Cerpen: Reuni Dua Sejoli

Reuni Dua Sejoli*
JawaPos, Minggu, 13 Desember 2009

BAGAIMANA cara bersembunyi dari sahabat-sahabat masa lalu? Kedatangan mereka rasanya lebih pahit ketimbang perpisahan yang hanya menyisakan kepedihan sesaat, namun lekas terlupakan begitu datang sejawat-sejawat baru. Andai kau tahu betapa kenyinyiran yang mereka bawa sebagai oleh-oleh telah membuat aku merasa semakin tidak sempurna sebagai laki-laki. Nyaris pada setiap kedatangan yang tak terduga itu, mereka seakan tiada bakal puas sebelum tuntas bertanya-tanya; Kenapa kau belum juga punya keturunan, kawan? Barangkali ada yang salah dengan pernikahanmu? Atau kau sedang mengidap semacam penyakit yang membuatmu tidak pernah mampu membuahi istrimu? Ah, jangan-jangan mereka memang sedang bersekutu untuk mempecundangi aku.

Tanya-tanya nyinyir itu bagai lagu wajib yang selalu mereka nyanyikan di setiap pertemuan. Mungkin bagi mereka, itu semacam hiburan dalam sebuah pertemuan yang belum tentu terjadi lima tahun sekali, tapi bagiku rasanya begitu meremukkan. Dalam senda-gurau dan tawa-girang mereka, aku merasa terpuruk ke dalam sebuah liang yang begitu asing. Mereka memperlakukan aku seperti terdakwa yang terus-menerus disalahkan, hanya karena aku tidak punya keturunan, sementara mereka begitu subur –karena itu telah berkembang biak, beranak-pinak, seperti kucing.

Kau tentu masih ingat Sufyan bukan? Sahabat karibku yang bermata sipit –itu sebabnya ia kerap mengaku anak orang Cina– yang dulu kerap menyampaikan titipan salamku untukmu. Hingga kini mungkin kau tak pernah tahu bahwa sesungguhnya lelaki itulah yang punya ide menyuruhku berpura-pura sakit ketika kau masih menyangsikan keseriusanku mencintaimu. Saat itu ia menempelkan tiga koyo cabe di tubuhku –dua di kepala, satu di pangkal leher– agar kau percaya bahwa aku benar-benar sedang diserang demam yang terus meninggi. Sufyan menyelimuti tubuhku yang tergeletak layu dengan tiga lapis kain sarung yang sudah tiga minggu tak dicuci –bisa kau bayangkan betapa sulitnya aku berdamai dengan aroma tak sedap itu. Lalu ia menaruh sepiring ketupat sayur tanpa telur yang baru dicicip beberapa sendok di samping pembaringanku, sebagai pertanda bahwa aku sedang tidak punya nafsu makan.

Kau datang dengan raut wajah penuh kecemasan, dan mengira aku jatuh sakit lantaran kau nyaris menolak cintaku. Padahal ini hanyalah taktik licik untuk membuatmu bertekuk lutut, lalu takluk di tanganku. Dan benar, di kamar kosku yang berantakan seperti sampan pecah itu akhirnya kau nyatakan kesediaan untuk menjadi kekasihku. Kau bujuk agar aku mau dibawa ke puskesmas, ”Kedatanganmu hari ini adalah obat paling mujarab di sepanjang sejarah sakitku,” begitu aku menyanggah ajakanmu.

Hubungan kita berlanjut dan terus bertahan hingga perjodohanku dengan perempuan pilihan orang tua membuatmu merasa tersingkir untuk selamanya. Kini Sufyan sudah punya empat orang anak. Dua perempuan, dua laki-laki. Sebagaimana kedatangan sejawat-sejawat yang lain, selepas kedatangan Sufyan, aku ingin menghindar dari kedatangan sahabat-sahabat masa lalu. Ia begitu bergairah dan sumringah menceritakan perangai anak-anaknya di hadapanku –lelaki yang sudah sembilan tahun mendambakan kehadiran buah hati. Meski hidup Sufyan tak seberuntung hidupku, dari lagak bicaranya, ia merasa kelelakiannya telah teruji dan terbukti dengan kehadiran anak-anak yang lucu itu. Sementara aku, meski serba berkelimpahan, hidupku dikepung sepi yang tak terpermanai, sebab aku tidak punya anak, bahkan setelah sembilan tahun kami menikah. ”Besar kemungkinan kemandulan itu ada di pihakmu, kawan.”

