Pacaran ala Muhammadiyah

Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi situs Suara Muhammadiyah (SM). Di kotak “Cari Artikel”, saya mengetikkan kata “pacaran”. Hasilnya, saya temui enam artikel yang memuat kata “pacaran”. Empat diantara enam pemakaian istilah pacaran itu dilontarkan oleh orang dari luar SM, sedangkan dua penggunaan lainnya dikemukakan oleh redaksi SM itu sendiri. Dari sini, kita dapat mengamati gambaran sikap Muhammadiyah terhadap budaya pacaran.

Dalam artikel Pengantin Baru Masalah Baru di rubrik “Keluarga Sakinah” (1 Agustus 2008), redaksi menanggapi seorang pembaca yang bernama Tata:

Tata yang baik, masa-masa pacaran atau saling mengenal memang terasa serba indah. Setelah memasuki kehidupan rumah tangga pasangan suami-istri dihadapkan pada kenyataan, bahwa ternyata untuk mewujudkannya tidah semudah yang dibayangkan. Suami/istri mulai melihat watak/karakter, kebiasaan-kebiasaan asli pasangan yang mau tidak mau harus diterima. Perbedaan-perbedaan jelas selalu ada karena masing-masing berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Untuk menyikapi perbedaan diperlukan rasa saling mengerti, memahami, mau menyesuaikan dan menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan. Hal ini membutuhkan waktu dan proses belajar yang terus-menerus sampai ajal, karena kita tak pernah tahu siapa sebenarnya pasangan kita. Tapi, selama pasangan mempunyai komitmen yang jelas dan saling mengingatkan insya Allah kehidupan rumah tangga akan bisa berjalan dengan baik. …

majalah Suara Muhammadiyah Dalam artikel Ingin Pisah Baik-baik di rubrik “Keluarga Sakinah” (1 Mei 2008), redaksi menanggapi seorang pembaca yang bernama Ina:

Ina yang baik, sebetulnya orang yang berhubungan dengan lawan jenis atau berpacaran adalah untuk saling mengenal satu sama lain, agar ketika memasuki gerbang kehidupan rumah tangga dapat menghadapi masalah yang ada bersama-sama. Bila dalam perjalanan sudah tidak terjadi kenyamanan bahkan cinta pun mulai meredup, maka secara rasional sebaiknya putus. Namun, kenyataannya sering tidak mudah bagi masing-masing untuk memutuskan berpisah. Hal ini bisa disebabkan karena kesulitan mengatakan alasan yang sesungguhnya kepada si dia, dan bisa juga karena ketakutan menghadapi orang-orang dekat di sekitar kita, terutama keluarga yang sudah sama-sama menyetujui dan berharap segera menikah. Hal-hal inilah yang sedang Ina alami.

Berlarut-larut dalam masalah yang sama tentu menyebabkan ketidaknyamanan. Saya yakin hal ini akan mengganggu jalannya aktivitas. Menunggu dia mengambil keputusan duluan justru hanya akan menunda-nunda masalah. Lebih baik tanyakan pada diri sendiri, kalau rasa sayang masih ada, itu masih bisa dimaklumi karena ia pernah menjadi bagian hidup Anda. Tapi apakah Anda yakin, bahwa dia adalah pasangan yang Anda butuhkan? Mampukah Anda untuk meneruskan hubungan dengan dia yang berarti mengharuskan Anda untuk mengerti dan menerimanya apa adanya? Jawablah dengan jujur, mintalah petunjuk pada Allah dengan melakukan shalat istikharah, bila memang jawaban lebih banyak ragu-ragunya maka segeralah mengambil keputusan untuk berpisah. …

Dari dua macam tanggapan terhadap dua kasus tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa Muhammadiyah tidak mengharamkan pacaran, tetapi berusaha melakukan islamisasi terhadap budaya ini. Begitu jugakah kesimpulan Anda?

9 responses

  1. Bapak, saya mohon, dalam mengambil kesimpulan dari suatu opini, objektiflah, telitilah! Apakah dari ke-6 search result itu betul2 mencerminkan sikap Muhammadyah mengenai pacaran? Sangat mungkin bahwa pendapat Muhammdyah yg lain tidak anda teliti terlebih dahulu! Cuma dari 2 pendapat redaksi, apakah itu mencerminkan totalitas pendapat Muhammadiyah ttg pacaran? Betapa dangkalnya!

  2. @ Zain Abdillah
    Saya mengambil kesimpulan berdasarkan data sepenuhnya, bukan mengada-ada. Dari data yang tersedia, memang hanya ada dua itu yang pengungkapannya secara langsung. Namun, keduanya senada, sama-sama menerima keberadaan pacaran dalam Islam. Kalau Anda punya kesimpulan lain, silakan ajukan data Anda. Bila belum punya, silakan adakan penelitian yang lebih ilmiah.

