Kalau aktivis dakwah lakukan taaruf yang tidak islami

Tanya:

Assalamu ‘alaikum, Pak Shodiq.

Pak, saya mau berkonsultasi. Saya mengenal Bapak melalui buku Bapak yang terakhir, Raihlah Surgamu: Renungan tentang Cinta dan Kehidupan. Saya percaya Bapak dapat memberikan solusi terhadap masalah yang saya hadapi.

Saya adalah seorang sarjana yang bekerja di salah satu perguruan tinggi yang ternama di Sumatera. Saya berasal dari keluarga yang pengetahuan agamanya pas-pasan. Mereka kini tinggal di berbagai tempat di Sumatera dan juga di luar Sumatera.

Famili dan teman-teman menganggap saya orang yang istiqomah (lurus). Maklum, di lingkungan saya, muslimah yang baik dilihat dari seberapa besar kerudungnya. Yah… menurut mereka, saya orang yang baik, mungkin secara simbolis.

Pak, saya seorang gadis yang belum berkeluarga. Usia saya hampir 30 tahun. Saya tidak pacaran. Beberapa kali taaruf (berkenalan) dengan laki-laki, tapi gagal. Prosesnya pun tidak lama. Yah…belum jodoh.

Selama ini, saya tetap menjaga muruah (harga diri) saya sebagai muslimah yang istiqomah. Namun, dua bulan yang lalu saya lakukan taaruf dengan seseorang. Saya mengenalnya hanya lewat suara dan juga foto. Dari gaya bicara dan argumentasinya yang begitu meyakinkan, saya berkesimpulan dia orang yang baik.

Suatu ketika, kami ketemu. Inilah awal dari permasalahan saya.

Ketika bertemu itu, dia begitu agresif. Tapi anehnya, saya tidak berusaha menghindar. Akibatnya, terjadilah hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang Islam yang istiqomah dan aktivis dakwah.

Itulah kesalahan saya, yang membuat saya tertekan lahir dan batin. Lantaran dosa tersebut, saya menjadi ‘orang yang lain’. Saya seperti tidak mengenali diri saya sendiri.

Pada akhirnya, taaruf kami gagal. Sekarang, saya sudah menjadi kepingan. Saya tidak tahu harus saya bawa ke mana muka ini. Saya malu dengan busana muslimah yang saya kenakan. Saya sangat malu karena saya sering berkoar-koar tentang akhlaqul karimah (perilaku mulia) ketika berdakwah, ternyata saya sendiri melanggarnya. Besar sekali dosa saya.

Pak, apakah saya masih pantas untuk mengharapkan surga? Padahal, saya tahu perbuatan itu adalah dosa. Meskipun tidak sampai tuntas, itu tetap saja dosa, ‘kan?

Saya merasa bersalah kepada Ayah dan juga saudara-saudara kandung saya yang selalu membanggakan saya sebagai orang yang lurus. Saya jadi tertekan lahir dan batin. Apa yang harus saya lakukan agar saya tenang, agar saya dapat menghapus dosa saya, agar saya tidak merasa malu untuk mengharap surga-Nya? Saya benar-benar memerlukan seorang ibu (ibu kandung saya sudah meninggal dunia ketika saya remaja), yang mau merengkuh saya dan mendengarkan keluh-kesah saya, si pendosa.

Pak, saya ingin menata kembali kepingan itu; hati dan juga iman yang telah terburai berantakan. Saya sekarang ini seperti bangkai yang menebarkan bau busuk. Saya menyesal.

Maafkan saya, Pak. Saya sebenarnya juga malu menceritakan hal ini sama Bapak. Atau bahkan mungkin Bapak akan mentertawakan saya karena permasalahan klasik, yang sering terjadi. Tapi saya perlu sandaran. Saya berharap ada ummahat (ibu-ibu) yang sudi berteman dengan saya, menjadi Ibu angkat saya.

Terima kasih atas bantuannya.

Wassalam,
Si Pendosa
dalam kegelapan hati

Jawab:

Wa’alaykum salam, adikku.

Membaca curhatmu via e-mail itu, aku merasa terharu. Persoalan yang kau kemukakan di situ mengingatkanku pada sejumlah aktivis dakwah yang mengalami kasus yang mirip denganmu. Kamu nggak sendirian, Dik.

Adikku yang kusayangi karena Allah… Benar bahwa saat kau berbuat dosa itu, kau menjadi ‘orang yang lain’. Akan tetapi, ketika kau merasa malu, menyesalinya, dan kemudian berupaya menata kembali imanmu, ketika itulah kau kembali menjadi dirimu sendiri.

Dalam keadaan kembali menjadi dirimu sendiri, sesuai dengan fitrahmu yang suci, kau pantas mengharapkan surga. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa pun yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat [yaitu sebelum kiamat], niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Di samping taubat, Islam menyediakan berbagai sarana lain yang dapat menghapus dosa. (Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 3 (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 218-220.) Diantaranya:

  • wudhu,
  • shalat,
  • puasa,
  • sedekah,
  • amar makruf nahi munkar,
  • menyingkirkan duri dari jalan.

Dan sebagainya.

