Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (5)

Abul Faraj telah menceritakan bahwa pelayan wanita Butsainah melaporkan kepada ayah dan saudara laki-laki Butsainah, bahwa kekasih Butsainah, yaitu Jamil, sedang berduaan dengannya, maka keduanya datang seraya menyandang pedangnya masing-masing.

Ternyata keduanya melihat Jamil bersama dengan Butsainah dalam sebuah kamar [yang terbuka] hanya berduaan sedang mengobrol dan menumpahkan kerinduannya. Mereka berdua berdiri seraya mengawasi dan mendengarkan pembicaraan serta sepak terjang keduanya.

Jamil berkata kepadanya: “Wahai Butsanah, kekasihku nan tersayang, engkau tentu melihat sendiri betapa rindunya aku kepadamu. Maukah engkau menyembuhkanku?”

Butsainah bertanya: “Dengan apa aku harus menyembuhkanmu?”

Jamil menjawab: “Dengan melakukan apa yang biasa dilakukan oleh dua orang yang sedang jatuh cinta.”

BUtsainah menegur Jamil dan mengatakan: “Hai Jamil, apakah itu yang selama ini engkau inginkan? Demi Allah, selama engkau cinta kepadaku, jauh dari hal itu. Jika engkau coba-coba melakukan hal yang berdosa denganku, maka engkau tidak bakal lagi melihatku lagi buat selamanya.”

Setelah mendengar jawaban Butsainah, Jamil tertawa, lalu berkata: “Demi Allah, tidak sekali-kali kukatakan demikian kepadamu, melainkan untuk mengujimu. Seandainya aku melihat reaksimu menyetujui permintaanku, berarti engkau pun mau menerimanya dari selainku. … Tidakkah engkau dengar aku telah mengatakan:

Sungguh aku merasa puas dengan perlakuan Butsainah selama ini;

seandainya orang yang melaporkan perihalnya, tentulah akan kebingungan;

dengan tolakannya yang halus, harapannya yang tak dapat kuraih;

dia terus-menerus merayuku menimbulkan harapan, meskipun pada akhirnya tidak menjadi kenyataan. ….”

Setelah mendengar obrolan mereka berdua, sang ayah berkata kepada anak laki-lakinya: “Marilah kita pergi [menyarungkan pedang]. Sesudah hari ini tidak ada gunanya lagi bagi kita mencegah lelaki ini untuk bersua dengannya.”

===============

Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), sub-bab “Cinta yang suci tetap menjadi kebanggaan”, hlm. 663-665.

4 responses

  1. mas.. banyak juga contohnya, ampe 5. masih ada lagi ga’?
    tapi kaya’nya ga banyak pengaruh tuh buat sebagian orang, mungkin karna emang udah ga’ mau nerima pendapat orang lain kali

  2. Ping-balik: Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (6) « Pacaran Islami

Komentar ditutup.