saya mau menikahi saya, setelah dia memberikan kebaikan tuk istrinya dengan mengikuti petunjuk allah & tidak melanggar perintah ALLAH termasuk memberikan nafkah lahir & batin, serta menunggu kesempatan dari allah tuk menceraikan istrinya.Apakah tindakan si z dibenarkan sedangkan dia menjalani hubungan cinta yg sehat dengan saya tp masih beristri dengan yang lama?

2.Apakah kita harus menunggu saat yang tepat dari ALLAH?

3.Haruskah si Z mengaku pada istrinya tentang keadaan dia dulu yg Hipersex?

4.Apakah yang harus saya lakukan sebagai seorang wanita,apakah saya harus menghindar dari si Z, karena saat ini si Z masih beristri?

5.Apakah ustad tersebut petunjuk buat kita berdua?

6.Doa apa yang bisa meyakinkan saya bahwa dia bukan jodoh saya? karena saya sudah solat istikharah tapi jawabannya kenapa ALLAH tidak memisahkan kita padahal dia masih beristri..

saya mohon bantuannya untuk menjawab pertanyaan2 saya, terima kasih ustad.

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Konsultasi: Suami Selingkuh & Menghamili Ceweknya

sy usia 36 th suami 40th,sdh menikah belasan thn tp blm dikarunia anak,sy pikir suami jg fine2 aja,tp ternyata sy salah,5 bln yg lalu sy mengetahui bahwa suami selingkuh,dia terus terang dan minta maaf,sy pikir masalah selesai, tp Allah msh memberi cobaan lg pd sy,buntut dr perselingkuhan suami adalah ceweknya hamil dan tanpa sepengetahuan sy suami menikah sirih dg ceweknya itu,dia br cerita 1 bln setelah dia nikah sirih,dunia rasanya runtuh…sy tdk bs terima,sbg wanita dan istri yg sah sy merasa tdk dihargai,sy memang blm bs kasih keturunan tp dokter tdk vonis sy mandul,awalnya suami nangis2 minta maaf sm sy untuk ikhlas bs terima dipologami krn dia jg blm kenal lama sm cewek itu,dia cuma hrs bertanggung jawab krn sdh menghamilinya,akhirnya dgn paksaan dr keluarga suami jg sy mengalah krn keluarga suami jg tdk ingin sy sm suami bercerai,suami janji bahwa dia tdk akan berubah dan akan selalu pulang kerumah,tp kenyataannya sekarang berubah,krn kehamilan ceweknya semakin besar suami meminta sy untuk ikhlas lagi memperbolehkan dia membagi waktu antara sy dan ceweknya,dia minta 1 hari plng ke sy 1 hr plng ke ceweknya,krn skrg ceweknya sdh dikasih tempat tinggal sm suami sy(awalnya dia kost krn jauh dr orang tuanya dan dia belum 20 thn)sy bingung semakin hari semua semakin berubah,apa yg suami janjikan dl lambat laun berubah,suami bilang bahwa dia sayang sekali sm anak yg dikandung cewek itu,apa yg hrs sy lakukan?di satu sisi sy merasa pelan-pelan disingkirkan suami krn sy tdk bs beri dia anak dan dia lbh memikirkan dan memperhatikan ceweknya,disisi lain sy jg msh sayang sm suami,tiap shalat sy selalu minta dikasih jd org yang sabar dan ikhlas,sy rasakan skrng sy ikhlas dg cobaan yg Allah berikan pd sy tp sy tdk bs ikhlas menerima kehadiran cewek itu,apa sy bercerai aja ya?biar beban sy dan suami bs berkurang,sy beban krn sy tdk ikhlas dipoligami,suami jg merasa beban ketika berada dgn sy krn memikirkan yg hamil takut terjadi apa2,tolong bantu sy agar sy tdk ambil keputusan yg salah…krn selama ini hati sy msh berubah-rubah,kdng sy bs berdiri tegak tp kdng sy tdk bs menahan air mata kalo ingat perbuatan suami dan kenyataan yg ada skrg,terima kasih

Maaf, baru sekarang ku sempat balas email. Apakah belum terlambat bila sekarang kusampaikan saran? Baca lebih lanjut

