Ketika ikhwan tercinta mengingkari janjinya kepada akhwat

Saya dapat merasakan apa yang sedang dirasakan ukhti Dina. Saya pernah merasakan sakit-hati ketika seseorang yang saya percayai sepenuhnya ternyata kemudian melanggar janjinya kepada saya. Jadi, saya dapat membayangkan pedihnya luka hati Dina ketika merasa bahwa sang ikhwan tercinta melanggar janji dan sumpahnya begitu saja.

Selama ini, terutama di lingkungan “ikhwan-akhwat”, sering disampaikan bahwa dalam hubungan pria wanita, Islam hanya mengenal dua macam ikatan yang “resmi”. Pertama, khitbah (peminangan). Kedua, nikah.

Penyampaian tersebut berpengaruh baik. Akan tetapi, hal itu juga bisa mengandung efek samping yang kurang baik. Pengaruh baiknya, kita cenderung sangat menghargai ikatan khibah dan nikah. Efek sampingnya, bisa saja kita menjadi kurang menghormati ikatan yang “tidak resmi”, seperti pada janji (atau pun sumpah) yang diikrarkan pada masa taaruf (atau pun pacaran).

Padahal, apakah Islam mengajarkan kita untuk menyepelekan ikatan yang “tidak resmi” seperti itu? Tidak! Al-Qur’an menyuruh kita menjunjung tinggi setiap janji, walaupun ikatannya “tidak resmi”.

Segala janji (atau pun sumpah) itu mengikat kita. Walaupun ikatannya “tidak resmi”, “setiap janji itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS al-Israa’ [17]: 34) Bahkan, Allah mengancam, “siapa pun melanggar janjinya, maka akibat pelanggarannya akan menimpa dirinya sendiri.” (al-Fath [48]: 10) Sedangkan kepada orang yang menepati janji, Allah memberi “pahala yang besar” (al-Fath [48]: 10). Karenanya, kita harus menjunjung tinggi segala janji (dan sumpah) kita kepada si dia.

One response

  1. Ping-balik: Diskusi: Janji Menikah Tapi Tanpa Khitbah « Pacaran Islami

Komentar ditutup.