Pacaran Itu Sunnah yang Direstui Nabi

Bolehjadi, di antara sekian banyak argumen, yang paling diandalkan untuk menghujat ‘pacaran islami’ adalah sebagai berikut: “Islam sama sekali tidak mengenal pacaran.” (PIA: 41) “Pacaran bukan dari Islam, melainkan budaya jahiliyah yang harus ditinggalkan oleh segenap remaja muda Islam.” (PIA: 22) “Mestinya kita juga nggak meniru orang-orang jahiliyah dan budaya jahiliyah modern.” (KHP: 171)

Benarkah pacaran adalah budaya jahiliyah modern (dari Barat)? Mari kita periksa.

Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: Nabi saw. mengirim satu pasukan [shahabat], lalu mereka memperoleh rampasan perang yang di antaranya terdapat seorang tawanan laki-laki. [Sewaktu interogasi], ia berkata, “Aku bukanlah bagian dari golongan mereka [yang memusuhi Nabi]. Aku hanya jatuh cinta kepada seorang perempuan, lalu aku mengikutinya. Maka biarlah aku memandang dia [dan bertemu dengannya], kemudian lakukanlah kepadaku apa yang kalian inginkan.”

Lalu ia dipertemukan dengan seorang wanita [Hubaisy] yang tinggi berkulit coklat, lantas ia bersyair kepadanya, “Wahai dara Hubaisy! Terimalah daku selagi hayat dikandung badanmu! Sudilah dikau kuikuti dan kutemui di suatu rumah mungil atau di lembah sempit antara dua gunung! Tidak benarkah orang yang dilanda asmara berjalan-jalan di kala senja, malam buta, dan siang bolong?”

Perempuan itu menjawab, “Baiklah, kutebus dirimu.” Namun, mereka [para shahabat itu] membawa pria itu dan menebas lehernya. Lalu datanglah wanita itu, lantas ia jatuh di atasnya, dan menarik nafas sekali atau dua kali, kemudian meninggal dunia.

Setelah mereka bertemu Rasulullah saw., mereka informasikan hal itu [dengan antusias] kepada beliau, tetapi Rasulullah saw. berkata [dengan sindiran tajam]: “Tidak adakah di antara kalian orang yang penyayang?” (HR ath-Thabrani dalam Majma’ az-Zawâid 6: 209)

Kita perhatikan, tema utama informasi yang disampaikan oleh para shahabat kepada Rasulullah sehingga beliau bersabda begitu adalah kisah hubungan asmara di luar nikah. Saat itu barangkali mereka kira, perilaku pacaran itu kemunkaran besar yang harus dicegah dengan ‘tangan’ (kekuatan) bila mampu, sedangkan kemampuan ini ada pada mereka selaku pemenang pertempuran. Mereka menghukum mati si lelaki, dan mungkin menyangkanya sebagai perbuatan baik demi mencegah kemunkaran besar. Namun, Rasulullah justru marah.

Sebaliknya, kata Abu Syuqqah, “beliau menampakkan belas kasihnya kepada kedua orang yang sedang dilanda cinta itu” dan menyalahkan perbuatan shahabat. (KW5: 75) Ini menyiratkan, seharusnya si tawanan dibebaskan walau akibatnya kemudian ia melakukan pacaran dengan si dia. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa pacaran (bercintaan dengan kekasih-tetap) merupakan sunnah taqriri, kebiasaan yang direstui Nabi saw..

Sampai di sini mungkin Anda masih penasaran: Manakah istilah ‘pacaran’ dalam hadits tersebut? Jawaban kita: Penyebutannya tidak langsung tersurat, tetapi tersirat.

