Curhat: Mau Nikah… Pernah Diperkosa

Ustadz, saya pernah diperkosa oleh paman saya ketika saya masih kecil. Dan itu terjadi hingga 3x. Waktu itu umur saya sekitar 6 tahun .waktu itu juga saya belum tau itu yang namanya diperkosa. Saya baru mengetahuinya ketika sudah dewasa. Sampai sekarang saya tidak tau orang itu di mana. Saya selalu mendoakannya semoga dia mati dalam keadaan paling hina. Itulah doa saya pada nya. Dan rahasia ini saya pendam sampai sekarang. Karena saya malu mengatakannya. Alhamdulillah sekarang saya mulai menghijab diri dengan jilbab seperti yangg di syariatkan islam, dan beberapa bulan yang lalu sya dilamar oleh seorang hafidz quran tetangga saya. Saat ini ia masih kuliah di salah satu negara islam, insyaallah akan pulang dalam beberapa bulan lagi. Dan ia terus mengatakan bahwa ia ingin menjadikan saya umi bagi anak2nya. Sampai saat ini saya hanya diam. Rasanya saya tidak pantas. Tidak adil bagi nya mendapatkan saya. Saya kira lelaki manapun tidak ingin mendapatkan wanita yang pernah diperkosa.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

Konsultasi: Aktivis Rohis yang Merasa Kurang Cantik

Astaghfirullah. Sudah hampir tiga bulan aku lupa menjawab pertanyaan Puspita, seorang aktivis Rohis (Kerohanian Islam) di sekolahnya. (Kalau aku juga lupa menjawab pertanyaanmu, silakan ingatkan diriku!) Dia melontarkan pertanyaannya pada 27 Juli 2008. Baru sekarang aku ingat untuk menanggapinya.

Puspita bertanya:

Assalamu’alaikum. Pak, saya mau bertanya. Alhamdulillah saya adalah siswi anggota Rohis di sekolah saya. Dan pendidikan Rohisnya bagus juga menyenangkan. Yg ingin saya tanyakan adalah, [1] para anggota Rohis memiliki pendapat yg berlainan dalam hal pacaran. Ada yg berpendapat tidak boleh, ada yg berpendapat boleh asalkan masih dalam batasan yg sewajarnya & tidak mengumbar nafsu. Kebetulan saya berpendapat boleh asalkan masih dalam batasan yg sewajarnya & tidak mengumbar nafsu. Mohon penjelasannya, pak. [2] Lalu para siswa/i yg lain banyak yg tidak jadi masuk Rohis karena takut tidak boleh pacaran. [3] Jujur saya bingung juga dgn argument itu yg selalu melekat pada anak Rohis. Saya menjadi bingung apakah saya lebih baik tidak berpacaran saja? [4] Sementara saya sudah berjanji dalam hati pada diri saya sendiri & pada Allah, bila saya pacaran, saya tidak akan mengumbar nafsu & sewajarnya saja tanpa mengikuti cara pacaran yg lainnya. Mungkin niat saya untuk pacaran pun boleh dikatakan keterlaluan. Saya ini penyakitan sedari kecil. Dan semakin lama memang semakin parah. Saya menginginkan kelak yg menjadi pacar saya itu mau melindungi dan menyayangi saya tetapi bukan kasih sayang yg buta, tetapi didasari rasa sayang yg tulus dan dilandasi agama. [5] Lalu pertanyaan yg terakhir (maaf banyak bertanya, saya biasa dikatakan si haus ilmu), saya pernah bertanya kepada teman-teman saya, apa yg pertama kali mereka lihat dari seorang wanita sehingga mereka ingin wanita itu menjadi pacar merekan? Jawaban mereka adalah kecantikan luarnya. Jujur pak, saya agak sedih juga karena saya merasa wajah saya biasa saja & tidak cantik (meskipun Alhamdulillah ada beberapa orang yg mengatakan Allah telah memberikan saya anugrah seperti itu). Maaf apabila pertanyaan saya ini merepotkan bapak. Saya ucapkan terima kasih banyak. Wassalamu’alaikum.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

