Siapa sajakah ulama terkemuka yang menetapkan fatwa haramnya pacaran?

Pertanyaan ini telah berulangkali kami kemukakan. Namun, hingga kini, kami belum mendapat jawaban yang tepat. Sejauh ini, yang kami dapati, orang-orang yang memfatwakan haramnya pacaran adalah orang-orang yang kualitas (keulamaannya) belum diakui secara luas. (Bahkan, ada beberapa orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama sama sekali, tetapi berani mendengang-dengungkan haramnya pacaran dan menghujat islamisasi pacaran.)

Di forum MyQuran, Yassin El Cordova menyatakan:

… maka yang diambil ya jumhur ulama
sampai hari ini saya masih mendata para ulama yang secara tegas mengharamkannya dan jumlah itu kian bertambah menurut saya seiring dari pelajaran-pelajarn di masa yang lalu sebagaimana mereka telah memberikan tauladan yang baik menghukumi sesuatu

Akhi Yassin, haruskah kita mengikuti pendapat jumhur (mayoritas) ulama? Salahkah bila kita mengikuti hasil ijtihad ulama tertentu (yang telah mendalami persoalan hubungan pria-wanita) ketika bertentangan dengan hasil ijtihad mayoritas ulama (yang spesialisasinya bukanlah hubungan pria-wanita)?

Untuk perbandingan, haruskah kita mengikuti pendapat mayoritas dokter umum untuk menangani penyakit jantung? Salahkah bila kita mengikuti diagnosis dokter spesialis jantung untuk menangani penyakit jantung ketika diagnosis tersebut berbeda dengan diagnosis mayoritas dokter (yang bukan spesialis jantung)?

Akhi Yassin, haruskah kami menunggu daftar akhi itu mencapai ribuan orang ulama? Sampai berapa lama? Tidak bisakah akhi memberitahu kami dua atau tiga orang dulu diantara mereka “yang secara tegas mengharamkannya”? Bukankah angka dua atau tiga itu tidak memberatkan akhi mengingat bahwa “jumlah itu kian bertambah”? Jadi, tolong sebutkanlah kalimat-kalimat di kitab-kitab para ulama itu “yang secara tegas mengharamkannya”!

Sambil menunggu, kami persilakan para pembaca menyimak artikel “Bila Orang Aneh Berkhotbah” dan pandangan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengenai pacaran yang islami.

20 responses

  1. jadi penasaran,
    apa Yassin El Cordova dkk baca artikel ini

    apa tak sebaiknya pasang pula artikel ini di forum Myq?

  2. @ kaezzar

    Mas kaezzar aktif di MyQ, bukan?
    Tahukah Mas apa Yassin itu masih aktif di MyQ?
    Kalau masih, bisakah Mas sampaikan pesan kita kepadanya: “Ada pesan untuk Yassin di sini.”?
    Gimana?

  3. Dalam pengetahuan ana, tidak ada satu pun ulama terkemuka yang tetapkan fatwa haramnya pacaran. Mereka yang gembar-gemborkan haramnya pacaran itu cuma tong kosong berbunyi nyaring. Itu pandangan ana. Wallahu a’lam.

  4. sebelum kita menentukan atau memutuskan halal haramnya kita harus lebih dahulu mengetahui makna pacaran atau setidaknya ciri-ciri pacaran. sehingga nanti kita tahu bahwa itu haram atau halal. selama ini saya masih belum menemukan definisi dari pacaran.

  5. @ kelik & hidayat

    Andai ada yang mau copy-paste artikel ini ke forum MyQ, kaezzar misalnya, silakan. Aku tak keberatan.

    @ muslimah
    πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚

    @ junior

    Pacaran merupakan istilah umum dalam bahasa Indonesia. Maknanya bisa kita ketahui dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu “bercintaan dengan kekasih-tetap“. Segala definisi pacaran yang tidak bertentangan dengan makna tersebut bisa kita terima. Misalnya: “bercinta sebelum khitbah” ala Abu Syuqqah.

  6. Sudah jadi kebiasaan para penentang pacaran islami itu, ngomong besar tanpa bukti. Benar-benar tong kosong berbunyi nyaring.

    Kata mereka, jumhur ulama haramkan pacaran. Tapi saat buktinya diminta, mereka diam seperti patung. Satu nama pun tak mampu mereka sodorkan.

  7. …. Sebenarnya tujuan Pacaran adalah untuk saling mengenal,dalam islam pergaulan antar laki-laki dan perempuan sudah ada aturannya. Berjalanlah seperti apa adanya,dan jika ingin serius menikah,maka Dalam Islam sudah ada aturannya ….