Untuk sampai ke pengertian itu, kita mengacu pada unsur-unsur ‘pacaran’ yang baku: bercintaan dengan kekasih-tetap. Adakah aktivitas bercintaan di dalamnya? Ada. Ini ditunjukkan oleh ungkapan “Wahai dara Hubaisy, terimalah daku selagi hayat dikandung badanmu!” dan “Baiklah…” Tampaknya, rasa cinta antara keduanya itu begitu mendalam. Sampai-sampai, si pria mempertaruhkan nyawa untuk dapat bertemu dengan kekasihnya, sedangkan si wanita sampai jatuh dan meninggal dunia di atas jasad kekasihnya. Ini menunjukkan, aktivitas bercintaan itu terjadi antara sepasang kekasih yang tetap, bukan sekadar teman sesaat. Dengan demikian, unsur-unsur ‘pacaran’ yang baku sudah terkandung di dalam hadits tersebut. Jadi, tidaklah mustahil ada ‘pacaran’ (bercintaan dengan kekasih-tetap) yang islami!

Bagaimana dengan ‘kencan’? Aktivitas yang tidak harus ada (walau sering terdapat dalam pacaran) ini tampaknya terkandung pula di dalam hadits ath-Thabrani tadi. Kita melihat, ada janji untuk “saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama”. Jadi, hadits tersebut juga mengisyaratkan bahwa ‘kencan’ (saling bertemu di tempat dan waktu yang disepakati) antar lawan-jenis di luar nikah merupakan sunnah taqriri, kebiasaan yang direstui Nabi saw..

Bagaimana bila sesudah kita kemukakan hadits yang mengisyaratkan bahwa Rasulullah menghalalkan ‘pacaran’ (bercintaan dengan kekasih-tetap), penghujat-penghujat ‘pacaran islami’ masih berpegang pada fatwa bahwa “pacaran selalu haram” dan “tidak ada pacaran dalam Islam”? Padahal mereka tidak mengemukakan nash yang mengharamkannya? Dalam keadaan begitu, mungkin sebaiknya kita sampaikan ayat: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak [pula] bagi perempuan yang beriman, bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan [hukum], akan ada bagi mereka pilihan [hukum lain] tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguh ia sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzaab [33]: 36)

9 responses

  1. Tidak adakah di antara kalian orang yang penyayang?” apakah pernyataan ini menjadi landasan bahwa Rosullulloh merestui pacaran???????? pahami lagi ya ikhwahh,,, jangan memahami islam setengah-setengah,,
    statemen ini bayak bertentangan dengan hadist dan Ayat suci Al qur’an, antara lain:
    1) Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi, ‘Palingkanlah pandanganmu itu!” (HR Muslim, Abu Daud, Ahmad, dan Tirmizi).
    2) Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita dibagi menjadi dua, yaitu hubungan mahram dan hubungan nonmahram. Hubungan mahram adalah seperti yang disebutkan dalam Surah An-Nisa 23, yaitu mahram seorang laki-laki (atau wanita yang tidak boleh dikawin oleh laki-laki) adalah ibu (termasuk nenek), saudara perempuan (baik sekandung ataupun sebapak), bibi (dari bapak ataupun ibu), keponakan (dari saudara sekandung atau sebapak), anak perempuan (baik itu asli ataupun tiri dan termasuk di dalamnya cucu), ibu susu, saudara sesusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan. Maka, yang tidak termasuk mahram adalah sepupu, istri paman, dan semua wanita yang tidak disebutkan dalam ayat di atas.

    Uturan untuk mahram sudah jelas, yaitu seorang laki-laki boleh berkhalwat (berdua-duaan) dengan mahramnya, semisal bapak dengan putrinya, kakak laki-laki dengan adiknya yang perempuan, dan seterusnya. Demikian pula, dibolehkan bagi mahramnya untuk tidak berhijab di mana seorang laki-laki boleh melihat langsung perempuan yang terhitung mahramnya tanpa hijab ataupun tanpa jilbab (tetapi bukan auratnya), semisal bapak melihat rambut putrinya, atau seorang kakak laki-laki melihat wajah adiknya yang perempuan.