Sejujurnya, daripada mendengar tuduhan itu lebih baik ia menampar mukaku, atau menendang rusukku dari arah belakang.

”Menurutku tak ada salahnya kau mengadopsi anak, agar kelak di masa tua kau tidak kesepian.”

Sampai hati sahabat lama itu mengatakan aku mandul. Seolah-olah aku telah berbuat dosa yang tiada bakal terampuni hingga aku dikutuk dengan kemandulan yang membuat kelelakianku cacat seumur hidup. Dan, yang paling mengejutkan, Sufyan juga bilang, jangan-jangan ketakmujuranku itu karena di masa lalu aku telah mengecewakanmu, perempuan yang pernah menjadi bagian paling inti dalam hidupku.

Sejak itulah aku tidak lagi menyukai reuni. Begitu tersiar kabar perihal sejawat lama yang akan berkunjung ke kotaku, kuupayakan segala cara, kusiasati bermacam-macam alibi guna menggagalkan pertemuan tak bermutu itu. Untuk apa menyambut kedatangan itu bila hanya membuat aku tampak semakin tak sempurna, dan semakin merasa berdosa karena telah mengkhianatimu.

Kini, kalaupun masih ada sahabat masa lalu yang kurindukan, itu hanyalah dirimu, perempuanku! Aku tidak hanya menunggu, tapi juga mencarimu, terus melacak jejak keberadaanmu. Aku ingin memastikan apakah pengkhianatanku di masa lalu masih menyisakan ngilu di hatimu? Bila iya, hidupku tiada bakal tenteram sebelum mendengar kata maaf darimu. Entah kenapa, aku makin memercayai ramalan kawan-kawan lama itu bahwa kemandulan yang telah membuat malu ini benar-benar karma dari perbuatan ingkar janji kepadamu.

Dulu aku pernah berikrar bakal memperjuangkan hubungan kita meski orang tuaku mengancam akan mencoret namaku dari silsilahnya. Tapi ternyata keteguhan hatiku untuk terus mempertahankan hubungan kita bahkan lebih tipis dari kulit bawang. Setelah perjodohan itu disampaikan orang tuaku, aku bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, menurut dan patuh tanpa perlawanan. Aku tak peduli pada terpiuh-piuhnya perasaanmu karena terbuang sebagai pecundang yang tak tentu pada siapa mesti mengadu. Sejak itu, hubungan kita terbelah bagai sebatang rotan yang dikerat dua. Kita menempuh jalan sendiri-sendiri. Aku menjadi suami bagi perempuan yang hanya bisa menyembuhkan penyakit parah orang tuaku, tapi tak mampu meredakan sakitku karena kehilanganmu.

***

Bagaimana cara menolak kedatangan sahabat-sahabat lama? Kedatangan mereka jauh lebih menyedihkan daripada perpisahan kita di masa lalu –yang berangsur-angsur bisa kurelakan, walau sukar diikhlaskan. Kau tentu masih ingat Fatalummiya, bukan? Perempuan lesung pipit yang dulu kerap bilang bahwa kau adalah lelaki paling beruntung mendapatkan cintaku. Sebelum jatuh ke tanganmu, aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya berhubungan akrab dengan laki-laki, hingga tak sekali dua aku dibilang lugu, kuper, sok suci. Sebenarnya bukan tidak ada laki-laki yang sudi menghampiriku. Andai kau tahu, sejawat karibmu yang bernama Sufyan itu adalah lelaki kesekian yang kutolak mentah-mentah –soal ini ia tidak pernah berterus-terang kepadamu bukan? Itu sebabnya ia bersenang hati menjadi pesuruhmu, mengantarkan titipan salam rindumu untukku. Meski telah gagal merebut hatiku, setidaknya ia masih berkesempatan bertemu denganku.

