Awas! Penipuan berkedok Ta’aruf

Yth Bapak Muh Shodiq, Saya adalah anggota milis taa’ruf network, saya ingin memberi masukan dan berbagi cerita. Beberapa waktu lalu, saya berkenalan dengan Sdr. HA via milis yang Bapak pimpin, kita melakukan proses ta’aruf pada bulan Juli dan akhirnya memutuskan menikah pada bulan Oktober tanggal 4 2009. Awalnya saya merasa bersyukur dan Alhamdulilah mendapatkan calon suami melalui milis ini, karena saya berharap melalui milis ini saya akan mendapatkan suami yang soleh dan bertanggung jawab. TETAPI tanpa sepengatahuan saya, ternyata suami saya tersebut MENIKAH LAGI dengan calon istri yang berasal dari P pada tanggal 9 Oktober tahun 2009, dan yang membuat saya Hancur serta sakit hati istrinya tersebut pun merupakan anggota milis ini yang bernama L. sungguh saya sangat terpukul Pak. dan merasa di khianati. ternyata istrinya yang di P tersebut pun di bohongi juga karena dia tidak tau ternyata HA telah menikah dengan saya. Satu lagi kebusukan dia Pak, ternyata sebelum menikah dengan saya dan L, HA masih mempunyai istri yang beralamat di C dan masih sah menjadi istrinya.

Untuk informasi Bapak, HA juga aktif mengisi forum-forum keagamaan di milis ini.

Saya berharap dengan kejadian ini, semoga Bapak sebagai Moderator lebih berhati-hati dari ulah lelaki yang tidak bertanggung jawab seperti ini, dan agar tidak ada saya dan L-L lainnya.

Mohon Bapak dapat menjaga kerahasian identitas saya. Demikianlah curahan hati saya, agar semua dapat mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa Saya dan L.

Wassalam,
Akhwat

Semoga ukhti dan L tabah dan mendapat berkah dan hikmah dari peristiwa ini. Aamiin.

Ukhti, terima kasih atas masukannya. Menindaklanjuti laporan tersebut, kami gugurkan keanggotaan HA di Ta’aruf Network. Kami pun menghimbau supaya kita semua lebih berhati-hati.

Iklan

Indahnya pacaran setelah SEBELUM menikah (+ foto pacaran islami ala Kalimantan Selatan)

Setiap kali aku mendengar seruan “indahnya pacaran setelah menikah”, “pacaran dalam Islam adalah setelah menikah”, dan sebagainya, aku merasa geli. Kupikir, mereka yang berseru seperti itu belum mengetahui (atau pura-pura tak tahu) bahwa makna asli kata “pacaran” adalah “persiapan nikah”.

8 pasang calon pengantin dari Polres Tapin, Kalimantan Selatan

Foto 8 pasang calon pengantin dari Polres Tapin, Kalimantan Selatan, 17 Februari 2009

Kata “pacaran” berasal dari kata bahasa Kawi (Jawa Kuno) “pacar” yang bermakna “calon pengantin“. Dengan diimbuhi akhiran “-an”, “pacaran” itu berarti “aktivitas calon pengantin”, yaitu “persiapan nikah”.

Dengan demikian, pacaran setelah menikah itu mustahil. Mustahilnya itu seperti mustahilnya pernyataan “indahnya menjadi janin setelah lahir”. Sebab, setelah lahir, kita tidak lagi menjadi janin (calon manusia) yang hidup di rahim. (Seandainya setelah lahir itu kita masih menjadi janin di luar rahim, hiii…. ngeriiii….) Demikian pula antara pacaran dan menikah. Setelah menikah, kita tidak lagi menjadi calon pengantin. Jadi, mustahil pacaran setelah menikah.

Karena itu, kalau mau membicarakan indahnya pacaran, tentunya SEBELUM menikah. Hanya saja, yang indah ini adalah pacaran yang sehat atau yang islami.

penataran pranikah

Foto penataran pranikah bagi 8 pasang calon pengantin, 17 Februari 2009

Lantas, apa saja keindahannya? Banyak deh, sampai tak terhitung. Di antaranya:

  1. menjadi lebih siap untuk menikah, termasuk karena sudah lebih mengenal pasangan dan untuk menghadapi segala risikonya
  2. menjadi lebih menikmati pernikahan, karena “pohon” percintaannya telah tumbuh subur sewaktu pacaran, tinggal memetik buahnya setelah menikah
  3. lebih merasakan nikmatnya cinta dengan lebih lengkap, yaitu bukan hanya setelah menikah, melainkan juga sebelum menikah
  4. menjadi lebih dewasa karena ditempa berbagai pengalaman, baik yang manis maupun yang pahit, sewaktu pacaran
  5. ……… (silakan tambahkan apa saja keindahan pacaran SEBELUM menikah menurut dirimu)

Bagaimana kalau pacarannya tidak sehat atau kurang islami? Tentu saja keindahannya menjadi berkurang drastis atau bahkan menjadi TIDAK ADA sama sekali, seperti karya lukis yang dinodai kotoran.