    Dari sini dapat disimpulkan bahwa Bapak yang menulis bLog ini setengah-setengah dalam memahami islam,,,
    dah gitu dah berani memutuskan bahwa pacaran itu bolehh,, semoga Kita semua disadarkan dari Kesalahan dan kesesatan…

    Tanggapan M Shodiq Mustika:

    Semua yang Anda persoalkan itu sudah kami bahas. Anda belum baca dengan lengkap, ya?

    Anda mau tahu dalil-dalil mengenai pacaran supaya tidak sesat? Supaya Anda tidak salah dalam memahaminya, silakan simak http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/ dan http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/04/bantahan-terhadap-penentang-dalil-dalil-pacaran-islami/

    Mengenai haramkah melihat lawan-jenis, termasuk tanpa syahwat, lihat http://wppi.wordpress.com/2008/05/29/bolehkah-laki-laki-memandang-perempuan-dan-sebaliknya/

    Mengenai khalwat (berduaan), lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/

  2. wah
    takut aku
    jika romantisasi dalam nikah
    jd kabur
    dan tak trasa nikmat lg
    krna hati
    ternodai rasa2
    yang disuburkan sebelum nikah

    hatilah yg menjadi
    hal utama utk diselamatkan…
    ketika menjaga hijab
    hati pula yang jg
    kita selamatkan…
    ketika kita menikah

    hatilah yg ingin kita selamatkan

    Tanggapan Admin:
    Memang, jika “hati ternodai rasa2 yang disuburkan sebelum nikah”, maka “romantisasi dalam nikah jd kabur dan tak trasa nikmat lg”. Namun, jika qalbu tersucikan oleh rasa2 indah yang disuburkan sebelum nikah, maka romantisme dalam nikah jadi memuncak dan nikmatnya tiada tara. Qalbu yang sucilah yang menjadi senjata utama dalam melawan Logika Iblis Yang Menyesatkan Orang Yang Taat Beragama.

  3. tidak!
    jangan lagi
    kau putar ke belakang

    ‘rasa-rasa indah’ spt apa yg kau maksudkan
    pacaran itu bukan lg ‘rasa’
    pacaran itulah realisasi ‘rasa’
    realisasi itulah yg membuat noda

    jika rasa yg kau maksud
    adalah memendam cinta
    memelihara cinta
    agar tak tampak celanya
    agar tak jatuh kehormatannya
    karena cinta utama kita pada-Nya
    maka realisasiny bukanlah pacaran
    maka itulah yang mulia

  4. jika saja
    jika saja sejak awal kau buang ‘pacaran’
    maka perdebatan di atas takkan lama

    mungkin kau berharap
    yang kau bhs adalah redefinisi
    tapi sebaiknya kau jelaskan
    “inilah redefinisi!”
    dan sebaiknya mnyertakan
    “cinta padaNya” dalam bhasanmu

    aku tahu
    ini bakal terlalu “tinggi” untk sasaranmu
    tapi mereka perlu tahu

    karna kau beri tahu
    mereka pun tahu
    ada nilai yang lebih tinggi dari yang mereka pahami sekarang
    meski mereka tak bisa terapkan itu

    dan menciptakan idealisme yang sempurna itu
    perlu bagi mereka
    meski mereka tersandung realitas

    dan untuk orang yg sudah bs
    terapkan itu
    mereka takkan menyeretmu dlm perdebatan
    karena mereka perlu yakin
    kau ke “arah” yg tepat
    bukan hanya “tahap” yg tepat

    ‘think big things,do small things’

    Tanggapan M Shodiq Mustika:

    Tampaknya si rand (randika?) belum selengkapnya membaca tulisan saya sehingga salah paham. Pada kenyataannya:

    1) sudah berulangkali saya nyatakan dalam berbagai versi, termasuk dalam artikel yang saya sebutkan link-nya itu, bahwa “inilah redefinisi!” Sebelum itu, saya sudah berulangkali menyatakannya. Diantaranya, postingan Definisi Pacaran Sangat Jelas (2007), yang berasal dari buku pertama saya (2004) yang membantah pengharaman pacaran. Sebelum itu pun, ketika saya mulai membicarakannya di internet (2002), saya juga sudah mengemukakannya. Jadi, sudah sejak semula saya tegaskan, “inilah redefinisi!” (Apakah di tahun 2002, rand belum aktif di internet?)

