Begitukah definisi pacaran yang benar?

Apa definisi pacaran yang “benar” (yang bisa berlaku bagi kita bila kita berbicara tentang pacaran)? Seorang penentang islamisasi pacaran (selanjutnya disebut SPIP) menolak definisi pacaran menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), yaitu “bercintaan dengan kekasih-tetap”. Di forum MyQuran, 2 Desember 2007, SPIP menulis:

Sebagaimana definisi “gerhana matahari” … kita merujuk kepada ahli fisika atau ahli astronomi, pada makna “pacaran” kita merujuk kepada ahli sosiologi atau ahli psikologi, yang memang berkompeten menjawab dan memaparkan fenomena hubungan antara laki2 dan wanita pra nikah semacam “pacaran”.

Diantaranya “..Pacaran adalah hubungan antara cowok dan cewek yang diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar”. Demikian definisi yang dikemukakan Reiss dalam buku Marriage and Family Development karangan Duval and Miller, keluaran tahun 1985. So, pacaran berarti kita sudah melangkah lebih jauh dalam hal usaha mengenal lawan jenis. Di sini kita sudah bikin komitmen sama si pacar. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/26/muda/584131.htm).

Jadi 2 orang lain jenis yang disebut “berpacaran” itu adalah ketika hubungan diantara mereka ditandai dengan “keintiman”, “perasaan cinta”, dan yang terpenting “saling mengakui pasangan sebagai pacar”.

Terhadap definisi tersebut, kita perlu menyampaikan beberapa catatan sebagai berikut:

1) Gerhana matahari merupakan fenomena alam; pacaran merupakan fenomena sosial. Kedua fenomena ini memiliki sifat yang sangat berbeda, sehingga tidak bisa dianalogikan.

2) Berbeda dengan ilmu eksakta, setiap pakar ilmu non-eksakta (psikologi, sosiologi, dsb) memiliki definisi sendiri-sendiri mengenai istilah kunci yang dikemukakan di karya tulis masing-masing. Definisi sang pakar itu berlaku pada karya tulis yang menyebutkan definisi tersebut, tetapi TIDAK berlaku untuk karya tulis lain, apalagi yang ditulis oleh pakar lain.

3) Fenomena pacaran yang hendak kita islamisasikan ini berfokus pada Indonesia. Mengapa SPIP ikut-ikutan artikel kompas, merujuk ke buku karya orang Barat? Mengapa tidak merujuk ke definisi baku (standar) yang disusun oleh para pakar dari Indonesia? Apakah SPIP belum tahu bahwa penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) itu tidak hanya melibatkan ahli bahasa, tetapi juga melibatkan para pakar di bidangnya (termasuk sosiologi dan psikologi)?

4) Tingkat “keintiman” pada pacaran antara budaya Barat dan Timur (termasuk Indonesia) berbeda. Batas keakraban hubungan pacaran pada budaya Timur lebih ketat.

5) Perilaku “saling mengakui pasangan sebagai pacar”, yang oleh SPIP diklaim sebagai yang terpenting, TIDAK mutlak berlaku pada fenomena budaya Timur walau sesuai dengan budaya Barat. Pada budaya Timur, ekspresi cinta lebih bersifat simbolis daripada terang-terangan.

Jadi, definisi yang dikemukakan oleh SPIP itu TIDAK bisa kita terima untuk pembicaraan islamisasi pacaran. (Definisinya kita terima hanya untuk kepentingan memahami artikel yang dia jadikan referensi, yang sama sekali tidak berkaitan dengan islamisasi pacaran.)

Wa Allaahu a’lam.

3 responses

  1. pacaran merupakan hubungan antara dua pasang manusia (laki-pr, lk-lk, pr-pr) dimana kedua mahluk tersebut bersatu dan terikat dengan perasaan suka sama suka tanpa di mikat dengan pernikahan, saling memiliki dan saling mengakui akan kehadiran sesosok pasangannya sebagai sebuah pasangan

  2. Ping-balik: ibitibit » Blog Archive » si Cowok ngomongin pacaran ???

  3. definisi di atas memang sudah benar, tapi tidak smua orang berpacaran itu selalu mempunyai sbuah komitmen.

    menurut saya pacaran adalah sebuah hubungan cowok n cewek yang terikat suatu hubungan cinta dan sayang yang saling mengasihi satu sama laen yang belum terikat sbuah pernikahan,dan terjadi something khas ala pacaran mereka masing2 yana diantara mereka saling menyukai dengan tulus dari dasar hati mereka masing2.

Komentar ditutup.