Haruskah wanita disertai muhrim ketika bepergian?

Update: 3 November 2007 

Untuk menangkis tuduhan bahwa M. Shodiq Mustika (dan Yusuf Qardhawi) menipu pembaca, berikut saya tampilkan teks hadits riwayat Bukhari yang dipermasalahkan:

باب علامات النبوة في الإسلام                             

  3400 – حدثني محمد بن الحكم: أخبرنا النضر: أخبرنا إسرائيل: أخبرنا سعد الطائي: أخبرنا محل بن خليفة، عن عدي بن حاتم قال:

بينا أنا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أتاه رجل فشكا إليه الفاقة، ثم أتاه آخر فشكا قطع السبيل، فقال: (يا عدي، هل رأيت الحيرة). قلت: لم أرها، وقد أنبئت عليها، قال: (فإن طالت بك الحياة، لترين الظعينة ترتحل من الحيرة، حتى تطوف بالكعبة لا تخاف أحدا إلا الله – قلت فيما بيني وبين نفسي: فأين دعار طيء الذين قد سعروا في البلاد – ولئن طالت بك حياة لتفتحن كنوز كسرى). قلت: كسرى بن هرمز؟ قال: (كسرى بن هرمز، ولئن طالت بك حياة، لترين الرجل يخرج ملء كفه من ذهب أو فضة، يطلب من يقبله فلا يجد أحدا يقبله منه، وليلقين الله أحدكم يوم يلقاه، وليس بينه وبينه ترجمان يترجم له، فيقولن: ألم أبعث إليك رسولا فيبلغك؟ فيقول: بلى، فيقول: ألم أعطك مالا وولدا وأفضل عليك؟ فيقول: بلى، فينظر عن يمينه فلا يرى إلا جهنم، وينظر عن يساره فلا يرى إلا جهنم). قال عدي: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (اتقوا النار ولو بشق تمرة، فمن لم يجد شق تمرة، فبكلمة طيبة). قال عدي: فرأيت الظعينة ترتحل من الحيرة حتى تطوف بالكعبة لا تخاف إلا الله، وكنت فيمن افتتح كنوز كسرى بن هرمز، ولئن طالت بكم الحياة، لترون ما قال أبو القاسم صلى
الله عليه وسلم: (يخرج ملء كفه).


حدثني عبد الله: حدثنا أبو عاصم: أخبرنا سعدان بن بشر: حدثنا أبو مجاهد: حدثنا محل بن خليفة: سمعت عديا: كنت عند النبي صلى الله عليه وسلم.
[1347]

=== Naskah Semula:

Ada banyak sebab yang mengharuskan wanita pada zaman sekarang untuk bepergian. Bisa lantaran pendidikan, pekerjaan, atau pun ibadah. Masalahnya, ada hadits shahih yang menunjukkan “terlarangnya” wanita bepergian jauh tanpa disertai muhrim. Jadi, haruskah wanita selalu disertai mahram setiap bepergian jauh? Marilah kita simak penjelasan Syaikh Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Bagaimana Memahami Hadis Nabi Saw., pasal “Memahami Hadis dengan Mempertimbangkan Latar Belakangnya, Situasi dan Kondisinya Ketika Diucapkan, serta Tujuannya”, hlm. 136-137:

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Abbas, secara marfu’:

Tidak dibolehkan seorang perempuan bepergian jauh kecuali ada seorang mahram bersamanya. (Lihat Al-Lu’Lu’ wa Al-Marjaan, hadis nomor 850 serta ketiga hadis sebelumnya.)

‘Illah (alasan) di balik larangan ini ialah kekhawatiran akan keselamatan perempuan apabila ia bepergian jauh tanpa disertai seorang suami atau mahram. Ini mengingat bahwa di masa itu, orang menggunakan kendaraan unta, baghal ataupun keledai dalam perjalanan mereka, seringkali mengarungi padang pasir yang luas atau daerah-daerah yang jauh dari hunian manusia. Dalam kondisi seperti itu, seorang perempuan yang bebpergian tanpa disertai suamii ataupun mahramnya, tentunya dikhawatirkan keselamatan dirinya, atau — paling sedikit — nama baiknya dapat tercemar.