    2) Saya juga sudah berulangkali menyertakan “cinta padaNya” dalam pembahasan saya. Diantaranya terdapat pada naskah buku Dzikir Cinta Islami, Bab 15, “Atasi Masalah Ketergila-gilaan”, sebagaimana yang saya kabarkan di beberapa milis dan di http://pacaranislami.wordpress.com/2008/06/07/masalah-apa-yang-terpenting-bagi-anda-dalam-percintaan/

    3) Supaya para pengunjung tidak menangkap kesan bahwa Anda sok tahu, sebaiknya Anda tidak buru-buru menyampaikan saran, tetapi bertanya lebih dahulu. Misalnya, tanyakanlah kepada saya apakah saya sudah menyatakan “inilah redefinisi!”, apakah saya sudah menyertakan “cinta pada-Nya”, dan lain-lain. Oke?

  5. trims atas responnya
    semoga Allah memaafkan salah saya
    karena manusia hnya sumber khilaf
    Allah-lah sumber kbenaran

    semoga Allah melindungimu dari salah yg berlebihan
    dan memaafkan kesalahanmu

  6. Berpacaran ialah perbuatan yang timbul dari dorongan syahwat dan kasih sayang antara lelaki dan perempuan hingga keduanya mencurahkan kehendak diri berbentuk ucapan dan tingkah laku di luar hukum berupa suami istri tidak sah. Perbuatan itu berarti berzina atau setidak-tidaknya mendekati zina yang nyata terlarang menurut Ayat 17/32.
    Kebiasaan berpacaran mengurangi keinginan untuk menikah menurut hukum yang berlaku karena sebagian dari kehendak syahwat telah dapat dipenuhi, padahal pernikahan sangat dibutuhkan masyarakat manusia untuk membentuk generasi keturunan. Berpacaran adalah perbuatan tidak resmi dan tiada negara yang menyusun undang-undang khusus untuk itu, tetapi mungkin menjadi tradisi dalam masyarakat manusia dan memang telah jadi kebiasaan kafir, padahal telah menjadi ketentuan bahwa setiap perbuatan tidak resmi di luar hukum selalu menimmbulkan kegelisahan dan pertantangan yang berujung pada perbantahan dan kekacauan.
    Jadi larangan berpacaran dalam masyarakat Islam bukanlah berupa perkosaan dan kungkungan terhadap naluri manusia, tetapi berbentuk peraturan yang menguntungkan masyarakat untuk kemakmuran hidup bersama berkelanjutan serta mencegah timbulnya kekacauan yang mungkin berlaku kini dan pada generasi mendatang. Memang banyak akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan berpacaran, umumnya jahat dan buruk, sedikit sekali yang baik, antara lain sebagai berikut:
    1. Tindakan berpacaran umumnya menjurus kepada hubungan seksual di luar nikah selaku perbuatan sangat tercela dan terkutuk, dan yang paling parah ialah lahirnya bayi tanpa bapak menurut hukum. Penyelesaian perkara dalam hal ini sangat sulit dan menyedihkan terutama bagi yang perempuan, apalagi jika diselesaikan menurut hukum dalam Alquran.
    2. orang yang berpacaran terbiasa menyimpan rahasia yang kebanyakan dipandang tidak baik dalam kehidupan masyarakat. Hal itu membawanya kepada pertumbuhan yang tidak dapat diharapkan sebagai pribadi sempurna. Akhirnya dia terbiasa berbohong, menipu, dan tak dipercaya dalam pergaulan.
    3. Orang yang berpacaran terbiasa mengelamun, (lupa dzikir)berkhayal pada yang sukar terlaksana terutama dalam hubungan kehendak syahwat yang bebas selaku suami-istri. Hal ini mendidiknya bersikap tidak obyektif, penuh kepalsuan, dan bertumbuh tanpa ketabahan dengan tingkah laku tak menentu.
