Konsultasi: Mau cerai karena beban berat

Saya seorang laki-laki berumur 26 tahun telah menikah 1 tahun dan saya mempunyai persoalan mohon dibantu dengan sangat. Saya ingin bercerai dengan istri saya dikarenakan saya tidak cinta dengan istri saya dan saya ingin fokus ke karir dulu serta ingn membuat hidup saya dan Orang tua saya bisa hidup dengan layak. Saya menikahi istri saya dikarenakan rasa tanggung jawab saya terhadap istri saya dikarenakan waktu pacaran saya sangatlah bebas sekali sekali-kali kita bercinta walaupun begitu istri saya tidaklah hamil dan kita bepacaran hampir 4 tahun. Saya menikahi dia karena desakan dari orang tua istri saya dan juga dari istri. Sekarang saya sangat menyesali perbuatan masa lalu saya karena saya dari keluarga tidak mampu orang tua saya juga sudah sangat tua, kakak2 saya juga tidak mampu membantu orang tua karena hidup merekapun juga susah dan mereka semuanya tenlah berkeluarga hanya saya yang jadi tumpuan orang tua saya di karenakan saya lulusan S1 dengan biaya sendiri tapi sayang saya telah mengecewakan mereka. Hidup saya sekarang sangatlah susah hutang bertumpuk walaupun saya mempunyai gelar Sarjana, tapi itu tidaklah mencukupi saya pun masih numpang di mertua saya. Saya ingin sekali bercerai dengan istri saya namun saya tidak tega menceraikan istri saya sekarang istri saya sudah baik kepada saya namun jika saya melihat kondisi orang tua saya sekarang saya sangatlah kasihan terhadap mereka sesenpun uang saya tidak bisa membantu mereka. Tolonglah saya saya didera dilema yang membingungkan. Saya mohon bantuannya.

Jawaban M Shodiq Mustika:

Intisari yang saya tangkap dari persoalan Anda: manakah yang sebaiknya kita pilih: menghindari kemudharatan (dengan tidak menceraikan/menelantarkan istri) ataukah mengejar “keutamaan” (dengan mengejar karir dan membantu orangtua)?

Menurut kaidah ushul fiqih, seharusnya Anda memilih yang pertama. Sebab, menghindari kemudharatan itu mestinya lebih kita utamakan daripada mengejar keutamaan. Karena itu, pertahankanlah rumahtangga Anda dengan istri Anda. Mengejar karier dan membantu orangtua bukanlah alasan yang memadai untuk menceraikan istri.

Apabila Anda menceraikan istri untuk mengejar karir, maka kerusakan yang Anda timbulkan akan lebih besar daripada “kerusakan” bila hidup serba kekurangan dalam berumahtangga.

Bila Anda menceraikan istri, kerusakan besar itu bukan hanya berupa marahnya keluarga istri Anda. Istri Anda tentu juga akan merasa sakit hati. Jiwa Anda sendiri pun akan rusak bila Anda melepaskan diri dari tanggung jawab. (Bandingkan dengan artikel Pilih tunangan ataukah mantan pacar?)

Dulu Anda sudah mampu menunjukkan tanggung jawab dengan menikahi pacar walau tidak mencintainya. Tentu sekarang Anda pun mampu pula bertanggung jawab dengan mempertahankan rumah tangga Anda. Kalau dulu dan sekarang Anda belum mencintainya, itu bukan berarti bahwa takkan tumbuh rasa cinta Anda kepadanya. Rasa kasihan Anda kepadanya, sehingga tak tega menceraikannya, merupakan bibit cinta yang dapat Anda tumbuh-kembangkan. Teruslah memupuk rasa sayang Anda kepadanya.

Anda tidak perlu menyangkal kenyataan bahwa pada saat ini, Anda belum sepenuhnya mampu menafkahi istri. Namun Anda perlu bersyukur bahwa istri Anda tidak banyak menuntut kepada Anda. Mertua Anda pun menerima keberadaan Anda, sehingga menampung Anda di rumah beliau. Ini pun patut Anda syukuri. (Untuk mengetahui cara bersyukur, lihat penjelasan M Quraish Shihab di sana dan di sana.)

Supaya Anda lebih lancar dalam mengembangkan karier, lebih banyaklah mensyukuri segala yang telah Anda peroleh. Allah SWT berjanji, “Jika kamu bersyukur, maka pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu; dan bila kamu ingkar, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (QS lbrahim [14]: 7)

Sementara itu, bantuan terhadap orangtua tidaklah harus berupa uang. Anda bisa mendoakan mereka. Bisa pula Anda memperlihatkan perhatian yang besar dengan cara sering mengunjungi mereka dan menjadi “pendengar yang baik” bagi mereka.

Demikian saran saya.

3 responses

  1. Ping-balik: Cinta Romantis » Pilih tunangan ataukah mantan pacar?

  2. Ass Wr.Wb

    Saya mohon bantuan, saran dan arahan. Saya barusan menang banding, tetapi mantan akan maju kasasi lagi, apa resiokonya kalau saya tidak menjawab memory Banding? saya habis kena musibah, ketika saya dinas jauh dari rumah, mantan berzinah, dan KDRT terhadap anak2 saya. Mhn bantuan, araham.

  3. Ass WRB

    saya berumur 29 tahun
    saya menikah dengan istri saya yang berumur 30 tahun seorang janda yang beranak dua, saat saya saya menikah dengan istri saya status saya seorang bujangan saya menikah dengan istri saya tahun 2007. dan dikarunai seorang putri yang cantik saat ini berumur 1.7thn.

    sekarang istri saya ingin bercerai dengan saya.
    saya akui saya memang kasar dan bahkan pernah mukul (nampar) istri saya.

    alasan saya memukul karena istri saya senang berselingkuh dengan laki2 lain hanya untuk senang2

    selama 2 tahun yang saya pergoki istri saya berselingkuh sudah dengan 5 laki2. saat istri saya mengandung 3 bulan putri saya pun saya pergoki dengan laki2 lain.

    sampai detik ini saya masih ingin bersatu kembali dan memperbaiki rumah tangga saya. walaupun saya belum resmi bercerai tapi kita sudah pisah rumah selama 3 bulan.

    saya sangat mencitai istri saya dan anak anak saya, saya hanya takut bagaimana dampak psikologis anak2 saya kedepannya.

    saya bingung takut dan tidak tahu harus bagaimana.

    terima kasih

Komentar ditutup.