Penulis Romantis (2): Jalan Sunyi

Prolog

“Aku akan mengisahkannya dengan menahan napas. … Ada jalan setapak yang bercabang di hutan rimba. Aku mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Ternyata jalan itu menghasilkan perbedaan yang amat besar,” ujar Robert Frost dalam “The Road Not Taken”.

Seperti Robert Frost, aku juga mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Ketika ribuan orang mendambakan profesi mapan selaku dosen-tetap universitas kenamaan, aku justru melepaskannya “hanya” untuk merintis karir menjadi penulis buku. Ketika milyaran orang berdesak-desakan di jalan tahta dan/atau jalan harta, aku malah meluncurkan diri di jalan ilmu nan sepi. (Untuk penjelasan mengenai mengapa kupilih jalan yang sunyi ini, lihat Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan.)

Lantas, apakah jalan ilmu yang kupilih ini berdampak besar pula bagi kehidupanku?

Ya! Dampaknya kurasa sangat besar. Aku akan mengisahkannya dengan menahan napas.

Merintis Karir Bermodal Dengkul

Seorang pembaca Penulis Romantis (1) yang rupanya pernah membaca beberapa buku terbaruku membesarkan hatiku. Katanya, “Buku-buku Anda tampak cerdas dan komunikatif. Ini mencerminkan bahwa Anda seorang penulis yang profesional. Saya yakin, jalan ilmu ini adalah pilihan yang sangat tepat bagi Anda.”

Alhamdulillaah. (Aku menahan napas.) Syukurlah dia berkomentar pada tahun 2007 ini. Andai pada delapan tahun yang lalu, saat kuputuskan merintis karir menjadi penulis buku, komentarnya mungkin jauh berbeda dan akan mengecilkan hatiku.

Delapan tahun yang lalu, aku belum menjadi penulis buku. Aku baru merintisnya dengan menjadi penerjemah buku. Meskipun telah menjadi dosen, belum dapat aku menyusun naskah buku sendiri. Jangankan naskah buku, naskah artikel (yang layak terbit) pun aku belum mampu menyusunnya.

Pada tahun 1999 itu, kemampuan tulisku (yang menghasilkan uang) hanyalah menerjemahkan teks Inggris ke Indonesia. Itu pun belum pantas disebut profesional. Sebabnya, kerjaku lambat. Penerjemahan satu buku saja (rata-rata setebal 250-an halaman) memakan waktu empat bulan atau lebih. Padahal, kerjaku full-time. Sekitar 10-14 jam per hari dan nyaris tanpa hari libur. Lambat, ‘kan?

Kerjaku yang lambat itu sebetulnya sudah lumayan bila dibandingkan dengan empat atau lima tahun sebelumnya. Ketika itu, aku mulai menjadi penerjemah “kaki lima” yang menerima order dari kios kecil di pinggir jalan. Saat pertama kalinya menerjemahkan teks orderan, sepanjang dua halaman, seberapa lambat proses penerjemahanku? Bayangkan! Aku menghabiskan waktu sampai lebih dari 12 jam hanya untuk mengerjakan satu paragraf atau sepertiga halaman. (Seandainya aku menerjemahkan buku dengan kecepatan ini, perlu waktu dua tahun atau lebih untuk menyelesaikannya.) Sangat lambat, ‘kan?

Kerjaku yang sangat lambat dalam menerjemahkan teks Inggris itu pun sebenarnya sudah lumayan pula jika dibandingkan dengan tahun 1986. Pada tahun itu, aku lulus dari SMA Negeri 4 Surakarta, jurusan IPA. Di antara guru-guruku atau pun teman-temanku, mungkin tidak ada yang bermimpi bahwa aku akhirnya bisa mendapat uang dari menerjemahkan teks Inggris. Pasalnya, nilaiku yang paling rendah di SMA adalah pada pelajaran bahasa Inggris. (Pada mid-semester 5, aku mendapat nilai 5 yang ditulis dengan tinta merah.) Kalau pun mampu menerjemahkan teks Inggris, paling-paling hanya satu kalimat: I love you.

