Pacaran Islami dalam Novel “Ayat-Ayat Cinta”

ayat-ayat cinta

PACARAN DALAM ISLAM (kajian Analitis terhadap Pemikiran Habiburrahman El-Shirazy dalam Novel Ayat Ayat Cinta)

By teraskita

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (QS. Ali Imran :14).

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

Tapi, cinta seperti apa yang mampu memberikan rasa indah dalam pandangan manusia? Apakah cinta dalam pacaran termasuk didalamnya? Baca lebih lanjut

Iklan

Cerpen: Reuni Dua Sejoli

Reuni Dua Sejoli*
JawaPos, Minggu, 13 Desember 2009

BAGAIMANA cara bersembunyi dari sahabat-sahabat masa lalu? Kedatangan mereka rasanya lebih pahit ketimbang perpisahan yang hanya menyisakan kepedihan sesaat, namun lekas terlupakan begitu datang sejawat-sejawat baru. Andai kau tahu betapa kenyinyiran yang mereka bawa sebagai oleh-oleh telah membuat aku merasa semakin tidak sempurna sebagai laki-laki. Nyaris pada setiap kedatangan yang tak terduga itu, mereka seakan tiada bakal puas sebelum tuntas bertanya-tanya; Kenapa kau belum juga punya keturunan, kawan? Barangkali ada yang salah dengan pernikahanmu? Atau kau sedang mengidap semacam penyakit yang membuatmu tidak pernah mampu membuahi istrimu? Ah, jangan-jangan mereka memang sedang bersekutu untuk mempecundangi aku. Baca lebih lanjut

Penulis Romantis (2): Jalan Sunyi

Prolog

“Aku akan mengisahkannya dengan menahan napas. … Ada jalan setapak yang bercabang di hutan rimba. Aku mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Ternyata jalan itu menghasilkan perbedaan yang amat besar,” ujar Robert Frost dalam “The Road Not Taken”.

Seperti Robert Frost, aku juga mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Ketika ribuan orang mendambakan profesi mapan selaku dosen-tetap universitas kenamaan, aku justru melepaskannya “hanya” untuk merintis karir menjadi penulis buku. Ketika milyaran orang berdesak-desakan di jalan tahta dan/atau jalan harta, aku malah meluncurkan diri di jalan ilmu nan sepi. (Untuk penjelasan mengenai mengapa kupilih jalan yang sunyi ini, lihat Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan.)

Lantas, apakah jalan ilmu yang kupilih ini berdampak besar pula bagi kehidupanku?

Baca lebih lanjut

Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan

Prolog

Januari 2007 adalah bulan “bersejarah” buatku. Di bulan ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, seorang wanita menawarkan diri untuk aku jadikan istri. Amboi! Lelaki mana yang tak melambung jiwanya, seolah terbang ke surga, saat seorang perempuan menyerahkan diri kepadanya?

Demikian pula diriku. Bagiku, tawaran itu sungguh melambungkan jiwaku. Apalagi, aku sudah menikah dan telah dikaruniai dua orang anak. Tak kusangka, masih ada wanita yang mau “melirik” diriku ketika sudah berstatus kawin.

Baca lebih lanjut