Pacaran Islami ala Dekan Syariah IAIN Banda Aceh

Alhamdulillaah… Kini kita jumpai semakin banyak ulama Indonesia yang secara terbuka mengungkapkan ketidakharaman pacaran. Dengan kata lain, semakin banyak dukungan terang-terangan bahwa ada pacaran yang islami. Sesudah kita temui pacaran islami ala Dewan Asatidz PesantrenVirtual.com, pacaran islami ala M Quraish Shihab, pacaran islami ala tokoh-tokoh Muhammadiyah, sekarang kita saksikan adanya pacaran islami ala Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Berikut ini kutipan tanya-jawabnya di pkh-online-net: Baca lebih lanjut

Muhammadiyah: Hukum nikah sirri HARAM

FATWA TARJIH: HUKUM NIKAH SIRRI

Pertanyaan dari:

Pengurus salah satu BPH Amal Usaha di lingkungan Persyarikatan,

disampaikan lisan pada sidang Tarjih

(disidangkan pada: Jum’at, 8 Jumadal Ula 1428 H / 25 Mei 2007 M)

Pertanyaan:

Sampai sekarang masih ada orang Islam yang melakukan nikah sirri, yaitu pernikahan yang dilakukan oleh wali pihak perempuan dengan seorang laki-laki dan disaksikan oleh dua orang saksi, tetapi tidak dilaporkan atau tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA). Bagaimana hukum pernikahan seperti ini?

[Pengurus salah satu BPH Amal Usaha di lingkungan Persyarikatan, disampaikan lisan pada sidang Tarjih]

Jawaban: Baca lebih lanjut

Diakah jodoh yang terbaik bagi saya?

Setelah saya ikuti saran mas, dari buku yang berjudul Istikharah Cinta, saya mendapatkan mimpi, maka sy memutuskan memilih Bulan (nama samaran) dan meninggalkan Nda (nama samaran). namun setelah banyak masalah yang menghampiri, termasuk kekurangan Bulan mulai terlihat. bagaimana itu mas, padahal menurut Allah itu yang terbaik bagi saya?

Memang, “menurut Allah” merupakan yang terbaik. Hanya saja, apakah memang pilihanmu itu benar-benar “menurut Allah”? Baca lebih lanjut

Benarkah ta’aruf = pendekatan pranikah?

Kl ngikut 7 aturan d artikel “Fiqih Pacaran“, tu sih bkn pacaran,kl q nyebutny pendekatan sblm nikah (ta’arruf) gt. Ky’ny q g asing ma pmilik blog nie, p’nah liat nmany d tko bku, tlong kl unt hal ini jgn pke kata pacaran, ’pacaran’ terkesan unt acara senang2 j, bkn p’siapan unt nikah

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Boleh-boleh saja kau menggunakan istilah lain. Namun, karena kita berbicara di depan publik, marilah kita gunakan pengertian yang obyektif. Baca lebih lanjut

Benarkah pacaran islami itu hanya masalah istilah?

Seorang pembaca artikel “Pacaran sesudah menikah lebih nikmat?” mempersoalkan empat hal. Pertama, katanya, “Islam sudah memiliki istilah “ta’aruf”, lalu knapa musti ada lg istilah “pacaran islami” ..?” Kedua, dia beranggapan bahwa “pacaran islami” itu (kalau ada) mestinya adalah ta’aruf. Ketiga, dia mengira bahwa kebanyakan pembaca (bacaan islami mengenai pacaran) memaknai pacaran secara negatif. Keempat, kalau ada banyak orang mengartikan ‘pacaran’ dengan makna palsunya, maka dia menyarankan bahwa hendaknya kita ikut menggunakan makna palsu itu. Selengkapnya, dia mengatakan:

ah, itu cuma masalah diksi..
Islam sudah memiliki istilah “ta’aruf”, lalu knapa musti ada lg istilah “pacaran islami” sgala klo artinya sama aja?

yg di buku NPSP [Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan] itu, istilah ‘pacaran’ emg diartikan dgn makna palsunya, kenapa? karna orang kebanyakan jg mengartikan ‘pacaran’ dgn makna palsunya, ya biar nyambung aja bahasanya dgn pembaca..
lagipula ga smua org yg pacaran bermaksud melakukannya dlm rangka mempersiapkan pernikahan.. iya kan? apa belum pernah nemuin pasangan yg berpacaran trus ketika ditanya ttg kpn nikahnya, jawabannya ngalor ngidul kmana2, atau jawabnya “let it flow aja.. skrg jalani dulu yg ada..”, atau salah satunya jelas2 bilang “klo pacar yg skrg dijadiin suami/istri..kynya msh harus pikir2 lagi deh..”