Maklum, hasil psikotest saat SMA itu menunjukkan, aku akan “lebih sukses” bila melanjutkan studi di bidang eksakta daripada bidang bahasa. Angka IQ-ku di bidang eksakta sekitar 130 (di atas rata-rata). Berapa angka IQ-ku di bidang bahasa? Hanya sekitar 100 (rata-rata). Dengan kata lain, hasil tes tersebut memperlihatkan, aku tidak berbakat untuk menjadi penulis atau pun penerjemah.

Merambah Semak Berduri

Setelah “naik pangkat” dari “penerjemah kaki-lima” menjadi “penerjemah buku”, keadaan perekonomianku belum membaik. Pembayaran honor terjemahan buku seringkali tidak lancar. Ada yang pembayarannya tidak penuh; itu pun setelah kutagih berulang-kali.

Begitulah risiko berurusan dengan penerbit-penerbit yang kurang profesional. Malah, terjemahanku terhadap tiga buku Harun Yahya dibajak oleh orang-orang yang katanya saudaraku seiman. Sepeser pun mereka tidak membayarku. Jangankan membayar, memberitahu saja tidak!

Akibatnya, setelah semua barang yang laku dijual terjual, aku dan istriku mesti sering cari utang sana-sini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kian lama, utang kami pun kian menumpuk.

Ketika mulai “naik status” dari “penerjemah buku” menjadi “penulis buku”, keadaan perekonomianku malah semakin memburuk. Bagaimana tidak? Penulisan buku lebih menyita waktu dan memakan biaya. Padahal, royaltinya baru dibayarkan beberapa bulan setelah buku terjual atau sekitar satu tahun setelah naskah kuserahkan ke penerbit.

Dalam waktu sekitar satu setengah tahun, nyaris tidak ada pemasukan sama sekali. Hingga beberapa tahun berikutnya, aku bagai merambah semak-belukar yang penuh dengan kerikil tajam dan tanaman berduri. Di jalan begini, ayun langkahku teramat pelan. Produktivitasku dalam menulis buku rendah sekali. Kecepatannya belum mampu mengimbangi laju pengeluaran kami yang terus menanjak seiring dengan tumbuhnya anak-anak kami. Akibatnya, setelah beberapa puluh bulan berada tepat di garis kemiskinan, posisi kami melorot lagi sampai ke bawah garis kemiskinan.

Orkestra Sendu

“Ma, perutku keroncongan.”

“Pa, aku lapar.”

Demikian, orkestra sendu yang mengalun dari mulut mungil anak-anak kami yang menusuk-nusuk gendang telinga kami di setiap pagi, setiap siang, setiap sore, setiap malam, berbulan-bulan.

Tadinya, melalui berita di televisi dan suratkabar, kusangka peristiwa orang-orang kelaparan cuma terjadi jauh di sana. Di pedalaman Papua, Nusa Tenggara Timur, atau Afrika Tengah. Ternyata wabah kelaparan itu melanda kami pula. Padahal, kami bermukim di Solo alias Surakarta, sebuah kota besar di Jawa.

Solo adalah kota yang makmur, ‘kan? Lihat! Lapangan-lapangan telah disulap menjadi mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan. Mobil-mobil mengkilap berlalu-lalang di jalan-jalan raya. Restoran-restoran bertebaran di seluruh penjuru kota. Setiap Hari Raya Idul Adha, orang-orang kaya di kota ini mengirim ribuan kambing dan sapi korban ke luar kota. Untuk fakir-miskin yang membutuhkan kegembiraan, katanya.

