Fungsi Istri

Hampir dua tahun yang lalu, ketika merasa sudah lepas dari jerat kemiskinan dan kelaparan, istriku berkata kepadaku, “Aku ingin punya anak lagi.”

Mengapa?” tanyaku.

“Aku ingat betapa menyenangkannya melahirkan dan mengasuh bayi,” jawabnya.

“Mungkin kau merindukan saat-saat ketika Syifa dan Adam masih bayi. Ketika itu, kau belum kewalahan mengasuh mereka,” ujarku.

“Ya, memang. Semasa bayi, mereka lucu-lucu dan menggemaskan, tak pernah bikin pusing kepala,” tambahnya.

“Kalau begitu,” kusarankan, “setiap kali kau merasa pusing menghadapi Syifa dan Adam, ngomong saja padaku. Bukahkah aku memilih bekerja di rumah, antara lain supaya dapat turut mengasuh anak-anak?… Menurutku, sekarang kita belum perlu punya anak lagi. Bila kau merasakan kelebihan energi pada dirimu yang belum tersalur, manfaatkanlah untuk mengembangkan diri. Dunia wanita tidak terbatas pada mengasuh anak-anak, bukan?”

Istriku diam saja tak berkata-kata lagi. Namun rupanya, saranku itu dia terima. Setelah beberapa tahun mengajar di SD setiap Selasa dan Sabtu, sejak itu dia aktif di PKK. Ia mengajar di playgroup setiap Senin dan Rabu. Ia pun mengajar manula untuk pemberantasan buta huruf setiap Jumat dan Sabtu sore. Hasilnya, dia tampak lebih percaya diri dan menjalani kehidupan dengan lebih bergairah. (Alhamdulillah.)

Begitulah yang terlintas dalam benakku ketika kubaca buku M Scott Peck, Tiada Mawar Tanpa Duri (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 116-117:

Kesulitan manusia melihat dan menghargai sepenuhnya keterpisahan diri mereka dengan orang-orang yang dekat dengan mereka, bukan hanya mengganggu kehidupan mereka sebagai orangtua [lihat “Anak kita mirip siapa?“], tetapi juga mengganggu semua hubungan intim mereka, termasuk kehidupan perkawinan mereka.

Belum lama berselang, dalam suatu kelompok pasangan suami-istri, saya mendengar salah satu anggotanya mengatakan bahwa “tujuan dan fungsi” istrinya ialah menjaga kerapian rumah mereka dan menyediakan makanan yang baik baginya. Saya sangat kaget mendengar dan melihat sikap cauvinisme kelaki-lakiannya yang begitu terbuka….

Saya lebih kaget lagi karena enam orang lainnya, pria dan wanita, memberikan jawaban yang serupa. Mereka semua menyatakan dan merumuskan bahwa fungsi suami atau istri mereka selalu berkaitan dengan diri mereka sendiri. Tidak ada di antara mereka yang dapat melihat bahwa suami atau istri mereka mempunyai esksistensi [tersendiri] yang pada hakikatnya terpisah dari eksistensi mereka….

“Masya Allah!” teriak saya. “Tidak heran kalau Anda semua mempunyai kesulitan dalam hidup perkawinan Anda, dan Anda akan terus mempunyai kesulitan sampai Anda masing-masing menyadari bahwa Anda mempunyai nasib sendiri-sendiri yang berbeda.”

Mereka semua merasa bersalah dan bingung sekali dengan pernyataan saya [tersebut]. Dengan agak menantang, mereka meminta saya mengatakan tujuan dan fungsi istri saya.

“Tujuan dan fungsi Lily [istri saya]”, kata saya, “ialah berkembang sejauh dia mampu, bukan demi saya, tapi demi dirinya sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan.”