Benarkah ulama Ikhwanul Muslimin mengharamkan pacaran? (1)

Di forum MyQuran, ‘l4tahzan’ (yang kata-katanya sangat mirip dengan akh Nur Sandhi, penulis blog “pacaranislamikenapa”) menyatakan bahwa Syaikh Yusuf Qardhawi dan Abu Syuqqah (dua ulama Ikhwanul Muslimin terkemuka), mengharamkan pacaran.

Lalu ‘kaezzar’ bertanya, “Benarkah Ust. Qardhawi mengharamkan? Di posting terbaru blognya pak shodiq saya lihat sudah ada jawaban untuk pertanyaan latahzan, silahkan dilihat…”

Tampaknya ‘l4tahzan’ hanya melihat penjelasan di blog kami ini secara sepintas lalu atau kurang cermat. Dengan ketidakcermatannya ini, ia menjawab:

…Betul sekali, ana sarankan antum membaca fiqh kontemporer dari sumber aslinya secara utuh terutama pada pertanyaan “Bolehkah laki-laki memandang..”, “pergaulan laki2..”, “berjabat tangan..”, by googling insyaAllah dapat downloadan-nya. Al Ustad Yusuf Qardhawi berkata “Kekhawatiran akan terjadinya fitnah itu kembali kepada hati nurani si muslim, yang wajib mendengar dan menerima fatwa,baik dari hati nuraninya sendiri maupun orang lain. Artinya, fitnah itu tidak dikhawatirkan terjadi jika hati dalam kondisi sehat, tidak dikotori syahwat, tidak dirusak syubhat (kesamaran), dan tidak menjadi sarang pikiran-pikiran yang menyimpang.” saat menjelaskan dipalingkannya wajah anak paman rasulullah shalalhu’alaihi wassalam saat berlama-lama melihat seorang pemudi, artinya pada mereka(laki2 dan wanita) yang tidak ada hubungan apa-apa semisal pacaran saja, rasulullah SAW khawatir, bayangkan jika hal itu terjadi pada mereka yang sudah sama-sama tahu bahwa mereka sama-sama suka.

Benarkah di Fiqh Kontemporer itu Qardhawi “secara tegas mengharamkan” pacaran? Ataukah ‘l4tahzan’ keliru dalam menyimpulkan kata-kata Qardhawi? Mari kita periksa!

1) Terhadap pertanyaan “Bolehkah laki-laki memandang..”, Qardhawi menjawab:

Pandangan pertama (secara tiba-tiba) adalah tidak dapat dihindari sehingga dapat dihukumi sebagai darurat. Adapun pandangan berikutnya (kedua) diperselisihkan hukumnya oleh para ulama.

Yang dilarang dengan tidak ada keraguan lagi ialah melihat dengan menikmati (taladzdzudz) dan bersyahwat, karena ini merupakan pintu bahaya dan penyulut api.

Ternyata kata-kata “… semisal pacaran saja, rasulullah SAW khawatir, bayangkan jika hal itu terjadi pada mereka yang sudah sama-sama tahu bahwa mereka sama-sama suka” merupakan tambahan yang mengada-ada dari ‘l4tahzan’. Tak sedikit pun Qardhawi menyinggung haramnya pacaran.

Marilah kita merujuk ke kata-kata Qardhawi sendiri: “Yang dilarang dengan tidak ada keraguan lagi ialah melihat dengan menikmati (taladzdzudz) dan bersyahwat“. Jadi, jika Anda saling berpandangan dengan pacar Anda TANPA “menikmati (taladzdzudz) dan bersyahwat”, maka terlarangkah (secara tegas tanpa ada keraguan lagi)? Siapa pun yang berakal sehat tentu bisa mengambil kesimpulan yang benar.

Qardhawi menyarankan:

Apabila seorang wanita melihat laki-laki lantas timbul hasrat [syahwat] kewanitaannya, hendaklah ia menundukkan pandangannya. Janganlah ia terus memandangnya, demi menjauhi timbulnya fitnah, dan bahaya itu akan bertambah besar lagi bila si laki-laki juga memandangnya dengan rasa cinta dan syahwat. Pandangan seperti inilah yang dinamakan dengan “pengantar zina” dan yang disifati sebagai “panah iblis yang beracun,” …

Saran tersebut sejalan dengan saran Abu Syuqqah yang kami rangkum dalam “Jurus-jurus Penangkal Zina“, yang merupakan bagian dari islamisasi pacaran. Lantas, manakah kalimat Qardhawi yang dengan tegas menentang islamisasi pacaran (atau mengharamkan pacaran)? Tidak ada sama sekali!

