Berdosakah memendam dan mengungkapkan rasa cinta?

[1] Sejak saya ikut r0his di SMA ini, saya jadi tahu pacaran itu dilarang. [2] Dan saya juga tahu kalau mengungkapkan cinta pada n0nmuhrim itu dilarang dlm Islam. [3] Tp bgmn dg pacaran tp tdk pernah berkhalwat dan bersentuhan, Pak? Apa itu bisa dikatakan d0sa?

[4] Sekarang saya sdh tdk pacaran lagi, tp saya tetap berkomunikasi dg mantan pacar saya itu. [5] Jauh di dalam hati saya, saya masih memendam perasaan pada dia. Apakah hal ini d0sa, Pak?

[6] Kemudian, apa yg seharusnya saya lakukan agar tdk dosa, selain menikah dan berpuasa? [7] Bolehkah saya menuangkannya dlm bentuk karya sastra?

[1] Tidaklah benar bahwa segala jenis pacaran itu diharamkan. Yang terlarang hanyalah yang “mendekati zina”. Padahal, pacaran itu tidaklah identik dengan “mendekati zina”. Lihat artikel Ciuman dengan Pacar.

[2] Mengungkapkan cinta kepada nonmuhrim tidaklah dilarang dalam Islam. Rasulullah saw. justru berbelas kasih kepada orang yang ekspresikan cinta kepada nonmuhrim. Lihat artikel Sikap Nabi terhadap Ekspresi Cinta

[3] Selama tidak mendekati zina, tidak melakukan kemunkaran, pacaran itu tidaklah haram. Lihat artikel Halal-Haram Pacaran dan artikel Bantahan terhadap Penentang

[4] Tetap berkomunikasi itu berarti tetap menghubungkan tali silaturrahim. Bagus! “Sesungguhnya perempuan adalah bersaudara dengan laki-laki.” (HR Abu Dawud dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, hadits no.. 2329)

[5] Memendam rasa cinta itu tidaklah berdosa. “Tiada dosa bagimu jika … kamu pelihara [sesuatu] itu di dalam kalbu. Allah mengetahui bahwa kamu teringat-ingat kepada mereka.” (al-Baqarah [2]: 235) Dari ayat ini kita pahami, ‘mengingat-ingat’ (merindukan, membayangkan, mengkhayalkan, dsb) kepada nonmuhrim bukanlah ‘zina hati’ dan bukan pula dosa.
Yang tergolong “zina hati”, sehingga berdosa, adalah “mengharap-harap kesempatan berzina”.

[6] Agar tidak berdosa, berhubunganlah dengannya secara islami. Dengan kata lain, perhatikanlah rambu-rambunya. Lihat artikel Taman Cinta dan artikel Ibnu Qayyim Menerima Pacaran Islami

[7] Kau boleh menuangkan rasa cinta itu dalam bentuk apa pun yang tidak mungkar. Sastra pun dapat kau manfaatkan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibnu Hazm al-Andalusi, seorang ulama besar di Abad Pertengahan.

“Silakan bercinta dan luapkanlah cinta kepada kekasih selama tidak melanggar norma agama dan norma budaya.” Demikian penegasan dari seorang ulama kita, Dr. M. Quraish Shihab, di buku beliau, Perempuan (hlm. 87).

Masalahnya, bagaimana cara meluapkan atau mengekspresikan cinta asmara yang tidak melanggar norma agama Islam? Di buku tersebut, Pak Quraish Shihab menerangkannya sepanjang dua atau tiga halaman. Itu saja. Beliau belum secara rinci menjelaskannya. Terus terang, saya menjadi penasaran. Inilah yang menggerakkan saya menulis buku Mesra Tanpa Zina (Ekspresi Cinta Asmara Islami ala Ibnu Hazm al-Andalusi). Naskahnya sudah saya selesaikan, mudah-mudahan bisa segera terbit, sehingga dapat segera kau baca dan kau amalkan.

Wallaahu a’lam.

2 responses

  1. Asw. Pak, saya minta solusi…
    sekarang saya lagi jatuh cinta pada seseorang tetapi orang tersebut sudah mempunyai cowok, dan setiap saya mencoba melupakannya justru rasa cinta saya semakin tinggi…
    pak gimana caranya supaya saya bisa menjadi pacar dia, tapi saya sangat sayang sama dia dan saya punya prinsip bahwa jika saya sayang sama seseorang saya rela menerima apapun asalkan orang yang saya sayangi mendapatkan yang terbaik…..