Entah kenapa, pada suatu hari ketika kau diserang demam tinggi, hatiku seperti terpanggil untuk menerimamu sebagai bagian paling penting dalam hidupku. Tentulah ada sesuatu yang membuatku tidak mungkin menolakmu waktu itu. Tapi kini, apakah itu masih perlu? Bukankah semuanya sudah berakhir sejak perjodohanmu yang disertai ancaman itu? Sebelum terlalu jauh, sebaiknya aku kembali menceritakan kedatangan Fatalummiya, salah satu sejawat lama yang datang kembali setelah bertahun-tahun kami tidak bertemu. Kini ia sudah menjadi ibu dari dua orang anak yang lincah. Melihat lagaknya berbicara, Fatalummiya begitu riang, begitu gemirang. Ia merasa telah sempurna sebagai perempuan. Hidupnya mapan sebagai wanita karir, suaminya orang terpandang, dan lebih-lebih lagi, rumahnya senantiasa riuh oleh tawa-canda anak-anak yang lucu, manja dan sesekali rewel.

Tapi justru dari sinilah kebencianku pada reuni singkat itu bermula. Saking asyiknya Fatalummiya menceritakan soal keluarga bahagianya itu, ia tidak menyadari bahwa beberapa hari sebelum kedatangannya, aku baru saja bercerai dengan suamiku. Bukan bercerai, mungkin lebih tepatnya; diceraikan, karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuknya. Aku menghormati keputusannya untuk mencari perempuan subur yang selekasnya bisa memberinya seorang bayi. Aku bisa mengerti betapa martabat kelelakiannya akan cacat bila ia terus mempertahankan aku. Kurelakan kepergiannya sebagaimana dulu aku merelakan kau mempersunting perempuan pilihan orang tuamu itu.

”Mungkin kemandulan itu ada di pihakmu. Menurutku tak ada salahnya kau mencoba pengobatan alternatif. Itu bila kau masih ingin punya suami lagi,” begitu Fatalummiya menuding.

Rasanya, daripada mendengar tudingan itu, lebih baik tidak usah saja ia berkunjung ke kotaku ini. Pertemuan itu serasa makin melapukkan seluruh persendian tubuhku, lebih-lebih setelah mertua dan semua keluarga suamiku menganggap aku tidak cukup syarat sebagai calon ibu. Fatalummiya juga bilang, ”Mungkin juga ketakmujuranmu itu karena dulu kau berpaling meninggalkan kekasih sejatimu. Setidaknya, tak ada sedikit pun upayamu untuk merebut kembali lelakimu dari kuasa perjodohan kolot itu, bukan?”

Ah, seolah-olah aku telah melakukan sebuah kesalahan yang tak terampuni, dan karena itu aku terhukum menjadi perempuan mandul.

Kini, aku tak pernah lagi mengharapkan pertemuan dengan sahabat-sahabat lama. Begitu tersiar kabar perihal seorang sejawat yang bakal berkunjung ke kota kecilku ini, aku bersiasat mencari sekian banyak dalih, agar ia membatalkan kedatangan itu. Untuk apa menyambut kedatangan yang hanya akan membuat aku semakin tidak sempurna sebagai perempuan? Kalaupun masih ada pertemuan yang kutunggu, itu hanyalah pertemuan denganmu, lelakiku. Andai kita bisa bertemu, aku akan mengingatkan bahwa sebaiknya kau berhentilah merasa bersalah lantaran di masa lalu pernah mengkhianatiku. Aku sudah memaafkanmu. Sebab, aku sangat mencintaimu!

Lelakiku, bagaimana kabarmu? Bagaimana keadaan keluargamu? Sudah berapa orang anakmu kini? Tentu kau sudah punya anak-anak yang lucu dan kemayu, mungkin sesekali bandel hingga kau membanting daun pintu melampiaskan jengkel. Tentu kau sudah berbahagia di sana, bersama istri dan anak-anakmu itu. Sedangkan aku, perempuanmu, dari waktu ke waktu, semakin karam di lubuk kesendirian. ***

Jakarta, 2009

*) Damhuri Muhammad, cerpenis kelahiran Padang yang tinggal di Jakarta

Iklan