Wow! Mereka dermawan, bukan? Eh, jangan-jangan, kedermawanan orang-orang kaya itu hanya berlangsung selama Hari Raya. Nyatanya, meminta bantuan sesuap nasi atau sebiji padi dari orang-orang yang berharta itu bagaikan mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami. Ataukah kami yang kurang gaul sehingga tidak mengenal banyak hartawan yang murah-hati?

Pernah, kami berkunjung ke rumah seorang saudara seiman yang tabungannya mencukupi untuk naik haji berkali-kali. Sebelumnya, kami dengar kabar bahwa ia telah mengetahui kesulitan kami. Kepada orang-orang ia mengumumkan: “Loh? Anak-anak Shodiq Mustika itu kan sudah kuanggap seperti cucu kandungku sendiri. Mengapa mereka tidak datang kepadaku? Kalau mereka datang kepadaku, dia dan istrinya takkan bingung cari utang.”

Ke rumahnya, aku dan anak-istriku berjalan kaki sejauh lima atau enam kilometer. Maklum, tidak ada sepeser pun uang pada kami untuk ongkos naik angkutan umum. Di rumah “saudara” kami itu, apa yang kami peroleh?

Begitu kami duduk di ruang tamu, si tuan rumah buru-buru memasukkan dua kaleng roti dari ruang tamu ke dalam kamar keluarga. Rupanya, kedua anak kami yang polos sedang menatap kaleng-kaleng itu dengan mulut menganga. Air liur mereka hampir menetes dari bibir.

Belum sempat kami utarakan maksud kedatangan kami, ia sudah menyampaikan informasi terkini. Intinya, “Krisis ekonomi yang melanda Indonesia ternyata berlarut-larut. Menambah saldo tabungan sulit sekali. Meskipun sudah membatasi pengeluaran, aku masih kekurangan uang. Tahu, ‘kan, berapa ONH (ongkos naik haji) sekarang? Belum lagi ongkos lain-lain. Padahal, targetku naik haji setiap tahun. Menemani anggota keluarga. Tahun lalu bersama anak sulung, tahun ini bersama anak kedua, tahun depan bersama anak ketiga. …”

Sementara itu, meskipun tubuh kami berkeringat sehabis berjalan kaki sejauh lima atau enam kilometer, tak segelas pun air yang disuguhkan. Apalagi makanan pengganjal perut yang keroncongan. Karena itu, kami pun tahu diri. Berpamitanlah kami tanpa sempat mengutarakan maksud kedatangan kami.

Akhirnya, kami pulang dengan tangan hampa. Di perjalanan pulang, seorang anak kami yang masih balita bertanya kepada mamanya dengan nada sendu: “Ma, apakah tidak ada orang kaya yang suka memberi?” (Aku menahan napas.)

Manfaatkan Kesempitan sebagai Kesempatan

Orkestra sendu itu mengalun “nyaring” dalam kesunyian, terutama sejak awal tahun 2005 hingga pertengahan 2006. Pada waktu itu, aku beserta anak-anak dan istriku terusir dari rumah (warisan ibuku). Saat pindah ke rumah peninggalan ayah mertuaku, keberadaan kami tidak diterima pula. Semuanya karena keluarga kami tidak mendukung jalan hidup yang kupilih, yakni menjadi penulis buku.

Jadilah kami “gelandangan”. Kami berpindah-pindah tempat tinggal sampai ada seorang pemilik kos yang bersedia menampung kami dengan pembayaran “sukarela”. (Sampai kini, kepadanya aku masih “berhutang” pembayaran kos.)

Dalam keadaan menjadi “gelandangan” begitu, aku masih bisa berbesar hati. Aku teringat, Buya Hamka menghasilkan karya terbesarnya (Tafsir Al-Azhar) ketika sedang berada dalam keadaan paling terpuruk, yakni di penjara. Begitu pula beberapa penulis terkenal lainnya. Siapa tahu, karya terbesarku mungkin justru lahir dari keadaanku yang paling terpuruk itu.