Nikah dengan dia yang pernah cerai, salahkah?

pak shodiq, senang rasanya bisa menemukan blog bapak, terutama yang membahas hal2 pra nikah.
saya ingin sekali dengar pendapat bapak soal masalah saya ini.
sekarang saya menjalani suatu hubungan serius dan ingin segera menikah dengan seorang duda (inisial D), 1 anak (perempuan, umurnya 5 tahun). dia duda karena cerai pak. saya diceritakan olehnya kenapa dia bercerai. tapi menurut saya, dari cerita dia, dia berhak untuk menceraikan istrinya. tapi saya belum tau bagaimana cerita versi dari istrinya. tapi wallahua’lam, saya percaya dengannya pak.

saya menceritakan kepada orang tua saya, dengan siapa saya menjalin hubungan. mendengar cerita saya, kedua orang tua saya langsung bilang tidak setuju. bagi mereka, laki-laki yang bercerai itu, pasti ada masalah. dan orang tua saya sudah men-cap bahwa laki-laki itu yang salah, yg tidak bisa membimbing mantan istrinya. orang tua saya mengkhawatirkan itu pak, hal itu akan terjadi kembali sama saya. selain itu orang tua saya mengkhawatirkan kehidupan ekonomi saya nantinya, karena pria pilihan saya seorang pengusaha pelebur logam. kalopun saya jadi menikah dengannya, orang tua saya langsung memberi ultimatum, kalo pas akad nikah nanti, ayah saya tidak bersedia menjadi wali. saya sedih sekali pak

saya dan D sudah bertekad ingin menikah, terutama D, dia gak ingin kejadian yang dulu terulang lagi dan dia sudah percaya dengan saya. kami bertekad, ingin menunjukkan hasil kerja keras kami selama ini, kepada orang tua saya, dan meyakinkan mereka kalo saya insyaAllah akan baik-baik saja.

sangat dilema buat saya pak.disatu sisi saya ingin sekali bisa menikah dengannya. karena setelah istikharah, meminta ketetapan hati, subhanallah, hati ini rasanya ringan sekali. tapi sisi lain, ada masalah di orang tua. beliau bersedia wali nya digantikan oleh saudara lain. pak, kalo pun saya tetap menikah dengan D, apakah saya termasuk orang yang tidak berterima kasih? hanya memperturutkan egoisme?
saya hanya ingin menjalankan sunnah Rasul pak, dan kami berdua hanya ingin memiliki keluarga yg sakinah, bahagia dunia akhirat.
apakah bapak setuju dengan pernyataan ini, jika wanita dan laki-laki tetap melangsungkan pernikahan tanpa persetujuan orang tua tidak bisa dikatakan keduanya sudah durhaka malah orang tuanya lah yang sudah tidak mentaati apa yang diperintahkan Allah agar tidak menghalangi-halangi anak-anaknya untuk menikah. Allah berfirman dalam Al Quran yang artinya: “…maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya apabila telah terdapat kerelaan di antara keduanya dengan cara yang ma’ruf” QS. Al Baqarah: 232.
terima kasih sebelumnya pak Shodiq

Jawaban M Shodiq Mustika:

Benar, pada dasarnya, orangtua/wali tidak berhak menghalang-halangi anaknya untuk menikah. (Lihat “Walau Bukan Siti Nurbaya“.) Namun, itu berlaku bila si anak sudah “dewasa”.

Dalam ceritamu itu, umurmu belum kau sebutkan. Karenanya, aku belum tahu apakah kau sudah bisa menikah dengan wali hakim. Di Indonesia, perempuan yang sudah “dewasa” (dalam arti bisa menikah dengan wali hakim) ialah yang telah berusia 21 tahun. (Begitulah seingatku. Untuk konfirmasi, silakan hubungi KUA terdekat.)

Mengenai ketidaksetujuan orangtuamu, aku kurang sepakat bila kau katakan bahwa beliau menghalang-halangi dirimu untuk menikah. Beliau sudah bersedia walinya digantikan oleh saudara lain. Secara demikian, beliau tidak menghalang-halangi pernikahanmu.

Mengenai tekad kalian untuk menunjukkan kerja keras kalian, bagus itu. Aku mendukung tekad kalian ini. Akan lebih bagus lagi bila kalian mampu menunjukkan bukti-bukti (atau kesaksian orang-orang terpercaya) kepada orangtuamu bahwa perceraian si dia itu bukanlah lantaran kesalahan dia. Untuk itu, kamu bisa mengutus 1-2 orang saudaramu untuk menggali informasi mengenai sebab-musabab perceraian tersebut, termasuk informasi dari mantan istrinya. Dengan adanya bukti-bukti begitu, besar kemungkinan bahwa orangtuamu akan merestui pernikahan kalian.

Demikianlah saranku, wallaau a’lam.

7 Cara Pacaran Islami ala Khadijah-Muhammad

Saya belum begitu paham dengan postingan yang satu ini [yaitu: “Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami)“]. Tidak dijelaskan bagaimana Rasulullah SAW menjalin hubungan dengan Khadijah r.a. Emang, “pacaran”-nya beliau kayak apa?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Postingan tersebut memang hanya menjawab pertanyaan apakah Nabi Muhammad saw. pernah pacaran ataukah tidak. Untuk membahas pacaran beliau kayak apa, kita membutuhkan penjelasan tersendiri seperti di bawah ini:

Seperti telah kita ketahui bersama, makna asli “pacaran” adalah “persiapan nikah”. (Lihat “Definisi & Bentuk Nyata Pacaran Islami“.) Dengan definisi tersebut, di bawah ini hendak aku paparkan pengamatanku mengenai bagaimana berlangsungnya proses yang menjadikan Khadijah-Muhammad siap menikah:

1. TA’ARUF PASIF: Khadijah mulai “naksir” Muhammad lantaran mendengar kabar mengenai kemuliaan akhlak beliau.

Saat itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran hati, sementara para pemuda pada umumnya suka berfoya-foya. Khadijah naksir itu bukan lantaran ketampanan atau pun kekayaannya. Malah, saat itu Muhammad saw. merupakan pemuda yang miskin.

