Mendadak Ketemu Si Romantis

Seusai beberapa hari menyibukkan diri menata selusin blog, aku kini bisa “bersantai”. Aku berselancar, blogwalking istilahnya, buat bahan nulis posting ini. Baru lima detik melangkah, hatiku sudah tertambat pada sebuah postingan: Mendadak Bilang Cinta.

Postingan tersebut terdiri dari empat fragmen, plus prolog/epilog. Sebenarnya, dari prolog hingga fragmen ketiga, aku kurang ngerti apa maksudnya. Mungkin karena aku masih belum “melek sastra”, aku belum mampu menikmati kata-kata puitisnya. Barulah di fragmen keempat, mendadak kusadari, “Wow, sungguh romantis.”

Eits, jangan salah sangka, ya! Ingatlah apa yang sesungguhnya kumaksud dengan “romantis“.

Di fragmen keempat itulah kutemukan contoh ciri khas sifat romantis. Jadi, kalau ada yang bertanya kepadaku mana contohnya, dengan PD aku bisa menjawab, ini dia:

Beberapa waktu terakhir ini, seorang sahabat perempuan bercerita. Tentang dirinya, yang berencana menikah. Dengan seorang teman baru yang dikenalnya setengah tahun lalu. Padahal, baru bulan kemarin ia bilang: “Masak sih aku sama dia? …” Haha, bukankah benar, cinta kadang tak mudah dimengerti. Kapan ia tumbuh, benarkah cinta lahir “jalaran soko kulino”? Atau bisa sama sekali tak terduga? Tapi benar, cinta tak melulu tentang ketertarikan hati.

Paragraf tersebut selaras dengan Misi Romantis, yaitu: mencari cinta sejati.

Dan aku masih saja terngiang-ngiang akan sepenggal surat Chairil pada HB. Jassin. ”Orang selalu saja salah sangka, tapi mereka akan menyesal di hari kemudian, karena aku akan sanggup membuktikan bahwa karya-karyaku ini bermutu dan berharga tinggi. Jangan kita putus asa Mirat, aku akan terus berjuang untuk memberi bukti”.

Begitulah diantara sikap yang romantis, yaitu “percaya diri; berani dan tabah hadapi rintangan dan penderitaan….”

Cinta, adalah kekuatan. Jika ia mampu meluluhlantakkan, kau baiknya percaya ia membangun yang lebih baik. Dan meski ia juga tentang ketulusan, tapi ia adalah kemampuan untuk memperjuangkan. Bertahan, bukan sekedar melepaskan. Ia adalah harapan.

Pemikiran ini sejalan dengan pola-pikir romantis, yaitu bahwa “Kita akhirnya akan lepas dari masa-masa sulit.”

Adalah pernikahan, tak sekedar tentang cinta. Tapi, jika kau percaya, ia hanya membutuhkan dua manusia yang sadar akan ketaksempurnaannya, yang punya tekad untuk selalu belajar bersama, untuk tujuan bersama… Jika kau bisa meyakini bahwa itu sudah cukup, maka ku kira, “berbahagialah…”

Lagi-lagi ciri khas sifat romantis. Begitulah Visi yang romantis, “Aku merindukan seseorang yang sangat berharga dalam kehidupanku. …”

Sebenarnya, empat paragraf tulisan Liez NF (si penulis postingan) tersebut hanyalah contoh yang kutayangkan di sini. Sesungguhnya, keseluruhan postingan tersebut menggambarkan sifat-sifat romantis. Jadi, tidaklah berlebihan bila aku bersyukur, “Alhamdulillaah. Mendadak aku ketemu si romantis.”

Dan engkau pun mudah-mudahan akan juga bersyukur bila juga “menikmati” postingan tersebut. Nah, kalau berkenan, silakan berkunjung ke sana.