Pacaran bukanlah seperti membuka buku sampai lecek dan lusuh

Sebagian orang menyatakan, “Pernikahan yang diawali dengan pacaran ibarat membeli buku yang dijadikan contoh (sample) dari jenis buku yang mahal.” Pernyataan analogis (pembandingan) itu sudah lama disuarakan, tapi hingga kini masih sering didengang-dengungkan oleh kelompok tertentu. Akibatnya, analogi tersebut menjadi mitos yang dipercayai kebenarannya, padahal menyesatkan.

Menyesatkan? Ya! Pernyataan mereka itu mengandung sesat-pikir (fallacy) lantaran pembandingan yang “pincang” dan “tidak relevan”. Penyebab pincangnya adalah lemahnya faktor yang menyebabkan adanya analogi. Sedangkan irrelevansinya terjadi karena yang diperbandingkan bukanlah sifat asasinya. (Lihat Mundiri, 60 Jenis Sesat Pikir (Semarang: Aneka Ilmu, 1999), hlm. 21-23.)

Belum jelas? Marilah kita memeriksanya supaya lebih jelas.

Mereka berkata:

Umumnya buku [yang mahal] seperti ini di toko buku dibungkus dengan plastik rapat disertai peringatan “Membuka berarti membeli” sehingga bagi para pembeli untuk bisa benar-benar mengenali buku tersebut siapa tahu tertarik ada 2 pilihan,  yaitu: Pertama, dengan membuka buku tersebut dan membacanya. Akibatnya buku tersebut sangat lecek dan makin lusuh bila semakin banyak orang yang membacanya. Akhirnya hampir semua pembeli menolak untuk menerimanya sebagai barang belian kecuali sangat memaksa dan terpaksa. Membeli buku yang seperti ini ibarat pernikahan yang diawali dengan pacaran. Kedua, karena buku tersebut mahal terbungkus rapi dan membukanya adalah berarti membeli maka untuk mengetahui isinya sang pembeli bertanya pada petugas, atau lihat-lihat katalog komputer atau bisa juga sebelumnya bertanya dulu pada orang yang telah memiliki, tahu atau pernah membacanya. Sehingga dia mendapatkan buku yang benar-benar baru belum pernah disentuh siapapun termasuk pembelinya. Ini ibarat orang yang menikah tanpa melalui proses pacaran.

Untuk mengenali bahwa pembandingan tersebut tidak relevan, marilah kita amati perbedaan antara “buku” dan “pacar”.

Buku adalah benda mati yang pasif dan tak berdaya ketika dibuka-buka sampai lecek dan lusuh. Pacar ialah makhluk hidup yang dianugerahi Tuhan dengan hati nurani dan akal sehat, sehingga mampu menjaga diri dari kekotoran. Allah SWT berfirman, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalbunya.” (QS at-Taghaabun [64]: 11) Jadi, dalam konteks “kekotoran”, pembandingan antara “buku” dan “pacar” tidaklah relevan.

Kemudian untuk mengenali pincangnya pembandingan mereka itu, marilah kita amati perbedaan antara “membuka sampel buku” dan “pacaran”.

Buku itu merupakan produk massal. Untuk mengenali isinya, kita dapat membuka dan membaca sampelnya. Terhadap produk yang bersifat massal seperti itu, metode penelitian survei (bersampel) merupakan metode yang efisien. Namun, pacar ialah makhluk tunggal yang bersifat unik, lain dari yang lain. Ia bukanlah sampel dari para lawan-jenis. Terhadap produk unik yang bersifat tunggal seperti ini, metode penelitian yang efektif adalah “studi kasus“, bukan survei. (Lihat, misalnya, buku karya Prof. Dr. S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1992), terutama Bab I.) Jadi, dalam konteks penelitian, pincanglah pembandingan antara “membuka sampel buku” dan “pacaran”.

Dengan demikian, analogi (pembandingan) antara “membuka sampel buku” dan “pacaran” yang mereka kemukakan itu keliru alias sesat-pikir (fallacy).