2. TA’ARUF AKTIF: Khadijah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Muhammad melalui perbincangan dalam tatap muka langsung.

Pada mulanya, ketertarikan Khadijah kepada Muhammad bukanlah dalam rangka kepentingan asmara, melainkan bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah seorang pengusaha kaya. Lantas, Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dengan perbincangan seperti ini, Khadijah bisa mulai mengecek apakah benar bahwa Muhammad berakhlak mulia.

3. TANAZHUR (TA’ARUF INTERAKTIF): Khadijah dan Muhammad menjalin kerja sama pengembangan karir.

Melalui perbincangan tersebut tadi, Khadijah menganggap bahwa Muhammad adalah sosok yang ia butuhkan untuk berdagang ke negeri Syam. Muhammad pun menerima tugas itu dengan senang hati. Dengan interaksi seperti ini, Khadijah dapat me-recheck atau melakukan pengujian terhadap Muhammad sebelum benar-benar yakin bahwa Muhammad memang berakhlak mulia.

4. TANAZHUR LANGSUNG: Khadijah mengalami sendiri indahnya menjalin kebersamaan dengan Muhammad yang berakhlak mulia.

Sepulangnya Muhammad saw. dari negeri Syam, Khadijah menerima laporan langsung dari beliau mengenai penunaian tugas berdagang tersebut tadi. Khadijah sangat gembira dan terlihat antusias sekali menyimak laporan tersebut. Secara demikian, tumbuhlah rasa cintanya kepada beliau. Dari hari ke hari, cintanya semakin mendalam.

5. TANAZHUR BERJARING: Khadijah memanfaatkan jaringan (network)-nya untuk memperlancar interaksinya dengan Muhammad.

Maisarah ialah orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad berdagang ke Syam. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Laporan-laporannya mengenai kemuliaan Muhammad menjadikan Khadijah semakin berhasrat untuk menjadi istri beliau.

6. TANAZHUR BERMEDIA: Khadijah mengerahkan “agen cinta” untuk memperlancar hubungannya dengan Muhammad.

Dalam tradisi Arab ketika itu, bila seorang perempuan kaya mendatangi seorang pemuda untuk meminta menikahinya, maka itu dipandang memalukan. Untuk menyiasatinya, Khadijah pun mengutus Nafisah, seorang kepercayaannya lainnya, untuk membujuk Muhammad supaya mau melamar dirinya.

7. KHITBAH: Muhammad melamar Khadijah untuk menjadi istri beliau.

Di depan keluarga Khadijah, Muhammad saw. melamarnya. Maharnya 20 ekor unta. Lamaran pun diterima. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan pada waktu 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Usia Muhammad saat itu 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

Wallaahu a’lam.

Konsultasi: Pilih menikah ataukah bekerja?

Saya seorang gadis berusia kurang dari 30 tahun. Saya bekerja sebagai pegawai tetap di sebuah bank bumn dengan gaji pokok “lebih dari cukup”, belum termasuk tunjangan dsb. Saya kos karena penempatan kerja di luar kota tempat tinggal. Saat ini saya berpacaran dengan salah seorang teman satu perusahaan, usia lebih dari 30 tahun. Saya sudah berpacaran sekitar 5 th. Karena kesibukan masing2, walaupun satu kota tapi kami hanya bertemu seminggu sekali. Peraturan perusahaan melarang pernikahan satu atap, salah satu harus mengundurkan diri. Pembicaraan antara saya dan dia sepakat saya yg mengundurkan diri dengan pertimbangan usia saya masih banyak kesempatan untuk mencari kerja lagi. Supaya tidak kena denda (yg jumlahnya cukup besar) karena resign sebelum menyelesaikan ikatan dinas selama 5 th, maka kami sepakat untuk menyelesaikan ikatan dinas tsb. Saya sampaikan kepada orang tua dan keluarga saya jika saya menikah maka saya harus resign. Mereka keberatan karena saya adalah kebanggaan keluarga & keluarga besar dan bisa dikatakan saya penyumbang dana terbesar dalam keluarga (saya ikhlas). … Saya sangat memahami ortu, … punya anak pegawai bank adalah kebanggaan luar biasa menurut mereka. Gaji tiap bulan saya gunakan untuk keperluan saya, membantu keluarga, dan menabung. Ikatan dinas saya habis tahun ini, saya persiapkan diri untuk bisa menikah:
1. nglamar kerja kesana sini untuk dapat kerjaan baru. Syarat ortu, saya boleh keluar dari kerjaan dan boleh menikah jika sudah dapat kerjaan baru (kerja kantoran kalo bisa yang selevel dengan perusahaan sekarang). saya tidak boleh nganggur…
2. karena rumah dekat dengan kampus, saya membuat kosan untuk ortu saya, dengan pertimbangan jika saya menikah dan ortu sudah tidak bisa kerja, maka mereka tetap dapat uang tiap bulan dari uang pembayaran kos…
3. sekarang saya berusaha hemat & menabung untuk persiapan biaya menikah (tabungan sebelumnya habis untuk membuat kosan)
4. saya lakukan pendekatan supaya keluarga bisa menerima jika saya keluar dari pekerjaan dan menikah
sampai sekarang keluarga tetap merasa keberatan. pada dasarnya secara pribadi mereka setuju saya menikah dengan pacar saya. mereka cocok dengan pacar saya, tapi mereka tetap keberatan jika saya keluar dari kerjaan.
5. sejujurnya saya sangat bingung antara keluarga atau pacar=menikah atau bekerja?
saya berusaha untuk sholat tahajud, istikaroh, memperbanyak sedekah dan konsultasi kesana kemari untuk masalah saya. skitar 2 bulan ini keinginan saya untuk menikah semakin besar dan merasa mantap, saya tidak tau apakah ini napsu untuk memiliki ataukah petunjuk dari alloh atas doa saya. mohon saran dan pendapat pak shodiq.
6. kami pernah putus nyambung lagi. gak tau kenapa, sulit mencari pacar baru. saya dan dia benar-benar merasa cocok.. walaupun sedikit kami sudah memahami kekurangan dan kelebihan masing2.
7. saya sekolah lagi dengan biaya sendiri, agar lebih mudah dpt pekerjaan. alhamdulillah sudah selesai jadi sarjana. (ayah tambah bangga) dulu ayah menyekolahkan saya d3.

