Kekerasan dalam pacaran, jangan biarkan!

Banyak orang yang peduli tentang kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga (Domestic Violence), namun masih sedikit yang peduli pada kekerasan yang terjadi pada remaja, terutama kekerasan yang terjadi saat mereka sedang berpacaran (Kekerasan Dalam Pacaran/KDP) atau Dating Violence). Banyak yang beranggapan bahwa dalam berpacaran tidaklah mungkin terjadi kekerasan, karena pada umumnya masa berpacaran adalah masa yang penuh dengan hal-hal yang indah, di mana setiap hari diwarnai oleh manisnya tingkah laku dan kata-kata yang dilakukan dan diucapkan sang pacar. Hal tersebut dapat dipahami sebagai salah satu bentuk ketidaktahuan akibat kurangnya informasi dan data dari laporan korban mengenai kekerasan ini.

Demikian pemberitahuan dari kesrepro dot info, “Kekerasan dalam Pacaran: Sebuah Fenomena yang Terjadi pada Remaja“. Hmmm…. betul juga, ya? Tak selamanya pacaran itu indah. Ada kalanya terdapat “bumbu-bumbu” berupa saling cemburu, bahkan juga kekerasan. (Untuk contoh gambaran nyata, silakan simak Tiga Kasus Kekerasan dalam Pacaran.)

Terus, apa saja sih, bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran?

Kekerasan … ini biasanya terdiri dari beberapa jenis, misalnya serangan terhadap fisik, mental/psikis, ekonomi dan seksual. Dari segi fisik, yang dilakukan seperti memukul, meninju, menendang, menjambak, mencubit dan lain sebagainya. Sedangkan kekerasan terhadap mental seseorang biasanya seperti cemburu yang berlebihan, pemaksaan, memaki-maki di depan umum dan lain sebagainya. Sedangkan kekerasan dalam hal ekonomi jika pasangan sering pinjam uang atau barang-barang lain tanpa pernah mengembalikannya, selalu minta ditraktir, dan lain-lain. Jika dipaksa dicium oleh pacar, jika ia mulai meraba-raba tubuh atau ia memaksa untuk melakukan hubungan seksual, maka ia telah melakukan kekerasan yang termasuk dalam kekerasan seksual. Umumnya pemerkosaan yang terjadi dalam masa pacaran (Dating Rape) diawali oleh tindakan kekerasan yang lain.

Masalahnya, para korban kekerasan pada umumnya tidak menceritakan kepada pihak yang berwenang terhadap masalah ini, bahkan kepada orang tuanya.

Korban dan pelaku biasanya selalu berusaha menutupi fakta yang ada dengan berbagai cara atau dalih, walaupun terkadang tanpa sengaja terungkap. Jika situasi dan keadaan sudah sangat parah (misalnya luka-luka fisik sudah tidak bisa ditutupi), biasanya korban terpaksa meminta bantuan pihak medis dan atau melaporkan kepada pihak berwajib.

Mengapa para korban itu menutup-nutupi fakta ini?

Kasus kekerasan yang tidak dilaporkan biasanya karena korban merasa takut akibat ancaman oleh pacar, atau karena iba karena pelaku memohon maaf sedemikian rupa, setelah melakukan kekerasan, sehingga korban percaya bahwa pelaku benar-benar menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi. (Lihat Tiga Kasus Kekerasan dalam Pacaran.)

Padahal, sikap yang terlalu lunak dalam menghadapi kekerasan seperti itu ibarat memelihara serigala di kandang domba. Sebab, bisa saja kekerasan itu memang sudah menjadi kebiasaan si pelaku. Mungkin sikap keras si pelaku itu sudah mengakar dan akan terus berulang. (Wah, kalau kebiasaan ini baru ketahuan setelah menikah, gawat juga, ya?)

Sikap menyesal dan pernyataan maaf yang dilakukan pelaku adalah suatu fase “reda” dari suatu siklus. Biasanya setelah fase ini, pelaku akan tampak tenang, seolah-olah telah berubah dan kembali bersikap baik. Jika pada suatu saat timbul konflik yang menyulut emosi pelaku, maka kekerasan akan terjadi lagi.

Oleh karena itu, sebesar apa pun cinta yang kita rasakan pada mereka yang melakukan kekerasan, tetap saja kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. Setuju?

3 responses

  1. kadang aku bingung kenapa teman satu kosku
    tuch masih mau balek ama pacarnya
    yang udah jelas-jelas mukul dia, nendang dia ampe berdarah-darah
    apa cinta selalu memaafkan
    i doubt it

    • @ niken
      Solusinya adalah berdisiplin untuk tidak membiarkan adanya kekerasan itu. Disiplin merupakan bagian dari cinta sejati. Tanpa disiplin, itu bukan lagi cinta, melainkan nafsu.

Komentar ditutup.