***

Berikut ini beberapa contoh gambaran yang bisa menunjukkan bahwa pacaran bukanlah seperti “membuka buku sampai lecek dan lusuh”:

Pacar tak setia

jawaipost wrote 18 hours ago: Hari ini tgl 18-06-2008 adalah hari yang tidak menyenangkan buat saya karena pacar saya memutuskan h … more »

Tag: buku harian

Pacaran Sesuai Ajaran Islam1 comment

Santri Wati wrote 23 hours ago: Pertanyaan: Assalamualaikum wr. wb. Selama ini ada beberapa macam pendapat tentang pacaran dalam sud … more »

Tag: fatwa

Apakah Dia Untukku?

Be example wrote 2 days ago: Beberapa hal sederhana untuk mempertimbangkan apakah ia layak diperjuangkan Memilih pasangan hidup … more »

Tag: relationship

Panduan Lengkap Pacaran Islami

M Shodiq Mustika wrote 2 days ago: “Bagaimana cara pacaran yang islami?” Pertanyaan ini sering kami jumpai, tetapi jawabannya seri … more »

Tag: 1 – Siagakan pelaku

Ap@ itu C!Nta ??

dhieeewhe wrote 6 days ago: cinta menurut pakde …. cintu itu bukan masalah hati saja… cinta adalah sinkronisasi an … more »

Tag: Kamut

satu sajak cinta untuk mantan pacar3 comments

harie insani putra wrote 2 weeks ago: Catatan: jangan bilang siapa-siapa tahukah kau manis adalah tanggal, bulan dan waktu: masih seper … more »

Tag: sajak

kusembunyi cintaku padanya

Apandi wrote 3 hours ago: kusembunyi cintaku padanya cinta itu seri berahi syahdu nafsu ayu kalbu, aku masih didungu diharu-bi … more »

Tag: Apandi

Lelaki Hebat9 comments

achoey sang khilaf wrote 9 hours ago: Sudah beberapa hari ini aku memperhatikan sosok lelaki kurus itu. Di balik kekucelan tubuhnya aku me … more »

Tag: Hikmah Sang Khilaf

Ku tak suka ini…8 comments

zoel chaniago wrote 10 hours ago: Huhhhhh napa harus terjadi,,, dah dua hari ini koneksi speedy dudul banget…. buka blog aja sus … more »

Tag: Curhat

Datang dan Pergi5 comments

awan sundiawan wrote 13 hours ago: Dia datang Dia pergi lagi Dia kembali lagi menemui Dia kembali lagi meninggalkan Dihatiku ada rindu … more »

Tag: Puisi

Jangan Hiraukanku

Tedy wrote 14 hours ago: Sekali – kali ‘ku tak pernah ingin mengganggumu. Sungguh bukan demikian inginku. Aku hanya ing … more »

Tag: Syair

Suka, sayang dan cinta

wansz wrote 18 hours ago: Saat kau menyayangi seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri. S … more »

8 responses

  1. it just only a metafor.
    tentu saja manusia berbeda dengan buku.

    tapi lihatlah esensi analoginya.
    what behind it-nya. makna yg terkandung dalam cerita tsb.

  2. @ achoey sang khilaf
    Trims atas dukungannya

    @ zoel chaniago
    Benarnya yang mana?

    @ nenyok
    Pendapat “tidak ada pacaran dalam islam” itu sudah terbantahkan, antara lain di http://wppi.wordpress.com/2007/12/02/adakah-memperskosa-secara-islami/

    @ melok
    Yang saya kupas di atas bukanlah sekadar metaforanya, melainkan juga esensinya. Perhatikan kata-kata yang sudah saya nyatakan dalam artikel:

    Namun, pacar ialah makhluk tunggal yang bersifat unik, lain dari yang lain. Ia bukanlah sampel dari para lawan-jenis. Terhadap produk unik yang bersifat tunggal seperti ini, metode penelitian yang efektif adalah “studi kasus“, bukan survei.

  3. Merngenai metode gw jadi keingetan buat ngerjain skripsi, tapi memang benar seperti yang disampaikan pak shodig, anak mahasiswa dari fakultas sosial yang buat penelitian pasti bisa ngeh perbedaan ini dalam kuliah metodologi penelitian sosial:

    Namun, pacar ialah makhluk tunggal yang bersifat unik, lain dari yang lain. Ia bukanlah sampel dari para lawan-jenis. Terhadap produk unik yang bersifat tunggal seperti ini, metode penelitian yang efektif adalah “studi kasus“, bukan survei.

  4. Ping-balik: vizentica.blogr.com - stories - 2009-07-26-Pacaran-Islami

Komentar ditutup.