agar bisa segera menikah pacar saya juga berusaha menabung untuk pra & pasca menikah, pendekatan dengan ortunya (malah ortunya sudah pengin ngelamar saya) & ortu saya, nyari info kerjaan buat saya, nganter saya tes kerja dll. dia bersedia tetap menunggu saya menyelesaikan ikatan dinas dan menunggu sampai dapat pekerjaan. saya sangat menghargai penantiannya.. kadang saya merasa kasian karena dia sudah didesak keluarganya untuk segera menikah. dia bersikeras tetap menikah dengan saya dan tidak mau dengan orang lain. menurut dia apa yang dia cari ada pada diri saya. dia sepakat untuk tidak menikah selama belum ada restu dari ortu saya. dia tetap ingin saya bekerja seperti keinginan ortu saya agar kebanggaan keluarga saya tidak hilang. dia merasa karena dialah saya jadi keluar dari kerjaan.
oiya, pada dasarnya saya senang wirausaha, saya punya warung lesehan dan punya bisnis distributor kecil-kecilan. saya tidak senang bekerja pada orang lain. tapi menurut ortu itu bukan pekerjaan itu cuma sampingan. dalam pikiran mereka yang namanya bekerja ya di kantor (saya sangat maklum dengan pendapat mereka).

melalui email ini saya mohon saran pak shodiq atas masalah saya :
1. apa yang harus saya lakukan, saya takut berbuat dosa karena pacaran terlalu lama. bukankah menikah adalah mulia dan ladang amal? tetapi mengapa keluarga saya merasa keberatan karena alasan materi dan kebanggaan? saya takut jadi anak durhaka dan tidak tau terima kasih. saya takut mengecewakan ortu saya. saya takut berbuat sesuatu yang tidak diridhoi ortu saya.
2. saya juga takut dan bingung, jika saya keluar dari pekerjaan apakah berarti saya tidak bersyukur pada alloh yang telah memberikan pekerjaan yang bagus untuk saya saat ini?
dan jika saya tidak menikah dengan pacar saya, apakah saya menyianyiakan kesempatan yang alloh berikan pada saya yang telah mempertemukan saya dengan pacar saya? walaupun saya tidak tau apakah dia jodoh saya.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Seperti pada kasus “Ingin Nikah Tapi Dibutuhkan Keluarga“, kamu dihadapkan dengan dua alternatif yang sama enaknya. Kalau kau segera menikah, maka kau menjalankan sunnah Nabi yang berupa pernikahan. Sedangkan bila kau tunda dulu pernikahanmu demi memenuhi keinginan keluarga, maka kau pun menjalankan sunnah Nabi pula yang berupa berbakti kepada orangtua dan kerabat dekat. Oleh karena itu, jawabanku:

1. Pilihlah keduanya: menikah dan sekaligus bekerja. Dalam keadaanmu yang terikat oleh ikatan dinas, pacaran kamu tidaklah tergolong terlalu lama. Apalagi pacarmu bersedia menunggumu hingga memperoleh pekerjaan baru. Jadi, dapatkanlah pekerjaan baru setelah masa ikatan dinas selesai supaya kamu dapat menikah dengan pacarmu.

Adapun supaya kalian tidak tergoda untuk berbuat dosa, khususnya zina, maka hendaklah kalian lebih menjaga diri. Diantaranya dengan mengerahkan jurus-jurus penangkal zina dan tidak bertatap muka, kecuali bila dalam keadaan terawasi, sehingga tak mungkin berzina.

2. Jika informasimu itu sudah relatif lengkap (tidak ada yang kau tutup-tutupi), maka aku yakin bahwa pacarmu ini adalah jodoh terbaik bagimu. Seandainya kau meninggalkannya demi “pekerjaan yang bagus saat ini”, maka menurutku kau menyia-nyiakan jodoh yang telah disediakan Allah untukmu.

Bagaimanapun, mencari jodoh sebaik dia itu jauh lebih sulit daripada mencari pekerjaan baru yang juga bagus. Dengan ijazah dan pengalaman kerjamu, kamu akan lebih mudah mencari pekerjaan baru yang juga bagus. Apalagi, syarat dari orangtuamu juga tidak terlalu kaku, yaitu asalkan kantoran dan “kalo bisa yang selevel”. Jadi, syarat minimalnya hanyalah kerja kantoran. Dengan syarat ini, aku yakin kamu mampu memenuhinya.

Demikianlah jawaban dan saranku. Wallaahu a’lam. Semoga Dia senantiasa membimbing langkah kalian dan menjauhkan kalian dari segala dosa. Aamiin.

