Menyikapi Perzinaan dengan Positive Thinking

Sudah lama saya tidak menulis resensi buku. Mungkin karena belakangan ini, saya jarang membaca buku baru yang ‘istimewa’. Kalau sekarang saya menulis timbangan buku lagi, tentulah karena ada buku baru yang tiba-tiba menyentak benak saya, sehingga saya merasa perlu membagi pengalaman ini kepada orang lain.

Judul: Bukan Salah Tuhan Mengazab
Sub-Judul: Ketika Perzinaan Menjadi Berhala Kehidupan
Penulis: Anang Harris Himawan
Penerbit: Tiga Serangkai, Solo
Terbitan: Cetakan Pertama, Desember 2007
Halaman: xii+162
Ukuran: 14×21 cm
Harga: Rp 31.500

Pada hari Kamis, 6 Maret 2008, saya mengunjungi Solo Islamic Book Fair 2008. Stan Penerbit Tiga Serangkai yang menempati posisi strategis tidak membuat saya tertarik untuk melihat-lihat buku yang dipamerkan di sini. Judul Bukan Salah Tuhan Mengazab (selanjutnya disebut BSTM) sempat memikat mata saya, tetapi hanya sekejap. Judulnya lumayan menarik karena langsung mengaitkan pikiran saya dengan sebuah ungkapan populer, “Bukan Salah Bunda Mengandung”. Akan tetapi, sub-judulnya (Ketika Perzinaan Menjadi Berhala Kehidupan) kurang hebat di mata saya. Sebab, pikiran saya segera melayang pada buku-buku sejenis yang sudah banyak beredar dan hampir semuanya membosankan karena tidak ada ilmu baru yang bisa saya tangkap. Jadilah saya segera beranjak ke stan lain.

Pada keesokan harinya, 7 Maret 2008, saya kembali berkunjung ke Solo Islamic Book Fair 2008. Kali ini saya datang bersama istri dan anak-anak. Kami pun sampai di stan Tiga Serangkai. Rupanya, anak sulung kami betah di stan ini. Ia membuka-buka buku di situ bermenit-menit. Sambil menunggu, saya pun membuka beberapa buku yang sampul plastiknya terbuka.

Untunglah ada satu eksemplar buku BSTM yang tanpa sampul plastik. Saya bisa memeriksa isinya, kalau-kalau isinya tidak membosankan. Saya ingat peribahasa: Don’t judge a book by its cover (Jangan menilai buku dari kovernya). Andaikan semuanya bersampul rapat, tentulah saya takkan membeli buku ini. Sebab, saya tidak bisa memeriksa isinya, sedangkan tulisan yang terpampang di kover-belakangnya sama sekali tidak menarik. Di situ tertulis: “Zina. … Semua memiliki satu alur yang sama, yaitu mengharamkan perbuatan tersebut, apa pun jenis dan bentuknya beserta hukum-hukumnya.”

Kalau semuanya sama, pikir saya: “Apa gunanya membaca buku ini?” Akibatnya, persepsi saya kemarin, yaitu bahwa buku-buku semacam ini membosankan, jadi menguat. Persepsi ini semakin menguat lagi ketika saya baca Daftar Isi: Prolog (Problem Pacaran), Zina, Free Sex, Seks Menyimpang, Selingkuh, dan Epilog. Saya belum melihat adanya perbedaan dengan buku-buku sejenis.

Karena yang menarik perhatian saya hanyalah judul bukunya, yaitu BSTM, saya langsung meloncat ke halaman akhir untuk melihat kesimpulan buku ini. Ternyata kesimpulannya tidak saya jumpai. Kecewakah saya? Tidak. Sebab, saya menjumpai sesuatu yang lebih berharga daripada kesimpulan, yaitu solusi.

Tentu saja, hampir semua buku yang sejenis dengan buku ini juga menawarkan solusi. Lantas, adakah sesuatu yang menjadikan buku ini istimewa bila dibandingkan dengan buku-buku sejenis? Ya. Ini dia, yang saya jumpai di hlm. 150-151:

Membiarkan Berbeda: Sebuah Solusi

Menghadapi pro-kontra tersebut [yaitu antara yang mencegah zina secara keras dan yang kurang peduli akan zina], sikap bijak perlu dikedepankan. …

Semua yang tersedia dan disediakan Tuhan di dunia bersifat alamiah. Dengan kata lain, tak selamanya manusia “menekuni” jalan yang selama ini dianggap buruk dan diklaim orang sebagai jalam maksiat. Suatu saat mereka akan secara sadar menjauh dan meninggalkannya. …

Ini sudah banyak terbukti. Tidak sedikit … yang sadar akan kesalahan dan ketersesatan “jalan” mereka, lalu berbalik arah dan lari mengejar puncak spiritualisme tertinggi, taubatan nasuha. Saya sangat positive thinking saja ….

Itulah yang menyentak benak saya. Selama ini, kita terlampau banyak dijejali negative thinking dalam menghadapi fenomena perzinaan. Mulai dari isu (fitnah) bahwa 97% mahasiswi Jogja tidak perawan hingga berita “meluasnya” peredaran video mesum di kalangan remaja. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan positive thinking atau husnuzhan (hlm. 15-16).

Selain keistimewaan itu, penulis pun tampak cukup rinci dalam menyampaikan solusi terhadap segala persoalan yang berkaitan dengan perzinaan. Misalnya, untuk mengatasi fenomena free sex, ia menyarankan: [1] luruskan persepsi Anda bahwa cinta itu tidak sama dengan seks, [2] kuatkanlah orientasi pacaran Anda sebagai proses ta’aruf bil haq, [3] jangan sering bertemu dengan si dia, [4] puasa dan nikah.

Penulis pun menyebut, “Pacaran merupakan media ilahi yang harus digunakan sesuai dengan prosedur tetap dalam agama dan etika sosial.” (hlm. 17)

Oleh karena itu, buku ini perlu dibaca oleh baik remaja maupun orangtua, muslim “awam” atau pun aktivis dakwah. Meskipun saya kurang sependapat dengan beberapa pandangan penulis (diantaranya: penolakannya terhadap istilah “muhrim” (hlm. 10-11) dan sunnahnya pacaran (hlm. 16-17)), saya menghargai buku ini sebagai hasil “ijtihad” penulis yang layak kita acungi jempol.

Saya bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang memungkinkan terbitnya buku ini. Alhamdu lillaah….

2 responses

Komentar ditutup.