Shahihnya Hadits Yang Membolehkan Berduaan

Seorang wanita [non-muhrim] dari kaum Anshar telah mendatangi Nabi saw., lalu beliau berduaan dengannya. (HR Bukhari & Muslim dari Anas bin Malik r.a.) Inilah salah satu dari hadits-hadits shahih yang terlupakan (jarang diungkap kepada publik).

Hadits tersebut dimuat di Shahih Bukhari, kitab “Nikah”, bab “Sesuatu Yang Membolehkan Seorang Pria Berkhalwat dengan Seorang Perempuan di Dekat Orang-orang”, jilid 11, hlm. 246. Hadits tersebut juga dimuat di Shahih Muslim, kitab “Keutamaan Para Shahabat”, bab “Keutamaan Kaum Anshar”, jilid 7, hlm. 174.

Kebanyakan ulama sepakat menetapkan bahwa dari segi sanad (periwayatan), derajat hadits yang paling tinggi (paling shahih) adalah yang dimuat di Shahih Bukhari dan sekaligus Shahih Muslim. (Peringkat kedua adalah yang dimuat di Shahih Bukhari, tetapi tidak dimuat di Shahih Muslim. Peringkat ketiga adalah yang dimuat di Shahih Muslim, tetapi tidak dimuat di Shahih Bukhari.) Jadi, keshahihan hadits tersebut amat sangat meyakinkan dan tidak meragukan sama sekali.

Lantas, apakah dengan shahihnya hadits tersebut, engkau boleh berduaan dengan pacarmu sebebas-bebasnya? Tidak! Imam Bukhari mengatakan secara tersirat (dari judul bab yang memuat hadits tersebut) bahwa berduaan itu boleh dengan syarat “di dekat orang-orang”.

Apa yang dimaksud dengan “di dekat orang-orang“? Mari kita simak penjelasan Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya, Fathul Bari. Kitab ini kami pilih karena kitab inilah yang secara luas diakui sebagai kitab terbaik di antara kitab-kitab yang menjelaskan hadits-hadits shahih Bukhari.

Menurut Ibnu Hajar, “di dekat orang-orang” itu maksudnya keadaan mereka berdua “tidak tertutup dari pandangan orang lain” dan suara pembicaraan mereka “terdengar oleh orang lain” walaupun secara sama-samar (sehingga isi pembicaraan mereka tidak diketahui oleh orang lain). Lebih lanjut, Ibnu Hajar menerangkan, “Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa pembicaraan dengan non-muhrim yang bersifat rahasia tidaklah tercela dalam agama jika aman dari kerusakan [lantaran zina dan kemunkaran lainnya].” (Fathul Bari, jilid 11, hlm. 246-247)

Atas dasar itu, kami simpulkan: Kita boleh berduaan dengan non-muhrim bila terawasi, yaitu dalam keadaan yang manakala terlihat tanda-tanda zina, yang ‘kecil’ sekalipun, akan ada orang lain yang menaruh perhatian dan cenderung mencegah terjadinya zina.

Lantas, bagaimana dengan hadits-hadits shahih lain yang menyatakan terlarangnya berkhalwat (berduaan) dengan non-murim? Tidakkah bertentangan? Tidak! Hadits-hadits yang menyatakan terlarangnya khalwat itu bersifat umum. Keumumannya telah dibatasi (ditakhshish) oleh hadits di atas. Dengan kata lain, hadits-hadits tersebut menyatakan: Kita tidak boleh berduaan dengan non-muhrim (tanpa disertai muhrim), kecuali bila terawasi (di dekat orang lain).

Jadi, kalau engkau berduaan dengan pacarmu (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), pastikanlah bahwa kalian berada dalam keadaan terawasi (di dekat orang lain). Adapun ketika kita melihat seseorang berduaan dengan pacarnya (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), seharusnya di antara kita ada yang mengawasi mereka supaya mereka tidak berzina. Jangan malah pura-pura tak tahu atau pun melarang mereka berduaan!

Iklan

80 responses

  1. apa anda tau tidak semua hadits Bukhari dan hadits Muslim shahih.
    Anda menyimpulkan seperti kesimpulan di atas berdasar nafsu anda, bukan berdasar atas pemahaman para ‘ulama yang terpercaya. anda sudah mempunyai pemahaman apa sampai berkesimpulan seperti itu? dan juga saya heran, anda sangat berani mengatakan seperti itu, apa anda tau arti muhrim itu apa?ek di kamus bahasa ‘arab, muhrim itu artinya orang yang berihram. sedangkan wanita yang ada hubungan darah sama kita disebut MAHRAM, TOLONG BEDAKAN.

