Pacaran Islami ala Aktivis Tarbiyah

Benarkah para aktivis dakwah dari kalangan Tarbiyah tidak suka melakukan pacaran secara islami atau “bercinta sebelum khitbah”? Benarkah bagi mereka, satu-satunya jalan menuju pernikahan adalah taaruf? Benarkah semuanya menentang mati-matian gagasan pacaran islami? Apa dampak dan konsekuensinya, baik bagi pribadi maupun kepentingan dakwah?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam itu dapat kita jumpai secara tersirat dalam sebuah pesan dari seorang aktivis tarbiyah yang menyebut dirinya “radur-man”:

Assalamu’alaikum….

Pak Shodiq, kenalan dulu yah sekalian bagi2 pengalaman. Saya tahu blog ini dari temen saya di suatu masjid kampus, dan sejak itu saya selalu mampir ke sini (kurang lebih semingguan) di sela-sela kerja di kantor (mumpung internet gratis :P). Saya hampir telah membaca semua postingan Pak Shodiq di sini beserta komen2nya.

Subhanallah, akhirnya ada juga yang berani merumuskan pacaran secara islami. Dan konsep pacaran islami yang bapak usung saya sangat menyetujuinya. Memang sih, judulnya itu (pacaran islami) menyulut api banget bagi aktivis tarbiyah.

Eits, jangan salah, saya juga tarbiyah lho (paling nggak masih aktif liqo). Kebetulan dulu saya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi ternama di Indonesia, dan alhamdulillah sudah lulus setahun yang lalu. Selama kuliah saya juga aktif di masjid kampusnya (dan sempat menempati asramanya selama setahun).

Nah, yang ingin saya soroti di sini berdasarkan pengalaman saya adalah ternyata konsep pacaran islami ini sudah buanyak dilakukan oleh para aktivis dakwah. Tapi memang dilakukan sembunyi-sembunyi. Takut di’sidang’ katanya. Trus juga istilahnya bukan pacaran islami, melainkan TTM ato HTS (Hubungan Tanpa Status) ato berkomitmen. Tapi prakteknya sama banget dengan konsep pacaran islami.

Menurut saya pribadi hal seperti itu sangat manusiawi dan toh masing2 tetap menjaga adab2 pergaulan ikhwan-akhwat. Yang saya takutkan justru, karena merasa berdosa yang sangat berlebihan terhadap perasaan dan hubungan tersebut dan karena mendapat sindiran2 miring dari teman2 sesama aktivisnya, mereka akhirnya menarik diri dari aktifitas dakwahnya dan menghilang dari peredaran. Dan inilah yang terjadi. Kalo sudah begitu, siapa yang bisa jamin kalo hubungan antara ikhwan-akhwat yang bersangkutan bisa tetap dalam kaidah2 syari’at. Inilah yang sungguh2 disayangkan.

Ikhwahfillah, sadarilah, hal tersebut terjadi di antara kita. Trus, solusi yang paling baik yang bisa kita lakukan apa? Ujung2nya si pelaku disidang lagi disidang lagi. Kenapa nggak kita rame2 ngumpulin duit buat biaya pernikahannya trus kita ringankan segala kesulitannya menuju jenjang pernikahan. Gitu kan solutif. Akhirnya kita juga nggak merasa diri paling benar dan memandang sebelah mata terhadap para pelaku2 tersebut.

Nah, di sinilah saya melihat ada kekurangan dalam metode pranikah dalam tarbiyah di Indonesia (gak tahu di luar Indonesia mah, lha wong ternyata Abu Syuqqah, sahabat Yusuf Qardhawi sendiri, malah menulis tentang ‘bercinta sebelum menikah’). Mo dilarang2 juga pasti ada aja yang kayak gitu, baik terang2an maupun sembunyi2. Ya… namanya juga perasaan suka sama lawan jenis, siapa sih yang bisa ngelarang datengnya perasaan kayak gitu.