Akan tetapi, jika kondisi seperti itu telah berubah, seperti di masa kita sekarang, ketika perjalanan jauh ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang yang mengangkut seratus orang penumpang atau lebih; atau kereta api yang mengangkut ratusan musafir, maka tidak ada lagi alasan untuk mengkhawatirkan keselamatan wanita yang bepergian sendiri. Karena itu, tidak ada salahnya, ditinjau dari segi syariat, jika ia melakukannya. Dan ini tidak dapat dianggap sebagai tindak pelanggaran terhadap hadis tersebut. Bahkan hal seperti itu, menguatkan kandungan hadis marfu’ yang dirawikan oleh Bukhari, dari ‘Adiy bin Hatim:

Akan datang masanya ketika seorang perempuan penungga unta pergi dari [kota] Hirah (menuju Ka’bah), tanpa seorang suami bersamanya. (Shahih Bukhari, Bab ‘Alaamaat An-Nubuwwah fi Al-Islaam)

Hadis ini … menunjukkan dibolehkannya seorang perempuan bepergian tanpa suami atau mahram dalam keadaan seperti itu. Begitulah yang disimpulkan oleh Ibn Hazm dari hadis tersebut.

Maka tidaklah mengherankan bahwa ada sebagian ulama yang membolehkan kaum wanita pergi untuk menunaikan ibadah haji, tanpa disertai suami atau mahram. Yaitu jika ia bersama sejumlah wanita lainnya yang dipercayai, atau dalam rombongan yang aman. Dan itulah yang telah dilakukan oleh Aisyah serta beberapa dari Ummahat Al-Mukminin (istri-istri Nabi saw.) di masa kekhalifahan Umar. Waktu itu, tak seorang pun mahram ada bersama mereka. Mereka pergi bersama Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf, seperti yang disebutkan dalam Shahih Bukhari.

Bahkan di antara para ulama ada yang menyatakan cukup satu orang perempuan tepercaya saja yang menyertainya.

Dan sebagiannya lagi berkata: “Dibolehkan baginya bepergian secara sendirian, apabila perjalanan itu cukup aman.” Pendapat seperti ini disahihkan oleh pengarang Al-Muhadz-dzab dari kalangan pengikut mazhab Syafi’i.

Ini sebetulnya berlaku bagi perjalanan untuk haji dan umrah. Namun sebagian kalangan Syafi’iyyah membolehkannya dalam semua perjalanan. (Lihat Fat-h Al-Baari 4/446 dan sesudahnya.)

50 responses

  1. Akan datang masanya ketika seorang perempuan penungga unta pergi dari [kota] Hirah (menuju Ka’bah), tanpa seorang suami bersamanya. (Shahih Bukhari, Bab ‘Alaamaat An-Nubuwwah fi Al-Islaam)

    -apakah sifat hadits ini sama dengan hadits “Sesungguhnya akan ada segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan zina, kain sutera, khamr, dan alat musik” ?

  2. Assalamualaikum wr wb

    Mungkin sebaiknya memang dijelaskan secara lengkap pak…untuk menghindari salah tafsir…

    Btw, saya sendiri sempet kepikiran ttg khalwat itu masalah fitnah
    Entah apa ada pengaruh zaman ataw apa
    Tapi yang jelas, zaman dulu, cw berdua ma co itu mungkin hal yg tabu kali ya…sampai2 Aisyah dituduh wanita pezina “cuma” gara2 ketinggalan rombongan n disusul ma co…dan setelah itu turunlah surat Quran (lupa surat n ayatnya)….Tolong CMIIW kalo ceritanya salah…

