10 Kiat Menjadi Pendengar Yang Baik

Banyak orang pandai menulis, tapi tak cakap membaca. Banyak orang pintar bicara, tapi tak pandai mendengar. Bagaimana dengan kita? Berikut ini saya tampilkan kembali artikel saya, supaya kita semakin cerdas dalam berkomunikasi, pacaran, dan sebagainya.

Apakah Anda sudah menjadi “pendengar yang baik” bagi si dia? Manfaat apakah yang Anda peroleh?

Dengan menjadi pendengar yang baik, tentu Anda bisa lebih mudah memahami apa yang disampaikan si dia. Dengan memahami dia, Anda pun akan lebih menerima keberadaan dirinya. Walhasil, Anda merasa lebih nyaman. Ya, nggak?

Nah, kita mau jadi pendengar yang baik, kan? (Baguuus…) Nih, sekurang-kurangnya ada sepuluh kiat agar menjadi pendengar yang baik:

1. dengarkanlah dia tidak hanya dengan telinga, tetapi juga dengan mata, hati, pikiran, dan bahasa tubuhmu. Untuk mendengar apa yang sebenarnya dimaksudkan si dia, kamu perlu “mendengarkan” apa yang tidak dia ucapkan (yaitu apa yang sesungguhnya ada di balik kata-katanya). Seberapa keras pun dia tampak dari luarnya, dia punya kebutuhan besar untuk dipahami.

2. berusahalah mendengarkan secara aktif. Lakukan komunikasi dua arah. Sering-seringlah ajukan pertanyaan kepadanya.

3. janganlah memotong pembicaraan. Biarkan dia menyampaikan pikiran atau perasaannya secara tuntas.

4. jangan mendengarkan secara sepotong2 yang akan memungkinkan kamu menyerang si dia atau menemukan kesalahannya.

5. cobalah bersikap seperti gema. Tidak perlu menghakimi atau pun menggurui. Gema hanya memantulkan. Caranya, ulangilah dengan kata-katamu sendiri, apa yang dimaksudkan dan dirasakan lawan bicaramu, segera sesudah dia bicara. Misalnya: “Ooo, penulis yang sejati itu bukan sekedar meringkas tulisan orang lain, tapi mengungkap pikirannya, perasaannya, atau segala peristiwa yang pernah dialaminya. Bukan begitu, Ka?

6. nyatakan pengertianmu terhadap perasaannya. Disamping mengulangi isi pernyatan si dia, gemakan juga perasaan yang tersirat dari pernyataanya. Contohnya: “Aku bisa membayangkan perasaanmu, De. Kau tentu merasa bete, ‘kan?”

7. selamilah perasaan si dia. Kata Robert Byrne, “Hingga kamu berjalan satu mil dengan mengenakan sepatu orang lain, tidak mungkin kamu bayangkan baunya.” Maksudnya, ketika mendengarkan omongan si dia, kamu harus berusaha mencerna kata-katanya dengan menggunakan “kacamata” si dia dan berusaha menyelami perasaan dia.

8. hindarilah “sindroma hiburan” (harapan bahwa si dia akan menghiburmu). Alih-alih, hiburlah dia dengan menjadi pendengar yang baik bagi si dia. Umpamanya: “Oke deh, Kak. Makasih.”

9. jangan melamun, karena hal ini cenderung membiarkan pikiran kamu melantur, berkelana keliling dunia, sehingga …. (begitu deh, jadinya).

10. asumsikanlah bahwa apa yang dikatakan si dia bermanfaat. Bagaimanapun, tentu ada sisi positif dari kata-katanya yang bisa kau petik untuk kau jadikan pelajaran.

Iklan

One response

  1. Ping-balik: Konsultasi: Agar diterima oleh keluarga si dia « Pacaran Sehat

Komentar ditutup.