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

PDKT antara ikhwan-akhwat aktivis dakwah

1. Dlm melakukan aktivitas,khususnya agenda dakwah, biasanya ikhwan dan akhwat paham betul utk ga terlibat jauh dlm mendiskusikan hal2 yg ga urgent, selain itu mereka jg terpisah alias ga ikhtilat. Dg begitu gmn bisa si penanya melakukan hal yg disarankan bpk itu?
2. Semua kebaikan2 yg ditunjukkan kpd si akhwat seperti meminta memilihkan buku2, dsb bila saya simpulkan bukankah itu merupakan “topeng” bagi si penanya yg kemudian bs aja hal itu dilakukan krn “ada maunya” yaitu utk mendptkan hati si akhwat, dan itu adalah sebuah penjebakan krn apa yg dilihat si akhwat adlah “kebaikan” si penanya.
3. Kemudian pd saran yg berikutnya yaitu pd “beri perhatian”. Bila demikian saran bpk,apakah itu berarti si penanya ga menundukan pandangannya kpd si akhwat smpe-smpe 2 helai rmbut aja bs kelihatan sm dia?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Yang ukhti persoalkan itu sering kubahas. Karena itu, jawabanku terutama adalah untuk menunjukkan artikel-artikel penjelas. Baca lebih lanjut

Konsultasi: Pacar si dia nonmuslim

Saya tertarik membaca tulisan bapak di internet dan buku Istikharah Cinta setelah saya memiliki permasalahan dengan hubungan romansa saya. Di sini izinkan saya untuk menceritakan permasalahan saya dan menanyakan solusinya kepada bapak agar saya sebagai laki-laki dapat membentuk dan memimpin rumah tangga kelak dengan baik.

Bermula dari awal kuliah S2 saya, setelah beberapa hari saya tertarik dengan seorang wanita di kampus, sebut saja namanya Maya (saya menggunakan nama samaran untuk menghindari orang yang bersangkutan tersinggung). Ketertarikan saya tersebut membuat saya dekat dengan Maya dan kami akhirnya jalan bersama. Sampai suatu hari saya mengetahui Maya ternyata sudah memiliki pacar yang telah jalan 4 tahun, anggap saja namanya Adi yg sudah bekerja. Saya mengatakan bahwa saya harus menjaga jarak dengan dia karena saya memiliki rasa suka dengan dia (saya tidak ingin rasa suka saya mengganggu hubungan mereka).

Setelah itu kami tidak pernah jalan berdua. Kami masih sering jalan bersama tapi bersama dengan teman-teman kuliah kami. Oleh karena saya dan Maya teman sekelas, tentunya kami bertemu hampir setiap hari. Setiap Maya ingin curhat soal pacarnya kepada saya, saya selalu menghindar secara tidak langsung. Tiga bulan berlalu, Maya putus dari Adi yang ternyata sellingkuh. Beberapa hari setelah putusnya mereka, Maya lebih mendekatkan diri ke saya. Saya yang memiliki rasa sayang ke Maya yang bertambah dari hari ke hari tidak bisa membohongi diri saya bahwa itu adalah kesempatan baik untuk lebih mendekatkan diri ke Maya. Sampai akhirnya kami pacaran atau jadian (bahasa anak muda sekarang).

Saya dan Maya melalui pacaran dengan momen yang lebih menyenangkan dari sebelumnya. Maya mengatakan ke teman-temannya bahwa saya adalah calon suami dia. Dan memang saya juga menyatakan keseriusan saya dengan Maya. Sampai-sampai kami pernah membicarakan pernikahan, mau punya anak berapa, dan membagi kerjaan saat pernikahan.