    Yang jadi pertanyaan saya, pertama, apakah kalo penyebab dari suatu larangan itu hilang, maka larangan itu bisa juga hilang…dalam kasus ini adanya kekhawatiran akan timbul fitnah tadi

    Yang kedua…sekarang kalo mau diliat2…fitnah itu kan sebenarnya dari pikiran kita sendiri…
    Lalu kalau ada kasus pengharaman khalwat disebabkan karena kekhawatiran adanya fitnah dari seseorang/segolongan yg melihat co-cw jalan berdua***…lalu bukankah malah seorang/golongan itu yg bersalah juga karena telah bersuudzan dengan mengira yg ngga2…
    Apalagi keadaan zaman sudah berbeda dibandingkan dulu…kira2 bagaimana pak…?

    ***(jalan disini dalam artian normal aja…ga gelondotan, nempel ataw rangkulan…karena itu memang mengundang fitnah…lagipula memang tidak dibolehkan)

    Wassalam

  3. sebenarnya dari dulu saya kurang mengerti arti dari “mengundang fitnah”. apakah fitnah dalam arti harfiah yaitu menuduh (yang tidak benar), atau lainnya?

  4. @ikhsan

    Yang kau maksud dengan ‘sifat’ itu apa?
    Dua hadits tsb sifatnya bisa sama, bisa pula berbeda.
    Keduanya sama-sama berisi ramalan Nabi.
    Hanya saja, ramalan pertama (mengenai perempuan bepergian) merupakan kabar gembira, sedangkan ramalan kedua (mengenai penghalalan zina dll.) merupakan kabar buruk.

    Yang dimaksud dengan ‘fitnah’ di buku Kebebasan Wanitaadalah dalam arti luas, yaitu ‘kerusakan’. Arti sempitnya, ‘tuduhan yang tidak benar’, sudah tercakup di situ.

    @kaezzar

    Oke. Silakan tunjukkan bagian mana saja yang tampak kurang jelas.

    Ya, kalo penyebab (‘illat) dari suatu larangan itu hilang, maka larangan itu juga hilang.

    Ya, orang yang bersangka-buruk itu berdosa. Bahkan, menuduh orang berzina tanpa empat orang saksi tergolong dosa besar, hampir sama besarnya dengan dosa berzina itu sendiri. –Saya sudah menerangkannya di http://uk.geocities.com/muhshodiq/1.html

    Adapun dugaanmu “zaman dulu, cw berdua ma co itu mungkin hal yg tabu kali ya…” kurang tepat. Yang tabu adalah “yang tidak terawasi (di dekat orang-orang)”. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/15/shahihnya-hadits-yang-membolehkan-berduaan/

  5. yang saya ingin tahu, dari mana dapat disimpulkan bahwa ramalan itu (mengenai perempuan bepergian) adalah berita gembira?

  6. @ikhsan
    “sebenarnya dari dulu saya kurang mengerti arti dari “mengundang fitnah”. apakah fitnah dalam arti harfiah yaitu menuduh (yang tidak benar), atau lainnya?”

    Fitnah bagiku adalah sesuatu yang merugikan, jika itu tidak merugikan bagiku itu bukanlah fitnah..
    contoh: saya jalan berduaan ditengah pasar sama cewek saya, trus saya dikira udah punya istri, padahal kita blum nikah, baru tahap tanazur, mungkin kiraan ini lebih bisa kita dekatkan pada ‘anggapan’ atau prasangka. bagi saya itu tidak merusak pada pribadi maupun orang lain. jika mereka udah mengatakan jikalau saya telah berzina dengannya, itu baru merugikan dan lebih tepat kita katakan dengan fitnah!.. ada salah? afwan aja deh… tolong dilurusin key…
    wallahu’alam

  7. >>>Akan datang masanya ketika seorang perempuan penungga unta pergi dari [kota] Hirah (menuju Ka’bah), tanpa seorang suami bersamanya. (Shahih Bukhari, Bab ‘Alaamaat An-Nubuwwah fi Al-Islaam)>>>