    4. Orang yang berpacaran terbiasa membuang waktu secara percuma karena memikirkan masa depan penuh keraguan,(lupa dzikir lagi) bahkan kadang-kadang memakai harta benda dengan pemborosan, mempersolek diri berlagak gagah dan berlaga cantik. Hal ini merugikan dirinya dalam urusan lain yang lebih penting, seperti dalam pelajaran, perekonomian. dan sebagainya.
    5. Perbuatan berpacaran adalah peragaan dari dorongan syahwat yang harus dipenuhi di luar hukum, seringkali terbentur mencapai kehendaknya, dan sangat dibenci dalam masyarakat Islam. Hal itu akan membawa pelakunya kepada monoseks, mimpi seksual dan tindak tanduk lain yang merugikan diri dalam pertumbuhan. Kerugian itu berpengaruh pada masyarakat lingkungan bahkan juga pada generasi mendatang.
    6. Seringkali orang yang berpacaran tidak direstui ibu hapaknya yang harus menentukan jodohnya atau yang berhak atas akad nikahnya menurut hukum. Keadaan begitu mungkin menyebahkan dia:
    a. Lebih banyak menyimpan rahasia prihadi yang sebenarnya tidak disenangi keluarga.
    b. Lebih banyak memikir dan berkhayal tentang cara bagaimana mencapai kehendak hatinya begitu pun mencapai kehendak syahwatnya, (lupa dzikir lagi) hingga dia lebih terbiasa pada monoseks, bahkan mungkin pula berpindah kepada lesbian atau homoseks.
    c. Lupa dzikir Jadi pendiam, murung,tak suka bergaul sebagaimana mustinya, hingga kemudian mengarnbil putusan nekad seperti misalnya rnelarikan diri dari rumah keluarga, pcrgi ke daerah lain bersama pacarnya tanpa izin orang tua, menghabisi hidupnya dengan kematian direncanakan, atau pun berubah jadi edan, rusak fikiran, dan sebagainya.
    7. Seringkali pula orang yang berpacaran, itu gagal menurut rencana bermula, digagalkan oleh berbagai sebab, misalnya:
    a. Salah seorang di antara keduanya berbau amis atau memiliki cacat diri yang tersembunyi. Hal ini baru diketahui setelah tindakan berpacaran itu jadi semakin akrab.
    b. Salah seorang di antaranya memiliki cacat keturunan atau cacat keluarga yang kemudian baru diketahui.
    c. Salah seorang di antaranya berpindah daerah tcmpat tinggal dibawa orang tua sendiri, atau mcngalami kematian oleh sesuatu sebab.
    d. Salah seorang di antaranya berpindah cinta kcpada orang lain yang dianggap lebih menarik hati.
    Kegagalan di atas ini menyebabkan orang lebih nekad rnencari pacar baru menurut kehendak hati dan syahwat. Tetapi mungkin pula dia menahan diri beberapa tahun atau untuk selamanya tinggal membujang dalam keadaan patah hati. Sikap begini juga bertantangan dengan hukum Islam karena meniadakan keturunan bagi generasi mendatang.
    8. Orang yang berpacaran jarang sekali memenui hasil yang diidamkan bermula, disebabkan oleh berbagai alasan. Sementara itu, tidak semua orang suka berpacaran, bahkan banyak sekali yang mengutuk perbuatan itu, maka orang-orang ini sangat berhati-hati dalam memilih jodoh, karenanya fihak orang tua jadi semakin susah mencarikan jodoh anaknya. Hal ini adalah suatu kerugian besar bagi masyarakat yang membiasakan berpacaran.
