Pilih Sungguh-Sungguh Islami ataukah Kelihatan Islami?

pak, tidak semua orang membaca keseluruhan blog ini…
saya maklum terhadap orang-orang yang berkomentar “pedas” “cepat” dan “singkat”.

Di satu sisi, aku pun memakluminya. Di sisi lain, aku sangat menyayangkan mengapa aktivis dakwah lebih menaruh perhatian pada “kulit” daripada isi. Kalau aktivis saja sudah begitu, bagaimana dengan obyek dakwahnya?

saya harap bapak juga bisa lebih kalem, lapang dan jelas dalam memberikan tanggapan balik, karena orang yang sejak awal sudah berfikiran keras, akan lebih susah diberi masukan…

Silakan memberi contoh dengan menanggapi sebuah komentar ivan dan beberapa komentar serupa, lalu mari kita lihat hasilnya.

memang benar kalau ada yang mengatakan “rassulullah tidak pernah mengajarkan pacaran”, emang enggak…

Benarkah begitu? Lihat “Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami)“.

apalagi konotasi pacaran sekarang buruk dimata islam,

Islam yang mana? Buktinya mana? Kalau bagi sebagian besar pengunjung blog ini, pacaran itu berkonotasi positif, sedangkan pacaran islami sangat positif. Untuk buktinya, lihat “Istilah Favorit untuk Aktivitas Persiapan Menikah“.

terkadang orang yang sudah terlanjur meng”judge” sesuatu dengan keras, diberi link penjelasannya pun bisa malas meng-”klik”…

Link itu untuk efisiensi. Kalau aku selalu sampaikan penjelasan panjang-lebar, maka akan ada banyak pengunjung yang terganggu. Paling tidak, aksesnya akan lebih lambat. Dulu, ketika aku belum sesibuk sekarang, aku pun sering menyampaikan penjelasan yang panjang-lebar, tapi hasilnya kurang signifikan bila dibandingkan dengan efisiensi yang dikorbankan. Jadi, “terkadang orang yang sudah terlanjur meng’judge’ sesuatu dengan keras,” diberi penjelasan yang panjang-lebar pun mereka malas membacanya. Jangankan penjelasan di bagian komentar. Penjelasan di dalam artikel yang mereka komentari pun tidak mereka baca dengan secermat-cermatnya.

untuk tulisan “Konsultasi: Cara PDKT ama Akhwat Aktivis“, saya maklum dengan saudara preemzz karena (maaf beribu maaf) penulisannya mirip dengan tips di majalah2 remaja dengan tema “bagaimana cara ngedapatin hati si “dia” “.
jadi seakan-akan memang PDKT nya menjadi terlihat tidak islami…

Khalayak utama yang aku bidik di sini bukanlah orang-orang seperti preemz, melainkan orang-orang “awam”. (Aktivis dakwah yang “awam” pun tercakup di sini. Lihat halaman Profil Pembaca.) Karena itulah aku menggunakan gaya penyampaian pesan yang menurutku lebih mudah mereka tangkap.

Kalau di mata orang-orang seperti preemz, kiat-kiat seperti itu “terlihat tidak islami”, aku memang lebih menekankan hakikatnya daripada kelihatannya. Aku justru sangat menyayangkan pesan-pesan dari sejumlah aktivis dakwah yang kelihatannya islami, padahal pada hakikatnya tidak islami. (Untuk contoh, lihat “Awas! Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!“.)

yah, hanya sebagai masukan saja pak… semoga diberi kesabaran dan jalan yang lebih baik… amin…

Aamiin. Terima kasih atas masukannya, insya’Allah sangat berguna bagi kita semua.

saya sedang bahagia jatuh cinta nih…🙂

Alhamdulillaah… Aku turut berbahagia atas kebahagiaanmu.🙂