    Maksudnya yg hadits ini pak
    Apakah ini semacam sindiran (negatif) bahwa nanti akan datang zaman pelanggaran aturan dimana cw bisa pergi jauh pergi tanpa perlu suami menemani
    Ataw berupa keterangan aja…yg menerangkan bahwa nanti akan ada zaman dimana cw bisa pergi jauh tanpa suami

    Kurang lebih gitu pak…maaf kalo salah

    Wassalam

  8. pertanyaan saya juga sama dengan kaezzar. darimana bapak menyimpulkan bahwa itu adalah kabar baik dan bukan sindiran?

  9. Wah kasian juga ya cewe2…g boleh pergi kemana2 sendirian…
    Ke sekolah/kuliah harus ditemenin, belanja harus ditemenin, ke salon harus ditemenin, ke pengajian harus ditemenin, ke warung harus ditemenin, ke luar negeri harus ditemenin…
    Lebih susah lagi suaminya (kalo ud punya loh)…jadi g bisa kerja koz harus nemenin istrinya ke mana2…iya si kalo ada sodara non muhrim…kalo g ada gimana ya…hmmm…

    Wassalam

  10. @ Az-Zaitun

    Pengertianmu mengenai fitnah itu tidak keliru. Hanya saja, makna fitnah dalam bahasa Arab lebih luas daripada itu.

    @ kaezzar & ikhsan

    >>>Akan datang masanya ketika seorang perempuan penunggang unta pergi dari [kota] Hirah (menuju Ka’bah), tanpa seorang suami bersamanya. (Shahih Bukhari, Bab ‘Alaamaat An-Nubuwwah fi Al-Islaam)>>>

    Kabar baik dari hadits itu adalah bahwa si wanita tidak lagi menghawatirkan keselamatannya dari ancaman penjahat. Kami menyimpulkan bahwa itu adalah kabar baik dan bukan sindiran, dari pengamatan terhadap asbabul wurud (latar belakang)-nya, sebagaimana sudah disebutkan dalam versi lengkapnya:

    Dari Adi bin Hatim r.a., dia berkata: “Ketika aku berada di samping Nabi saw., tiba-tiba datang kepada beliau seorang laki-laki mengadukan kemiskinannya. Kemudian datang pula seorang laki-laki lain yang mengadukan kasus penyamunan. Lalu beliau berkata: ‘Hai, Adi, pernahkah kamu melihat Hirah?’ Aku jawab: ‘Belum, tapi aku pernah diberitahu mengenai kota itu.’ Selanjutnya Nabi saw. berkata: ‘Jika umurmu panjang, pastilah kamu akan melihat seorang wanita di dalam sekedup berangkat dari Hirah hingga thawaf di Ka’bah, dia tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah.’ Aku bertanya pada diriku sendiri: ‘Lalu ke mana perginya para penyamun Thayyi yang suka mengacau negeri tersebut?’ …” Adi berkata: “Terbukti akhirnya aku melihat wanita dalam sekedup berangkat dari Hirah hingga dia berthawaf di Ka’bah, dia tidak takut selain kepada Allah.” (Shahih Bukhari, Bab ‘Alaamaat An-Nubuwwah fi Al-Islaam, jilid 4)

    @ antosalafy

    Masukan antum berharga. Namun, kami berpandangan bahwa tulisan Al-Ustadz Abdurrahman itu TIDAK membungkam suara Syaikh Yusuf Qardhawi, Ibn Hazm, dll. yang telah berijtihad secara sah tentang hukum safar bagi wanita. Lihat artikel “Mengapa Ulama Berlainan-Pendapat Walau Sama-sama Berpijak pada Al-Quran

    @ Maryam

    Terima kasih.🙂

  11. Sebenarnya alasan apa sih yang melatarbelakangi sehingga ada pelarangan agar wanita tidak boleh ke luar rumah tanpa di temani ?

