Diakah jodoh yang terbaik bagi saya?

Setelah saya ikuti saran mas, dari buku yang berjudul Istikharah Cinta, saya mendapatkan mimpi, maka sy memutuskan memilih Bulan (nama samaran) dan meninggalkan Nda (nama samaran). namun setelah banyak masalah yang menghampiri, termasuk kekurangan Bulan mulai terlihat. bagaimana itu mas, padahal menurut Allah itu yang terbaik bagi saya?

Memang, “menurut Allah” merupakan yang terbaik. Hanya saja, apakah memang pilihanmu itu benar-benar “menurut Allah”? Bisa saja kau salah paham. Silakan simak kembali buku Istikharah Cinta, terutama pada pasal “Inikah pilihan Allah?”, hlm. 95-98. Selain itu, silakan simak pula artikel “Petunjuk aneh bin ajaib itu dari Tuhankah?“.

Sy pernah baca salah satu artikel curhatan tentang orang yang sebelum menikah rajin sholat, puasa dsb (ibadah mahdoh). tapi setelah menikah sebaliknya (tidak rajin ibadah). saya tidak sengaja dinasehati oleh ahli hikmah/ahli ilmu fisika kuantum/ahli ilmu falak. katanya Bulan itu setelah menikah dengan sy akan berubah 180 derajat, dia sekarang yang rajin ibadah akan malas beribadah. apa tanggapan mas?

Benarkah informasi dari ahli tersebut bahwa setelah nikah, seseorang akan berubah 180 derajat? Belum tentu. Setidak-tidaknya, ada dua alternatif sebab mengapa informasimu itu kurang tepat. Pertama, mungkin dia bukan ahli hikmah/falak/kuantum. Kedua, mungkin kau salah paham terhadap kata-katanya.

“Dari sudut pandang fisika kuantum, segala sesuatu yang dipandang tidak mungkin terjadi bisa saja menjadi mungkin terjadi.” (Istikharah Cinta, hlm. 57) Dengan demikian, mungkin saja seseorang itu akan berubah 180 derajat (baik setelah nikah maupun sebelum nikah), tetapi mungkin pula dia tidak berubah sedikit pun. Intinya, kita perlu “selalu terbuka terhadap berbagai kemungkinan” (Istikharah Cinta, hlm. 58). Atas dasar itu, janganlah kita terlalu optimis atau pun terlalu pesimis bahwa seseorang akan berubah, baik setelah nikah maupun sebelumnya.

slama ini saya lebih kangen ke Nda dari pada Bulan. namun selama ini saya beranggapan bahwa kangen itu karena sering ketemu. karena kenyataannya lebih sering ketemu dengan Nda dari pada dg Bulan. benar atau salah anggapan saya itu?

Menurut psikologi, seringnya interaksi menyebabkan menguatnya perasaan. Apabila perasaan yang dominan adalah rasa suka, maka itu cenderung berkembang menjadi rasa cinta. Bila sudah cita, maka cintanya akan semakin mendalam. Namun kalau yang dominan adalah rasa tak suka, maka itu cenderung mengarah ke rasa benci. Kalau sudah benci, maka itu dapat menjurus ke rasa antipati (kebencian yang mendalam).

atau apakah Nda sebenarnya yang terbaik buat saya??

Bila kita belum mampu mengambil putusan tegas padahal sudah beristikharah, maka kita disarankan melakukan istikharah lagi sampai terlihat jelas oleh kita mana yang lebih baik. Yang dimaksud dengan kebaikan ini adalah yang selama-lamanya, yakni dunia-akhirat.

Bagaimanakah supaya petunjuk dari Tuhan itu terlihat lebih jelas? Di satu sisi, kita perlu mensucikan hati, terutama dengan bertawakkal kepada-Nya. (Lihat “Indera Keenam menurut Al-Qur’an“) Di sisi lain, kita perlu menajamkan akal untuk memanfaatkan ilmu-ilmu terkait, seperti ilmu akhlaq, ilmu komunikasi, psikologi, dan sebagainya. Apabila kita kurang menguasai ilmu-ilmu tersebut, kita dapat berkonsultasi dengan ahlinya. (Lihat (Istikharah Cinta, hlm. 95-98.)