Konsultasi: Ingin Pacaran Tapi Trauma

Ustad, saya pengen konsultasi masalah pribadi. Begini Ustad, saya sudah setahun lebih menjomblo. Karena terakhir saya pacaran, dia menghianati saya dan itu menimbulkan luka yang cukup dalam di hati saya. Memang tidak hanya sekali dua kali ada cowok yang memperlakukan saya demikian, tapi saya ingin ini menjadi yang terakhir.

Saya sudah kecewa sedemikian rupa dengan makhluk yang bernama cowok itu. Selama setahun saya menjomblo beberapa kali ada cowok yang ‘menembak’ saya, tapi saya juga berkali-kali menolak cowok dengan alasan trauma. Sama juga ketika ada orang iseng yang SMS hanya ingin berkenalan dengan saya, rasanya saya malas sekali untuk membalas sms itu.

Alasan lain mengapa saya memutuskan untuk tidak pacaran sementara yaitu karena kedua orang tua saya adalah penganut islam yang kuat mereka juga tidak mengijinkan saya jalan berdua sm cowok jika bukan hal yang sangat mendesak. Mereka hanya mengijinkan pacaran yang islami.

Di sisi lain beberapa kali pula saya dituduh sebagai ‘penyebab perselingkuhan’ yaitu yang menyebabkan beberapa teman dekat saya putus dengan pacarnya. Padahal saya tidak ada niat sama sekali untuk merebut cowok mereka, hanya saja cowok mereka yang kegatelan.

Seandainya saya memiliki pacar pada waktu mereka menuduh saya, tentu saya sudah punya alasan kuat untuk keluar dari tuduhan itu. Ingin sekali saya mengatakan “Buat apa saya merebut cowokmu kalo saya sudah pacar?” Tapi masalahnya ketika itu saya menjomblo.

Saya bingung apa yang mesti saya lakukan Ustad, saya mulai pacaran atau meninggalkan kesenangan demi sekolah?

Saya juga tidak ingin terus kehilangan teman akibat tuduhan sebagai ‘penyebab perselingkuhan’..

Saya pun pengen sekali ada seseorang yang bisa menuntun saya dan ada di samping saya ketika saya sedih ataupun suka. Saya termasuk orang yang sulit untuk jatuh cinta, karena itu saya juga menyesal karena cowok yang dulu saya sia-siakan kini malah telah berpacaran dengan cewek lain.

Saya pun sebenernya ingin sekali bisa membahagiakan kedua orang tua saya dengan meraih prestasi di sekolah.

Apa yang harus saya lakukan Ustad agar semuanya bisa berjalan seimbang dan tidak ada pihak yang dirugikan? Terima kasih banyak sebelomnya…

Jawaban M Shodiq Mustika:

Pertanyaanmu sangat bagus dan membuatku salut: “Apa yang harus saya lakukan Ustad agar semuanya bisa berjalan seimbang …?” Aku merasa bersemangat menjawab pertanyaan sebagus ini.

Inti jawabanku: Supaya seimbang, fleksibellah dalam bersikap!

Belum jelas? Ini dia rinciannya:

Menjomblo itu tidak salah, pacaran pun tidak salah. Namun, bila kelamaan menjomblo hanya karena trauma, maka inilah yang salah. Yang juga salah adalah jika cepat-cepat punya pacar lagi hanya karena takut menjadi “terdakwa”.

Alternatif yang bisa kau pilih sebetulnya tidak hanya dua (menjomblo atau punya pacar). Bila kau berpikiran bahwa alternatifmu ini hanya dua, maka ini terlalu kaku. Fleksibellah! Alternatifmu banyak sekali.

Dengan kata lain, alternatif dalam berhubungan dengan lawan-jenis bukan hanya dua (jadi pacar atau tidak berhubungan sama sekali). Lawan-jenis itu bisa menjadi sahabat akrab, rekan kerja, teman biasa, atau bahkan sekedar kenalan. Tidak setiap perkenalan dengan lawan-jenis itu harus berlanjut ke pacaran dst.

Oleh karena itu, tetaplah terbuka untuk berkenalan dengan lawan-jenis sebanyak mungkin. Bisa lewat SMS ‘iseng’ atau pun cara lainnya. Yang penting, jalinlah hubungan secara setahap demi setahap. Jangan baru kenal sehari dua hari sudah langsung akrab! Jangan baru kenal sebulan atau dua bulan sudah bilang cinta!

Supaya tidak dinilai sebagai perebut pacar teman, bersikaplah terbuka kepada teman-temanmu yang punya pacar itu. Setiap kali ada komunikiasi antara dirimu dan pacar temanmu, ceritakanlah kepada temanmu itu. Mintalah pendapatnya. Kalau dia berpendapat bahwa kau terlalu akrab dengan pacarnya, minta maaflah. Katakanlah bahwa kau tak ingin merebut pacar teman. Selanjutnya, kurangilah kadar keakrabanmu dengan pacar temanmu itu. Toh masih ada banyak cowok lain yang belum punya pacar yang dengan mereka kau dapat berakrab-akraban.

Supaya bisa membahagiakan orangtua, prioritaskanlah di tempat pertama: prestasi di sekolah. Prioritas nomor dua: keakraban hubungan kasih-sayang dengan orangtuamu dan anggota keluargamu lainnya. Urusan pacaran? Cukup nomor empat atau lima saja. Yang nomor tiga adalah keakraban hubungan kasih-sayang dengan teman-teman.

Omong-omong, berapa umurmu? Masih tempuh studi di sekolah menengah?

Idealnya, pacaran itu dimulai ketika sudah menginjak masa remaja-akhir, yaitu sudah 19 tahun atau sudah menyelesaikan studi di sekolah menengah. Pada masa inilah pada umumnya kita sudah cukup dewasa untuk mempersiapkan pernikahan melalui jalur pacaran.

Kalau memang akhirnya kamu pacaran, lakukanlah secara islami sesuai dengan keyakinanmu. Apalagi orangtuamu mendukung pacaran yang islami.

Demikian saranku. Semoga Allah memberkahi kehidupanmu. Amin.

3 responses

  1. aku pikir pacaran itu membingungkan, apalagi pacaran long distance susah untuk di mengerti banget dan begitu sulit untuk di yakini semua perlu pertimbangan. ada baiknya kita ta”ruf ja biar gak da yang menentang tapi kalo kita selalu ingin pacaran jangan samapi meentang agama ya biasa- biasa aja itulah tanda cowok kita bisa sayang sama kita. dari situ kita bisa tau perjuangannya yang sebenernya……….

  2. Ping-balik: Konsultasi: “Bila Ibu Tak Meridhoi Pilihan Anda” « Pacaran Islami

  3. Ping-balik: Konsultasi: Masih mengharap tapi takut disakiti lagi « Pacaran Islami

Komentar ditutup.