Dzikir untuk Atasi Masalah Pertikaian

Berikut ini adalah kutipan naskah buku M Shodiq Mustika, Dzikir Cinta Islami, Bab 12, “Atasi Masalah Pertikaian”. Isinya: cara dzikir [1] supaya saling maaf, [2] supaya tidak enggan berdamai, [3] supaya manis/romantis kembali.

12

Atasi Masalah Pertikaian

Assalamu alaikum Ustadz

Ada seorang wanita yang sangat saya cintai, begitupun ia juga mengharapkan saya. Tapi ada beberapa hal yang selama ini mengganjal perasaan kami, saya khususnya.

Ustadz, saya sangat sayang sama dia. Saya sudah ngomong ke orangtuanya, saya bingung. Saat ini saya masih kuliah semester akhir. Saya ingin segera menikahi dia.

Selama ini, kalau kami bertemu selalu bertengkar. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Selama ini kami selalu bertengkar masalah pihak ketiga, banyak sekali orang yang suka sama dia. Ia suka melayani. Apa yang harus saya lakukan?

Makasih ustad.

Wasssalam,

Rizki Setiawan

Wa ‘alaykum salam, Rizki Setiawan.

Saat hendak mengetik jawaban ini, istri saya sedang duduk di dekat saya. Saya tanyai dia, “Dalam pengamatanmu terhadap kebanyakan orang, mana yang lebih sering terjadi: konflik sebelum ataukah sesudah nikah?” (Saya memang sering meminta masukan darinya ketika menulis.)

“Sesudah nikah,” jawabnya. Rupanya, pengamatannya sama dengan saya. Dalam pengamatan saya pun, pertikaian sesudah menikah lebih sering terjadi.

“Lain dengan kita, ya?” tukas saya. “Sebelum menikah, sampai seminggu sekali kita berantem. Empat hari berdamai, tiga hari bermusuhan. Sesudah menikah, kita hampir tak pernah bertengkar. Menurutmu, mengapa begitu?” (Kini, sudah selama belasan tahun kami menikah. Pernikahan itu terjadi setelah sembilan tahun kami menjalani “hubungan tanpa status”. Mengapa sampai selama itu? ‘Ntar, ya! Sebentar lagi saya ungkapkan untuk apa waktu selama itu.)

“Mengapa sesudah menikah, kita jarang berantem? Sebabnya, kita sudah bosan bertengkar,” jawabnya seraya tersenyum-senyum. Jawabannya ini tidak sama dengan pikiran saya. Seandainya saya disodori pertanyaan yang sama, jawaban saya lain.

Dalam pandangan saya, kami jarang bertengkar sesudah menikah karena sebelumnya, segala persoalan “penting” sudah kami rundingkan sampai tuntas. Mulai dari persoalan “kecil” seperti bagaimana menata kamar, sampai ke persoalan “besar” seperti bagaimana menghadapi “orang ketiga” sebagaimana pada kasus Rizki tadi.

Saya tidak tahu pasti, mana yang benar dan mana yang salah di antara jawaban saya dan jawaban istri saya itu. Mungkin dialah yang benar, mungkin juga sayalah yang benar, mungkin pula dua-duanya benar.

Bagaimanapun, kami tidak berminat mencari mana yang salah. Dialog kami di atas itu saya ungkapkan di sini hanyalah supaya kita semua (kami, Rizki, dan para pembaca lain) lebih memahami bahwa segala pertikaian kita dengan si dia dapat kita atasi. Bila sekarang bertengkar, belum tentu kita akan terus begitu di hari-hari mendatang. Kalau sebelum menikah sudah sering bertikai, belum tentu setelah menikah tak bisa rukun.

Memang, merundingkan dua hati yang berbeda, dua kepala yang berlainan, dua latar belakang yang tidak sama, dan sebagainya, tidaklah mudah. Kami sendiri membutuhkan waktu sembilan tahun. (Waktu selama itu terutama terpakai untuk mengusahakan kerukunan lahir-batin antara kami dan keluarga pasangan. Sebab, ketika itu keluarganya bersikap dingin terhadap saya, sedangkan keluarga saya tidak suka menerima keberadaan dia.)

Kami mengharap, Rizki dan para pembaca lain menempuh waktu yang lebih singkat untuk mengatasi masalah pertikaian dengan si dia atau pun dengan keluarganya. Dengan seizin Allah, Anda pasti mampu begitu! Untuk itu, silakan Anda manfaatkan dzikir-dzikir “supaya saling maaf”, “supaya tidak enggan berdamai”, dan “supaya manis/romantis kembali”.

Supaya Dimaafkan

Pertikaian terjadi karena salah satu pihak menuding pihak lainnya bersalah, sedangkan pihak yang dituding bersalah berpandangan sebaliknya. Pada umumnya, kita berpikiran, “aku benar, kamu salah” (atau “aku memang salah, tapi kamu juga salah”).

Padahal, kita bukanlah Sang Mahabenar. Sedikit-banyak, kita selalu mengandung kesalahan. Meski kita merasa yakin berada di pihak yang benar, tentu ada pula unsur salahnya. Oleh karena itu, kita perlu minta maaf kepada si dia atas kesalahan itu.

Sementara itu, supaya dimaafkan, kita dapat berdzikir:

 

Wallâhu ghafûrun halîm.

(Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.)

(QS al-Baqarah [2]: 225)

Dia berfirman, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Allah menghukum kamu disebabkan [sumpahmu] yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS al-Baqarah [2]: 225)

Supaya Memaafkan

Disamping menyadari bahwa kita bukanlah Sang Mahabenar, kita juga perlu menginsyafi bahwa si dia bukanlah iblis yang terkutuk. Dia manusia yang tercipta dari tanah. Bukan syetan yang terbuat dari api. Mustahil dia tak pernah benar/baik. Karenanya, kita perlu mempertimbangkan segi positifnya itu ketika kita mendapati dia bersalah.

Kalau sulit memaafkan kesalahannya, ingatlah bahwa Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Untuk itu, silakan ucapkan dzikir:

 

Wallâhu ghafûrur rahîm.

(Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.)

(QS an-Nuur [24]: 22)

Allah berfirman, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka [tidak] akan memberi [sesuatu] kepada para kerabat, orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nuur [24]: 22)

Supaya Saling Memaafkan

Supaya proses “dimaafkan” dan “memaafkan” berlangsung lancar, kedua pihak perlu bertaubat dan memperbaiki diri. “… kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisaa’ [4]: 16)

Secara demikian, proses tersebut dapat kita perkokoh dengan dzikir “supaya saling memaafkan”:

 

Innallâha kâna tawwâbar rahîmâ.

(Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.)

(QS an-Nisaa’ [4]: 16)

Supaya Tidak Enggan Berdamai

Ada kalanya, hati kita sudah terbuka untuk saling maaf, tetapi terhalang oleh keengganan untuk berdamai. Kita sering merasa perlu menjaga gengsi. Padahal, jangankan gengsi kita yang sebetulnya kurang berharga di mata Allah. Sumpah kita pun, yang mendapat perhatian besar dari Allah, tidaklah seharusnya menjadi penghalang perdamaian.

Allah telah mengingatkan kita, “Janganlah kamu jadikan [nama] Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa, dan mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 224)

Nah! Bila sumpah saja yang merupakan kendala terbesar dapat kita atasi, apalagi kendala lain. Keciiil. Kalau pun kita merasa berat untuk berdamai dengan si dia, ingatlah bahwa Allah Mendengar suara hati nurani kita yang cenderung ke arah perdamaian. Ingatlah pula bahwa Dia Mengetahui kecenderungan hawa nafsu kita yang enggan berdamai.

Oleh karena itu, supaya tidak enggan berdamai, kita dapat berdzikir:

 

Wallâhu samî‘un ‘alîm.

(Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.)

(QS al-Baqarah [2]: 224)

Supaya Manis/Romantis Kembali

Di samping bukan penghalang untuk berdamai, sumpah pun bukan penghalang untuk menjadi manis atau romantis kembali ketika pertikaian telah teratasi. Allah befirman, “[Orang] yang bersumpah takkan menyetubuhi isterinya diberi tangguh [selama] empat bulan. Kemudian jika dia kembali [kepada isterinya], maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Baqarah [2]: 226)

Bila sumpah saja bukan penghalang, apalagi yang lain. Oleh karena itu, supaya hubungan kita dengan si dia menjadi manis atau romantis kembali setelah saling bertikai, kita dapat mengucap dzikir:

 

Fa innallâha ghafûrur rahîm.

(Maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.)

(QS al-Baqarah [2]: 226)

 

Iklan

6 responses

  1. Ping-balik: Konsultasi: Agar diterima oleh keluarga si dia « Pacaran Sehat

  2. Ping-balik: Cara Dzikir untuk Atasi Segala Masalah Cinta « Manajemen Amal

  3. ALHAMDULILLAH hampir 24 tahun sudah mengarungi bahtera rumah tangga rasa2nya persoalan apapun mampu kita hadapi dg banyak2 introfeksi diri ,tilawah serta zikir dan meneldani kisah kehi dupan cara berkeluarga contoh teladan umat junjungan kita Nabi Besar Akhir Zaman MUHAMMAD SAW.cobalah wahai para keluaraga yang ingin menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah.

  4. assalamualaikum.wr.wb
    saya hari-hari ini banyak masalah sama kekasihku/pacarku,,,
    masalahnya adalah setiap saya kerumah pacar saya,saya slalu di tudu berbuat mesum sama pacar saya.padahal saya tidak berbuat mesum,padahal kan saya cuman nemenin pacar saya karna pacar saya nangis terus di tinggal ayah dan ibunya pergi haji.
    tapi anehnya tetengganya menuduh yang tidak-tidak.

  5. assaalaamualaiikum wr.wb
    saya ingin brtanya kepada bapak , bbagaimana caranya agar kita dimaafkan orang yang kita cintai dan keluarganya, saya membuat ksahan karena saya tidahk pernah jujur sama orang yg saya cintai itu, saya tahu saya salah tapi ap saya mmng tdak bsa untuk dimaafkan, dan satu hal yang buat keluargnya benci pda saya karena saya snggup brsumpah demi allah demi hbngan saya yang gak mau hancur pak, tlng jaskan sama saya pak gmana carany pak dan ap akibat dari kbhngan yang sya buat itu dan memakai nama allah

Komentar ditutup.