    Jawaban M Shodiq Mustika:
    1) Makin cinta tidaklah bersalah. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2008/06/11/konsultasi-tak-ingin-pacaran-tapi-suka-si-dia/
    2) Untuk pdkt, lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/05/08/konsultasi-cara-pdkt-ama-akhwat-aktivis/

  2. Anda:
    [1] Tidaklah benar bahwa segala jenis pacaran itu diharamkan. Yang terlarang hanyalah yang “mendekati zina”. Padahal, pacaran itu tidaklah identik dengan “mendekati zina”.

    Jawab:
    Apakah anta tahu bahwa setidaknya anta telah membuka sebuah pintu agar syaitan masuk di dalamnya? Jika tidak ada apa alasannya?

    Alasan saya mengatakan demikian adalah
    (1)Pacaran “Islami” (mendekati)> (2)Pacaran yang lumrah (mendekati)> (3)Zinah

    Dari yang nomor(2) dulu:
    Yang jelas, pacaran lumrah itu sangat dekat dengan mendekati zinah: Dalilnya:

    [i]Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. [/i] (Al Isra:32)

    Untuk yang Nomor(3)Kita tahu bahwa Zinah Dosa knp? Karena yang mendekati saja sudah berdosa apalagi klo sudah berada “di tempatnya”

    Dan Untuk yang Nomor(1):
    Sistemnya adalah:
    Mendekati hal yang mendekati zinah

    Bukankah ini telah membuka langkah bagi syaitan Pak?
    Dalilnya:

    [i]Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.[/i] (Al Araf:27)

    [i]Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.[/i] (AnNur:21)

    Setidaknya kita juga harus memperhitungkan bahwa, nabi Adam yang sudah tahu akan Iblis saja dapat tergoda sehingga dia dikeluarkan dari Syurga, apalagi kita pak, org yang ngak pernah lihat iblis dan tidak punya gelar nabi, manalagi target bapak adalah orang awam..
    Sekali lagi berfikirlah untuk hal ini🙂

    Anda:
    [2] Mengungkapkan cinta kepada nonmuhrim tidaklah dilarang dalam Islam. Rasulullah saw. justru berbelas kasih kepada orang yang ekspresikan cinta kepada nonmuhrim.

    Bagaimana dengan hadist ini:
    uwaid bin Sa’id Al-Hadatsany berkata, kami diberitahu Ali bin Mushir, dari Au Yahya Al-Qattat, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas radhiyAllahu ‘anhuma, dari Nabi shallAllahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,[i]”Barangsiapa jatuh cinta, lalu menyembunyikan cinta, menahan diri, bersabar lalu meninggal dunia, maka dia mati syahid.”[/i]

    Anda
    [3] Selama tidak mendekati zina, tidak melakukan kemunkaran, pacaran itu tidaklah haram.

    Sungguh hal ini merupakan suatu asumsi yang hanya menukil beberapa hadist dan ayat saja.

    [5] Memendam rasa cinta itu tidaklah berdosa. “Tiada dosa bagimu jika … kamu pelihara [sesuatu] itu di dalam kalbu. Allah mengetahui bahwa kamu teringat-ingat kepada mereka.” (al-Baqarah [2]: 235) Dari ayat ini kita pahami, ‘mengingat-ingat’ (merindukan, membayangkan, mengkhayalkan, dsb) kepada nonmuhrim bukanlah ‘zina hati’ dan bukan pula dosa.
    Yang tergolong “zina hati”, sehingga berdosa, adalah “mengharap-harap kesempatan berzina”.

    Maaf. Mohon di koreksi, ayat tersebut untuk orang yang akan menikahi wanita yang sedang Iddah dan ditujukan untuk meminang wanita tersebut. Dan bukan untuk selain dari itu. Ada bantahan? Silahkan🙂

    Ayat penuhnya adalah:

    [i]Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.[/i] (Albaqoroh:235)

    “Silakan bercinta dan luapkanlah cinta kepada kekasih selama tidak melanggar norma agama dan norma budaya.” Demikian penegasan dari seorang ulama kita, Dr. M. Quraish Shihab, di buku beliau, Perempuan (hlm. 87).

    Apakah bercinta disini ditujukan untuk berpacaran islami???
    Anda jangan menyalahkan artikan tafsir tersebut, bisa saja itu hanya bertujuan bolehnya seorg pemuda/mudi jatuh cinta dikarekan fitrah..

Komentar ditutup.