  3. tulisan2 dan ungkapan2 shodiq mustika di berbagai blog SANGAT MENUNJUKKAN KETIDAKPERCAYAAN-DIRI yang sangat kuat. betapa tidak, setiap kali dia menulis seakan-akan INGIN DIDUKUNG. seolah-olah dia berkata, “eh, ternyata di sini juga sama dengan pikiran saya loh! juga di situ ternyata sama dengan saya.” itu adalah WUJUD KEGAMANGAN akan argumentasi-argumentasi dangkal yang dipahaminya (???)
    hal ini mudah dipahami, karena di situsnya mengenai pacaranislami kalau dilihat yang terpampang di tag-tag-nya yang berderet sangat mendirikan bulu roma… “ciuman.., mesra, keperawanan, dll”

  4. @ wahyu

    1) Allah Mahatahu siapakah yang kurang percaya diri, siapakah yang sombong, siapakah yang gemar mencari-cari keburukan orang lain, dsb. Kepada-Nya lah kita berlindung dari berbagai kebiasaan buruk itu.

    2) Hampir semua tulisan saya merupakan tanggapan masukan dari saudara-saudara kita. Mereka bertanya, saya menjawab. Apakah saya harus diam saja bila mereka bertanya mengenai pandangan orang lain terutama yang berkompeten mengenai pacaran (dan perkara lainnya)? Apakah saya harus mengungkapkan pendapat pribadi belaka tanpa menghiraukan pandangan para ulama sedikit pun?

    3) Ajaran Islam itu begitu luas, sehingga mencakup segala bidang kehidupan, termasuk yang “seru” sebagaimana tercantum dalam tag. Seperti judul, tag itu sangat penting. Inilah salah satu langkah pertama yang penting untuk menarik perhatian obyek dakwah. Selain itu, tidak ada larangan untuk membicarakan persoalan ciuman, kemesraan, keperawanan, dan sebagainya. Begitulah Islam sejak awalnya hingga kini dan seterusnya.

    4) Daripada menuding-nuding berdasar istilah belaka, tunjukkan saja kalimat saya yang mana sajakah yang keliru untuk kita perbaiki bersama.

  5. Wah..wah.. Artikelnya menarik!
    Ana sarankan bwt pmbaca yg ge KASMARAN..(ciee..) tak skdar share artikel dr bl0g “ust..” ini,mang cukup mnarik,namun hnya b’dasar akal beliau yg di dukung 0pini perasaan kemanusiawian yg memang fitrah..,pacaran tmasuk syubhat dalam fiqh hub.lawanjenis, dan bukankah kita lebih baik meninggalkan syubhat yg tak jelas kehalalanya!? Sangat jauh lebih baik Qta menuju yg JELAS halal nan brpahala! ya.. nikmatnya kasmaran dirahasiakan kpd slain Allah swt,namun pnuh R0MANSA..Tersendiri menuju pernikahan,coba deh perjuangkan cintamu!

  6. Afwan jiddan bila ada susunan kata2 yg salah krna khilaf.. Terutama yg m’mbuat perasaan tersinggung.. ^^,

    • @ Kukuh
      Apakah Anda belum membaca artikel di atas (dan artikel lain yang senada)?
      Mengapa Anda mengatakan “hnya b’dasar akal beliau yg di dukung 0pini perasaan kemanusiawian …”? Judulnya saja sudah menyatakan dengan jelas, “… ala Muhammadiyah“. Apakah menurut Anda, Muhammadiyah (dan para ulama lain yang sepaham dengan pemahaman Muhammadiyah) itu “hnya b’dasar akal…”?

  7. Maaf dengan segala hormat, akan lebih baik bagi Anda telaah kembali pandangan yang telah anda lontarkan. Karena dalam Muhammadiyah memiliki pandangan yang sama dengan pandangan NU atau ahli agama lain, bahwa pacaran lebih banyak membawa mudharat dan lebih baik dihindari. Akan lebih baik jika Anda tidak menyimpulkan dari satu sumber saja dan mohon diteliti kembali latar belakang penulis yang Anda jadikan pedoman serta mohon agar tidak memandang secara stereotip segala pernyataan seorang oknum untuk satu organisasi secara keseluruhan. Coba Anda rujuk dari pendapat ahli lainnya dalam Muhammadiyah, sehingga menghindari sempitnya pandangan. Demikian semoga Anda semakin bijaksana. Terima kasih dan mohon maaf.

Komentar ditutup.