  2. Adapun ketika kita melihat seseorang berduaan dengan pacarnya (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), seharusnya di antara kita ada yang mengawasi mereka supaya mereka tidak berzina. Jangan malah pura-pura tak tahu atau pun melarang mereka berduaan!

    Siap!

  3. “seharusnya di antara kita ada yang mengawasi mereka supaya mereka tidak berzina. Jangan malah pura-pura tak tahu atau pun melarang mereka berduaan!”

    ato bahkan malah asek nonton orang pacaran…..
    *nglirik diri sendiri*
    hohoho

  4. Ping-balik: Unik Menarik « Aljamaa’ah

  5. @Damar
    Jadi, Anda menganggap keterangan dari Imam Bukhari dan penjelasan dari Hafizh Ibnu Hajar itu dilandasi nafsu? Apa Anda sudah membelah dada mereka dan melihat isi hati mereka?
    Terus, kamus apa yang Anda pakai?
    Muhrim itu bisa berarti orang yang berihram, tapi juga bisa berarti orang yang dengannya kita haram menikah. (Selain bisa disebut muhrim, disebut mahram bisa pula.)

    @manusiasuper
    bagus, itu namanya manusia super sejati

    @hoek
    😉

    @atmo4th
    hehe, bagusnya emang diakrabi ketimbang dimusuhi

    @abeeayang
    yach, ada miripnya
    bedanya, detektif mencari kesalahan, kita mencegah kesalahan

    @Aljamaa’ah
    makasih atas perhatiannya

  6. as..mohon maaf sebelumnya,,anda harus berhati-hati dalm menngambil kesimpulan!!!!!!!!!!!!yang terjadi sekarang ini,yang berduaan itu kadang-kadang tidak ada maksud lain selain untuk mencari peluang untuk berbuat zina,,jangan sampai kesimpulan anda ini bisa menghalalkan mereka muda-mudi untuk dua2an!anda juga turut menanggung akibatnya!

  7. pak shodiq hanya berusaha menyampaikan apa yang dia anggap benar. apabila kesimpulan dia “disalahgunakan”, maka tentu saja itu adalah dosa si pembuat dosa.

  8. hadis di atas jangan jadi alasan utk bolehnya berkalwat/ pacaran..
    jelas beda!!!
    haram pacaran dekat/ jauh dgn orang2.
    jangan samakan nabi dengan kita … jauh beda…
    “hati ini lemah sedangkan syubhat menyambar-nyambar”
    muslimah tadi menanyakan suatu soal/ mencari ilmu…
    wallahu ‘alam. Tanyakan pada pr ahli hadis…
    jadi jangan ambil kesimpulan sendiri…

  9. @Abu Ahmad

    Nah loh…bukankah anda juga suka menarik kesimpulan sendiri…
    Dengan mengatakan kalo pacaran = khalwat
    Padahal udah jelas2 banyak yg pacaran ga khalwat ga zina, tapi ko keukeuh bilang gitu 😀

    Btw, definisi khalwat menurut anda apa ya…kan ga semua khalwat = haram

    Wassalam

  10. @ vg & abu hammad
    Saya tidak membuat kesimpulan sendiri. Kesimpulan tersebut pada dasarnya dikemukakan oleh Abu Syuqqah, ulama Ikhwanul Muslimin, berdasarkan keterangan dari Imam Bukhari dan penjelasan dari Hafizh Ibnu Hajar.

    @ adit & kaezzar

    Terima kasih, komentar kalian telah sering mewakili suaraku. Silakan terus menanggapi komentar-komentar dari saudara-saudara kita seperti itu.

  11. wah..wah..wah….kayaknya mau mencari celah untuk membenarkan pacaran nih artikel…..

    sayang, harusnya fair dan dia nyatakan pula puluhan hadits lainnya tentang haramnya khalwat dengan lawan jenis yang bukan muhrim….

    gak fair donk menyimpulkan kebolehan suatu aktivitas hanya dari sebuah hadits (kalopun yang dinukil tadi benar-benar hadits….). Apalagi menyatakan hadits tsb menasakh (menghapus) puluhan hadits shahih lainnya. Sungguh ungkapan ini harusnya didukung ungkapan mufasir, muhadits, mujtahid, bukannya orang awam kayak kita atau ulama’ pada umumnya…
    Padahal hadits-hadits tentang larangan khalwat dengan lawan jenis jauh lebih spesifik penunjukannya (qath’i dilalah) dibanding hadits yang disebut di atas (kalopun yang dinukil tadi benar-benar hadits….)