Saya pernah mendengar sendiri pernyataan seorang akhwat yang dia kutip dari murabbinya seperti ini, “Yang tidak mengikuti peraturan jamaah ini (dengan berta’aruf maksudnya), tidak termasuk dalam jamaah ini! (tarbiyah maksudnya)” Wuiiihhh…… serem banget dengernya. Masa segitu mudahnya sih mengeluarkan seseorang dari jamaah.

Harapan saya pribadi sih, konsep pacaran islami ato tanazhur pra-nikah ini bisa menjadi suatu trigger dan referensi (paling tidak bahan komparasi) bagi ustadz2 kita untuk merumuskan metoda yang paling baik dan solutif dalam membina percintaan sebelum menikah. Sedih aja sih, ngeliat temen2 yang berguguran di jalan dakwah hanya karena ini.

Ya… mungkin segitu dulu bagi2 pengalamannya dari saya. Sebenernya sih ada banyak yang ingin saya ceritakan di sini berkaitan dengan pacaran islami berdasarkan apa yang terjadi di sekitar saya (saya dulu kuliah di Seni Rupa & Desain yang punya streotip seram, atheis, mabuk2an, bebas dan yang lebih parah, hanya sedikti aktivis dakwah yang mo mengambil ‘ladang amal’ ini), tapi ntar bosen lagi bacanya

Yah, kapan2 aja lah ya. Trus, maaf juga kalo saya nggak melampirkan dalil satupun karena saya bukan ahli fiqih, hafalannya masih sedikit dan juga bukan ‘abid. Semuanya hanya berdasarkan pengalaman dan pengamatan saja.

Wassalamu’alaikum……

Wa’alaykum salam, akhi/ukhti. Kami menunggu cerita-cerita lainnya. Ulasan di atas sudah menggambarkan mengapa mereka melakukan pacaran islami secara diam-diam. Kami tertarik untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana mereka melakukannya, baik ketika mereka menjadi aktivis dakwah maupun setelah “menghilang dari peredaran”.

20 responses

  1. assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

    bismillahirahmanirahiim
    ikutan kasih comment dan maaf jika tidak teratur

    kalo saya sih kita lihat dulu konteks dari makna pacaran dan ta’aruf itu sendiri…

    maksud dari ta’aruf yang di lakukan oleh jamaah ini kan baik ingin (membentuk sebuah usroh Islamiyah setelah kita berproses dalam tarbiyah sebagai pembentukan Syakhshiyah Islamiyah) memilihkan pasangan sesuai dengan pemahaman yang baik. dan di proses ta’aruf juga kan boleh menolak kalo tidak cocok, tapi ya jangan kebangetan sering nolak hanya pengen dapet yang jamal/jamil.

    trus kalo aktivis dakwah tadi berpacaran dan ingin cepat menikah, ya itu lebih bagus jadi lebih menghindarkan fitnah. tapi resikonya di tanggung sendiri.

    *”Kenapa nggak kita rame2 ngumpulin duit buat biaya pernikahannya trus kita ringankan segala kesulitannya menuju jenjang pernikahan”*

    aduuh jangan deh kalo tu saudara kita belum sanggup untuk berumah tangga, kita cuma sanggup bantu sampe jenjang pernikahan, nah selanjutnya gimana tuh , belum ngurusin kontrakan, perabotan R.T dll, apalagi belum bekerja. kecuali ide solutifnya juga memberi lapangan pekerjaan atau memang si aktivis tersebut dah bekerja.