    Yang melarangnya, silakan menjawab pertanyaan ini.

  12. Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Setelah kami cek dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhori (14 jilid Cet.Maktabah As-Salafiyyah) kami tidak menemukan BAB yang Anda sebutkan.
    Jika Anda tidak berkeberatan tolong tuliskan teks bahasa arab hadits tersebut, dan kitab apa dalam Shahih Bukhorinya. Jazakumullah khoiron katsiro.
    Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

  13. bolehnya berkhalwat bila terawasi bukanlah topik postingan ini

    Adapun hadits yang membolehkan wanita bepergian tanpa disertai muhrim:

    Volume 4, Book 56, Number 793:

    Narrated ‘Adi bin Hatim:

    While I was in the city of the Prophet, a man came and complained to him (the Prophet, ) of destitution and poverty. Then another man came and complained of robbery (by highwaymen). The Prophet said, “Adi! Have you been to Al-Hira?” I said, “I haven’t been to it, but I was informed about it.” He said, “If you should live for a long time, you will certainly see that a lady in a Howdah traveling from Al-Hira will (safely reach Mecca and) perform the Tawaf of the Ka’ba, fearing none but Allah.” I said to myself, “What will happen to the robbers of the tribe of Tai who have spread evil through out the country?” The Prophet further said. “If you should live long, the treasures of Khosrau will be opened (and taken as spoils).” I asked, “You mean Khosrau, son of Hurmuz?” He said, “Khosrau, son of Hurmuz; and if you should live long, you will see that one will carry a handful of gold or silver and go out looking for a person to accept it from him, but will find none to accept it from him. And any of you, when meeting Allah, will meet Him without needing an interpreter between him and Allah to interpret for him, and Allah will say to him: ‘Didn’t I send a messenger to teach you?’ He will say: ‘Yes.’ Allah will say: ‘Didn’t I give you wealth and do you favors?’ He will say: ‘Yes.’ Then he will look to his right and see nothing but Hell, and look to his left and see nothing but Hell.”

    ‘Adi further said: I heard the Prophet saying, “Save yourself from the (Hell) Fire even with half a date (to be given in charity) and if you do not find a half date, then with a good pleasant word.” ‘Adi added: (later on) I saw a lady in a Howdah traveling from Al-Hira till she performed the Tawaf of the Ka’ba, fearing none but Allah. And I was one of those who opened (conquered) the treasures of Khosrau, son of Hurmuz. If you should live long, you will see what the Prophet Abu-l-Qasim had said: ‘A person will come out with a handful. of gold…etc.

    Volume 4, Book 56, Number 794:

    Narrated ‘Adi:

    as above (i.e. Hadith No. 793).

  14. Wah, repot kalo sumbernya bahasa Inggris begini. Tragisnya, berani membantah gitu lho. Memang kita perlu dan harus hati-hati jika menemui artikel-artikel yang berbeda dengan ahlis sunnah. Allahul musta’an.

  15. @ antosalafy

    Kami menyarankan, sebaiknya Anda melakukan pembacaan yang lebih cermat supaya tidak menuduh yang bukan-bukan.
    Sumber bahasa Inggris itu bukan untuk membantah siapa pun, melainkan menjawab pertanyaan si hamba Allah yang minta ditunjukkan hadits di link tsb. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/10/11/haruskah-wanita-disertai-muhrim-ketika-bepergian/#comment-1190

    @ Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan

    Kami belum mengerti mengapa Anda belum menjumpai hadits yang kami maksudkan itu. Mungkin Anda kurang cermat dalam melakukan penyelidikan. Sebab, Syekh Yusuf Qardhawi, Abu Syuqqah, dan kami sendiri (termasuk pula si hamba allah) bisa menemukan hadits tsb di kitab Shahih Bukhari.)

    Baru saja kami lihat pembahasan artikel yang Anda tunjukkan link-nya di situ.