2) Dalam “berjabat tangan..” Qardhawi menyimpulkan:

… berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah. Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apalagi keduanya; penj.) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.

Jadi, kasus jabat tangan ini serupa dengan kasus “memandang” yang telah kita bahas di atas. Lantas, manakah kalimat Qardhawi yang dengan tegas menentang islamisasi pacaran (atau mengharamkan pacaran)? Tidak ada sama sekali!

3) Dalam “pergaulan laki2..” Qardhawi menyimpulkan:

… pertemuan antara laki-laki dengan perempuan tidak haram, melainkan jaiz (boleh). Bahkan, hal itu kadang-kadang dituntut apabila bertujuan untuk kebaikan, seperti dalam urusan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kebajikan, perjuangan, atau lain-lain yang memerlukan banyak tenaga, baik dari laki-laki maupun perempuan.

Namun, kebolehan itu tidak berarti bahwa batas-batas diantara keduanya menjadi lebur dan ikatan-ikatan syar’iyah yang baku dilupakan. Kita tidak perlu menganggap diri kita sebagai malaikat yang suci yang dikhawatirkan melakukan pelanggaran, dan kita pun tidak perlu memindahkan budaya Barat kepada kita. Yang harus kita lakukan ialah bekerja sama dalam kebaikan serta tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, dalam batas-batas hukum yang telah ditetapkan oleh Islam.

Dalam islamisasi pacaran ini, saran Qardhawi tersebut kami terima dengan lapang dada. Meskipun “batas-batas hukum yang telah ditetapkan oleh Islam” ala Qardhawi itu agak berbeda dengan batas-batas ala Abu Syuqqah, Ibnu Qayyim, Ibnu Hazm, dan Quraish Shihab, kami menghargainya. Karena itulah, dalam pandangan kami, ada pacaran islami ala Abu Syuqqah, ala Ibnu Qayyim, ala Qardhawi, dan sebagainya.

Lantas, manakah kalimat Qardhawi yang dengan tegas menentang islamisasi pacaran (atau mengharamkan pacaran)? Tidak ada sama sekali!

Wa Allaahu a’lam.

18 responses

  1. ‘l4tahzan’ (yang kata-katanya sangat mirip dengan akh Nur Sandhi, penulis blog “pacaranislamikenapa”)

    iya, sangat mirip

    orangnya sama, ‘kaleeee

  2. Di forum MyQuran yang membahas pacaran islami, moderatornya ikut “bermain” menentang islamisasi pacaran. Dengan semena-mena, yangga sang moderator memindahkan artikel “Bantahan terhadap Penentang Dalil-dalil Pacaran Islami” dari bagian Fiqih ke Liberalisme.

    Padahal, tulisan yang dibantah itu berada di bagian Fiqih. Menurut “etika jurnalistik”, tindakannya itu jelas zalim. Sangat zalim. Benar-benar keterlaluan. Jadi, ada benarnya bahwa sekarang, forum MyQuran menyesatkan.

  3. artikelnya begitu jelas, meyakinkan, memberi pencerahan kepada pembaca

    trimakasih, ust. Shodiq

    *sambil nunggu yg nomer 2*

  4. assalamu’alaikum . . .
    semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua. Mengampuni sedemikian berlimpahan dosa-dosa yang baik secara sengaja maupun tidak sengaja kita perbuat.

    telah sempurna Islam ini, namun masih teramat dangkal pemahaman kita terhadap Islam. Memahami sebuah permasalahan tentunya harus terus merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

    yang benar hanyalah Allah, dan yang pasti salah adalah syaithon dengan balatentaranya yang sampai hari akhir nanti menipu dan memperdayakan manusia agar menyimpang dari jalan kebahagiaan yang sebenarnya.

    ingatlah, hanya orang-orang yang ditutup matahatinya-lah yang tidak akan diberi petunjuk/hidayah oleh Allah subhanahuwata’ala.

    orang yang merasa benar akan pendapatnya sendiri akan mudah terperosok kedalam kesombongan, hingga menolak kebenaran yang telah nyata Allah dan Rasulnya tetapkan.

    perbanyaklah istighfar dan istighfar . . . . . . . .
    wassalamu’alaikum . . . . . . .