    kalo pasalnya dah bekerja dan mampu, serta menikah hanya karena Allah insya Allah saya setuju dengan ide membantu untuk mencarikan dana pernikahanya jika kekurangan dana.
    jangan sampe kita malah memberikan beban baru lagi…

    ya kalo kita belum mampu dan takut tergelincir perbanyak shoum sunnahya

    *”“Yang tidak mengikuti peraturan jamaah ini (dengan berta’aruf maksudnya) tidak termasuk dalam jamaah ini! (tarbiyah maksudnya)””* kebetulan ini juga terjadi pada saya, tapi saya ga telan mentah2 perkataan itu dan minta di jelaskan maksudnya dalam konteks makna dan tujuan untuk dakwah. dan akhirnya saya berfikir untuk tetap mengikuti alur karena nilai kebaikan jauh lebih besar. karena bagi saya jika ta’aruf tidak ada tujuan untuk keberlangsungan dakwah maka saya tidak akan ambil proses ini (nanti.. soalnya saya juga belum menikah.. sekedar share pengalaman juga. dan do’akan juga tahun ini saya dapat memenuhi 1/2 dien itu)

    *mengenai membina percintaan sebelum menikah
    saya ga setuju

    ““Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32).”

    dan berhati hati juga dengan mata, karena mata adalah salah satu panah Iblis.Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.” karena membina hubungan cinta sebelum menikah artinya memberi peluang atau kesempatan untuk syetan masuk ikut campur dalam urusan ini.

    jadikan tarbiyah sebagai terminal untuk menjaga eksistensi kita dalam barisan dakwah, shaum sebagai perisai penahan maksiat, do’a menjadi kekuatan gerak kita, dan tnasuh di jadikan budaya mengingatkan ketika ada yang bersalah.
    dan takutlah hanya kepada Allah

    ini tanggapan saya

    Allahu’alam bi showab
    yang benar datangnya dari Allah, dan jika ada salah sebelum dan sesudahnya saya meminta maaf.

    salam kenal sebelumnya
    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

  2. boleh tu pak!!!tu yang ane tunggu.
    yang ane tau kebanyakan dari orang tarbiyah/liqo tu munafik.ane jadi bingung ngadepin mereka.
    mereka kadang kadang sok banget pak.
    cariin jg ya solusinya????????????

  3. dUh tRaLu kJaM tU kLo dblan9 mUnaFk!!!!!
    dRi aWl kaN man9 g’da y9 bs nOlak cInta.tp kRn kEadaAn jA y9 bWt mRk bGitU!!!!pa l9 kLo uDh dPt uLtiMatUm dR MR!!!!!!!!!hEheeeeeHe : )

  4. “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”

    Dari sini kan bisa diliat, g smua pandangan itu panah setan…so pilah2 sikon juga…g bisa disamaratain juga. Di satu waktu, Rasul memalingkan muka (duuh lupa…keponakannya atw sapa gitu) pas liat dia menatap seorang cw…tapi itu g Rasul lakuin tiap kali ada org yg liat lawan jenis…
    Artinya memang ada pandangan2 yg sebaiknya dihindarkan, tapi tidak semua…
    So ga bisa sama rata utk smua kasus

    just my 1 cent, :p

    wassalam

  5. Pikir-pikir dulu lah untuk pacaran kalau ngak ada niat untuk menikah. ya kalau sekedar ngikuti perasaan cinta aja untuk pacaran kayaknya ngak ada dasar. atau ini akwat atau ikwan yang kasmaran masih tahon 1 punya komit HTS atau TTM atau beckstret atau pacaran underground atau pacaran ngak boleh tahu orang lain (mudah-mudahan ngak ditempat yang gelap), setelah tamat kita nikah. itu ngak lucu namanya masak nunggu 4 tahun lagi. Tapi kayaknya lebih gentl sih kita komit akan menikah secepatnya tanpa nunggu syarat yang ngak di sariatkan islam. wow itu gue dukung itu. berarti proses kuliah, proses keuangan, ngak ada lagi. yang ada cuma proses perkenalan dengan keluarga satu sama lain, pinangan, langsung dech.
    Ya kalau belum sanggup tahan dulu dongk, anggap itu ujian dari yang diatas (emang berat gue juga ngerasain juga kok, bahkan mungkin lebih gawat lg) saya yakin dech para aktivis tarbiyah kecerdasan imannya ngak diraguin lagi.