Bagaimana Meluluhkan Hati Orangtua

Pak Shodiq… Saya sangat senang sekali bisa menemukan website bapak ini.. Saya bisa mendapatkan informasi – informasi yang sangat berharga, yang kebetulan juga saya sedang menghadapi masalah tentang percintaan. Saya harap bapak tidak keberatan untuk menyumbangkan saran bapak..

Begini Pak…

Saya berumur 25 thn, dan saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang pria yang perbedaan usianya 8 taun lebih tua dari saya. Kami telah melakukan pacaran jarak jauh hampir 1 taun, karena saya kerja di Jakarta dan dia kerja di Jogja. Pertemuan kami pun tidak menentu. Kadang 2 bulan sekali ato bahkan lebih. Komunikasi kami (telpon, SMS, dan email), Alhamdulillah lancar. Saya sangat menikmati hubungan ini.. Walo kata orang susah.. namun saya berusaha untuk menikmatinya.. dan Alhamdulillah.. hingga saat ini.. kami belum pernah bertengkar… Dan kami berusaha untuk pacaran yang biasa – biasa saja.. sperti pacaran Islami..

Namun, Pak.. masalah datang dari keluarga saya.. Orang tua saya kurang menyetujui hubungan kami dengan beberapa alasan, yaitu pekerjaan, umur, latar belakang keluarga. Mungkin akan saya jelaskan satu persatu..

– Mengenai pekerjaan
Pacar saya bekerja di perusahaan leasing, sudah hampir 3 taun, dengan penghasilan tetap, dan gaji yang lumayan (menurut saya), karena dia sudah bisa membeli kebutuhannya sendiri. Namun menurut orang tua saya, pacar saya belum mapan. Karena perusahaannya yang kurang bonafid, tidak memberikan kesejahteraan di hari tua nanti sperti tunjangan kesehatan, pensiun, dll. Maklum orang tua saya adalah pensiunan BUMN, dimana sampai saat ini masih mendaptkan pensiun dan dana kesehatan. Dan juga.. terkadang orang tua saya menyinggung soal gaji. Menurut mereka.. gaji pacar saya lebih kecil dari saya.. Dan mereka khawatir, jika suatu saat kami menikah, sayalah yang akan menanggung semua biaya hidup rumah tangga kami.
Saya sudah membicarakan masalah ini kepada pacar saya.. Dan dia akan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, yang sesuai dengan keinginan orang tua saya. Paling tidak, pacar saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya, jika dia akan bertanggung jawab atas saya.
Namun.. saat saya mencoba membicarakan hal ini kepada ibu saya.. Ibu saya malah mengatakan “Iya kapan usaha nya.. kapan suksesnya.. Nanti aja kalo uda sukses baru deket – deket lagi. Kalo sekarang ga usah deket deket dulu…”
Pak.. saya harus bagaimana?

– Mengenai umur
Orang tua saya mengatakan bahwa pacar saya terlalu tua untuk saya. Bagaimana nanti jika kami punya anak yang masih keci, dan ayahnya sudah berumur banyak. Yah memang sih.. masuk akal.. Tapi.. apakah iya.. itu merupakan patokan?

– Mengenai latar belakang keluarga
Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, ayah saya adalah pensiunan BUMN. Dan pernah suatu saat, saya bersitegang dengan kedua org tua saya tentang hal ini… Mereke mengatakan bahwa saya harus dapat jodoh yang setara.. Setara keluarganya dengan kita dan juga setara pekerjaannya. Terus terang.. saya tidak pernah mengorek lebih dalam tentang keluarga pacar saya itu. KArena saya pikir itu privacy keluarga nya dia. Namun secara garis besar saya tau, karena saya sudah dekat dengan keluarganya, terutama ibunya. Alhamdulillah. Mereka adalah keluarga yang utuh, sederhana, dan tidak pernah neko – neko. Memang jika dilihat dari segi materi.. orang tua saya lebih dari orang tua pacar saya… Tapi.. apa iya.. itu yang dijadikan patokan… toh keluarga pacar saya adalah keluarga baik – baik..

Pernah suatu hari.. saya mendengar dari sepupu saya.. klo orang tua saya pernah berfikir saya dipelet. Ya Allah.. Pak Shodiq… sedih rasanya..

Begitu juga klo saya pulang ke Jogja, dan pacar saya main ke rumah saya.. Orang tua saya lebih sering mengabaikan dia. Terkadang dicuekin.. Dan pacar saya bilang kalau dia merasa tidak nyaman maen ke rumah saya… Namun dia berusaha positif thinking.. dan ingin pelan – pelan mendekati kedua orang tua saya.. dan itulah yang membuat saya terharu, Pak.

Pak.. saya bingung.. di satu sisi.. saya sayang kepada orang tua saya.. dan saya tidak ingin menjadi anak durhaka. Kalaupun menikah, saya ingin mendapat restu dari keduanya. Namun di sisi lain, Pak.. Saya juga sayang dengan pacar saya.. Karena dia sangat mengerti saya.. saya merasa nyaman saat bersama dia.. Dan dalam diri saya.. ada keyakinan bahwa dia akan menjadi suami yang baik & bertanggung jawab, serta ayah yang baik bagi anak – anak kami kelak. Apakah boleh pak, saya berfikir demikian?

Pak Shodiq.. menurut pak Shodiq saya harus bagaimana?

