Pilih Sungguh-Sungguh Islami ataukah Kelihatan Islami?

pak, tidak semua orang membaca keseluruhan blog ini…
saya maklum terhadap orang-orang yang berkomentar “pedas” “cepat” dan “singkat”.

Di satu sisi, aku pun memakluminya. Di sisi lain, aku sangat menyayangkan mengapa aktivis dakwah lebih menaruh perhatian pada “kulit” daripada isi. Kalau aktivis saja sudah begitu, bagaimana dengan obyek dakwahnya?

saya harap bapak juga bisa lebih kalem, lapang dan jelas dalam memberikan tanggapan balik, karena orang yang sejak awal sudah berfikiran keras, akan lebih susah diberi masukan…

Silakan memberi contoh dengan menanggapi sebuah komentar ivan dan beberapa komentar serupa, lalu Baca lebih lanjut

Iklan

Luar biasa!! Seorang lelaki muda mengakui kesalahannya dan minta maaf kepadaku.

Konon, anak muda “maunya menang sendiri”. Paling tidak, begitulah kata Rhoma Irama dalam salah satu lagu legendarisnya, “Darah Muda”. Konon pula, eh… bukan lagi “konon”. Berbagai penelitian mutakhir (antara lain oleh Deborah Tannen) menunjukkan bahwa para pria pada umumnya enggan meminta maaf atas kesalahannya. Jadi, kalau ada seorang lelaki muda yang ternyata mau mengakui kesalahannya dan kemudian minta maaf kepadaku, maka kesimpulan kita: dia itu luar biasa, lain dari yang lain!

Siapakah lelaki muda yang aku maksudkan ini? Bagaimanakah profilnya?

Baca lebih lanjut

Mengapa pakai istilah "pacaran islami"

Image istilah pacaran sudah jauh dari ajaran islam, dan cenderung mendekati zina. Lalu mengapa kita harus menggunakan istilah pacaran islami? mengapa tidak diganti dengan bahasa yang lebih”islami”. Islam tidak mengenal pacaran. Pernikahan dalam islam di mulai dari proses ta’aruf, kitbah/meminang, dan walimah. Aturan dan adabnya sudah jelas. Jangan memaksakan sesuatu yang justru akan membawa ke hal yang bathil, lebih banyak mudhratnya. Selama ini banyak umat islam yang mencari-cari pembenaran bahwa ada pacaran secara islam? jangan hanya menginginkan situs ini hanya untuk tujuan populeritas, apalah arti semua itu diamata ALLAH SWT. Lihatlah dengan mata hatimu, dari berapa komentar yang masuk, ternyata banyak yang mengkritik. Sekiranya memang tidak mau dkritik sesama muslim, apakah kita harus menunggu kritikan ALLAH SWT? Belum terlambat.

Demikian kata seorang tamu blog Tanazhur PraNikah.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

2/3 remaja SMP tidak perawan lagikah?

Lagi-lagi, beredar berita BOHONG mengenai keperawanan remaja. Kulihat, beberapa blog mengabarkan bahwa “62,7% [hampir duapertiga] Remaja SMP Indonesia Sudah Tidak Perawan”. Juga, katanya, SCTV memberitakan demikian. Malah, juga dikatakan bahwa perilaku seksual remaja SMP dan SMU: “93,7% pernah ciuman, petting, oral seks”. Katanya, sumber informasinya adalah KomNas Perlindungan Anak.

Yang benar, Baca lebih lanjut

Ciuman dalam Pacaran: antara fakta dan mitos

Sahabatku… pacaran adalah salah satu perbuatan yang mendekati zina yaitu zina mata, zina tangan, zina hati, zina kaki, zina mulut, dll. Kamu dapat berdalih bahwa bisa kok terbebas dari zina-zina itu ketika pacaran. Tetapi remaja jaman sekarang gitu loh!!. Kalau nggak pegangan tangan atau ciuman maka akan disebut ketinggalan jaman.