    Cari referensi yang hidup misal orang yang sering pacaran,
    apakah beban hatinya menyukai ke sang pujaan itu sama dengan beban hati mu ke manusia yang kau sayangi? apakah dia berjodoh ?
    ngak ada yang bisa njawabkan?
    apa akibatnya, mereka yang dulunya akrab jadi renggang, terkadang permusuhan (mungkin beda dengan pacaran islami -masih belum terbayang)
    sebagian besar karena permasalahan ego

    waktu kuliah emang ngak ikut tarbiyah, majelish, forum kampus. (selain ngak minat , akwatnya manis-manis , ngak kuku sama perasaan yang mudah jatuh cinta and takut ditolak, kalo dapat, ntar di apain masih gelab) –
    baik njombo aja … and jauhin kemungkinan2.
    ada artikel bagus lo disini coba aja kayaknya cocok bagi yang mo pacaran….
    http://www.eramuslim.com/ustadz/nkh/8527103107-wali-nikah-tidak-setuju-bagaimana-.htm
    (sorry internet ku agak payah ya main kopi paste aja ntah bener atau salah ngak tau)
    secara garis besarnya gini
    lo yang ingin pacara :
    pergi ke orang tuanya lalu ngomong

    Pak/bu gue ada ati sam putri lo, gue tau diri kok lo sebagai putrinya punya tanggun jawab terhadap die, gue mohon doa restu lo untuk memberikan tanggun jawab terhadap putri lo ke gue. amin

    mudah-mudahan kalau ngerti ortunya kalau ngak ya gigit jari aja. mungkin itu ngak jodoh lo atau cari jalan yang lain tapi jangan sampai disebut maling atau melanggar KUHP 551 (masuk tanpa izin, benar ngak)
    atau untuk pacaran lo bisa gubah sairnya
    gue cuma ingin dekat sama putri lo mudah-mudahan aku jadi mantu lo tunggu sampai 4 sampai 5 tahon.
    gitu lah
    ISLAM MENJUNJUNG TINGGI AKHWAT,
    TIDAK MAU MELEPASKANNYA KE TANGAN YANG SALAH.
    para akhwat yang jatuh cinta renung in udah sanggup kah dikau?
    para ikwan yang jatuh cinta renung in udah siap kah dikau?
    JANGAN RAGU-RAGU ITU PEKERJAAN SETAN !?!?!?

    maaf cuma ngadalin logika aja soal dalil banyak yang lupa. maklum ilmu masih dangkal mohon koreksian.

    (pushing nyari jodoh, ngak laku-laku, duh akhwat jangan sombong donk gue sedang terserang penyakit hati nih)

    Tanggapan Admin:
    Curhatnya panjang banget, tapi komentar kami pendek saja.
    Kami menghargai ikhwan-akhwat yang begitu berhati-hati dalam menuju pintu nikah, sehingga menafikan pacaran walaupun islami. Namun kami pun (bahkan lebih) menghargai saudara-saudara kita lainnya yang mampu menjalankan pacaran secara islami.

  6. Kalau pacaran ala TTM atau HTS itu sebenarnya baik. namun bila dilakukan dengan kemestian berbohong kepada orang lain itu bisa tidak berkah, pacaran yang jujur dan terbuka kepada orang lain itu bisa lebih memudahkan adanya pengawasan -lebih islami jadinya- daripada pacaran yang penuh dengan kebohongan -siapa tahu giliran berikutnya pacaranya sendiri yang dibohongi-. Komunitas tarbiyah itu cenderung masih tertutup sehingga bila proses pacaran itu terjadi sepengamatan saya ada kecenderungan untuk bisa masuk ke bentuk pacaran yang penuh dengan kebohongan. Namun bentuk pacaran yang penuh dengan kebohongan itu kurang bisa diingatkan oleh teman-temannya yang ada di komunitas tarbiyah karena teman-temannya itu akan lebih memilih untuk menghakimi perbuatan mereka dibanding memberi peringatan. Lebih malang lagi seperti sepengalaman saya adalah adanya gengsi besar aktivis tarbiyah untuk menikah muda yang ini menjadikan proses pengenalan pasangan yang cenderung kurang memadai, karena di sini guru agama murobbi/ murobbiyah cenderung mengambil peranan yang terlalu besar dibanding orang yang mau menikah -Kalau mau jujur ini menyebabkan ,menjamurnya juga fenomena perceraian di kalangan aktivis tarbiyah-. Minta maaf uraian saya ini belum lengkap jadi tidak bisa dijadikan sebagai acuan informasi yang konsisten, semoga nanti saya bisa melengkapinya di kesempatan yang lain.

