Sudah lama istikharah, perlukah istikharah lagi?

Pada tahun 2003 saya pernah dikecewakan oleh pria beristri. Kekecewaan di hati saya sungguh luar biasa sampai-sampai saya putus asa dalam segala hal. Dalam kondisi kecewa dan limbung saat itu saya menyerahkan semua urusan (khususnya percintaan) kepada Allah SWT. Hampir tiap malam saya sholat tahajut dan istikharoh, saya memohon kepada Allah: petunjuk dan gambaran siapa kira-kira laki-laki yang mampu mengangkat saya dari keterpurukan dan laki-laki itu mau menikahi saya. Saya terus berdoa dan berdzikir hingga suatu hari (saya tidak ingat waktunya malam atau siang hari) ketika saya sedang berdzikir saya tertidur dan bermimpi (?) mendengar lantunan ayat suci Al-Quran, lalu ada suara seperti deru angin. Diantara deru angin tersebut saya mendengar dengan jelas sekali ada suara orang (saya juga tidak ingat apakah itu suara perempuan ataukah laki-laki) menyebut nama seseorang sebanyak 3 x.

Ketika saya bangun, saya merasa aneh. Anehnya begini: seumur-umur belum pernah ada nama seperti itu. Saya berfikir apakah saya salah dengar? Tapi suara itu begitu jelas dan tidak mungkin saya salah dengar. Pada waktu itu saya mengambil kesimpulan: mimpi saya hanya bunga tidur, toh nama yang terdengar di mimpi tersebut tidak ada dalam hidup saya (saya mengambil kesimpulan seperti itu setelah yakin tidak ada teman, kerabat, saudara ataupun rekan kerja yang senama dengan nama dalam mimpi saya).

Waktu terus bergulir dan sekitar satu tahun kemudian ( Januari 2005) saya bekerja di sebuah yayasan. Singkat cerita saya berkenalan dengan seorang pria yang 5 tahun lebih muda dari saya. Entah dari mana awalnya saya ada rasa suka dengan pria tersebut. Sebagaimana adat dan Budaya Jawa, saya memendam perasaan tersebut dan tidak berani mengungkapkan kepada yang bersangkutan. Saya minta petunjuk Allah dengan sholat Istikharoh lagi dan ada keyakinan dalam hati saya: Jika memang dia berjodoh dengan saya, Allah pasti memberi jalan untuk bersatu.

Sekitar bulan Juli 2005 saya keluar dari yayasan dan praktis tidak pernah bertemu lagi dengan pria tersebut. Ketika saya di luar Jawa, tahun 2007, saya memberanikan diri mengungkapkan perasaan saya lewat telepon. Pikir saya waktu itu, toh kalaupun ditolak saya tidak berhadapan langsung dengan dia. Bisa ditebak, dia menolak saya dengan halus. Ternyata dia hanya menganggap saya sebagai teman tidak lebih dari itu. Saya kembali lagi bimbang dan kecewa. Dalam kondisi kecewa tersebut saya hapus nomer HPnya dan bertekat tidak menghubunginya lagi. Beres urusan.

Bapak Shodiq…
Urusannya ternyata belum juga beres. No Hpnya sudah terhapus dan saya kehilangan jejaknya. Tiba-tiba saya seperti diingatkan oleh mimpi saya. Bapak Shodiq… ternyata nama pria tersebut sama seperti yang saya dengar dalam mimpi saya. Bahkan nama belakang dia sama dengan nama depan ayah saya. Saya baru menyadarinya setelah kehilangan jejaknya. Hingga pada suatu malam takbir Idul fitri, saya kembali memohon petunjuk kepada Allah: Jika memang dia berjodoh dengan saya mohon kiranya Allah menggerakkan dia untuk menghubungi saya setidaknya kirim ucapan melalui SMS. Jika dia tidak berkirim SMS berarti itu suatu pertanda bahwa saya tidak berjodoh dengan dia.

Entah kebetulan entah itu jawaban dari Allah, dia mengirim ucapan hari raya kepada saya pada hari ke-2 Idul Fitri. Hati saya waktu itu betul-betul deg-deg an. Jujur, rasanya keyakinan bahwa dia adalah jodoh saya kembali tumbuh. Tetapi jika teringat ungkapan penolakan dia, saya kembali ragu.

Bapak Shodiq…
Saya tidak mau membuang-buang waktu saya. Saya melupakan dia dan membuka hati untuk pria lain. Sudah dua pria yang masuk ke hati saya, tetapi anehnya kenapa setiap kali saya merasa suka kepada pria lain dia selalu muncul dalam benak saya. Dia selalu membunuh rasa rindu saya terhadap pria lain. Bayangan pria lain melintas tetapi yang tersebut namanya di hati saya hanya dia dan dia. Dua pria yang sempat singgah di hati saya itu pun sekarang kabur dengan mengguratkan luka.

Yang ingin saya tanyakan kepada Bapak Shodiq:

  1. Apa yang harus saya lakukan, apakah saya harus istikharoh lagi memohon petunjuk Allah tentang dia?
  2. Seorang teman pernah mengatakan kepada saya: “yakinlah, jika engkau yakin maka akan ada keajaiban seperti yang kau yakini.” Apakah ungkapan tersebut benar adanya ditinjau dari Al-Quran dan Islam?
  3. Naifkah jika sampai saat ini saya masih berusaha menjalin silaturahmi dengan dia (sambil berharap dia adalah jodoh saya)?
  4. Mohon kiranya Bapak menganalisa kejadian demi kejadian yang saya tuliskan di atas dan memberikan pendapatnya berkenaan dengan perjodohan saya.

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Pilihan Cinta (resensi buku di Riau Pos)

Istikharah Cinta
Penulis        : M Shodiq Mustika
Penerbit      : QultumMedia, Jakarta
Cetakan       : Kedua, 2008
Tebal            : viii + 131 halaman

Urusan jodoh kadang gampang-gampang susah. Banyak yang dengan mudah menemukan jodoh. Namun tak sedikit yang pusing memikirkan jodoh yang tak kunjung datang. Kalau pun datang, masalah pun tak berhenti sampai di sana. Ada yang datang, namun harus menentukan pilihan yang sama sulitnya, karena yang datang tidak satu. Di sini problematika menentukan jodoh yang ideal sebagai suami atau istri harus terjadi.

Baca lebih lanjut