Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (1)

‘Utsman bin Adh-Dhahhak Al-Hizami telah mengatakan bahwa ketika ia dalam perjalanan ibadah hajinya, ia singgah di Abwa. Tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang sedang duduk di depan pintu rumahnya. Kecantikannya begitu memikat hatinya, akhirnya ia menyitir bait syair karya Nushaib:

Jangan lupa singgah di tempat Zainab

sebelum kafilah melanjutkan perjalanannya;

dan katakanlah: “Jika engkau bosan kepada kami,

sesungguhnya hati ini tidak pernah bosan kepadamu.”

Lalu wanita itu bertanya: “Hai kamu, kenalkah nama penyair yang telah menggubahnya?”

Aku [‘Utsman] menjawab: “Ya, dia adalah Nushaib.”

Wanita itu bertanya lagi: “Kenalkah kamu siapa yang dimaksud dengan Zainab dalam syairnya itu?”

Aku menjawab: “Tidak!”

Wanita itu berkata: “Akulah Zainabnya.”

Aku berkata: “Semoga Allah memanjangkan usiamu.”

Dia berkata: “Sebenarnya hari inilah janjinya untuk datang kepada Amirul Mukminin. Tahun kemarin dia menghadap kepadanya dan menjanjikan kepadaku hari ini dia akan datang. Jika engkau tidak segera beranjak dari tempat ini, sebentar lagi barangkali engkau dapat melihatnya.”

Tidak lama kemudian benar apa yang dikatakannya, karena kulihat ada seorang pengendara tiba. Ia berkata: “Engkau lihat pengendara itu? Pastilah dia adalah Nushaib.”

Ternyata benar dia adalah Nushaib, lalu Nushaib turun dari untanya di dekat kemah wanita itu, kemudian menghadap seraya mengucapkan salam, lalu duduk di dekatnya. Keduanya saling bertanya dan wanita itu meminta kepada Nushaib untuk menceritakan pengalamannya dalam bentuk bait-bait syair, maka Nushaib mengabulkan permintaannya, lalu mendendangkan bait-bait syair untuknya.

Aku berkata kepada diriku sendiri: “Terlihat keduanya begitu mesra sebagaimana layaknya dua orang kekasih yang sudah sekian lama tak bersua karena berjauhan. Masing-masing dari keduanya pasti mempunyai keperluan dengan yang lainnya.”

Maka aku tidak membuang waktu lagi segera bangkit menuju ke tempat untaku ditambatkan untuk segera berangkat. Namun Nushaib berkata: “Tunggu sebentar, hai kawan, aku mau pergi bersamamu.”

Aku pun terpaksa menunggu sebentar sampai dia selesai dari keperluannya, lalu kami berjalan bersama, kemudian Nushaib menoleh kepadaku dan berkata: “Engkau pasti mengatakan kepada dirimu sendiri bahwa kami adalah dua orang kekasih yang lama tak bersua karena berjauhan, maka pasti masing-masing dari kami mempunyai keperluan dengan yang lainnya, bukankah begitu dugaanmu?”

Aku menjawab: “Benar, seperti itulah dugaanku.”

Nushaib berkata: “Demi Tuhan yang memiliki bangunan ini (Ka’bah), aku belum pernah duduk begitu dekat dengannya, kecuali hanya kali ini.”

===============

Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), sub-bab “Berbagai Hadits, atsar, dan riwayat yang menceritakan keutamaan memelihara kesucian diri”, hlm. 619-620.

5 responses

  1. @ hamba allah

    Perhatikanlah bagian bawah artikel tsb: “Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Juziyah, … sub-bab “Berbagai Hadits, atsar, dan riwayat yang menceritakan keutamaan memelihara kesucian diri”, hlm. 619-620.”

    Memang benar bahwa menurut Ibnu Qayyim, mabuk cinta adalah tipu daya setan. Karena itu, supaya tidak mabuk cinta, maka gaya “pacaran islami” ala Ibnu Qayyim itu sangat menekankan pemeliharaan kesucian diri. Perhatikanlah bahwa isi artikel tsb merupakan bagian dari sub-bab “Berbagai Hadits, atsar, dan riwayat yang menceritakan keutamaan memelihara kesucian diri”.

  2. @ bandel

    Dulu, di kisah tsb, istilah “pacaran” mungkin belum ada. Istilah ini ‘kan dari bahasa Indonesia, sedangkan persitiwanya di Arab tempo dulu.

    Pacaran merupakan aktivitas percintaan, khususnya di luar nikah.
    Letak pacarannya di kisah tsb, antara lain:

    1) Syair romantis Nushaib yang ditujukan kepada Zainab: “Jika engkau bosan kepada kami, sesungguhnya hati ini tidak pernah bosan kepadamu.”

    2) Saat itu, sebagaimana pengakuan Nushaib, ia “duduk begitu dekat dengannya”.

    3) ‘Utsman melaporkan: ““Terlihat keduanya begitu mesra ….”

    Kalau bagimu kisah tsb belum cukup jelas menggambarkan aktivitas pacaran, insya’Allah kau akan melihatnya dengan lebih jelas di contoh-contoh berikutnya. Artikel ini barulah contoh pertama.

  3. Ping-balik: Catatan Ibnu Qayyim mengenai contoh-contoh pacaran islami « Pacaran Islami

Komentar ditutup.