Adikku yang kusayangi karena Allah… Supaya kau merasa lebih tenang, janganlah membuka aib tersebut (kecuali kepada orang tertentu dalam rangka mencari solusi seperti yang kau lakukan dengan curhatmu itu)! Dasar kita adalah fatwa Umar bin Khatthab r.a., sebagaimana yang disebutkan oleh ath-Thabari ketika menafsirkan surah al-Mâ‘idah ayat 5:

Seorang laki-laki datang kepada Umar, lalu berkata, “Seorang putri saya di zaman jahiliyah dikubur hidup-hidup. Lalu aku mengeluarkannya sebelum dia meninggal dunia. Dia masih mendapatkan masa Islam. Ketika dia masuk Islam, dia terkena salah satu hukuman had [karena berzina], lalu dia mencoba bunuh diri dengan melukai nadinya. Kemudian aku menjumpainya, sementara dia sudah memotong sebagian nadi lehernya, lalu aku mengobatinya sampai sembuh. Kemudian dia pun bertaubat dengan baik. Setelah itu, dia minta dicarikan jodoh. Wahai Amirul Mukminin! Apakah aku harus memberitahu calonnya tentang keadaan putriku pada masa lalu?”

Umar menjawab, “Apakah kamu ingin menyingkapkan apa yang ditutupi Allah? Demi Allah, jika kamu memberitahukan tentang keadaannya kepada seseorang, kami akan menjadikan kamu contoh hukuman [lantaran membuka aib] bagi penduduk negeri. [Lebih baik] nikahkanlah dia dengan pernikahan yang suci!”

Iklan

9 responses

  1. ya ukhti.. bersabarlah.. pertolongan Allah senantiasa dekat.. mendekat padaNya.. Pak, sampaikan salam saya pada beliau.. yakinlah, Allah Maha Pengampun..

    salamhangat,
    -belajarTobat-

  2. SEMUA ORANG PASTI PERNAH MELAKUKAN SALAH,TAPI AKU YAKIN KAKAK ADALAH ORANG YANG MAMPU MERUBAH KESALAH ITU MENJADI SEBUAH PENGALAMAN YANG DAPAT MEMOTIVASI KAKAK UNTUK MENJADI ORANG YANG LEBIH BAIK DI MASA DEPAN.
    DAN TERUSLAH BERSEMANGAT KAKAK Q.CAYO……

  3. Kadang disaat kita sadar akan dosa betapa tobat saja tidaklah berarti, tapi yakinlah Allah Maha Pengampun. Iklas dan sabar serta merubah hakekat ke Islaman kita menjadi lebih baik itu akan menjadi sesuatu yang paling baik dimata Allah.

  4. sebuah pengingat yang telah sering kita dengar…sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat dengan nasuhah…saya bersedia menjadi sahabat anda..

  5. BIsmillahirrahmanirrahim
    Ukhti fillah….sangat keliru menganggap diri kita bangkai tatkala kita baru saja terpeleset melakukan kesalahan. Sadar atau tidak pada saat ukhti melakukannya ukhti dalam kekuasaan syetan dan hawa nafsu. Tapi perlu diingat bahwa besok duniai ni belum kiamat. Masih panjang jalan untuk bertobat. Pesan saya, jangan gampang percaya hanya dengan tampilan luar seorang laki2. Bisa jadi itu adalah bisa yg ditebarkan untuk meraih apa yg diinginkannya. Kembali bertobat, benahi diri dan hati, jodoh itu sudah ditentukan Allah, dan berusahalah sesuai dengan tuntunan syariat. Dosa tetap perlu disesali tetapi tidak untuk jadi halangan untuk berbenah diri. Kita ini bukan nabi yang ma’sum. Ukhti tetaplah manusia yg tetap ada peluang berbuat dosa dan salah.
    Istigfar dan kembali ke jalannya. Jangan pernah sesali diri karena ukhti telah berjilbab besar. Yg perlu adalah bagaimana berbenah untuk semakin menjadi insan kamil, wanita solehah yg di sediakan surga baginya.
    Wassalam

    Tanggapan Admin:

    Mengenai hubungan antara jodoh dan takdir, silahkan baca http://pacaranislami.wordpress.com/2008/03/01/konsep-mencari-jodoh-secara-islami/

  6. saudariku tercinta,sungguh membaca suratmu menyadarkanku jg btp kt memang amatlah sangat lemah tanpa pertolongan Allah dlm menjalankan taat dan menjauhi maksiat..
    saudariku,kt sama pernah tergelincir dlm khilaf namun Allah msh menutup-nutupinya.
    ada dosa2 yg menarik kebaikan yaitu dosa2 yg menjdkn kt rendah hati di hadapan Allah dan insan2 lain serta mnjdkn kt menghrp rahmat dan ampunannya slalu.. wallahu a’lam..

  7. saudariku bersabarlah,allah maha penerima taubat dan bersukurlah karena banyak orang yg bersalah tp tidak menyadari kesalahannya. tetapi engkau sadar dan menyesali kesalahmu,serahkanlah semuanya hanya kepada allah

  8. kakaku… sesungguhnya kita semua dalah mausia yang mebutuhkan pertolongan-NYA, karena kita sebagai manusia biasa tak pernah luput dari dosa… semangat terus, jangan menyerah memohon pertolongan-NYA untuk menggapai Surga-NYA..

Komentar ditutup.