Pertanyaan untuk Sang Blogger Misterius

Sembilan pertanyaan berikut ini kami tujukan terutama untuk akh Nur Sandhi (sang blogger misterius), namun para pembaca lain boleh turut menjawab.

1) Apakah ilmu mantiq (logika) tidak dibutuhkan untuk memahami teks (termasuk dalil-dalil)? Mengapa?

2) Apakah “zina mata”, “zina tangan”, “zina hati”, dsb tergolong dosa besar ataukah dosa kecil?

3) Apakah mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya tergolong dosa besar ataukah dosa kecil?

4) Di antara kedua macam dosa tersebut, mana yang dosanya lebih besar?

5) Menurut buku Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, mana yang lebih diutamakan: memberi kemudahan bagi pria-wanita non-muhrim untuk bertatap-muka dalam batas-batas tertentu ataukah mencegah terjadinya “zina mata”, “zina tangan”, “zina hati”, dsb dalam tatap-muka pria-wanita non-muhrim?

6) Bagaimanakah metode ijtihad Abu Syuqqah?

7) Haramkah “pacaran” dalam arti “saling mengekspresikan cinta sebelum peminangan” yang aktivitas utamanya “saling menaruh perhatian”?

8) Menurut ushul fiqih, kriteria apa sajakah yang menyebabkan suatu aktivitas bisa dihukumi haram secara mutlak?

9) Mustahilkan kita melakukan islamisasi terhadap budaya pacaran? Mengapa?

Untuk menjawab sembilan pertanyaan tersebut, silakan buka buku yang relevan atau pun bertanya kepada ahlinya. Kalau akh Nur Sandhi bisa menyempatkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami sangat berterima kasih. (Maaf, kami sendiri tidak bisa menjanjikan jawaban atas pertanyaan akh Nur Sandhi, terutama selama akh Nur Sandhi masih sering sesat-pikir.)

14 responses

  1. Soalnya sulit-sulit, terutama bagi orang awam seperti saya. Ragulah saya apakah sang blogger “misterius” itu mampu menjawab, terutama yang nomor 5 dan 6. Sebab, dia hanya baca yg jilid 5, itu pun sering sesat-pikir.

  2. 2) Apakah “zina mata”, “zina tangan”, ”zina hati”, dsb tergolong dosa besar ataukah dosa kecil?

    *walaupun itu memang dosa kecil, tetapi tetap saja wajib dihindari. bukan begitu pak?

  3. @observer
    Sang blogger “misterius” itu bersemangat besar dalam berdakwah. Mudah2an besarnya semangatnya ini menular pula pada besarnya semangat menimba ilmu selengkap-lengkapnya, bukan sepotong2.

    @adit
    Benar. Itu sebabnya, kami kemukakan Jurus-Jurus Penangkal Zina. Lihat http://gaulgayarasul.wordpress.com/2006/12/30/5-jurus-jurus-penangkal-zina/

    Sungguhpun demikian, itu hanya pertanyaan pendahuluan. Pertanyaan intinya: kalau kita berusaha keras menghindari “dosa kecil”, seberapa keraskah usaha kita untuk menghindari “dosa besar” (antara lain: “mengharamkan yang halal”)?

    Mengapa sang blogger “misterius” itu menghabiskan waktu untuk mencegah dosa kecil itu? Padahal, tampaknya dia belum mengenal ushul fiqih, khususnya mengenai kriteria pengharaman, sehingga dia terjerumus dalam “dosa besar” berupa pengharaman sesuatu yang tidak haram. (Lihat soal nomor 8.)

  4. Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Saya minta maaf jika tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan. Pertanyaannya memang ‘sulit’..ya mungkin saya memang ‘sesat-pikir’ seperti yang bapak katakan🙂.

    Bagaimana jika jawabannya dimulai dari Bapak terlebih dahulu, beserta dalil tentunya, biar kita semua tahu..’oh..ternyata untuk sampai pada kesimpulan seperti itu, dalilnya 1, 2, 3 dst’. Karena terus terang saya masih melihat pertentangan dari pertanyaan2 yang diajukan.

    Sedikit tentang perkara dosa, sebenarnya bukan pada persoalan ini dosa besar dan itu dosa kecil, tetapi lihatlah kepada apa yang kita durhakai, yakni Allah SWT.

    Jazakallah,
    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

  5. Kami mengingatkan kita semua akan pembedaan dosa besar-kecil dalam rangka mempersoalkan: kalau kita berusaha keras menghindari “dosa kecil”, seberapa keraskah usaha kita untuk menghindari “dosa besar” (antara lain: “mengharamkan yang halal”)?