  7. saya pikir ini sebenarnya kasuistik dan mereka yang tidak bisa memahami serta menjalankan Tarbiyah dengan baik.
    Dalam jamaah Tarbiyah sendiri sudah jelas batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat, dan kalau ingin membina cinta yang SERIUS (saya tekankan keseriusan di sini) ada jalurnya, Ta’aruf (baik lewat murobbi, orang tua, dan maupun sahabat) dan Menikah.

    Mereka yang mengalami TTM, HTS atau menurut pak Admin adalah ‘pacaran Islami’ (mungkin nanti akan ada udang Islami, kerupuk Islami, judi Islami, ataupun mabuk Islami.. )
    Mereka ini sebenarnya belum bisa memahami bahwa cinta itu adalah anugerah dan amanah Allah swt yang suci dan disalurkan dengan cara dan jalan suci pula.

    aktivis dakwah yang mengalami TTM, HTS, menurut saya pribadi adalah mereka yang kurang memahami arti cinta yang sebenarnya.
    Kurang berani untuk menikah dan menyalurkan di jalur yang “resmi”, lebih memilih untuk bermain cinta secara sembunyi.

    Ini boleh jadi tanda ketidakmatangan dalam berpikir sehingga mengambil jalan pintas untuk menyalurkan rasa itu, dan tidak pula bisa menahannya sampai di saat penggenapan agama itu, karena menikah adalah menggenapi setengah agama kita.

    Wallahua’lam

  8. Pacaran Islami? … aya-aya wae … laa taqrabuz zina … (jangan dekati zina) … bukan laa tazni (jangan berzina) .. al washilah ilal haram fa hiya haram … (wasilah menuju ke haram ya haram juga …)

    uda deh … sekalian aja besok-besok … bikin mabok islami … goyang ngebor islami …

    pak Shodiq …, mau tanya neeh .. ente bener-bener ingin membuat wacana … atau emang ‘kemuhammadiyahan’ ente tersulut untuk menyindir orang PKS (tarbiyah)? … karena -maaf- banyak orang PAN pada lompat ke PKS … bahkan dikampung saya nih belum lama … orang PAN bedol partai ke PKS .. atao kerena Imam Amin Rais tidak jadi presiden … udah lah pak shodiq ..

    gak bisa disembunyikan lah … bahwa dua tahun belakangan orang Muhamadiyah (sebagian petinggi dan bawahannya) sedang meradang dengan PKS …

    Intinya jangan pake menghalalkan segala cara untuk menyalurkan kebencian kita terhadap sesama aset umat …

    Tanggapan M Shodiq Mustika:

    1) Mengapa Anda bersangka-buruk tanpa bukti sama sekali? Kajilah http://muslimmoderat.wordpress.com/2008/05/28/ciri-ciri-islam-ekstrim-2-buruk-sangka-dan-menuduh/

    2) Mengenai “al washilah ilal haram fa hiya haram”, kami sudah membahasnya di artikel Haramkah “jalan menuju zina” dan Berilah kemudahan bercinta daripada mencegah zina secara berlebihan.