Pacar saya slalu kasi support kepada saya untuk selalu tetep berusaha dan bersabar. Juga berdoa kepada Allah untuk minta petunjuk dan dibukakan jalan untuk masalah kami.. Itu lah pak.. kesabaran dan usaha gigih dia yang membuat saya jadi semakin semangat untuk siap mengarungi bahtera rumah tangga bersama dia.

Saya pribadi tidak masalah, Pak, kalau orang tua saya tidak setuju dan menyuruh saya meninggalkan pacar saya. Tapi itu pun jika alasannya jelas. Misalnya pacar saya nakal atau narkoba, dan lain sbg nya. Namun permasalahannya, mereka tidak suka dengan pacar saya karena status sosial.. karena pekerjaan.. yang menurut saya.. semua itu akan bisa didapat jika kita mau berusaha, karena itu kan hanya bersifat duniawi… Toh pacar saya juga sudah pegawai tetap. Tapi mereka tetap tidak bisa terima dengan alasan perusahaannya tidak ada masa depan..

Pak Shodiq.. harap bapak tidak bingung ya membaca curhatan saya yang menggebu gebu ini.. Hehehehehe..

Smoga Bapak tidak keberatan untuk memberikan saran… Terima kasih..

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Saat Akhwat Kewalahan Menahan Syahwat

Pak Shodiq, saya ingin mencari jalan keluar. Dulu, pertama kali saya pacaran, saya tidak bisa mengontrol diri. Begitu banyak setan yang menggoda. Saya mulai mengenal ciuman, saling raba, dan jadi ketagihan. Saya merasa tidak tenang karena tahu itu salah. Akhirnya saya memutuskan hubungan.

Lalu setelah menjadi aktivis tarbiyah, ada lagi yang mendekati saya. Dia sesama kader tarbiyah. Kami pun diam-diam pacaran sampai beberapa bulan. Lagi-lagi saya tidak dapat menahan gejolak muda, bahkan lebih parah. Kami pun putus karena merasa sangat tidak nyaman. Itu yang kedua.

Tidak lama berselang, saya mulai didekati lagi oleh seorang aktivis dakwah. Awalnya saya hanya kagum, namun kemudian saya pacaran juga dengannya. Ternyata dia pun termasuk orang yang susah menahan nafsu syahwat, sehingga kami melakukan perbuatan yang sangat memalukan sebagai aktivis dakwah. Saya akhirnya putus dengannya. Itu yang ketiga.

Beberapa waktu kemudian, saya didekati oleh teman saya. Saya pun menerima cintanya, tetapi lagi-lagi perbuatan memalukan itu terjadi, bahkan mencapai “puncak” (hampir melakukan hubungan seksual, namun urung karena saya takut). Kami pun jadi ketagihan. (Saya tidak ingin mendekskripsikan apa yang saya lakukan. Saya sendiri malu untuk mengingatnya. Saya merasa benar-benar berlumur dosa yang menggunung.) Akhirnya, saya juga putus dengannya. Itu yang keempat.

Setelah empat kali mengalami pengalaman memalukan itu, saya sempat berfikir tidak mau menikah karena kasihan dengan suami saya nanti. Namun entah mengapa, gejolak ingin menikah begitu besar dalam diri saya. Saya pun tidak tenang, lalu memberanikan diri untuk berta’aruf dengan seorang ikhwan melalui bantuan murobbi.

Tak lama kemudian, alhamdulillah, si ikhwan mengatakan ingin menjadikan saya istrinya secepatnya. Saya merasa senang. Saya tidak ingin melakukan hal yang sama seperti dulu, Pak. Saya takut pacaran. (Memang dari dulu saya diberi pemahaman bahwa pacaran itu tidak boleh, tapi saya tetap saja melakukannya secara diam-diam.)

Meskipun ingin menikah secepatnya, ternyata si ikhwan masih membutuhkan waktu untuk persiapan nikah. Saya jadi bimbang. Di tengah kebimbangan, saya menemukan blog bapak yang menulis mengenai pacaran islami. Lantas saya mengusulkan kepada si ikhwan untuk pacaran secara islami sebagai langkah persiapan menuju pernikahan.

Dia sependapat dengan saya. Bismillah, jadilah dia imam saya dalam pacaran islami ini.

Dia tidak pernah dan tidak mau menyentuh saya sedikit pun sebelum “waktunya”. Saya jadi merasa dihargai.

Kami jarang ketemu. Saat dilanda kerinduan, kami hanya mengobatinya dengan komunikasi melalui handphone. Saya pikir, kalau ketemu langsung saat kangen, bisa-bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Menurut bapak, apakah yang saya lakukan terakhir itu sudah tepat? Saya benar-benar ingin bertobat, pak.

Semoga Allah memberi bapak kelapangan waktu sehingga berkenan membaca dan membalas email ini. Alhamdulillah, saya sering membaca postingan bapak. Banyak hikmah yang saya peroleh sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi diri. Terima kasih, pak.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Pertama, aku pun berterima kasih telah dipercaya untuk turut menyampaikan pendapat dalam rangka menyelesaikan persoalanmu. Kedua, aku mohon dimaklumi bahwa eMailmu yang kukutip di sini telah aku edit seperlunya. Aku hapus informasi-informasi tertentu yang dapat menunjukkan identitas dirimu. Dengan demikian, aku yakin kehormatanmu tetap terjaga.

