Perlukah kita buang istilah pacaran?

Jangan pakai istilah pacaran lah pak. Judul “Nabi Muhammad pun pernah pacaran” menurut saya terlalu provokatif dan bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Ya, engkau benar. Terima kasih atas kritiknya.
Sekarang saya menyadari, judul tersebut bisa menimbulkan kesalahpahaman. Karena itu, saya baru saja meralatnya dengan menambahkan kata “(tetapi secara islami)”.

Judul aslinya masih saya sertakan. Sebab, postingan tersebut merupakan jawaban terhadap pertanyaan dari seorang pembaca, “Apakah pernah Siti Khadijah pernah pacaran dengan Nabi Muhammad SAW sebelum menikah? Apakah pernah salah satu sahabat Rasulullah SAW pernah pacaran sebelum menikah?”

Ternyata dari hadits shahih dan kitab siroh Nabi, saya dapati bahwa memang Rasulullah saw. pernah melakukan pacaran. Karena itulah saya menjawab, “Nabi Muhammad pun pernah pacaran.”

Seandainya istilah pacaran itu tidak saya pakai, maka pertanyaan dari pembaca itu tak terjawab. Padahal, kita tidak boleh menyembunyikan sunnah beliau ini, bukan?

Mungkin istilah tanazhur lebih baik. Mengingat konotasi “pacaran” pada masa sekarang sudah berbeda dan bergeser makna.

Ya. Makna asli istilah pacaran adalah persiapan menikah. Sayang sekali, ada banyak orang yang memahaminya dalam pengertian yang menyimpang.

Sungguhpun demikian, istilah pacaran tidak saya buang. Sebab, ada banyak orang yang masih menyukai istilah ini. Mereka inilah yang terutama saya bidik di blog ini. (Lihat Profil Pembaca.) Seandainya istilah pacaran itu kita campakkan, maka saya khawatir mereka lari ke model pacaran jahiliyah.

Tentu kita ingin mereka menjalani berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam hal pacaran, secara islami. Karena itulah saya gunakan istilah pacaran islami dalam rangka islamisasi terhadap budaya pacaran (yang memang banyak menyimpang seperti yang sudah kita ketahui bersama).