    3) Apakah aktivis Tarbiyah itu tidak boleh didakwahi? Menurut saya, dakwah itu berlaku bagi siapa pun, termasuk saya, Anda, warga PAN, warga PKS… pokoknya semua orang yang tidak maksum (yang tidak terjaga dari kesalahan).

  9. Hal seperti inilah yang melempar saya dari jalur tarbiyah, karena saya menangkap pengalaman dan kesan bersama komunitas tarbiyah ada kecenderungan untuk menjadi orang yang bebas dari kesalahan dengan sekedar sudah mengikuti aktivitas pengajiannya. Ini saya pikir adalah suatu koreksi yang harus dibuat komunitas tarbiyah kalau memang mau eksis secara manusiawi. Saya bahkan berani berkata bahwa kalau ada penelitian di kalangan komunitas tarbiyah sendiri maka akan didapatkan fakta bahwa terdapat kecenderungan untuk mematikan sifat kemanusiaan yang terdapat dalam orang-orang yang masuk ke dalam komunitasnya secara sistemik dalam berbagai bidang, sehingga bila dikaji lebih-lanjut ini akan dapat dilihat sebagai faktor yang mendorong sejumlah penyimpangan yang dilakukan oleh aktivis tarbiyah -seperti homo, lesbi- meski jumlahnya tidak begitu besar tapi seperti kanker bila tidak ada penindakan yang sesuai dan serius penyakit tersebut akan memakan tubuh dengan segera.

  10. Pak Ian,
    mohon maaf sebelumnya, adapun komunitas Tarbiyah bukanlah komunitas untuk menjadikan seseorang itu bebas dari salah.
    Tarbiyah adalah sebuah pembinaan diri agar bisa menjalani hidup berdasarkan tuntunan Rasulullah Muhammad saw.
    Adapun, tarbiyah, dalam menyikapi hubungan cinta manusia, bukanlah menghalanginya, tetapi untuk memberikan jalan yang terbaik bagi cinta tersebut.
    Cinta adalah anugerah suci dari Allah swt, dan selayaknya disalurkan dengan cara dan jalan yang suci pula, sesuai dengan tuntunan Allah swt.
    Menikah adalah solusi yang ditawrkan Tarbiyah dalam hal ini. Dengan menikah, hubungan cinta insan akan menjadi halal, dan dengannya tergenapilah separoh agama.

    Rasulullah Muhammad saw bersabda, ”jika seorang hamba menikah sesungguhnya ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karena itu bertakwalah pada Allah untuk menyempurnakan sebagian yang lain” (HR. Al-Baihaqi).

    Wallhua’lam

  11. @saifullah

    Saya pribadi sebenarny setuju2 saja dgn tarbiyah
    Mungkin maksud bro ian, terjadi pengkotakkan pikiran ataw fanatisme
    Karena g jarang saya temui juga bahwa mereka para aktivis biasany suka menolak pendapat yg berbeda dgn pemahaman dia dan kelompoknya
    Yang lebih parahnya, menolak di sini dalam artian juga sulit mentolerir perbedaan yg dia hadapi
    Ga di masalah pacaran aja, tp di berbagai masalah…
    Mereka cenderung melihat perbedaan, apalagi yg bertentangan, itu seperti seolah2 “musuh” yg harus dimusnahkan

    Contohnya,
    Anda masih mencantumkan hadits ttg menikah
    sebagai penyempurnaan separuh agama
    Yup, itu benar sekali
    Tapi jangan lupa, pacaran pun tujuan akhirnya adalah menikah…jadi ga hanya taaruf saja yg mempunyai tujuan akhir menikah
    hanya saja jangka waktunya berbeda dgn taaruf yg cenderung lebih singkat..sedangkan pacaran tgt pelakunya…ada yg sebulan, 3 bulan, 6 bulan…bahkan sampe bertaun2…

    Wassalam

  12. Saya sendiri mengaji di tarbiyah, tetapi saya juga mencintai saudara-saudara saya yang berbeda manhaj, ada perbedaan, maka bisa kita toleransi. karena masih mempunyai kesamaan tujuan, yakni menegakkan aturan Allah swt dan Rasul-NYA. Kalau berbeda pendapat, maka kembalikanlah kepada Allah swt dan rasul-NYA saw, kepada AlQuran dan As-Sunnah.