Aku mengasumsikan bahwa curhatmu sudah lengkap, tak ada yang kututup-tutupi. Dengan asumsi ini, jawabanku atas pertanyaanmu adalah: Ya, sikapmu yang terakhir itu sudah tepat. (Lihat “Mengapa Sengaja Jauh di Mata“.) Namun, jawaban “sudah tepat” itu belum memadai. Aku masih perlu menambahkan beberapa catatan yang perlu kau perhatikan:

  1. Ketika kalian berkomunikasi dengan media, utamakanlah media tulisan (SMS, eMail, dsb.) daripada audio-visual (telepon, video calling, dsb.). Sebab, nafsu birahi lebih mudah terangsang melalui audio-visual daripada tulisan.
  2. Karena kau kewalahan menahan syahwat, janganlah bersentuhan dengan pria nonmuhrim, baik dengan pacarmu maupun dengan orang lain. (Lihat “Mengapa Wanita Mudah Terangsang…“)
  3. Karena kau kewalahan menahan syahwat, janganlah bertemu dengan pacar, kecuali kalau ada orang lain yang mengawasi kalian, sehingga kalian tak mungkin bersentuhan.
  4. Mohonlah bantuan kepada Allah supaya terjaga dari zina, misalnya dengan berdoa/berzikir yang relevan seperti yang kupaparkan dalam Bab 18 di buku Doa & Zikir Cinta.
  5. Kerahkanlah jurus-jurus penangkal zina.
  6. …. (yang ini bersifat pribadi, lewat eMail aja, ya!)

Wallaahu a’lam.

MUI: Wajib Tes HIV/AIDS Sebelum Menikah

Akhir-akhir ini, sedang diwacanakan keharusan untuk menjalani tes HIV/AIDS bagi pasangan yang hendak menikah. Setujukah dirimu dengan “kewajiban” ini? Untuk pertimbangan, silakan simak sejumlah berita terkait berikut ini:

  • MUI mengusulkan pemerintah hendaknya membantu biaya cek HIV/AIDS. Terlebih jika sudah ada kesepakatan mengenai cek HIV/AIDS sebagai syarat menikah, maka sudah semestinya dokter ahli dan peralatan pendukung cek kesehatan menyebar merata di pelosok nusantara. “Kalaupun tidak ada, negara harus bertanggung jawab mengadakan demi masa depan bangsa dan keturunan yang berkualitas. Karena kalau tidak maka penularan HIV/AIDS akan terus berlangsung.” (Baca berita selengkapnya: “MUI Bengkulu setuju tes HIV/AIDS jadi syarat nikah“)
  • Bebas penyakit HIV/AIDS sebelum menikah perlu didukung dan disambut baik, karena pemikiran tersebut cukup cemerlang dalam upaya menyelamatkan kehidupan masyarakat dari penyakit yang menakutkan itu. Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Abdullah Syah ketika diminta pendapatnya mengenai cek penyakit HIV/AIDS sebagai syarat nikah tersebut di Medan, Senin (8/6). (Baca berita selengkapnya: “MUI SumUt: Tes HIV/AIDS Pra Nikah Perlu Didukung“)
  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku setuju adanya persyaratan surat keterangan bebas penyakit HIV/AIDS bagi setiap pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. “Secara keagamaan harus didukung. Rencana itu sangat positif karena bertujuan mencegah bahaya penyebaran virus HIV/AIDS yang hanya akan menyengsarakan pasangan mau menikah,” kata Latuconsina kepada ANTARA di Ambon, Selasa. (Baca berita selengkapnya: “MUI Maluku Setuju Bebas AIDS untuk Syarat Nikah“)

Pilih menikah dengan pacar ataukah dengan orang lain yang lebih baik?

Saat ini saya berusia 21 tahun. Saya memiliki hubungan dengan seorang pria, katakanlah si R, selama 3 tahun atas dasar saling cocok. Dia pria yang baik dan setia. Namun memang gaya pacaran kami sudah jauh melebihi batas. Kami sangat sadar bahwa itu salah, namun karena dorongan perasaan & nafsu, kami selalu mengulangi dosa yang sama. Kami memiliki niat baik untuk menikah. Saat ini pun kami sedang berusaha mempersiapkannya. Permasalahannya, sebenarnya dia bukan tipe pria idaman saya, karena dari segi ilmu agama, pendidikan & status sosial, saya jauh lebih tinggi dari dia. Apalagi dia hanya seorang karyawan biasa yang gajinya tidak sampai 2 juta perbulan. Orang tua saya pun sedikit keberatan akan hal itu. Tapi karena saya lihat dia sangat tulus mencintai & menyayangi saya, saya mencoba untuk menerima dia apa adanya.

Saat ini, saya sadar bahwa selama ini kami telah banyak melakukan dosa & maksiat. Saya banyak bertaubat kepada ALLAH dengan tahajud setiap malam & memohon ampunan-NYA. Saya pun melakukan istikharah agar ALLAH senantiasa memberikan pilihan jodoh yang diridhoi-NYA untuk saya. Saya juga mengajaknya untuk bertaubat & saling menjaga jarak. Karena hubungan kami memang jarak jauh, saya cukup terbantu dengan itu untuk mengurangi intensitas pertemuan kami.

Yang membuat saya bingung, saat ini ada seorang pria lain, katakanlah si F, yang ingin melamar saya jika saya sudah lulus kuliah. Dia teman lama saya, kami bertemu 3 tahun lalu dalam sebuah kegiatan pesantren mukim 1 bulan. Si F memang sudah menyukai saya & pernah menyampaikan ingin melamar saya 3 tahun lalu jika saya sudah lulus kuliah, namun karena saya belum terlalu kenal dia & belum ada chemistry, jadi saya hanya menganggapnya teman saja. Selama 3 tahun ini, si F masih sekali-kali mengontak saya & menanyakan kabar saya & menanyakan kapan saya lulus kuliah. Dari segi pendidikan & status sosial, si F sepadan dengan saya, bahkan dia sudah bisa dikatakan mapan.

