Syarat Bolehnya Berduaan

Mengenai penggunaan hadits bolehnya berduaan, seorang penentang islamisasi pacaran mengatakan, “lihat tujuan Rasul bertemu dengan wanita anshor tsb.. – wanita anshor tsb punya keperluan ! – keperluan tsb [b]tidak berlangsung lama[/b] – mereka tidak dalam keadaan hati kotor karena cinta lawan jenis !”

Atas dasar itu, dia berpendapat, “jadi boleh jika lawan jenis saling bertemu dengan diawasi dengan orang lain. – tanpa lama2 – tanpa ada kekotoran hati karena cinta lawan jenis.” Kemudian dia pun menambahkan:

beda dengan tujuan pacaran islami dalam blog ini !
– ada kekotoran hati karena cinta lawan jenis
– ada khalwat yg yang lama dengan perlindungan pada hadist ttg berduaan

kalo’ pak shodiq yakin bahwa Rasul memiliki perasaan saling cinta thd wanita anshor tsb, baru boleh blog ini membahas ttg pacaran islami !

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

Bukan Nikmat Sejati

Kenikmatan aktivitas seks, walau di luar nikah, agaknya telah memabukkan banyak orang. Konon, ada seorang oknum kapolsek yang tertangkap basah Berhubungan Intim Dengan Istri Anak Buahnya Sendiri. Konon pula, ada seorang artis yang bertelanjang dada di kover majalah luar negeri. Ah, tapi “pameran” ini “belum seberapa”.

Kalau diantara orang yang sudah menikah itu terjerumus dalam perselingkuhan, diam-diam tanpa sepengetahuan suami/istri masing-masing, maka kaum remaja yang pacaran (secara non-islami) lain lagi. Disamping diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua dan guru, mereka (yang non-islami itu) bahkan terang-terangan memamerkan kemesraan di luar rumah. Mereka (dan kita?) seakan tak kenal malu, padahal memalukan.

Rupanya, minat kita terhadap “kenikmatan seksual” begitu besar. Begitu besarnya perhatian kita terhadap “kenikmatan seks” itu, sampai-sampai ada pula buku Kamasutra Arab. Kalau perhatian kita dimaksudkan untuk berjaga-jaga sih bagus. Tapi kalau untuk mengumbar syahwat? Alamaaak….

Baca lebih lanjut