Saya melihat permasalahan muncul setelah 3 bulan berpacaran, Maya sering pulang bersama teman sekelas kami yang rumahnya berdekatan dengan Maya, yaitu Dea –sahabat perempuan Maya- dan Robert –teman laki-laki yang sekelas-. Maya tidak hanya sering pulang bertiga tapi juga sering pulang berdua dengan Robert saja. Saya yang dipanasi kecemburuan sering menanyakan itu dan beberapa kali dijelaskan dengan Maya bahwa mereka teman biasa dan Maya juga lebih sering jalan berdua dengan saya. Kecemburuan itu saya redam apalagi mengingat Robert beda agama dengan Maya yang Islam jadi saya sempat berpikir Maya bisa menahan atau menjaga diri untuk tahu bahwa saya dan Maya lebih berprospek daripada Robert yang beda agama.

Setelah 6 bulan berpacaran, Maya tiba-tiba memutuskan saya hanya karena pertengkaran dimana saya menyinggung soal Robert dan Maya yang semakin dekat. Saya bingung, saya belum berpikir soal Maya yang selingkuh karena saya mau berpikir positif saja. Maya mengatakan saya dan Maya tidak cocok dan saya mempertanyakan ketidakcocokan itu dimana karena toh memang tidak ada manusia yang persis sama fisik dan sifatnya.

Dalam kebingungan saya soal alasan putus, saya melihat Maya dan Robert tambah semakin dekat. Beruntungnya saya tidak lagi sekelas dengan Maya dan Robert yang memang mengambil jurusan yang berbeda dengan saya setelah melalui orientasi dan semester bersama. Saya sudah mencoba menjodohkan Maya dengan Ali, kakak kelas yang taat yang menyukai Maya juga, tapi nihil hasilnya. Suatu hari saya menelpon Maya tidak diangkat-angkat sampai kemudian beberapa jam setelahnya Maya mengangkatnya dan saya berhasil mengkorek hubungan Maya dan Robert.

Ada satu kesalahan yang baru saya sadari sekarang, saya menghampiri ke rumah Maya dan mereka sedang makan berduaan dengan ditemani hanya seorang pembantu Maya. Dulu saya juga sering seperti itu tapi saya tidak sangka Maya yang tadinya serius mau menikah dengan saya mau melakukan itu dengan lelaki lain, apalagi yang tidak seagama. Kemudian, maya mengatakan dia hanya Let it Flow dengan Robert. Saya mengingatkan bahayanya hubungan dengan lelaki di luar Islam sambil menahan sakit yang sangat pedih di hati saya.

Hari-hari di kampus menjadi hambar, tanpa sengaja melihat mereka berdua membuat saya kesulitan berkonsentrasi belajar. Beberapa teman2 pun terlihat mendukung mereka tapi Alhamdulillah banyak juga teman2 yang membangkitkan saya. Anehnya perasaan saya pada Maya seperti tidak hilang. Saya seperti tidak rela Maya berhubungan dengan lelaki yang bukan Islam yang dapat membawa Maya keluar dari Islam.

Jadi apa yang harus saya lakukan pak? Saya tidak bisa membohongi perasaan saya yang masih sayang Maya. Saya pernah mencoba berpacaran dengan wanita lain, Acha selama 2 bulan tapi saya hentikan karena pikiran saya masih ke Maya. Saya tahu sebagai laki-laki, saya harus memiliki kepemimpinan yang kuat. Saya menganalisa ini alasan Maya meninggalkan saya saat itu. Saat ini saya berusaha bersikap cool dengan Maya. Saat kebetulan bertemu atau Maya menyapa saya di YM, saya yang memang suka meledek teman2 juga masih meledek Maya sekarang dan beberapa kali terselip dalam pembicaraan mengatakan “Aku lagi bikin acara lagi nih, kamu n Robert datang ya” (Saya kebetulan memiliki EO). Dan Maya terlihat salah tingkah kalau saya mengucapkan nama pacarnya sekarang, Robert. Apakah pantas jika saya dan Maya kembali bersama? Apakah ada kontribusi yang bisa saya lakukan agar Maya tidak terbawa Robert ke ajaran non-Islam? Bagaimana Istikharah Cinta diterapkan secara konkrit pada masalah saya ini?