Tahun ini saya lulus kuliah, rencana awal saya memang saya ingin menikah segera setelah saya lulus karena tidak ingin menyia-nyiakan masa muda dengan terus melakukan dosa & maksiat. Sekarang saya sangat bingung untuk memilih antara si R atau si F?

Jika saya mengikuti hati & perasaan, saya sudah sangat cocok dengan si R, walaupun dengan keadaan dia yang serba terbatas. Saya merasa tidak bisa membahagiakan orang tua saya dengan pilihan ini. Namun, saya juga terkadang takut kalau-kalau dosa yang telah kami lakukan selama ini akan berpengaruh terhadap rumah tangga kami nanti.
Jika saya mengikuti keinginan orang tua & membahagiakan mereka dengan mendapatkan seseorang yang sepadan dengan kami yaitu si F, saya harus berusaha untuk belajar mencintai si F ketika kami sudah menikah nanti. Walaupun secara fisik, si F cukup tampan karena dia seorang keturunan Arab.

Apa yang harus saya lakukan? Setiap malam saya masih melakukan tahajud & istikharah untuk memohon petunjuk-NYA. Tapi saya juga merasa harus berkonsultasi dengan alim ulama untuk mendapatkan saran & nasehat.

Saya takut menyakiti si R jika saya menikah dengan si F, karena perasaan & hati kami yang sudah sangat saling mencintai. Namun, saya juga masih takut tidak bisa mencintai si F jika kami sudah menikah nanti dan menyesal karena tidak memilih si R yang saya cintai.

Orang tua saya & beberapa orang lain pernah berkata, bahwa cinta itu pasti tumbuh setelah menikah dengan adanya kebersamaan. Jadi tidak usah khawatir tidak bisa cinta dengan suami. Tapi saya juga banyak mendengar kisah rumah tangga yang sudah bertahun-tahun tapi tetap tidak bisa mencintai pasangannya. Bagi saya, pernikahan adalah hal yang sangat sakral, sekali seumur hidup. Saya tidak ingin menyesal dengan pilihan saya nanti.

Mohon nasehatnya, apa yang harus saya lakukan selain saya terus memasrahkan diri ini pada ALLAH SWT karena saya yakin hanya DIA-LAH yang dapat memberikan jalan atas semua ini.

Terima Kasih. Saya sangat menunggu saran dan nasehat dari ustadz.

Jawaban M Shodiq Mustika:

Aku menduga, kebingunganmu disebabkan oleh hadirnya F sebagai orang ketiga diantara dirimu dan R. Seandainya F tidak berkehendak untuk menikahimu, kamu pasti menerima R sepenuhnya, ‘kan?

Kalau memang begitu, maka kebingunganmu timbul lantaran munculnya tawaran yang lebih menggiurkan, yaitu dari F. Dengan kata lain, kamu ingin “mengejar keutamaan”.

Menurut kaidah Islam, “menghindari kemudharatan” lebih perlu kita utamakan daripada “mengejar keutamaan”. Jadi, kamu perlu lebih mempertimbangkan kemudharatan yang mungkin timbul diantara dua altrnatif itu.

Ketika kamu memilih satu diantara R dan F, maka salah satu di antara mereka akan merasa kecewa atau sakit hati. Manakah yang lebih sakit hati bila tak menikah denganmu? Dengan memperhitungkan bahwa kamu sudah berhubungan akrab dengan R, maka R lah yang akan lebih sakit hati. Kalau begitu, memilih R mungkin lebih baik daripada memilih F.

Akan tetapi, kamu tidak perlu buru-buru menetapkan begitu. Aku sarankan dirimu untuk bermusyawarah lebih dulu dengan R. Yang penting, perhatikanlah bahasa nonverbal (bahasa tubuh, raut wajah, dsb) si R ketika kalian membicarakan hal ini. Dari sini mungkin kamu bisa menyimpulkan apakah R benar-benar akan sakit hati bila putus hubungan cinta denganmu.

Seandainya R malah lega bila tak jadi menikah denganmu, tentunya kamu takkan merasa berat untuk menikah dengan F. (Memang, cinta tidak pasti tumbuh setelah pernikahan, tapi DAPAT ditumbuhkan. Selama ada kemauan, di situ ada jalan.) Namun kalau R tampak jelas akan sakit hati bila hubungan cinta kalian terputus begitu saja, maka tentunya kamu akan lebih mantap untuk memilih R. Untuk lebih mantapnya, kusarankan kau lakukan istikharah lagi. Wallaahu a’lam.

Lowongan Jodoh: Cari calon istri yang murah senyum

Nama : Achmad Purwanto
lahir : Rembang, 19 sept 1977
status : Bujang
pekerjaan : Staf keuangan Perusahaan Cargo di jakarta
alamat : Ciracas JakTim

kekurangan ana, al :
1. pendiam (nggak banget2)
2. perawakan sedang (gak gemuk gak kurus, gak pendek gak tinggi)

menginginkan pendamping :
1. wanita yang sopan dan santun
2. wanita yang mau diajak dijalan agama
3. siap lahir batin menjadi ibu rumah tangga
4. wajah manis dan murah senyum

Yang mau berta’aruf dengannya, silakan hubungi kami via eMail: muhshodiq[at]yahoo[dot]com untuk kami teruskan kepada yang bersangkutan.