  5. @ rahmani & ronny

    Aku kenal pemilik situs MyQuran. Orangnya sebetulnya baik sekali. Cuman dia terlalu sibuk, sehingga penanganan forum MyQ diserahkan kepada para moderator. Tidak semua moderator MyQ seburuk itu. Yang begitu itu hanya oknum.

    @ reza rr

    no. 2 sebentar lagi, pagi ini juga, insya’Allah

    @ rahmanjati

    … hanya orang-orang yang ditutup matahatinya-lah yang tidak akan diberi petunjuk/hidayah oleh Allah subhanahuwata’ala.

    Kata-katamu indah sekali. Terima kasih atas nasihatnya.

    orang yang merasa benar akan pendapatnya sendiri akan mudah terperosok kedalam kesombongan, hingga menolak kebenaran yang telah nyata Allah dan Rasulnya tetapkan.

    Lagi-lagi kau benar.

    Berhubung kita orang awam sering kurang mampu memahami petunjuk Allah dan Rasul-Nya, kita membutuhkan ulama. Ini sebabnya, di sini kita sering mengacu ke para ulama terkemuka, seperti Ibnu Qayyim, Ibnu Hazm, Yusuf Qardhawi, Abu Syuqqah, Quraish Shihab, dll.

    Engkau sendiri, dalam persoalan cinta pra-nikah, mengikuti pandangan ulama yang manakah?

  6. @ dobelben

    Siapakah ulama terkemuka yang berfatwa: “Idealita pacaran boleh (mubah) realita sekarang pacaran haram”? Ataukah engkau adalah seorang ulama yang sedang berfatwa?

    @ ikhsan

    Ya, kau benar. Ketika melihat kemunkaran, tugas kitalah mengatasinya dengan “tangan”. Bila tidak mampu itu, dengan “lisan”. Bila itu pun tidak mampu, dengan “hati” (doa). Begitu, bukan?

  7. Jazakallah..🙂

    Orangnya sama kok, insyaAllah..

    hehehe..kata2 ‘saat menjelaskan dsbnya’ itu memang kata2 saya. Kata2 Ustadz Yusuf Qardhawi adalah sebatas yang saya beri tanda kutip ganda. dalam penulisan bahasa Indonesia, perkataan seseorang itu biasanya ditandai “…”, baca lagi ya. Diluar itu berarti bukan perkataan orang itu.

    btw..hawadam siapanya pak Shodiq ya??🙂, gaya tulisannya juga hampir mirip..satu guru satu ilmu kayanya hehehe

    singkat saja..aktifitas dalam berpacaran itu sendiri pasti banyak. salah satunya pandang-memandang. dalam hal ini Ustadz Yusuf Qardhawi seperti yang dikutip oleh SPPI diatas berkata “…Apabila seorang wanita melihat laki-laki lantas timbul hasrat [syahwat] kewanitaannya, hendaklah ia menundukkan pandangannya. Janganlah ia terus memandangnya, demi menjauhi timbulnya fitnah, dan bahaya itu akan bertambah besar lagi bila si laki-laki juga memandangnya dengan rasa cinta dan syahwat. Pandangan seperti inilah yang dinamakan dengan “pengantar zina” dan yang disifati sebagai “panah iblis yang beracun..”

    Nah..logikanya..bagaimana mungkin dua orang yang mengaku berpacaran tidak jatuh cinta kepada sang pacar?? “jadiannya” mereka yang berpacaran juga karena “cinta dan syahwat” yang ada pada keduanya..lantas ketika mereka telah berpacaran..apakah semua “cinta dan syahwat” itu menghilang..bahkan ketika jauhpun..hatinya masih berkhayal2 alias zina hati.
    Hal2 semacam ini, tidak diragukan lagi adalah mendekati zina dan tergolong haram.