Pak Shodiq sekiranya bapak dapat membantu saya dalam masalah ini, saya tentunya sangat berterima kasih pada bapak. Saya sedang menyempurnakan istikharah saya seperti yang bapak tulis dalam Istikharah Cinta. Istikharah itu yang membuat saya memutuskan baik-baik pacar baru saya, Acha karena setelahnya saya bermimpi soal Maya. Beberapa hari yang lalu saya juga bermimpi berjalan dengan Maya, lihat2an dgn Maya, dan mengelus atau meraba Maya selama tiga hari berturut-turut.

Situasinya saat ini saya memang tidak bertemu Maya lagi karena saya sedang sibuk dengan thesis saya dan pelajaran yang saya ambil di s2 sudah selesai. Mungkin suatu saat bisa saja saya bertemu Maya dan pacarnya (teman kuliah), Robert dalam acara reuni ato sejenisnya

Sambil menunggu jawaban dari pak shodiq saya membaca buku Doa & Zikir Cinta karya bapak. Sangat menarik, bapak mengutipnya dari kitab suci kita, Al Quran. Doa apa yang seharusnya saya baca dengan permasalahan saya ini?

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Konsultasi: Dilema Hubungan Tanpa Status antar Aktivis Dakwah

Meskipun khalayak utama yang kubidik ialah orang ‘awam’, ternyata banyak juga aktivis dakwah yang “melirik”. Malah, sebagian diantaranya juga berkonsultasi. Salah satu masalah yang paling sering diajukan adalah dilema hubungan [cinta] tanpa status (HTS). Di satu sisi, mereka ingin tetap tekun menekuni dunia dakwah tanpa memutuskan hubungan percintaan mereka. Di sisi lain, teman-teman sesama aktivis di komunitas mereka itu menentang keras percintaan pranikah seperti itu. Lantas, gimana dong?

Sebelum kita rambah solusinya, mari kita dengarkan dulu suara hati beberapa orang diantara mereka. Pertama, Baca lebih lanjut

Sudah lama istikharah, perlukah istikharah lagi?

Pada tahun 2003 saya pernah dikecewakan oleh pria beristri. Kekecewaan di hati saya sungguh luar biasa sampai-sampai saya putus asa dalam segala hal. Dalam kondisi kecewa dan limbung saat itu saya menyerahkan semua urusan (khususnya percintaan) kepada Allah SWT. Hampir tiap malam saya sholat tahajut dan istikharoh, saya memohon kepada Allah: petunjuk dan gambaran siapa kira-kira laki-laki yang mampu mengangkat saya dari keterpurukan dan laki-laki itu mau menikahi saya. Saya terus berdoa dan berdzikir hingga suatu hari (saya tidak ingat waktunya malam atau siang hari) ketika saya sedang berdzikir saya tertidur dan bermimpi (?) mendengar lantunan ayat suci Al-Quran, lalu ada suara seperti deru angin. Diantara deru angin tersebut saya mendengar dengan jelas sekali ada suara orang (saya juga tidak ingat apakah itu suara perempuan ataukah laki-laki) menyebut nama seseorang sebanyak 3 x.

Ketika saya bangun, saya merasa aneh. Anehnya begini: seumur-umur belum pernah ada nama seperti itu. Saya berfikir apakah saya salah dengar? Tapi suara itu begitu jelas dan tidak mungkin saya salah dengar. Pada waktu itu saya mengambil kesimpulan: mimpi saya hanya bunga tidur, toh nama yang terdengar di mimpi tersebut tidak ada dalam hidup saya (saya mengambil kesimpulan seperti itu setelah yakin tidak ada teman, kerabat, saudara ataupun rekan kerja yang senama dengan nama dalam mimpi saya).

Waktu terus bergulir dan sekitar satu tahun kemudian ( Januari 2005) saya bekerja di sebuah yayasan. Singkat cerita saya berkenalan dengan seorang pria yang 5 tahun lebih muda dari saya. Entah dari mana awalnya saya ada rasa suka dengan pria tersebut. Sebagaimana adat dan Budaya Jawa, saya memendam perasaan tersebut dan tidak berani mengungkapkan kepada yang bersangkutan. Saya minta petunjuk Allah dengan sholat Istikharoh lagi dan ada keyakinan dalam hati saya: Jika memang dia berjodoh dengan saya, Allah pasti memberi jalan untuk bersatu.

