Benarkah istri tak boleh keluar rumah tanpa izin suami, bahkan walau ayahnya sekarat?

Asslamualaikum Pak Shodiq. Saya pernah terbaca satu hadis, tapi nga’ ingat di mana… lebih kurang katanya, seorang isteri itu nga’ bisa keluar rumah kalo tanpa izin suami. Meskipun bapanya meninggal atau sakit kuat.

Saya butuh hadis itu, tapi puas nyari’in di internet kok ngak bisa muncul . Pak, tolong ya… kalo2 bapak pernah terbaca hadis itu, saya butuhkannya untuk tau apa taraf hadis itu shahih?

Jawaban M Shodiq Mustika:

Walaupun populer, derajat hadits tersebut DHA’IF (lemah). Kutipannya adalah sebagai berikut.

Artinya: Dari Anas bin Malik (ia berkata): Bahwa seorang suami pernah keluar (rumah) dan ia perintahkan istrinya agar tidak keluar dari rumahnya. Dan bapak dari si istri itu tinggal di bawah rumah sedangkan ia tinggal di atasnya. Lalu sakitlah bapaknya, lalu dia mengirim utusan kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam menerangkan keadaannya (ia dilarang keluar rumah oleh suaminya sedangkan bapaknya saat ini sedang sakit).

Bersabda Nabi Shalallahu alaihi wasallam, “Taatilah perintah suamimu.” Lalu matilah bapaknya, ia pun mengirim utusan kembali menerangkan keadaannya (ia dilarang keluar rumah oleh suaminya sedangkan bapaknya saat ini telah wafat).

Bersabda Nabi Shalallahu alaihi wasallam, “Taatilah perintah suamimu.” Lalu Nabi Shalallahu alaihi wasallam mengirimkan utusan kepadanya (menyampaikan sabda beliau), “Sesungguhnya Allah telah mengampuni bapaknya karena ketaatannya kepada suaminya.”

DHOIF. Diriwayatkan oleh Imam Ath Thabany dalam kitabnya Mu’jam Al Ausath yang di sanadnya ada seorang rowi dhoif bernama Ishmah bin Mutawakkil sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Al Haitsami di kitabnya, Al Majmauz Zawaa’id (4/313). Dan syaikhul Imam Al Albani telah melemahkan hadits di atas dalam Irwaul Ghalil (no 2014), karena kelemahan Ishmah bin Mutawakkil dan gurunya, yaitu Zaafir bin Sulaiman.

(dikutip dari kitab Hadits-Hadits Dhoif dan Maudhu’ karya Ustadz Abdul Hakim Abdat, penerbit Darul Qolam).

Kamal bin Hummam dalam Fath al-Qadir berfatwa bahwa bila istri bermaksud menuntut hak atau memenuhi kewajiban terhadap orang lain, seperti merawat orang sakit atau pun memandikan mayat, maka dia diperbolehkan keluar, baik dengan izin suaminya maupun tidak. Menurutnya, hal-hal seperti itu tergolong fardhu kifayah (kewajiban kolektif) yang tidak dapat dibatalkan oleh larangan suami. Karena itu, keluar rumah lantaran memenuhi kewajiban kolektif itu dapat dibenarkan menurut Syari’at.

Jadi, bila dalam rangka memenuhi kewajiban (baik fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah), maka seorang istri boleh keluar rumah tanpa izin suami. Wallaahu a’lam.