Diskusi: Implikasi Penelitian Perilaku Pacaran

Menurut saya [nasgormalem], kesimpulan anda [Shodiq Mustika] yang tertulis : {Lagi-lagi, penelitian tersebut membuktikan bahwa pacaran itu tidak identik dengan “mendekati zina”} adalah salah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,, karena data yang anda jadikan rujukan justru menunjukkan bahwa minimal 55% dari 95% penganut gaya mengobrol pasti setuju dengan bolehnya berpegangan (mendekati zina)

Bahkan seandainya hanya ada satu pasang orang pacaran yang tidak mendekati zina, itu sudah menjadi bukti bahwa pacaran itu tidak identik dengan zina. Apalagi Anda hanya menunjukkan bahwa yang setuju pegangan tangan 55%. Artinya, ada 45% responden yang tidak pegangan tangan. Data ini pun jelas menunjukkan bahwa pacaran itu tidak identik dengan mendekati zina.

Nah, di situ kan bisa dilihat bahwa 55% > 45%.
Ini menunjukkan bahwa kecenderungan negatifnya lebih besar.
Nah, perlu dianalisis pula dari yang 45% itu apakah benar mengobrol gaya mereka itu sejalan dengan mengobrol di pikiran anda. Lebih jauh lagi, apakah sama dengan pikiran saya atau orang lain? Karena, saya sendiri tidak menganggap yang 45% bebas zina / tidak mendekati zina. Mengapa? karena di Qur’an juga sudah dijelaskan agar kita semua menjaga pandangan. Jadi perlu ada batasan jelas tentang komunikasinya. Tidak hanya dengan label “ngobrol itu jadi tidak mendekati zina”.

Sebagai insan akademis, kejelasan tersebut penting. Apakah bapak berani menjamin 45% itu ngobrol yang bebas zina? Mengapa saya bertanya begini? Karena bahwa ketika mudharat yang ditunjukkan lebih besar daripada segi manfaatnya,,lebih baik tidak diikuti. Ini sudah bukan masalah “walau ada 55% yang mendekati zina, kan masih ada 45% yang *samar, jadi pacaran tidak identik dengan zina”. (Saya anggap samar karena saya belum tahu buktinya). Menurut saya, kalau bisa sih “100% tidak mendekati zina sama sekali” itu lebih baik. Bukankah kalau ada yang lebih baik dan jelas, kita tidak perlu mengikuti yang buruk dan samar?

Apakah kecenderungan negatifnya “lebih besar”? Itu ‘kan rata-rata atau pada umumnya. Itu pun hanya berlaku bagi kelompok lain yang karakteristiknya serupa dengan karakteristik responden. Artinya, tidak semua orang berkecenderungan begitu. Bandingkan saja dengan bidang kehidupan lain. Politik, misalnya. Biarpun pada umumnya orang-orang berpolitik secara kotor, itu bukan berarti tidak ada politisi yang bersih. Begitu pula pada pacaran.

Kecenderungan negatif yang “lebih besar” itu pun tidak sepenuhnya bisa kita terima. Sebab, tidak semua ulama sepakat bahwa pegangan tangan itu mendekati zina. Yang disepakati hanyalah yang disertai dengan nafsu birahi.

… saya sendiri tidak menganggap yang 45% bebas zina / tidak mendekati zina. Mengapa? karena di Qur’an juga sudah dijelaskan agar kita semua menjaga pandangan.

Dalam konteks menganggap orang lain itu bebas zina atau bukan, AlQur’an menyuruh kita bersangka baik (QS an-Nur [24]: 12). Terhadap si penuduh, Al-Qur’an menuntut adanya saksi (QS an-Nur [24]: 12). Inilah landasan kami mengapa para penentang pacaran islami itu saya minta mengerjakan “PR” sebagaimana dalam artikel terdahulu.

Memang, “ketika mudharat yang ditunjukkan itu lebih besar daripada segi manfaatnya, lebih baik tidak diikuti.” Namun perlu kita perhatikan bahwa manfaat-mudharat pacaran itu tidak sama diantara para pelakunya. Tidak semuanya memperoleh mudharat yang lebih besar daripada manfaatnya.

Kepada orang yang cenderung kurang mampu mengambil manfaat dari pacaran dan justru cenderung mendapat banyak mudharat (misalnya pada orang yang belum dewasa atau yang kurang mampu mengendalikan diri), kami tidak menganjurkan mereka untuk pacaran.

Namun kepada orang yang cenderung mampu mengambil manfaat dan menepis mudharat dari pacaran, kami menghargainya.

Lebih dari itu, kami pun menunjukkan jalan kepada orang-orang lainnya supaya mereka juga cenderung mampu mengambil manfaat dan menepis mudharat dari pacaran. Untuk contoh, lihat artikel Taman Cinta.

Kemudian karena pada orang yang tidak pacaran pun tiada jaminan 100% bebas dari mendekati zina, maka yang terbaik adalah http://wppi.wordpress.com/2008/01/10/berilah-kemudahan-bercinta-daripada-mencegah-zina-secara-berlebihan/

Wallahu a’lam