    . Adapun terhadapt sahabat-sahabat yang berpikiran liberal, ingin merusakkan Islam dari dalam, maka inilah yang harus terus kita diskusikan lagi, apakah sudah sesuai yang mereka kemukakan, ataukah malah ingin membelokkan manusia dari jalan yang diridhai Allah swt.

    wallahua’lam bishshawwab

    Tanggapan Admin:

    Syukurlah akh saifullah menghargai perbedaan pendapat. Adapun mengenai persolan “toleransi” dalam kaitannya dengan pemahaman “liberal”, marilah kita lakukan klarifikasi satu demi satu supaya para pembaca tidak salah-paham.

    1) Apakah antum tidak bertoleransi terhadap keislaman seseorang atau lembaga yang (dalam anggapan antum) mengandung sifat liberal? Apakah orang atau lembaga Islam yang mengandung sifat liberal itu pasti ingin merusak Islam dari dalam?

    2) Disamping bersifat salafi di bidang aqidah dan ibadah mahdhah, Muhammadiyah bersifat liberal di bidang muamalah. Apakah antum tidak bertoleransi terhadap Muhammadiyah di bidang muamalah? Apakah di bidang muamalah, Muhammadiyah merusak Islam dari dalam?

    3) Melalui penulisan kitab Kebebasan Wanita, Abdul Halim Abu Syuqqah (ulama Ikhwanul Muslimin) bersifat liberal dalam persoalan hubungan pria-wanita. Apakah antum tidak bertoleransi terhadap Abu Syuqqah dalam persoalan hubungan pria-wanita? Apakah di bidang hubungan pria-wanita, Abu Syuqqah merusak Islam dari dalam?

    4) Ketika menerbitkan buku Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita (mulai 1997), dakwah Gema Insani Press bersifat liberal. Apakah antum tidak bertoleransi terhadap GIP dalam hal penerbitan buku tersebut? Apakah dengan menerbitkan buku tersebut, GIP merusak Islam dari dalam?

  13. saya mempunyai pendirian tersendiri tentang kaum liberal, dan kalau didiskusikan di sini tentulah akan menyimpang dari apa yang kita bahas.
    mari kita bahas di forum myQuran saja, kebetulan saya adalah moderator di sana, dan saya akan memnadu diskusi dengan sebainya agar tidak ada caci-maki, tetapi hanya semangat mencari kebenaran islam.

    wallahua’lam

  14. @ saifullah

    Kami tidak mengajak Anda untuk membicarakan kaum liberal. Yang kami tanyakan ialah mengenai orang/lembaga Islam yang mengandung sifat liberal, seperti Muhammadiyah (di bidang muamalah), Abu Syuqqah (di bidang hubungan pria-wanita), GIP (dalam hal penerbitan buku Kebebasan Wanita). Ataukah Anda menganggap itu semua merupakan kaum liberal?

    Pertanyaan itu kami ajukan karena kami ingin kita sungguh-sungguh mencari kebenaran islam, bukan menghakimi dengan label “liberal” atau label lain yang berkonotasi tertentu.

    Pertanyaan itu juga sangat mendasar bila kita menghendaki diskusi kita berlangsung efektif. Seandainya Anda menganggap bahwa kandungan liberal dalam muamalah dan hubungan pria-wanita itu sesat, maka akan lebih efektif bila Anda berdiskusi langsung dengan Abu Syuqqah atau Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang tidak secara mutlak mengharamkan liberalisme, tetapi membolehkan liberalisme di bidang muamalah dalam batas tertentu. (Mereka itu jauh lebih lihai menerangkan daripada saya.)