    Jawaban soal nomor 2: dosa kecil.
    Ibnu Abbas r.a.. menyatakan, “Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat [dengan syahwat], zinanya lidah adalah mengucapkan [dengan syahwat], zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat] …’.” (HR Bukhari & Muslim)

    Jawaban atas soal2 nomor lain membutuhkan keterangan panjang-lebar. Silakan siapa pun, terutama yang telah membaca buku Abu Syuqqah itu, untuk menyampaikan penjelasan.

  6. di sana ada tambahan di dalam kurung, “dengan syahwat”. apa itu memang dari sananya, atau tafsiran bapak saja?

  7. Setelah membaca banyak situs bapak dan yang berafiliasi kepada pacaran islami ala bapak, saya menyimpulkan setidaknya

    kalaupun tidak tergolong haram (mutlaq), maka pacaran dalam terminologi bapak beserta dalilnya adalah makruh tahrimi,

    perkara makruh yang lebih dekat kepada yang haram (tidak seperti dugaan bapak bahwa ia adalah makruh tanzihi), maka dari itu

    ianya harus diijauhi. Katakanlah ianya bukan makruh tahrimi, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran ala bapak adalah perkara

    syubhat, yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululah SAW, para sahabat/iyah generasi pertama, para tabi’in, tabi’it tabi’in,

    ulama salaf dan khalaf yang hanif, serta tidak berdasarkan dalil2 yang tepat dan pada tempatnya, maka hal ini pun harus kita

    jauhi.

    Karena ada kaidah fiqh yang berbunyi : “Apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram.” Nah..

    Siapakah kita yang bisa menjamin pandangan kita terhadap wanita yang kita cintai/sukai(non muhrim tentunya) terbebas dari

    zina(syahwat birahi)??. Siapakah kita yang bisa menjamin perkataan kita terhadap wanita yang kita cintai terbebas dari zina (zina

    tangan..ingin menyentuh)?? Siapakah kita yang bisa menjamin hati kita terbebas dari khayalan2 yang asyik masyuk terhadap

    wanita yang kita cintai (zina hati..berkhayal)..lantas jika mereka yang tidak berpacaran saja, atau mereka yang berusaha menjaga

    diri mereka dari zina2(kecil) tadi, sangat mungkin untuk terkena(zina2 kecil tadi), bagaimana keadaannya pada mereka yang jelas2 berpacaran??

    Satu “term” tentang pacaran yang halal dan saya terima adalah “Pacaran setelah menikah “. Selain itu, coba tunjukkan dalil2

    bapak, dan kita kembalikan kepada Al Quran, Sunnah, dan perkataan Ulama2 yang hanif(dalam hal ini perkataan Ustadz Abu

    Syuqqah), sebagai ‘pembenaran’ yang sama2 kita setujui rujukan dalilnya yakni Kebebasan Wanita.
    wallahu’alam.

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

  8. @Ikhsan

    Bukankah pengertian dari tafsir hadits zinanya mata adalah memandang, zinanya telinga adalah mendengar…dst…adalah yg disertai dgn syahwat. Coba anda simak di bagian akhir dari hadits itu

    Dan kemaluan yg membenarkan atau menggagalkannya

    Silahkan ditafsir kalimat di atas…apa maksud dari kalimat di atas…:)
    Bukankah karena itu Rasul dan sahabat juga tetap bisa memandang lawan jenis ketika berinteraksi di masyarakat (misalnya ketika berbicara)…

    Semoga bisa membantu

    Wassalam

  9. tapi bagaimana dengan hadits yang menyebutkan bahwa memandang wanita jangan diikuti pandangan kedua? atau kurang lebih seperti itu, saya agak lupa. maafkan.

  10. Yg perlu kita cermati bersama di sini adalah
    Apa maksud dari pandangan kedua tersebut…:)
    Mungkin Ikhsan tau asbabul wurud dari hadits tersebut…kenapa hadits itu bisa terlahir…peristiwa apa yg meletarbelakanginya…
    Dari situ siapa tau ada petunjuk yg bisa diambil
    Gimana?🙂

    Wassalam

  11. kaezzar: “Mungkin Ikhsan tau asbabul wurud dari hadits tersebut…kenapa hadits itu bisa terlahir…peristiwa apa yg meletarbelakanginya…”

    -ga tau🙂

  12. Ping-balik: Akhirnya Dia Mengakui Bahwa Pacaran (Mungkin) Tidak Haram « Pacaran Islami

  13. Ping-balik: Tinjauan 12 Alasan Mengapa Bercinta.. « Pacaranislamikenapa’s Weblog

Komentar ditutup.