    Kami melihat Anda salah paham. Penomoran hadits di rujukan Anda yang Anda sebut di situ sebetulnya berbeda dengan penomoran yang kami kemukakan.

    Anda mengatakan, “Kitab ke-56 … di mulai dengan kepala di atas 2500, jadi tidak mungkin ada hadits dengan nomer yang disebutkan oleh saudara M.Shodiq Mustika.” Padahal, M. Mukhsin Khan (bukan M.Shodiq Mustika) memulai nomor hadits pada setiap Volume di link tersebut dari nomor 1. Jumlah hadits di Volume 4 itu hanya 841. Jadi, mustahil ada hadits yang nomornya di atas 2500 di situ.

    Karena itu, KAMI MEMINTA ANDA MERALAT ARTIKEL ANDA ITU supaya malaikat ‘Atid tidak mencatat perbuatan Anda itu sebagai FITNAH.

  16. Kami telah kemukakan di atas bahwa sumber rujukan kami adalah Fathul Bari Syarh Shahih Bukhori, penomeran dalam kitab tersebut sesuai dengan kitab Shahih Bukhori. Sekali lagi kami meminta, jika Anda tidak berkeberatan tolong sertakan teks dari hadits tersebut. InsyaAllah dengan adanya teks naskah arabnya kami akan dengan mudah menumukan hadits yang dimaksud.Barakallah fiikum.

  17. antosalafy:::
    jadi kalo make bahasa arab, bukan english, sudah pasti maha-benar?
    repot? buat yang bisa english nggak repot, kok. sama halnya seperti bahasa jawa itu tidak merepotkan buat orang2 yang bisa bhs jawa😉

  18. @ hamba Allah (dan yang lainnya juga)

    Karena kau pernah minta tolong padaku, aku jadi nggak sungkan gantian minta tolong padamu.

    Kau sudah temukan hadits Bukhari dari ‘Adi bin Hatim itu, ‘kan? Tolong tunjukkan teks Arabnya kepada saudara kita, akh Abdurrahman Sarijan! Dia masih kesulitan nyari tuh….

  19. ya udah, kalo emang kesulitan nyari…
    aku tampilin aja teks Arabnya di bagian atas artikel ini.

    semoga saudara kita, Abdurrahman Sarijan (Abu Muhammad), menyadari kekeliruannya.
    aamiiin.

  20. iya, ya….
    kenapa om abdurrahman yg menurut antosalafy tergolong ustadz itu menghilang?
    kenapa dia pergi begitu saja setelah menyebarkan fitnah?
    mana tanggung jawabnya?

  21. buat yang punya blog🙂

    assalammu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    mas…terus terang saya salut dengan…ummmm……”keberanian” -kata ini pas ga ya- anda untuk menghukumi sesuatu berdasar hadist dengan bahasa inggris. karena setau saya, selama 10 tahun berkecimpung di dunia maya, banyak hadist terjemahan berbahasa inggris diselewengkan oleh kafir harby sehingga saya takut untuk memakainya sebagai hujjah. ini sebagai kehati-hatian saja, tidak lebih.

    saya juga tidak menuduh anda macam-macam, sama sekali tidak. hanya saja alangkah baiknya kalo anda tidak memakai barang-barang di dunia maya sebagai hujjah. di dunia maya, seseorang bisa menjadi siapapun -saya sendiri pernah menyamar sebagai orang kristen untuk masuk kedalam komunitas kristen karena ingin tau gimana sih pandangan kristen itu-

    akan sangat baik bila anda memakai rujukan kitab-kitab di dunia nyata, fisik..karena hal tersebut jauh lebih dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. saya pribadi tidak percaya hal yang saya temui di dunia maya sebelum saya bertemu muka dengannya. jangankan non muslim, sesama aktivis dakwahpun saya ndak percaya karena ya nitu tadi..kita bisa jadi siapapun yang kita mau di dunia maya.

    mas, mohon maaf kalau komentar saya tidak berkenan di hati anda. sungguh, saya hanyalah orang awwam yang pengetahuan agamanya jauh dibawah anda.

    wassalam

  22. buat wanita yang menjunjung kebebasan, emang pastinya lebih milih tuk berpergian sendirian.

    trus…

    gimana dengan wanita yang berusaha menjaga dirinya dari berbagai bahaya dunia ? (misalnya pencopet, pemerkosaan, bahkan trafficking)

    Ga usahlah pake dalil2, pastinya si wanita kedua lebih milih tuk ga berpergian seorangan jua.

    Lalu, apa salahnya wanita muslimah lebih memilih tuk berpergian (safar) bersama mahramnya? Itu lebih baik kan….

  23. @ rini

    Ga usahlah pake dalil2…

    Tanpa dalil, bagaimana manusia bisa menghindar dari kesesatan?

    Lalu, apa salahnya wanita muslimah lebih memilih tuk berpergian (safar) bersama mahramnya?

    Tidak salah. Idealnya memang begitu. Kami tak pernah melarangnya.

  24. Dalam hali ini saya lebih spendapat dengan pendapat Yusuf Qardhawi dan Ibnu Hazm
    syukron tulisannya
    sabar saja menghadapi mereka yang mengaku salafi😀
    *padahal saya yang nggak sabaran*

  25. menurut saya, biar semua puas, kalo ada yg punya, ditampilin aja tuh hasil scan hadistnya yg dari buku , bukan dari internet.

    kalo masalah wanita yang berpergian sendirian, trus misalnya yang pada kuliah di luar daerah gimana ya? (pertanyaan serius nih… jwb ya, terutama buat yg gak setuju)

  26. Haruskah wanita disertai muhrim ketika bepergian?

    @ secondprince

    Syukron juga. Aku pun nggak keberatan disebut “salafi” lho! Lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/05/14/identitas-diri-muslim-liberal-ataukah-salafi/

    @ bingung

    Menurut standar ilmiah, penyebutan bab dan nomor hadits itu sudah memadai. Namun kalau ada di antara pembaca yang mau tampilin scan dari buku cetak, baguslah. Boleh pula nampilin scan dari 5 atau 7 buku sekaligus, dari penerbit yang berlainan. Siapa tahu masih ada pembaca yang belum merasa mantap bila hanya dari satu buku.

  27. Kalau diskusi isinya menyimpang-nyimpang, mengalihkan persoalan, hasilnya jelas: DEBAT KUSIR.

    Sudahlah. Mereka bebas memilih “logika” iblis seperti yg diterangkan di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/10/31/logika-iblis-yang-menyesatkan-orang-yang-taat-beragama/

    Sudahlah. Mereka bebas menolak akal-sehat Adam a.s. yang diterangkan Ibnu Qayyim sbgmn dikutip di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/07/pilih-agama-budi-pekerti-ataukah-akal/

    Pokoknya kita sudah mengingatkan.

  28. Ping-balik: Pesan Terakhir untuk Sang ‘Ahli Agama’ « M. Shodiq Mustika

  29. 4. M Shodiq Mustika – 12 Oktober 2007

    @ikhsan

    Yang kau maksud dengan ’sifat’ itu apa?
    Dua hadits tsb sifatnya bisa sama, bisa pula berbeda.
    Keduanya sama-sama berisi ramalan Nabi.
    Hanya saja, ramalan pertama (mengenai perempuan bepergian) merupakan kabar gembira, sedangkan ramalan kedua (mengenai penghalalan zina dll.) merupakan kabar buruk.

    Saya berkata: Subhanallah. Anda berani sekali menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai tukang ramal. Yang namanya ramalah itu bisa benar bisa salah. Apakah anda menyamakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan dukun, paranormal, dan ahli nujum –yg mereka ini adalah sejatinya para pendusta. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Sadarlah Pak Shodiq, takutlah kepada Allah.

    Ketahuilah bahwa apa yang disampaikan dan dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah wahyu dan itu adalah benar dan pasti terjadi. Wamaa yanthiqu ‘anil hawaa, inhuwa illa wahyunyuwuha…”(QS An-Najm: 3-4). Allahu yahdikum

  30. mari berprasangka baik. mungkin pak shodiq hanya salah dalam pemilihan kata, tetapi sebenarnya dia bermaksud untuk menyampaikan bahwa memang perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah wahyu yang pasti akan terjadi.

  31. @ ikhsan

    Ya, mungkin aku kurang jitu dalam memilih kata sehingga disalahpahami pembaca. Bagaimanapun, aku memandang bahwa ramalan Rasul berbeda dengan ramalan paranormal. Kau punya saran apa untuk mengganti istilah “ramalan Nabi”?

    Yang pasti, antosalafy itu jelas2 “salah paham”, yang dalam terminologi logika disebut sesat-pikir alias fallacy. (Fallacy ini tak jarang kulihat pada tulisan para penentang islamisasi pacaran.)

    Kalau kita mengatakan bahwa Nabi “meramal”, itu bukan berarti kita menyatakan bahwa beliau “tukang ramal”. Silakan bandingkan dengan pernyataan lain. Untuk contoh, mari kita lihat kembali hadits riwayat Ahmad seperti yang kusebut di
    http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/23/sentuhan-sebagai-ekspresi-cinta-menurut-sunnah-nabi/#comment-1096

    Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad tsb mengabarkan bagaimana Nabi saw. “memukul” tangan seorang wanita non-muhrim. Apakah dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa Imam Ahmad itu menuduh Rasulullah saw. sebagai “tukang pukul”? Tentu tidak!

    Jelas?

  32. mr. shodiq ini sudah salah masih juga berkelit. Jika mr. ini ikhlas menginginkan kebaikan, tentu segera mengakui kesalahan dan meralat kata2nya. Bukannya malah berkelit dan mengatakan bahwa ramalan rasulullah berbeda dengan ramalan paranormal. cari di KBBI tentang arti “ramalam”, jangan asbun (asal bunyi). Yang jelas kata meramal itu tidak tepat. Gantilah dengan memberitakan atau mengabarkan. Jelas sekali bahwa makna meramal itu adalah tebak-tebakan, bisa salah dan bisa benar. Apakah mr. masih mau berkelit lagi?

    Tanggapan Admin:

    Pak Shodiq sudah menulis:

    Ya, mungkin aku kurang jitu dalam memilih kata sehingga disalahpahami pembaca. Bagaimanapun, aku memandang bahwa ramalan Rasul berbeda dengan ramalan paranormal. Kau punya saran apa untuk mengganti istilah “ramalan Nabi”?

  33. Makna “meramal” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Kedua, hlm. 813:

    1 melihat nasib orang;
    2 menduga; menelaah;
    [contoh]: dari peristiwa penting, orang bijaksana dapat meramal malapetaka yang bakal datang

    Di situ terlihat jelas, kata “meramal” mengandung makna positif yang terdapat pada “orang bijaksana”. Oleh karena itu, penggunaan kata “meramal” oleh ustad Sodiq di atas sudah tepat, tak perlu diganti.

    Jadi, antosalafy & si “belajar berkata jujur” telah melontarkan tuduhan yang mengada-ada mengenai kata-kata pak ustad itu. Oleh karena itu, keduanya haruslah meminta maaf kepada Ustad Sodiq. (Itu kalau mereka memang salaf sejati dan betul-betul jujur.)

  34. Ping-balik: Siapa itu Antosalafy? « Mereka Bicara Salafy n Wahabi

  35. setelah baca bantahannya ustadz abdurahman insyaAllah yg lbh benar..sdh jelas hadist yg diutarakan oleh beliau dan fatwa Syaikh Fauzan ttg tidak bolehnya wanita berpergian seoran diri tanpa disertai mahram.

    carilah kebenaran bukan pembenaran.

Komentar ditutup.