    9. Umumnya orang-orang yang berpacaran lebih cenderung kepada pergaulan bebas, kadang-kadang terpedaya kepada perzinaan, monoseks, lesbian, atau homoseks. Karena itulah hukum Islam menamakan tindakan berpacaran itu dengan “mendekati zina,” termuat pada Ayat 17/32. Maka perzinaan dengan pacar sendiri membuka kesempatan dan kebiasaan berzina dengan orang lain, bahkan memudahkan orang memasuki lapangan pelacuran yang mulanya terwujud dalam masyarakat kafir yang suka berpacaran. Padahal sudah jelas Nabi kita bilang “barang siapa yg mencontoh suatu kaum, dia termasuk dari kaum itu”
    Sumber hukum tentang pelarangan berpacaran banyak kita dapati dalam Alquran, mas tau kan Alquran itu datang dari siapa? kalam ALLoh mas….. jangan di logika kan…..
    Yang hampir bersamaan dengan pacaran ialah bertunangan yaitu berjanji, secara resmi atau tidak, antara lelaki dan perempuan bahwa keduanya nanti pada suatu waktu akan menikah untuk jadi suami-istri. Perbuatan ini adalah suatu tradisi dalam masyarakat kafir, kemudian berkembang pula di antara orang-orang Islam tanpa sadar bahwa perbuatan itu dilarang menurut hukum yang tercantum dalam Aya 2/235.
    Ada dua hal yang menyebabkan adanya pertunangan yaitu kehendak ibu-bapak dari kedua orang bersangkutan dan hubungan cinta antara lelaki dan perempuan tanpa sepengetahuan ibu-bapa keduanya. Perincian kedua hal itu adalah sebagai berikut:
    1. Pertunangan yang berlaku atas kehendak ibu-bapak mungkin mendapat sambutan:
    a. Tidak disetujui oleh salah seorang atau oleh kedua orang yang dipertunanmgkan. Biasanya pertunangan ini tidak sampai pada pernikahan, tetapi adakalanya kedua orang itu sampai menikah dengan paksaan resmi atau tidak yang dilakukan oleh pihak orang tua. Dalam perkawinan begini mungkin terwujud rumah tangga yang baik seperti diharapkan orang tua, tetapi kebanyakannya gagal mencapai kerukunan hingga kemudian berakhir dengan perceraian.
    b. Disetujui oleh kedua orang yang dipertunangkan, maka kemudiannya pada waktu yang telah ditentukan, berlangsunglah akad nikah menurut hukum yang berlaku. Dalam perkawinan begini seringkali terwujud rumah tangga bahagia, namun ada juga yang gagal dan berakhir dengan perceraian.
    2. Pertunangan yang berlaku atas kehendak lelaki dan perempuan bersangkutan mungkin mendapat sambutan:
    a. Disetujui olch ibu-bapak kedua belah pihak, maka pada waktu kemudiannya berlakulah pernikahan untuk membentuk rumah tangga yang mungkin bahagia dan mungkin pula berujung dengan percerain.
    b. Tidak disetujui oleh ibu-bapak satu pihak atau kedua pihaknya. Keadaan ini menjadi pukulan berat bagi yang bertunangan, ada yang membatalkan pertunangan itu secara sukarela dan melanjut.

    Jadi saran saya, coba mas buka Alquran dan tafsir, JANGAN TERJEMAHAN nya saja mas..

    semoga ALLoh menetapkan hati kita tuk selalu mengingat mengengingat tidak selain DIA….

    ya ALLoh….
    jika memang aku salah…. ampunilah ak

    Tanggapan Admin:
    1) Al-Qur’an yang kami baca sama dengan alquran-nya semua orang islam, berbahasa Arab. Kalau yang ditampilkan di internet ini hampir semuanya terjemahannya saja, itu karena alasan teknis, mengingat kebanyakan pembaca lebih memahami bahasa Indonesia. Namun bagi yang ingin tahu teks Arabnya, rujukannya telah kami sediakan. Siapa pun, termasuk Anda, dapat melihat sendiri teks Arabnya.
    2) Segala lainnya yang Anda persoalkan itu insya’allah telah terjawab di halaman Wajib Baca.

Komentar ditutup.