    Catatan Admin:
    Komentar abunuralif tersebut telah kami potong (yang ditandai dengan lambang “….”) karena tidak relevan dengan persoalan yang dikemukakan di artikel ini. Justru kami menanyakan fatwa ulama adalah supaya mengetahui aturan Islam. Kalau para ulama (terkemuka) saja tidak mengharamkan, layakkah kita mengharamkannya?

  8. kami berdua sedang pacaran,tapi pacarannya biasa-biasa aja.mlm minggu gak pernah keluar.cuma kalo lagi datang kangennya baru ketemu.selama pacaran kami nggak pernah pegangan tangan,ciuman,peluk-pelukan,jalan bareng.sesuai dgn diatas apa hukum pacaran kami,haram atau tidak.kami pengen tau aja…………………………………………………………………………………”syukron”, ”hatur nuhun”, ”thank’s you”, ”terima kasih”

    Jawaban pengelola:

    Pacaran yang tidak mendekati zina seperti itu halal (tidak haram). Silakan melakukannya secara islami. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/taman-cinta/

  9. Ping-balik: Diskusi: Haruskah kita sembunyikan Sunnah Nabi? « Bukan Zina

  10. kalau menurut ane, berpacaran itu adalah aktivitas bercinta sebelum menikah.
    Kalau saling mencintai mah kagak ada alarangannya, tapi kalau aktivitas bercintanya itu yang kebanyakan haramnya daripada halal …

    yah, kebanyakan bisa disebutkan 99,9% menuju haram -lah …

  11. Wah2, makin tinggi ilmu makin jauh dr pemahaman salaful ummah. Sampai2 menghalalkan yg telah jelas haram

  12. oh.. shodiq mustika itu mubaligh muhammadiyah..?
    gini aja diq, sekarang ente pikir dengan kepala dan nurani yang bener tanpa nafsu, timbangan segala sesuatu itu al quran dan sunnah, seperti yang engkau yakini, kan?
    cukup itu saja untuk menimbangnya.
    ulama-ulama salaf pasti tak ada satupun yang menulis “pacaran halal/haram” dsb. karena pacaran itu sendiri tidak dikenal oleh mereka. mereka mengenal ta’aruf, pernikahan, rumah tangga. pacara itu sendiri tidak diandaikan lagi, karena memang tidak ada dalam terminologi islam ehh,, ini dipaksa diada-adakan. katanya situ anti bid’ah..? ini nambah-nambahin aje..! pis!

  13. Mungkin banyak yang tidak setuju dengan judul artikel yang saya buat, tapi sebenarnya kita sebagai umat muslim tahu akan hukumnya bagi orang yang pacaran adalah HARAM. Jangankan pacaran,bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan muhrim saja hukumnya sudah HARAM. tapi mengapa kita sebagai umat muslim seolah-olah tidak tahu bahwa pacaran itu haram? berbagai alasan sering digunakan untuk menghalalkan hukumnya pacaran, dengan dalih supaya bisa mengenal satu sama lain, untuk mengenal sifat pasangan kita dan masih banyak lagi alasan-alasan lain yang digunakan untuk menghalalkan hukumnya pacaran. padahal kita tahu seberapa lamapun kita pacaran,kita tidak akan tahu sifat asli dari pasangan kita. pada waktu pacaran kita selalu berusaha menunjukan sifat baik kita dan selalu berusaha menutupi sifat jelek kita. tidak ada mamfaatnya dalam pacaran,justru sebaliknya banyak kemaksitan dalam pacaran, seperti hamil diluar nikah, aborsi anak, seks bebas yang bisa menimbulkan penyakit AIDS, dan masih banyak lagi kejelekan yang akan kita alami jika kita pacaran. hukum adalah hukum, hukum dibuat untuk dipatuhi bukan untuk dilanggar,Intinya adalah YANG HARAM TETAP HARAM, YANG HALAL TETAP HALAL. Ingatlah akan kehidupan akherat. kita hidup di dunia hanyalah sesaat, kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akherat yang kekal abadi. kita hidup di dunia untuk kehidupan di akherat. Tidak ada satu manusia di dunia ini yang ingin masuk neraka,kita semua ingin masuk surga. kalau kita ingin masuk surga maka kita harus berpegang teguh hanya kepada SUNAH ROSUL DAN ALQURAN. Karena siksa neraka dan nikmat surga adalah kekal abadi.MINTALAH PERTOLONGAN ALLOH agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tersesat, karena tampa pertolongan allah niscaya semua umat manusia akan tersesat. TIDAK ADA JAMINAN DENGAN PACARAN KITA BISA MEMAHAMI PASANGAN KITA.

Komentar ditutup.