Konsultasi: Ingin nikah tapi belum mapan

besar harapan saya,..agar Allah berkenan membuka sedikit tabir rahasiaNya melalui saran-saran Bapak juga ikhwah fillah lain di hamparan bumiNya.
Saya seorang wanita,.muslim.orng bilang akhwat,..namun pantaskah saya,.sedang hanya Allah Yang Lebih Besar Pengetahuannya tntg hal ini.
Hampir 2 bulan ini,.saya mengenal seorang pria,.usia kami sama-sama 20 tahun.sy smtr 5 dan beliau baru saja masuk kuliah dkarenakan 2 tahun stlh lulus dari Sklh Kajuruan, beliau bekerja disebuah prshaan swasta. Gajinya beliau tabung untuk kemdian melanjutkan kuliah,.di tahun ini.
Saat di SMK,.bliau trgabung sbg ADS,.dkarnakan jam kerja yang tdk mmngkinkan,.bliau pun vakum dari aktifitas tarbiyah..saya sendiri mulai aktif dalam tariyah stlh masuk di bangku kuliah.
Intiny,.kami berdua sudah bertekad bulat untuk menikah. Ya. Hanya demi itu kami bertahan ditengah keragu-raguan ayah saya untuk melepas sy.
Secara gharis besar,.ayah saya belum (sekali lagi belum) berkenan melepas saya dengan alasan,..si calon berasal dari daerah yang cukup bisa dikatakan jauh. Saya di kudus, sdgkan beliau dari indramayu. Kshatan saya memg agak rentan,,shg ayah dan ibu pny kkhawatiran yg besar thdp saya,. Padahal sy anak sulung dg 2 adik.
Awalnya ayah juga khawatir tntg perbedaan ltrblkng suku yang akan berimbas ke budaya dan kbiasaan hidup nantinya. Namun stlh saya jelaskan bhw insyaAllah beliau orang yang “paham”, hal itu pun tidak menjadi masalah lbh lanjut.
Mnrut yang saya tangkap,.sekarang ini yang membuat ayah sdkit terganjal adlah bhwa beliau (si calon) belum “mapan”,.
dmata saya pribadi,..menikah justru akan membuka pintu-intu rizki,.asalkan beliaupria yang bertanggungjawab,.insyaAllah saya yakin akan ada saja jalan keluarnya,.
si calon tdk kberatan untuk kuliah sembari bekerja,.namun ia yakin tidak akan maksimal,..dan bliau merasa dg begitu bliau tidak dapat membuktikan pada ayah saya bahwa bliau dpt mbahagiakan sya,..bliau juga pernah menanyakan pada sy tntg haruskah bliau membatalkan rencana kuliahnya,..saya menjawab TIDAK. Sy jells tdk tega mnhancurkan masa dpan impiannya,.apalagi bliau tlh bekerja dan menabung 2 tahun untuk kuliah ini…jadi, satu-satunya alternative jwban yang kami punya smpai skrang adalah,.menunggu beliau 4 tahun lagi,.yaitu smpai beliau lulus shngg bisa total bkrja.
Yang kemudian menjadi masalah,.bahwa menurut keyakinan yang sy pegang,.sudah barang tentu berlama-lama dlm situasi sprt ini tidaklah “sehat”,.saya khawatir akan memperpnjang khayalan kami,.dan yang paling tidak kami inginkan adalah tjdnya fitnah.
Saya bermaksud mempercepat pernikahan kami,.dngan alasan,.MENHINDARKAN FITNAH DAN MENJAGA KEHORMATAN KAMI. Bisakah hal ini dibenarkan Pak?? Lalu bagaimana bila pernikahan kami “tak bermodal”???
Pertanyaan saya,.bagaimana cara saya meyakinkan org tua trutama ayah, sedangkan kami berdua juga paham bahwa pernikahan juga butuh persiapan,.mental,..spiritual,.pun material,.ketiganya penting. Tidak bisa pincang.
Bagaimana Pak,..sungguh ketakutan terbesar saya adalah HILANGNYA IZZAH KAMI.
Jazakallah khairan jazza,.

Jawaban M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

10 Perbedaan Ta'aruf dan Pacaran Islami

Konsep Ta’aruf praNikah ada banyak. Begitu pula konsep Pacaran Islami. Begitu banyak kuantitas konsep-konsep itu, sehingga kita tak bisa secara eksak menyimpulkan perbedaan antara ta’aruf dan pacaran islami. Sekalipun demikian, kita dapat menganalisis perbedaan antara konsep seseorang dan konsep seseorang lainnya. Misalnya antara konsep saya mengenai pacaran islami (yang saya tuangkan di blog Pacaran Sehat ini) dan konsep seorang penulis mengenai taaruf (yang dia tuangkan di buku Taaruf, Keren..! Pacaran, Sorry Men!).

Baca lebih lanjut

Ciuman dalam Pacaran: antara fakta dan mitos

Sahabatku… pacaran adalah salah satu perbuatan yang mendekati zina yaitu zina mata, zina tangan, zina hati, zina kaki, zina mulut, dll. Kamu dapat berdalih bahwa bisa kok terbebas dari zina-zina itu ketika pacaran. Tetapi remaja jaman sekarang gitu loh!!. Kalau nggak pegangan tangan atau ciuman maka akan disebut ketinggalan jaman.

Masak, gitu sih? Ayolah Baca lebih lanjut

Dzikir untuk Atasi Derita di Jalan Cinta

Berikut ini adalah kutipan naskah buku M Shodiq Mustika, Dzikir Cinta Islami, Bab 3, “Atasi Derita di Jalan Cinta”. Isinya: cara dzikir [1] supaya tangguh hadapi masalah berat, [2] supaya tabah hadapi musibah, [3] supaya penyesalan tidak sia-sia, [4] supaya selamat dari penderitaan, [5] supaya tidak menderita lagi.

3

Atasi Derita di Jalan Cinta

Assalamu ‘alaikum ustadz Shodiq Mustika.

Saya sedang menghadapi masalah percintaan dimana dalam kasus ini saya yang bersalah. Kami sudah pacaran selama 7 tahun, dan saya sering menyakiti hatinya dengan wanita lain. Sekarang pada saat dia sudah tidak tahan dan ingin menyendiri, saya merasa sangat kehilangan. Padahal, sebentar lagi kami masuk dalam tahap lebih serius, yaitu menikah. Lalu sekarang ini saya hanya bisa berdoa dan meminta pada Allah supaya saya diberi kekuatan untuk bisa berubah jadi lebih baik (baik dari segi duniawi dan akherat) dan dapat sesuai dengan keinginannya.

[1] Apakah penyesalan saya ini terlambat?

[2] Apakah Allah akan memberi kesempatan pada saya untuk mendekatkan dia pada saya?

[3] Saya sudah berusaha untuk pasrah, tapi apakah saya salah kalau saya diberikan kesempatan yang terakhir?

[4] Kira-kira dzikir apa yang mampu membuat saya lebih tenang lagi?

Terima kasih. Wassalam.

Masyhar

Baca lebih lanjut