Berdosakah ekspresi cinta asmara di luar nikah?

Benarkah rasa cinta (dan ekspresi cinta) di luar nikah itu dosa? Benarkah pendapat bahwa “jatuh cinta adalah aib bagi orang yang paham agama”? Benarkah pendapat bahwa “jatuh cinta adalah kelemahan yang tak pernah mendera orang yang beriman”?

Demikian pertanyaan saya kemarin di situs Pacaran Islami. Sekarang, berikut ini jawabannya.

“Pendapat demikian jelas keliru,” jawab Ibnu Hazm. Sebab, “sesungguhnya sebagai muslim beriman, ia cuma dititahkan untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala, kala godaan datang menghampirinya.” (Di Bawah Naungan Cinta, hlm. 83)

Atas dasar itu, Ibnu Hazam menyatakan: “Cinta tak dimusuhi agama dan tak dilarang syariat-Nya.” (hlm. 21) Ia pun menegaskan: “Mencintai keindahan dan membiarkan cinta bersemi bukanlah hal yang hina, apalagi dosa.” (hlm. 83)

Lebih lanjut, Ibnu Hazm bersyair:

Kapan[kah] Muhammad mengharamkan cinta,
Dan apakah ia menghina umatnya yang jatuh cinta.
Janganlah kau berlagak mulia,
Dengan menyebut cinta sebagai dosa.
(hlm. 83)

Syair tersebut mengingatkan saya pada sebuah hadits hasan dari Ibnu Abbas r.a. yang diriwayatkan oleh Thabrani (dalam Majma’ az-Zawâid 6: 209) berikut ini.

Nabi saw. mengirim satu pasukan [shahabat], lalu mereka memperoleh rampasan perang yang di antaranya terdapat seorang tawanan laki-laki.

[Sewaktu interogasi], ia berkata, “Aku bukanlah bagian dari golongan mereka [yang memusuhi Nabi]. Aku hanya jatuh cinta kepada seorang perempuan, lalu aku mengikutinya. Maka biarlah aku memandang dia [dan bertemu dengannya], kemudian lakukanlah kepadaku apa yang kalian inginkan.”

Lalu ia dipertemukan dengan seorang wanita [Hubaisy] yang tinggi berkulit coklat. Lantas [si lelaki yang jatuh cinta itu] bersyair kepadanya:

Wahai dara Hubaisy!
Terimalah daku selagi hayat dikandung badanmu!
Sudilah dikau kuikuti dan kutemui di suatu rumah mungil atau di lembah sempit antara dua gunung!
Tidak benarkah orang yang dilanda asmara berjalan-jalan di kala senja, malam buta, dan siang bolong?

Perempuan itu menjawab, “Baiklah, kutebus dirimu.”

Namun, mereka [para shahabat itu] membawa pria itu dan menebas lehernya. Lalu datanglah wanita itu, lantas ia jatuh di atasnya, dan menarik nafas sekali atau dua kali, kemudian meninggal dunia.

Setelah mereka bertemu Rasulullah saw., mereka informasikan hal itu [dengan antusias] kepada beliau, tetapi Rasulullah saw. berkata [dengan sindiran tajam]: “Tidak adakah di antara kalian orang yang penyayang?

Hadits tersebut menunjukkan adanya fenomena percintaan di luar nikah pada zaman Rasulullah saw.. Apakah beliau mengharamkannya? Apakah beliau menghina sepasang lelaki-perempuan yang saling jatuh cinta dan saling mengekspresikan cintanya?

Tidak dan tidak! Bahkan, “beliau menampakkan belas kasihnya kepada kedua orang yang sedang dilanda cinta itu”. (Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 5 (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 75)

10 responses

  1. Ping-balik: Kalau cinta, katakan cinta! « Muslim Romantis

  2. kalau menurut ku cinta itu tidak harus diexpesikan dengan sesuatu hak yang berlebihan dgn kata lain ga harus pegang – pegangan karna bertatapan mata aja dosa apa lagi pegang2ngan.
    sebaiknya cinta itu diungkapkan dgn perbuatan/pengorbanan kita padanya.

  3. asslm
    lantas bagaiman dengan pacaran?
    apakah ada pacaran islami sebelom nikah??
    maksud saya disini pacaran yang hanya sms”
    saja
    seandainya itu dilarang
    apa yang harus saya lakukan sebagai seorang remaja
    yang hidup dikalangan remaja lain yang juga pacaran
    trimakasih
    Asslm

  4. gaya pacaran zaman sekarang sebenarnya udah jauh banget dari kategori islami,banyak banget hal-hal yang ga bisa ga,pasti iya deket banget ma zina…jadi…
    jaga jarak aja ma lawan jenis,,coz,pacaran itu gak jauh beda ama intimidasi kaum hawa low…pasti kaum hawa yang banyak dirugikan dari segala macam segi…

  5. cinta asmara itu adalah karunia tuhan kepada hambanya yang punya hati dan rasa,cinta tidak dapat diukur dari mana asalnya tetapi yang jelas adalah bahwa seiring dengan kemajuan tehnologi maka cinta telah bertengger pada anak remaja sampai orang dewasa dan orang yang telah berstatus berkeluarga, cinta pun datang kepada hati mereka seiring dengan kehalusan rasa dan ketajaman imajina cinta mereka … salahkah mereka ? cinta tidak salah karna kehadiran cinta manusia seiring dengan berfungsinya kalbu cinta yang merasa dan menikmatinya jadi expressikan cinta kamu dengan seindah mungkin dan sesopan mungkin agar dia tumbuh bersama dengan kehadiran dan pemberian tuhan, namun selalu dengan tatanan yang baik dan keteraturan tanpa merusak hati sesama ummat manusia-amin-nasruudin

    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Ya, saya sepakat. Terima kasih atas tambahan penjelasannya.

  6. @ Nike
    Jadilah dirimu sendiri! Tak usah ikut-ikutan orang lain di sekitarmu. Pacaran yang islami adalah yang dimaksudkan untuk persiapan nikah. Kalau hanya untuk bersenang-senang, tidak usah pacaran, ya! Untuk keterangan lebih rinci, silakan kunjungi blog Tanazhur PraNikah.

  7. mas Mustika beli buku saya ya
    masak ngomongin cinta melulu
    sekali kali ngomongin muslimah yang rindu surga
    kayak buku saya itu
    Muslimah Mewangilah Sampai ke Surga

Komentar ditutup.