Konsultasi: Takut Dosa Zina

Saya … 29 tahun, baru saja membaca buku Bapak, doa & zikir cinta, di mana didalam buku tersebut dibahas tentang perzinahan. Saya ingin berkonsultasi tentang masalah tersebut. Sudah 2 tahun terakhir ini saya melakukan hubungan terlarang dengan seorang pria yang sudah berkeluarga. Saya tahu saya bodoh dan salah dengan hubungan tersebut, tetapi saya tidak bisa menghindar. Godaannya terlalu berat.

Saya sangat mencintai pria tersebut. Apapun yang dia katakan saya selalu percaya, sampai kehormatan saya pun saya serahkan.

Pada awalnya dia kelihatan sangat menyayangi saya, sampai2 dia menggugat cerai istrinya. Tapi proses cerai tersebut tidak berhasil, karena seluruh keluarga besarnya tidak setuju. Akhirnya dia menyerah untuk kembali lagi pada istri dan anaknya.

Saya merasa sangat sedih dan marah karena dicampakkan begitu saja.. Saya minta dia untuk bertanggungjawab dan menikahi saya, tidak masalah saya jadi istri kedua, tetapi pria tersebut menolak. Alasannya, dia mau bertobat dan tidak mau menyakiti hati keluarganya lagi. Saya bilang, saya juga mau bertobat makanya saya minta dia untuk menikahi saya. Tetapi, menurut dia, klo bertobat bukan berarti kami harus menikah. Benarkah demikian?

Saya sudah mohon ampun pada Allah dengan melakukan sholat taubat dan memperbayak ibadah2 saya. Menurut Bapak, apa yang harus saya lakukan? Apa saya harus merelakan dia pergi atau tetap meminta dia untuk bertanggungjawab? Saya takut klo saya tidak menikah [dengannya], perzinahan saya akan terus jadi dosa perzinahan selamanya. Apakah Allah akan menerima taubat orang yang sudah berzinah tapi tidak menikah? Menurut Islam, bagaimanakah hukumnya?

Saya mohon sekali bapak mau membalas email saya ini karena saya tidak punya tempat untuk bertanya lagi, saya ucapkan terima kasih yang sebesar2nya atas bantuan bapak. …

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Aku dapat merasakan kesedihanmu. Saat membaca curhatmu, nyaris mataku berkaca-kaca. “Dicampakkan” oleh kekasih itu sudah berat, apalagi dalam keadaan sudah menyerahkan “kehormatan”. Beratnya jadi berlipat.

Tak banyak orang yang mampu menanggung kesedihan berlipat. Kebanyakan orang menjadi larut dan tenggelam dalam duka nestapa. Tapi kau tidak begitu. Dengan tabah, kau “mohon ampun pada Allah dengan melakukan sholat taubat dan memperbayak ibadah”. Kau bertekad kuat untuk bertaubat. Ketika tiada lagi tempat bertanya, kau masih berkonsultasi.

Sikap tabah dan tekad taubat seperti itu sudah memadai untuk mencari dan menjalani solusinya. Dengan tabah (sabar), Allah bersamamu. Dengan taubat yang sungguh-sungguh, walau tidak menikah dengan dia, Allah pun mengampunimu dan menerima taubatmu.

Ya, taubatmu itu memang tidak harus berupa menikah dengannya. (Para ulama sepakat bahwa seseorang yang berzina itu boleh menikah dengan dizinainya, tetapi tidak mewajibkannya.) Sungguhpun demikian, itu bukan berarti bahwa dia bisa lepas sama sekali dari tanggung jawab.

Bagaimanapun, perbuatan zina itu dilakukan berdua tanpa paksaan, bukan? Karenanya, kedua pihak mestilah bertanggung jawab. Menurutku, pihak yang berstatus pernah menikah bahkan seharusnya menerima tanggung jawab yang lebih besar. Sebab, hukuman terhadap pelaku zina yang pernah menikah itu lebih berat daripada pelaku zina yang belum pernah menikah. (Untuk perbandingannya, lihat Hukum Rajam bagi Siapa. Untuk eksekusinya, lihat Hukum Islam untuk Zina.)

Lantas, kalau bukan dengan menikah, apa ujud tanggung jawabnya? Silakan bermusyawarah! Ujud tanggung jawabmu bisa berupa mengikhlaskan dia untuk kembali kepada istri dan anaknya. Ujud tanggung jawabnya, selain kembali kepada istri anaknya, bisa berupa memberi fasilitas secukupnya kepada dirimu untuk mencari jodoh lain pengganti dirinya. Bahkan bila dia pernah berjanji akan menikahimu, maka kau bisa ajukan tuntutan yang lebih besar, semacam “ganti rugi” atas pelanggaran janjinya.

Mudah-mudahan dengan musyawarah secara kekeluargaan, tercapailah kemufakatan. Seandainya tiada kesepakatan, dapatlah kau pertimbangkan untuk mengajukan gugatan hukum.

Karena kau sangat mencintainya, mungkin agak berat bagi dirimu untuk menerima solusi yang kusarankan tersebut. Namun, keikhlasanmu dalam menjalani solusi terbaik (bagi semua pihak) tentulah akan diperhatikan oleh Sang Mahatahu. Peluangmu untuk lebih disayangi oleh Sang Maha Penyayang akan lebih besar lagi.

Demikian tanggapanku. Semoga berguna sebagaimana mestinya. (Untuk lebih mendalami persoalan taubat dari zina, silakan simak artikel-artikelku yang di sini.) Wallaahu a’lam.

One response

  1. Assalammualaikum,Bapak, saya sangat tersentuh dengan jawaban yang Bapak berikan sebagai solusi. Saya sedang membuat artikel tentang perkawinan dan perselingkuhan. Mohon ijin bila saya akan memakai bahan dari jawaban Bapak. Tentu saya akan melink blog Bapak ini. Terimakasih. Assalammualaikum. w.w.

    Esti
    http://www.jalanjalansemauku.blogspot.com/

Komentar ditutup.