Konsultasi: Dia duda keren, tapi…. gimana, ya?

assalamu’alaikum wr. wb… ustad pa kbr? sehat kan? sy dl pernah bertny mslh jodoh jg mell email ni kepada ustad, kemudian ustad menjwbnya dgn sgt baik. terima ksh sy ucapkan untk itu. sekrg sy ingin bertanya lg, smg ustad tdk bosan menjawab pertanyaan2 dr sy.

begini, saat ini sy bingung dihadapkan pada sebuah keptusan. saya dijodohkn oleh keluarga kepda seorg duda wafat istri tnpa anak. tentara, merokok, agm alakadarnya, akhlak baik dan menyenangkan bila ngobrol dgnnya. dia masih da hub saudara dgn sy.
awalnya sy ragu dgn pilihan ortu ini. dia jarang sholat dan kuat merokok. tp ortu membesarkan hati saya agar mau menerimanya. ortu meyakinkan bhw sy akan mampu mengubah dia menjadi lbh baik lg. dua kali ibu sy nangis minta sy mau menerim dia.pelan2 hati sy tbuka dan ingin berkenalan lbh jauh dgnnya. tnyata dlu dia sholat, tp sejak ditinggal istrinya dia berhenti sholat krn frustasi/stres. sy phm dgn kondisinya.kemudian pelan2 sy ajak dia kembali sholat dan mengenal islam.alhamdulillah dia sgt senang, ktnya dia ska dgn wanita yg sellau mengingatinya jk ada kekeliruan yg dia buat.pelan2 dia mulai rajin sholat.sy senang dgn perubahan ini. dia pun berjanji akn mulai mengurangi rokok.
namun ustad, ketika ortu tau bhw gajinya kecil dan harus dibagi 2 pula dgn utang ortunya, serta merta ortu sy lgsg membatalkan perjodohan itu.sy kecewa ustad, dia pun sedih mngetahinya.sy terlanjur senang dgnnya.sy ga trima ortu membtlkan hanya krn mslh keuangannya.walau bgtu, sy msh berkomunikasi dgnnya lwt tlp/sms krn dia diluar kota .sy bbrp kali tatapmuka dgnnya dan sempat pergi mengunjungi tantenya.semuanya bs sy trima apa adanya dirinya.namun, sy msh ragu apakah dia akan tetap bs rajin sholat ketika menikah nanti?berulangkali sy sampaikn kegelisahan sy itu, dgn yakin dia menguatkan sy, dia akan berusaha trs untk itu, karena dia malu klu istri sholat masa dia sbg suami tdk sholat. dari dulu pun sebenarnya dia sholat kok.
pertanyaan saya :

1. bisakah saya pegang kata2nya itu sbg jaminan bhw dia akan bs lbh baik lg ke depannya (kt org dia baik dan nurut kl dibilg sepnjg itu baik)
2. apakah sy salah telah mengindahkan kata2 ortu untk memutuskan hubungan dgnnya krn ortu keberatan dgn keuangannya?(sy khwtr jk ini berlnjut ke pernikahan, dan pernikahan mengalami mslh ortu akan menyalahkan sy krn tdk nurut pa kt ortu dan bs2 krn tak direstui kami terhambat utk bahagia)
3. apakah sudah tepat pilihan saya?(krn pengetahuan /pengamalan agamanya bs dikatakan msh dibwh saya)
4. menurut bpk bagaimana langkah kami selanjutnya?(memutuskan/menikah dgnnya) dan bagaimana mnt restu ke ortu?
5. sy istikharah selama ini, namun jawabannya blm sy temukan.bagaimana cara mendaptkan jwaban istikharah sy?

sy mohon pak ustad dpt segera memberi jawaban atas kebingungan sy ini. sebelum dan sesdahnya saya ucapkan jazakallahu khairon katsir.

Wa’alaykumussalaam…. Pertanyaanmu lumayan banyak. Sayangnya, waktuku tak cukup banyak untuk menerangkannya secara panjang lebar. Jadi, maaf, jawabanku singkat saja: Baca lebih lanjut