Mau jadi istri kedua?

3 tahun yang lalu saya pernah menjalin hubungan dengan seseorang, tetapi ternyata hubungan itu kandas di tengah jalan. Hubungan kami tersebut sudah terlalu jauh, sehingga saat itu saya kalut, saya tidak tahu lg apa yg harus saya lakukan dan bagaimana saya menghadapi hidup saya kedepannya.

Alhamdulillah saya masih memiliki orang tua yg mau mengerti keadaan saya.
Saat itu saya menceritakan keadaan saya pada ayah saya dan Alhamdulillah, dia mau memaafkan saya dan menganjurkan saya untuk banyak2 solat, berdoa, dan bertaubat.

Pada akhirnya saya bisa menjalani kehidupan saya seperti sedia kala, walaupun dalam hati saya merasa saya adalah orang yg kotor. Tidak mungkin ada orang yang mau kepada saya.

Bapak Shodiq, dalam setiap doa saya, saya selalu meminta agar jodoh saya di dekatkan, walaupun nanti saya menjadi istri kedua, saya rela, saya ikhlas, jika memang itu sudah menjadi jalan hidup saya.

2 tahun setelah saya berpisah dgn mantan kekasih saya, saya bertemu dengan teman masa kecil saya.
Saat itu dia sudah menikah dan memiliki 2 orang anak.
Komunikasi antara kami berjalan begitu saja, sampai suatu saat dia meminta saya menjadi istri keduanya. Saat itu saya mengatakan saya mau asalkan istri pertamanya mengijinkan.

tetapi ternyata istrinya tdk mengijinkan dan dengan berat hati kami memutuskan untuk berpisah.

2 bulan telah berlalu tapi kami tdk bisa melupakan cinta kami, pada ahirnya kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami ini tanpa sepengetahuan istrinya. Tapi kami tidak berencana untuk menikah saat itu juga, rencana kami adalah nanti stlh memiliki rumah.

Bapak shodiq, saya berpikir, apakah dia memang jodoh saya? apakah ini merupakan jawaban atas doa saya dulu pada saat saya mengatakan saya bersedia menjadi istri kedua jika memang itu sudah jalan hidupku.
Apakah hubungan yang saya jalani saat ini salah?
Padahal kami saling mencintai dan kami ingin menikah.
Tolong pencerahan hati dari bapak.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Ck ck ck… Kau wanita yang langka. Di zaman sekarang, sedikit sekali wanita yang mau “menerima apa adanya”, sampai-sampai bersedia menjadi istri kedua. Tipe seperti inilah yang digandrungi banyak pria. Dengan sikap begitu, kau akan mudah mendapatkan jodoh yang terbaik bagimu.

Perhatikanlah bahwa ungkapan “yang terbaik” itu aku tekankan. Mengapa? Sebab, jodoh yang disediakan oleh Tuhan bagi kita masing-masing itu banyak, lebih dari satu.

Bila kau bertanya padaku apakah si dia itu “jodoh”-mu yang dikirimkan oleh Allah sebagai jawaban atas doamu, maka jawabku: mungkin saja dia itu jodohmu, tetapi belum tentu dia itu “jodoh terbaik”-mu. Seandainya kau menganggap bahwa Allah tidak mengampuni dosamu yang lalu, sehingga kau memandang dirimu kotor sekali sampai kini, maka bisa saja dia tergolong “jodoh terbaik”-mu. Namun, kalau kau yakin bahwa Allah mengampuni hamba-hamba-Nya yang bertaubat, sedangkan dirimu sudah bertaubat, maka aku yakin bahwa dia bukanlah “jodoh terbaik”-mu, setidak-tidaknya pada saat ini. Sebab, istrinya tidak rela suaminya memperistri dirimu. Apalagi, kalian menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi.

Ditinjau dari sudut pandang fiqih (munakahat), perbuatan kalian tidaklah salah. Hukum Islam memberi peluang kepada kaum pria untuk berpoligami. Hanya saja, Islam itu bukan terdiri dari fiqih belaka. Unsur-unsur lainnya masih ada, bahkan mungkin lebih penting. Diantaranya adalah unsur adab atau akhlaq.

Untuk ilustrasi pembanding, perhatikanlah shalat berjamaah di masjid. Menurut fiqih, aurat pria hanyalah antara pusar dan lutut kakinya. (Malah, ada ulama yang berpandangan bahwa aurat pria hanyalah alat kelaminnya.) Dengan demikian, bershalat dengan bertelanjang dada pun tidaklah salah selama auratnya tertutup.

Lantas, apakah hanya karena “tidak salah”, kita para pria bershalat jamaah di masjid dengan bertelanjang dada? Kalau ini yang kita lakukan, bayangkanlah bagaimana tanggapan masyarakat. Mereka akan menilai bahwa Islam kurang beradab. Akibatnya, terhambatlah kita dalam mendakwahkan kemuliaan Islam.