    Pertanyaan kami itu sebetulnya sederhana saja, hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”. Dari situ sebetulnya Anda bisa meyakinkan kami bahwa Anda benar-benar menghargai perbedaan pendapat dengan sesama muslim. Namun kalau Anda tak mau menjawabnya, kami pun takkan memaksa.

    Mungkin sekarang, sebaiknya kita beristirahat dulu. Mari kita dinginkan suasana, demi ukhuwah kita.

    billaahit tawfiq wal hidaayah
    wassalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

  15. aktivis tarbiyah kan manusia biasa

    klo gaulnya ma yg sejenis aza..
    amit-amit jabang bayi…..

  16. @pak Admin

    Sebelum saya menjawab tentang masalah itu, tentu sangat perlu saya mengecek kebenaran apakah Muhammadiyyah itu bersikap Liberal di bidang muamalah, Apakah benar Abu Syuqqah bersikap Liberal dalam hubungan pria-wanita, dan masalah penerbitan GIP.
    Saya juga perlu melihat dan mengkaji dulu dalil-dalil yang mereka gunakan, sehingga bisa melihat sesuatu itu dengan lebih objektif.

    wallahua’lam bishshawwab

    Tanggapan Admin:

    Link-nya sebetulnya sudah disertakan. Tapi kalau belum mengerti, baiklah kami perjelas:
    http://muslimmoderat.wordpress.com/tentang/
    Di situ disebutkan rujukan terhadap buku Pemikiran Muhammadiyah: Respons terhadap Liberalisasi Islam. Di “Kata Pengantar”-nya ada penjelasan dari Dien Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah) mengenai bagaimana Muhammadiyah menyikapi liberalisme.

    Kandungan sifat liberal (dalam batas tertentu) pada Abu Syuqqah sudah tercermin dalam judul bukunya, yaitu: Kebebasan Wanita. Ini dipertegas lagi dengan pernyataannya yang “menetapkan bolehnya bercinta sebelum khitbah“. Link-nya sudah berkali-kali kami ungkapkan di blog ini, yaitu http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/24/benarkah-ulama-ikhwanul-muslimin-mengharamkan-pacaran-2/

    NB: Kami tidak menyebutkan bahwa Muhammadiyah dan Abu Syuqqah bersikap liberal sepenuhnya. Itu sebabnya kami tambahkan keterangan “dalam batas tertentu”. Yang kami ungkapkan di sini adalah adanya kandungan sifat liberal.

  17. @saifullah

    Sebenerny setiap saya berdiskusi n saya kebetulan berbeda pendapat, saya sama sekali g keberatan dibilang liberal
    Cuma aja, kalo udh ad kata2 “penghancur islam dari dalam”…ini yg saya sesalkan

    Bukan apa2…kalo saya memang mempunyai niat seperti itu, artiny org yg berkata tersebut selamat…
    Tapi bagaimana kalo seandainy saya sama sekali tidak mempunyai niat itu sama sekali…apakah orang tersebut tidak takut sama sekali dgn apa yg disebut dgn fitnah?
    Kenapa tidak sedikit berbaik sangka dgn menganggap saya ini kurang ilmu, ataw salah tafsir…karena itulah gunanya diskusi…memperjelas…

    Sama seperti sebagian org yg menyebut aktivis dakwah dgn sebutan extrimis/fanatis, tentuny julukan itu kurang baik bukan?

    Mari kita sama2 belajar untuk menyikapi perbedaab dgn baik

    Wassalam

  18. Waaah shadiq bo’ong nih … ente baca terjemahaanya sih ya … coba buka buku Abu Syuqqah yang asli … bolehnya bercinta sebelum khitbah??? …

    Kalau sekedar mencintai emang boleh-boleh saja… kagak ada salahnya seseorang encintai lawan jenisnya …. tapi mencintai kan tidak harus pacaran .. uhuii!!

Komentar ditutup.