Konsultasi: Dia duda keren, tapi…. gimana, ya?

assalamu’alaikum wr. wb… ustad pa kbr? sehat kan? sy dl pernah bertny mslh jodoh jg mell email ni kepada ustad, kemudian ustad menjwbnya dgn sgt baik. terima ksh sy ucapkan untk itu. sekrg sy ingin bertanya lg, smg ustad tdk bosan menjawab pertanyaan2 dr sy.

begini, saat ini sy bingung dihadapkan pada sebuah keptusan. saya dijodohkn oleh keluarga kepda seorg duda wafat istri tnpa anak. tentara, merokok, agm alakadarnya, akhlak baik dan menyenangkan bila ngobrol dgnnya. dia masih da hub saudara dgn sy.
awalnya sy ragu dgn pilihan ortu ini. dia jarang sholat dan kuat merokok. tp ortu membesarkan hati saya agar mau menerimanya. ortu meyakinkan bhw sy akan mampu mengubah dia menjadi lbh baik lg. dua kali ibu sy nangis minta sy mau menerim dia.pelan2 hati sy tbuka dan ingin berkenalan lbh jauh dgnnya. tnyata dlu dia sholat, tp sejak ditinggal istrinya dia berhenti sholat krn frustasi/stres. sy phm dgn kondisinya.kemudian pelan2 sy ajak dia kembali sholat dan mengenal islam.alhamdulillah dia sgt senang, ktnya dia ska dgn wanita yg sellau mengingatinya jk ada kekeliruan yg dia buat.pelan2 dia mulai rajin sholat.sy senang dgn perubahan ini. dia pun berjanji akn mulai mengurangi rokok.
namun ustad, ketika ortu tau bhw gajinya kecil dan harus dibagi 2 pula dgn utang ortunya, serta merta ortu sy lgsg membatalkan perjodohan itu.sy kecewa ustad, dia pun sedih mngetahinya.sy terlanjur senang dgnnya.sy ga trima ortu membtlkan hanya krn mslh keuangannya.walau bgtu, sy msh berkomunikasi dgnnya lwt tlp/sms krn dia diluar kota .sy bbrp kali tatapmuka dgnnya dan sempat pergi mengunjungi tantenya.semuanya bs sy trima apa adanya dirinya.namun, sy msh ragu apakah dia akan tetap bs rajin sholat ketika menikah nanti?berulangkali sy sampaikn kegelisahan sy itu, dgn yakin dia menguatkan sy, dia akan berusaha trs untk itu, karena dia malu klu istri sholat masa dia sbg suami tdk sholat. dari dulu pun sebenarnya dia sholat kok.
pertanyaan saya :

1. bisakah saya pegang kata2nya itu sbg jaminan bhw dia akan bs lbh baik lg ke depannya (kt org dia baik dan nurut kl dibilg sepnjg itu baik)
2. apakah sy salah telah mengindahkan kata2 ortu untk memutuskan hubungan dgnnya krn ortu keberatan dgn keuangannya?(sy khwtr jk ini berlnjut ke pernikahan, dan pernikahan mengalami mslh ortu akan menyalahkan sy krn tdk nurut pa kt ortu dan bs2 krn tak direstui kami terhambat utk bahagia)
3. apakah sudah tepat pilihan saya?(krn pengetahuan /pengamalan agamanya bs dikatakan msh dibwh saya)
4. menurut bpk bagaimana langkah kami selanjutnya?(memutuskan/menikah dgnnya) dan bagaimana mnt restu ke ortu?
5. sy istikharah selama ini, namun jawabannya blm sy temukan.bagaimana cara mendaptkan jwaban istikharah sy?

sy mohon pak ustad dpt segera memberi jawaban atas kebingungan sy ini. sebelum dan sesdahnya saya ucapkan jazakallahu khairon katsir.

Wa’alaykumussalaam…. Pertanyaanmu lumayan banyak. Sayangnya, waktuku tak cukup banyak untuk menerangkannya secara panjang lebar. Jadi, maaf, jawabanku singkat saja:

Menurutku, dia BUKAN jodoh yang terbaik untukmu. Sebab, kepribadiannya belum matang. Dia lebih membutuhkan sosok seorang ibu daripada seorang kekasih/istri.

maaf ustad, dr mana ustadz bs menyimpulkan bhw kepribadiannya belum matang? krn selama kami ngobrol, menurut sy dia cukup dewasa dan pengertian. terima ksh

Kedewasaan itu terdiri dari berbagai unsur; dewasa dalam satu unsur belum tentu dewasa dalam unsur lain. Dalam keadaan normal, kita sulit menilai kedewasaan seseorang. Dalam keadaan tak normallah kita lebih mudah menilai kedewasaan seseorang.

Pada orang dewasa, motivasi itu tumbuh dari dalam diri sendiri, bukan dari luar. Namun, kulihat tanda-tanda kekurangdewasaannya dari ceritamu: “… ortu meyakinkan bhw sy akan mampu mengubah dia menjadi lbh baik … sejak ditinggal istrinya dia berhenti sholat krn frustasi/stres … dia malu klu istri sholat masa dia sbg suami tdk sholat …

Tentu saja, kedewasaan itu merupakan proses. Bila ketika itu kedewasaannya belum cukup matang, mungkin saja sekarang sudah mulai matang.

Aku tidak melarangmu untuk melanjutkan hubungan dengan dia. Namun, saranku, pastikanlah bahwa kedewasaannya telah cukup matang untuk beristri lagi. Supaya lebih yakin akan kedewasaannya, kau bisa meminta dia untuk mengikuti semacam tes psikologi di lembaga psikologi yang terpercaya. (Untuk penjajagan awal, silakan kau suruh dia mengerjakan “Kuis: Apakah Anda cenderung mampu menahan emosi?“)

Oh ya, mengenai jawaban terhadap istikharah, silakan simak buku Istikharah Cinta. Wallaahu a’lam.

(Untuk berkomentar, silakan klik di sini.)