Sekitar bulan Juli 2005 saya keluar dari yayasan dan praktis tidak pernah bertemu lagi dengan pria tersebut. Ketika saya di luar Jawa, tahun 2007, saya memberanikan diri mengungkapkan perasaan saya lewat telepon. Pikir saya waktu itu, toh kalaupun ditolak saya tidak berhadapan langsung dengan dia. Bisa ditebak, dia menolak saya dengan halus. Ternyata dia hanya menganggap saya sebagai teman tidak lebih dari itu. Saya kembali lagi bimbang dan kecewa. Dalam kondisi kecewa tersebut saya hapus nomer HPnya dan bertekat tidak menghubunginya lagi. Beres urusan.

Bapak Shodiq…
Urusannya ternyata belum juga beres. No Hpnya sudah terhapus dan saya kehilangan jejaknya. Tiba-tiba saya seperti diingatkan oleh mimpi saya. Bapak Shodiq… ternyata nama pria tersebut sama seperti yang saya dengar dalam mimpi saya. Bahkan nama belakang dia sama dengan nama depan ayah saya. Saya baru menyadarinya setelah kehilangan jejaknya. Hingga pada suatu malam takbir Idul fitri, saya kembali memohon petunjuk kepada Allah: Jika memang dia berjodoh dengan saya mohon kiranya Allah menggerakkan dia untuk menghubungi saya setidaknya kirim ucapan melalui SMS. Jika dia tidak berkirim SMS berarti itu suatu pertanda bahwa saya tidak berjodoh dengan dia.

Entah kebetulan entah itu jawaban dari Allah, dia mengirim ucapan hari raya kepada saya pada hari ke-2 Idul Fitri. Hati saya waktu itu betul-betul deg-deg an. Jujur, rasanya keyakinan bahwa dia adalah jodoh saya kembali tumbuh. Tetapi jika teringat ungkapan penolakan dia, saya kembali ragu.

Bapak Shodiq…
Saya tidak mau membuang-buang waktu saya. Saya melupakan dia dan membuka hati untuk pria lain. Sudah dua pria yang masuk ke hati saya, tetapi anehnya kenapa setiap kali saya merasa suka kepada pria lain dia selalu muncul dalam benak saya. Dia selalu membunuh rasa rindu saya terhadap pria lain. Bayangan pria lain melintas tetapi yang tersebut namanya di hati saya hanya dia dan dia. Dua pria yang sempat singgah di hati saya itu pun sekarang kabur dengan mengguratkan luka.

Yang ingin saya tanyakan kepada Bapak Shodiq:

  1. Apa yang harus saya lakukan, apakah saya harus istikharoh lagi memohon petunjuk Allah tentang dia?
  2. Seorang teman pernah mengatakan kepada saya: “yakinlah, jika engkau yakin maka akan ada keajaiban seperti yang kau yakini.” Apakah ungkapan tersebut benar adanya ditinjau dari Al-Quran dan Islam?
  3. Naifkah jika sampai saat ini saya masih berusaha menjalin silaturahmi dengan dia (sambil berharap dia adalah jodoh saya)?
  4. Mohon kiranya Bapak menganalisa kejadian demi kejadian yang saya tuliskan di atas dan memberikan pendapatnya berkenaan dengan perjodohan saya.

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Berdosakah menyukai sesama jenis?

saya laki2 berusia 22 th, saya ingin bertAnya apakah yang saya lakukan ini dosa atau tidak, selama ini saya meraskan bahwaa saya cenderung menyukai sesama jenis, saya pernah bercumbu dengan lakilaki, tapi saya sangat menghormati wanita dan memuliakannya, saya bingung harus bagaimana? sementara rasa itu terus ada dan semakin menjadi jadi dalam diri saya, saya minta tolong bagaimana saya haruis menjalani kehidupoan saya ini, perasasan ini (suka sesama jenis) sudah ada sejak saya masih kecil, terlebih dahulu saya pernah menjadi korban perkosaan oleh laki-laki juga.

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut