Akhirnya Dia Mengakui Bahwa Pacaran (Mungkin) Tidak Haram

Alhamdulillah, akhirnya akhi Nur Sandhi (sang blogger “misterius”) mengakui bahwa pacaran mungkin tidak haram, tetapi bisa “makruh” atau pun syubhat. (Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/27/pertanyaan-untuk-sang-blogger-misterius/#comment-973) Pengakuan ini sudah mencukupi bagi kami untuk mengakhiri polemik antara kami dan dia dalam beberapa pekan ini.

Adapun kaidah “apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram” yang dia pakai untuk mengharamkan pacaran islami tidak bisa kita terima. Sebab, kaidah tersebut pemberlakuannya tidak mutlak sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Syuqqah. Lihat tanggapan kami terhadap pernyataan Abu Nadia di http://pacaranislami.wordpress.com/kritik/#comment-336. Di situ sudah kami terangkan:

Kaidah tersebut telah dibahas oleh Abu Syuqqah. Lihat bukunya, Kebebasan Wanita, Jilid 3. Yang berlaku adalah apabila jalan tersebut pasti menuju perbuatan yang haram. Jika tidak pasti, maka hukumnya tidak haram. Karena pacaran itu tidak pasti berzina, maka pacaran itu tidak pasti haram.

Sedangkan pertanyaan “jika mereka yang tidak berpacaran saja, atau mereka yang berusaha menjaga diri mereka dari zina2(kecil) tadi, sangat mungkin untuk terkena(zina2 kecil tadi), bagaimana keadaannya pada mereka yang jelas2 berpacaran??” menunjukkan bahwa akhi Nur Sandhi belum mengenal metode ijitihad Abu Syuqqah. Padahal, sudah kami kemukakan pertanyaan (soal nomor 5) kepadanya, “Menurut buku Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, mana yang lebih diutamakan: memberi kemudahan bagi pria-wanita non-muhrim untuk bertatap-muka dalam batas-batas tertentu ataukah mencegah terjadinya “zina mata”, “zina tangan”, “zina hati”, dsb dalam tatap-muka pria-wanita non-muhrim?”

Berbeda dengan beberapa ulama lain, Abu Syuqqah cenderung memberi kemudahan bagi pria-wanita non-muhrim untuk bertatap-muka dalam batas-batas tertentu daripada mencegah terjadinya “zina mata”, “zina tangan”, “zina hati”, dsb dalam tatap-muka pria-wanita non-muhrim. Jadi, seandainya akhi Nur Sandhi memahami metode dan hasil ijtihad Abu Syuqqah ini, mestinya dia tidak lagi mempersoalkan “zina kecil” yang berkemungkinan terjadi dalam tatap-muka pria-wanita non-muhrim.

4 responses

  1. Ya kalau ditimbang dengan ilmu mantiq, tersirat jelas bahwa Nur Sandhi telah mengakui tidak haramnya pacaran. (Dia telah mengakui kualitas keulamaan Abu Syuqqah.) Tapi ‘kan dia belum belajar ilmu mantiq. Mungkin dia masih akan berkelit. Eh… biar ajalah. Jangan dilayani bila dia masih berkelit lagi.

  2. Sebenarnya kan yang haram itu tindakannya ya? Bukan istilah pacarannya. Jadi ketika pacaran dengan jalan yang halal ya tentu halal, tapi ketika pacaran dengan jalan yang haram ya tentu haram.😀

  3. Alhamdulillah .. mudah2an ini bukan soal kalah menang ya Pak Shodiq, tapi pembelajaran untuk lebih memahami suatu masalah lebih jernih dan arif. Apapun, kebenaran itu datangnya dari Allah .. saya cenderung sependapat dengan mas Danalinga. Semoga diskusi ini tidak berhenti sampai disini.

  4. @observer
    Ya, tentu ada skala prioritas. Mana yang kita pandang lebih penting, itulah yang kita dahulukan.

    @danalingga
    Benar, memang begitu.

    @erander
    Betul, Pak. Sepintar apa pun manusia, dia mesti terus belajar.

Komentar ditutup.