Menyusun buku dalam keadaan terpuruk ternyata tidak mudah. Untuk mengatasinya, strategiku adalah menjadikan bukuku sebagai media curhat. Aku tidak menganggapnya sebagai “tugas” yang lepas dari persoalan hidupku sehari-hari. Aku menjadikannya sebagai diary. Apa pun tema buku yang kutulis, aku selalu mengaitkannya dengan persoalan yang sedang kuhadapi.

Strategiku itu agaknya cukup efektif. Dengan strategi ini, aku lebih produktif menulis buku. (Buku Pelatihan Salat SMART, Bersalatlah, dan beberapa buku lain, aku susun ketika aku menjadi “gelandangan” itu.) Alhamdulillaaah.

Tercapaikah Kesuksesan?

Pada mulanya, aku hanya mampu menyusupi penerbit-penerbit kecil. Lambat laun, penerbit-penerbit yang agak besar pun menerima naskah-naskahku. Akhirnya, sewaktu berada di awal-awal “orkestra sendu” yang kuceritakan di atas, naskah-naskahku telah menembus penerbit besar. Dengan demikian, tercapailah targetku. (Target-awalku ketika dulu kuputuskan merintis karir menjadi penulis buku adalah menembus penerbit besar.)

Akan tetapi, yang tampak gamblang di mata keluargaku dan keluarga istriku adalah bahwa “pada kenyataannya”, keadaan perekonomian kami justru sedang menukik ke titik terendah. Mereka hanya menyaksikan bahwa seusai aku “banting stir” dari profesi dosen ke profesi penerjemah dan kemudian penulis buku, kami tidak kunjung bangkit dari garis kemiskinan. (Sudut pandang yang bertolak-belakang inilah yang agaknya menjadikan kami terusir dan terkucil dari keluarga, bahkan walau anak-anak telah mendendangkan “orkestra sendu”!)

Mereka tak mau tahu bahwa penerbit besar telah menerima naskah-naskahku. Mereka pun tak mau mengerti bahwa aku tak lagi bersusah-payah menawarkan naskah. Mereka tak peduli bahwa penerbit-penerbit itulah yang kini menyodorkan tema atau judul baru kepadaku untuk aku kembangkan menjadi naskah buku. (Mereka belum mengenal seluk-beluk dunia perbukuan. Di antara familiku dan famili istriku, memang baru aku seoranglah yang menjadi “kutu buku”.)

Epilog

Mungkin para pembaca yang menyimak kisah nyata ini berpikiran, “Wah, ternyata M. Shodiq Mustika ini orang yang sabar dan teguh. Sabar menghadapi badai kehidupan dan teguh dalam menempuh jalan hidup.” Begitukah kenyataannya?

Sebenarnya aku tidak begitu sabar. Sebetulnya aku tidak begitu teguh. Di tengah-tengah “orkestra sendu” dalam kesunyian, beberapa kali aku hendak menyerah. Hanya berkat keberadaan dua orang wanita di hatiku (istriku dan seorang putri Melayu), aku bertahan di jalan ilmu selaku penulis buku.

Lantaran dukungan kedua wanita itulah, terutama melalui ketulusan cinta mereka kepadaku, aku dapat menjadi penulis buku (yang “romantis” dalam pandangan mereka). Apakah para pembaca berminat mengetahui sedalam apa ketulusan cinta mereka? Menarikkah topik ketulusan cinta bagi banyak pembaca? Kalau iya, kapan-kapan deh, aku ceritain.***

3 responses

  1. Ping-balik: Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan « Cinta Romantis

  2. Ping-balik: Sulitkah menjaga hati dalam pacaran islami? « Pacaran Sehat

  3. Mas MS.Mustika,,,salut atas kisah perjalanan hidupnya.”Di balik laki2 hebat ada wanita yang kuat”.aku juga sedang bermimpi untuk menjadi salah satu wanita yang kuat itu!!!!

Komentar ditutup.