Belajar Menghindari Kekeliruan

Beginilah dunia pakar ilmu (agama). Dua pakar pertama “menyerang pribadi” seorang lelaki. Dua pakar berikutnya bicara logika (ilmu mantiq). ita menjadi penonton saja, sekalian belajar menghindari kekeliruan atau “sesat pikir” (fallacy). Inilah kata-kata mereka:

1) Sang blogger misterius berkata:

… ketika pendapat yang disampaikan oleh mereka yang tidak menyetujui pacaran islami itu membongkar penyelewengan dalil yang digunakan oleh sang penggagas [islamisasi pacaran], maka dapat dipastikan username pengkritik akan dibanned, dan selamanya kritik ataupun komentar dari orang tersebut tidak akan ditampilkan.

Ini bisa kita maklumi karena sang penggagas juga adalah seorang penulis buku, beliau tentu ingin bukunya laku, dan untuk itu beliau membutuhkan citra yang baik. …

2) Kang Tutur menimpali:

Lalu tuan Mustika pun kecewa terhadap “blog kontra” itu dengan alasan peblognya anonim. (Lucu juga ya?) Dan sayapun tergoda untuk melakukan “penyerangan terbuka”, namun komentar saya “disunat” oleh penjual buku itu. …

3) H. Mundiri (dosen IAIN Walisongo Semarang) telah memberi kuliah tertulis:

Jenis Sesat Pikir No. 14: “Menyerang Pribadi” 

Kekeliruan ini terjadi karena melawani suatu argumen atau pendapat bukan dengan argumen pula, tetapi dengan menyerang pribadi orangnya seperti “Filsafat Bacon itu tidak bernilai karena ia dipecat oleh Dewan Pimpinan Universitas…”

Dalam kehidupan sehari-hari kekeliruan ini sering benar dilakukan dalam kampanye politik. Orang tidak membalas program-program politik lawannya dengan program politik pula, tetapi mencaci maki tokoh politik itu. (H. Mundiri, 60 Jenis Sesat Pikir (Semarang: Aneka Ilmu, 1999), hlm. 13-14.)

4) Kopral Geddoe menambahkan:

… bagaimana kalau ajaran tentang teori fallacy itu dimasukkan ke kurikulum? Iya … Supaya kebahlulan bangsa berkurang. Supaya etika diskusi bangsa sedikit bergeser dari zaman jahiliyah. Mungkin kalau ilmu sakti ini diterapkan sejak dulu, saya nggak bakal sebahlul sekarang. …

Kalau ilmu tersebut dipatrikan di dalam batok kepala generasi muda sejak dini, di masa depan kita bisa menemukan generasi yang bervisi luas; Generasi yang bakal berdiskusi tanpa ad hominem Karena mereka paham bahwa Nggak ada gunanya menyerang orangnya  

 

[Catatan: Tepat pada saat tulisan ini hendak kami tayangkan, kami tengok kembali tulisan sang blogger misterius. Rupanya ia telah menyadari kesalahannya ini. Ia berkata: “Jikalau pernyataan diatas dianggap sebagai sebuah ‘penyerangan’ terhadap pribadi, maka dengan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada sang penggagas pacaran islami, dan semoga Allah SWT mengampuni saya maka dengan ini pernyataan diatas saya tarik.” Alhamdulillaah. Tentu kami memaafkan kesalahan tsb.]

5 responses

  1. Ping-balik: KEMUNDURAN ISLAM ( PART 2) « hamba

  2. Dugaan Mihael kurang tepat. Sang blogger “misterius” masih belum sepenuhnya belajar menghindari kekeliruan. Ia malah sibuk cari-cari kesalahan.

  3. Ping-balik: Perlukah logika untuk memahami Syariat Islam? « M. Shodiq Mustika

Komentar ditutup.