Oleh karena itu, pertimbangan kita bukanlah sekadar benar-salah, melainkan juga baik-buruk, pantas-tak pantas, dan sebagainya. Dalam terminologi Islam, kita mengenalnya sebagai “halalan wa thayyiban”. (Halal bermakna “boleh”; thayyib berarti “baik, patut, indah, dan sebagainya”.

Demikian pula pada kasusmu. Menjalin hubungan cinta secara sembunyi-sembunyi dengan si dia dalam rangka hendak menjadi istri keduanya tanpa sepengetahuan istrinya tidaklah salah, tetapi kurang thayyib. Memang, kebaikannya ada, bahkan mungkin tidak sedikit, tetapi keburukannya lebih signifikan. Diantaranya: mengacaukan sendi-sendi masyarakat (dengan menyuburkan perselingkuhan), menjadikan rumahtangganya kurang sakinah (sehingga mudah hancur), di samping juga membuat dirimu sendiri kurang menaruh perhatian pada perasaan dan kepentingan orang lain, yang dalam hal ini terutama ialah istrinya.

Aku sendiri pun tidak rela bila kau menjalin hubungan cinta dengan si dia tanpa kerelaan dari istrinya, apalagi kalau sampai menikah dengannya. Sebab, Allah menyediakan bagimu jodoh-jodoh lain yang lebih thayyib bagimu daripada dia.

Wanita yang sudah bertaubat dari perbuatan zinanya tidak lagi tergolong kotor, tetapi sudah menjadi thayyib. Selanjutnya, sebagai wanita yang thayyib, selayaknyalah kau mendapatkan pria yang thayyib pula sebagai jodoh terbaikmu.

Seperti yang sudah kuungkapkan di atas, dengan sikapmu yang “menerima apa adanya”, kau menjadi tipe idaman banyak pria. (Lihat “Yang Sesungguhnya Diinginkan Cewek/Cowok“.) Karena itu, kau akan mudah mendapatkan jodoh yang lebih thayyib.

Selama ini, ketika menjalin hubungan dengannya, kau sudah mampu bersikap “menerima apa adanya” (yaitu kenyataan bahwa dia sudah beristri). Kini dan seterusnya pun aku yakin bahwa kau juga mampu “menerima apa adanya”, yaitu menerima salah satu dari jodoh-jodoh lain yang diadakan (atau disediakan) oleh Tuhan bagi dirimu.

Wallaahu a’lam.

7 responses

  1. Bapak M. Shodiq, terima kasih sudah mau membalas email saya.
    dan terima asih juga atas komentar bapak. saat ini saya sudah mengakhiri hubungan saya dengan dia.

    setelah membaca jawaban bapak hati saya aga lega.
    sekarang saya berusaha menjalani hidup saya dengan lebih sabar lagi mudah-mudahan ALLAH segera mempertemukan saya dengan jodoh saya.

    sekali lagi terima kasih banyak pa shodiq.

  2. pa shodiq,

    saya pernah mendengar katanya kalau ingin mendapat jodoh, maka puasa lah di hari kelahiran kamu.

    apakah ada dalil atau hadis yg menyebutkan ttg hal tsb ya pa.

    ada juga yang mengatakan bahwa kalau mau ingin ketemu jodoh kita harus puasa dan solat tahajud sebanyak 40 hari.
    Apakah itu juga boleh pa?

    kalau solat tahajud saya masih bisa menerimanya tapi yg meragukan adalah puasa 40 hari itu pa. tolong infonya.

    saya memiliki teman yg mengamalkan puasa dan tahajud 40 hr dan pada ahirnya dia mendapatkan jodoh yg datangnya tidak disangka pa.

    Mohon penjelasan dari bapa. terima kasih.

    • @ ari
      Semua amal yang kau sebutkan itu tidak ada dalilnya. Bila kita mengamalkannya, bisa-bisa kita terjerumus pada bid’ah (mengada-ada). Untuk saat ini, aku sarankan kau amalkan dulu buku “Doa & Zikir Cinta“.
      Jawabanku sekarang singkat saja, ya. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk menyampaikan penjelasan yang lebih rinci di kesempatan lain.

  3. ustad saya mau tanya, menjadi istri ke2 apakh akn mendapt kan hukum karma, dan sprtii apa hukum karma itu??

  4. trims ustad ats blsan nya, ustad sya mau mnta pndapat sm ustad, sya udh 1thn menjdi istri ke2, slama itu sya bhagia bngt sm suami sya, dia baik, jjur , adil sama sya dan istri pertma…
    yang sya mau tnya kn, sya ingin mmnta maaf sm istri prtma nya, tpi sya ga berani mengungkap kan nya, karna sya pernah bertmn saat pergi haji 3th yang lalu… jdi bgaimn pndapan ustad???

Komentar ditutup.