    Yang haram itu jelas dan yang haram itu jelas, sikap seorang muslim yang baik, ketika menemukan perkara syubhat adalah meninggalkan hal tersebut karena Allah SWT.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

  8. @ Nur Sandhi

    “jadiannya” mereka yang berpacaran juga karena “cinta dan syahwat” yang ada pada keduanya..

    “Jadiannya” mereka yang berpacaran secara islami adalah cinta karena Allah, BUKAN karena syahwat seksual. Untuk contoh, lihat

    http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/17/contoh-pacaran-islami-ala-ibnu-qayyim-al-juziyah-9/

    Untuk penjelasan bahwa cinta pada contoh tersebut adalah karena Allah, lihat http://pacaranislami.wordpress.com/taman-cinta/

    lantas ketika mereka telah berpacaran..apakah semua “cinta dan syahwat” itu menghilang..

    Pada pacaran islami, syahwat seksual tersebut ditaklukkan. Salah satu caranya telah diungkapkan oleh Qardhawi sendiri sebagaimana yang telah kuungkap di artikel ini: “Apabila seorang wanita melihat laki-laki lantas timbul hasrat [syahwat] kewanitaannya, hendaklah ia menundukkan pandangannya. Janganlah ia terus memandangnya, demi menjauhi timbulnya fitnah….”

    bahkan ketika jauhpun..hatinya masih berkhayal2 alias zina hati.
    Hal2 semacam ini, tidak diragukan lagi adalah mendekati zina dan tergolong haram.

    Itu pendapat Nur Sandhi pribadi ataukah fatwa Qardhawi?

    Sebagaimana yang telah kuungkap di artikel ini, Qardhawi menegaskan: “Yang dilarang dengan tidak ada keraguan lagi ialah … dengan menikmati (taladzdzudz) dan bersyahwat.” Jadi, jika “berkhayal”-nya TANPA “taladzdzudz dan bersyahwat”, maka itu TIDAK tergolong zina hati dan TIDAK haram.

    Untuk contoh “berkhayal” TANPA “taladzdzudz dan bersyahwat”, lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/12/contoh-pacaran-islami-ala-ibnu-qayyim-al-juziyah-4/

    ….sikap seorang muslim yang baik, ketika menemukan perkara syubhat adalah meninggalkan hal tersebut karena Allah SWT.

    Lho?! Kenapa sekarang kau malah ngomong soal syubhat? Apakah kau telah berubah pikiran? Tadinya kau menganggap bahwa Qardhawi mengharamkan pacaran. Apakah kini kau menganggap bahwa Qardhawi memandang bahwa pacaran itu syubhat? Kalimat Qardhawi yang manakah yang menyatakan begitu?

  9. Ping-balik: Benarkah ulama Ikhwanul Muslimin mengharamkan pacaran? (2) « Pacaran Islami

  10. Ass,,
    Mau tanya nich,,
    Semisalnya kita nggak pacaran, tapi kita bertaman dekat, kita sering diskusi masalah ini itu seputar teknologi terbaru, dan kadang dia juga sering minta solusi masalah dia sama pacarnya. Kadang dia juga nawarin temen dia buat jadi pacar aku, tapi aku selalu nolak karena niat aku nggak pacaran. Nach, menurut antum, hubungan yang kaya gitu tuh gimana?
    Apa itu sama aja nggak boleh?

    Jawaban pengelola:

    Pacaran pun, asalkan tidak mendekati zina dan tidak melakukan kemunkaran lainnya tidaklah berdosa, apalagi hanya berteman dekat. Tentu boleh. Nggak apa-apa.

  11. Ping-balik: “Izinkan Aku Berzina” « Manajemen Amal

  12. Ping-balik: “Izinkan Aku Berzina” « Suryaningsih Site

  13. wah klo pacaran ga sampe nikah gmn yw!!

    Tanggapan Admin:
    Manusia berusaha, Tuhan menentukan.
    Walau tidak dianjurkan, yang sudah menikah pun boleh bercerai
    Tentulah demikian pula bagi yang baru pada tahap pacaran.

  14. Ping-balik: Hubungan Tanpa Status, perlukah kejelasan? « Muslim Romantis

Komentar ditutup.