Masak, gitu sih? Ayolah Baca lebih lanjut

Syarat Bolehnya Berduaan

Mengenai penggunaan hadits bolehnya berduaan, seorang penentang islamisasi pacaran mengatakan, “lihat tujuan Rasul bertemu dengan wanita anshor tsb.. – wanita anshor tsb punya keperluan ! – keperluan tsb [b]tidak berlangsung lama[/b] – mereka tidak dalam keadaan hati kotor karena cinta lawan jenis !”

Atas dasar itu, dia berpendapat, “jadi boleh jika lawan jenis saling bertemu dengan diawasi dengan orang lain. – tanpa lama2 – tanpa ada kekotoran hati karena cinta lawan jenis.” Kemudian dia pun menambahkan:

beda dengan tujuan pacaran islami dalam blog ini !
– ada kekotoran hati karena cinta lawan jenis
– ada khalwat yg yang lama dengan perlindungan pada hadist ttg berduaan

kalo’ pak shodiq yakin bahwa Rasul memiliki perasaan saling cinta thd wanita anshor tsb, baru boleh blog ini membahas ttg pacaran islami !

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

Aktivitas Favorit dalam Persiapan Menikah

“Istilah apa yang paling Anda sukai untuk aktivitas persiapan Anda untuk menikah?” Demikian pertanyaan untuk Anda dalam “jajak pendapat” yang kami adakan mulai saat ini sampai 27 Juli 2008. Kami menempatkannya di sebelah kanan blog ini (di bawah “Penyusun”, di atas “Hak Pembaca”). Silakan Anda berpartisipasi dengan meng-klik pilihan yang sesuai dengan pendapat Anda. Sekali menjawab, Anda bisa memilih lebih dari satu pilihan. Namun, Anda hanya berhak satu kali menjawab.

Jajak pendapat ini kami adakan untuk menyempurnakan gambaran Profil Pembaca blog ini. Dengan semakin akuratnya gambaran tersebut, insya’Allah kita akan melangkah ke depan dengan lebih mantap.

Bagaimana menurut Anda?

Pacaran sesudah menikah lebih nikmat?

Kata orang, pacaran sesudah menikah itu nikmat banget. Sampai ada bukunya segala. Kalau gak salah, judulnya: Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Kata orang pula, “Pacaran itu halal, tapi sesudah menikah.”

Benarkah pacaran sesudah menikah itu nikmatnya melebihi pacaran sebelum menikah? Benarkah pacaran itu halal hanya jika sesudah menikah?

Eh, saya tidak hendak memperdebatkannya. Di sini saya hanya mengajak kita semua untuk kembalikan makna kata pacaran ke makna aslinya (bukan makna palsunya). Lalu Anda bisa menilai sendiri apa benar bahwa pacaran setelah menikah itu nikmat banget, bla bla bla.

Baca lebih lanjut

Awas! Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!

Update, 6 Juli 2008:

Saya telah mempertimbangkan pemuatan artikel ini dalam waktu yang lama. Bayangkan! Buku yang saya kupas tersebut sudah saya baca di awal terbitnya, yaitu November 2006. Sudah hampir dua tahun saya menahan diri untuk tidak mengemukakan kupasan saya itu di depan publik.

Saya sudah beberapa kali mengingatkan penerbit melalui moderator di milisnya. (Penulis buku tersebut adalah salah seorang editor di penerbit tersebut.) Pada mulanya pesan itu secara halus (tanpa menyebut istilah bid’ah). Namun pesan saya tidak ditanggapi. Mereka masih saja menerbitkan buku yang mengandung bid’ah itu, sehingga mereka menjangkau pembaca yang semakin banyak. Karenanya, kemudian terpaksalah saya sampaikan pesan tersebut secara terbuka supaya para pembaca buku seperti itu dapat kita ingatkan. Jika saya tidak mengingatkan pembaca buku tersebut, maka saya merasa berdosa.

—-Naskah semula:

Disamping bahaya zina pada budaya pacaran, kita juga perlu mewaspadai bahaya lain yang bahkan lebih mengerikan, yaitu bid’ah pada budaya ta’aruf praNikah. Mengapa lebih mengerikan? Sebab, bahaya ini cenderung kurang disadari. (Pelakunya menyangka menunaikan sunnah Rasul, padahal melakukan bid’ah yang sesat dan menyesatkan.)

Baca lebih lanjut