    Trus, tentang pacaran…., apa sih definisi pacaran ???? dalam Islam ada mekanisme ta’aruf dan khitbah untuk mengawali proses sebelum menikah. Itu pun sudah jelas batasannya, harus dengan muhrim atau teman si wanita dan dilarang berduaan…. nash tentang hal ini pun sudah sangat jelas….

    Kalo mau memperistri ketika masih mau berkenalan saja sudah dilarang berkhalwat (berduaan) dan harus dengan muhrim apatah lagi yang cuman pacaran yang belum tentu niat untuk menikah dan coba coba dulu saja ????? haram donk…..

    Hendaknya kita tak mudah pula menyimpulkan suatu hadits meskipun telah disyarah oleh seorang ulama’…

    wallahul muwafiq….

    Belum baca tulisan-tulisan lain di situs ini, ‘kan? Semua yang kau persoalkan itu sudah ada jawabannya (atau pun rujukannya) di sini. Silakan cari (dan telusuri) dulu daripada komentarnya ngalor-ngidul.

  12. Pak Mushoddiq…
    Saya termasuk orang yg rajin baca2 artikel anda..
    Tapi sayang…
    sampai sekarang yg saya dapati hanyalah kesimpulan2 anda yg keliru..
    Apa benar Imam Bukhari membolehkan pacaran..?
    Kebolehan berkomunikasi dgn non-mahrom secara terawasi koq sekonyong-konyong membolehkan pacaran versi bapak…?

    Tidak pernah saya jumpai bapak menjawab dgn qath’i..
    semuanya bias dan “dipaksakan” jadi dalil pembenaran pacaran Islami…

  13. Ibnu yang rajin baca artikel saya..

    Pertama, nama saya bukan Mushoddiq, melainkan M Shodiq Mustika, dengan nickname muhshodiq.

    Kedua, kesimpulan saya mana sajakah yang keliru? Silakan luruskan!

    Ketiga, Anda keliru menyimpulkan. Saya tidak pernah mengatakan bahwa Imam Bukhari membolehkan pacaran. Silakan baca kembali dengan lebih cermat.

    Keempat, “kebolehan berkomunikasi dgn non-mahrom secara terawasi” itu tidak sekonyong-konyong menjadikan Abu Syuqqah “menetapkan bolehnya bercinta sebelum khitbah”. (“Bercinta sebelum khitbah inilah yang kami maksud sebagai pacaran islami”.) Bukan saya orang pertama yang menyatakan hal ini. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/04/11/12-alasan-mengapa-bercinta-sebelum-menikah/ dan http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/

    Kelima, apa yang Anda maksud sebagai qath’i (jelas)? Apakah sesuatu yang belum jelas bagi Anda tergolong tidak qath’i, padahal sudah jelas bagi kebanyakan orang (yang berakal sehat)?

    Keenam, saya belum mengerti bagaimana Anda bisa beranggapan bahwa semua jawaban saya bias dan tidak qath’i. Sebetulnya, saya selalu menyebutkan rujukan saya supaya pembaca bisa mengecek sendiri apakah yang saya sampaikan itu qath’i ataukah tidak.

    Ketujuh, untuk contoh, mari kita perhatikan qath’inya hadits yang membolehkan berduaan pada artikel ini.

    Seorang wanita [non-muhrim] dari kaum Anshar telah mendatangi Nabi saw., lalu beliau berduaan dengannya. (HR Bukhari & Muslim dari Anas bin Malik r.a.)

    Hadits tsb jelas-jelas menggunakan kata “khalwat” (berduaan), bukan kata lain! Silakan periksa!

  14. 1) Mungkin yang dimaksud qath’i oleh akhi Ibnu itu “tegas” dalam arti “seruan” seperti “Wahai muda-mudi Islam, janganlah kalian berpacaran! Jangan membantah! Titik!”

    2) Ana memandang, gaya penulisan ustadz Shodiq (yang sepintas lalu kurang ‘tegas’) itu pertanda bahwa beliau berhati-hati, suatu sikap yang biasanya terdapat pada ulama-ulama yang ilmunya telah mendalam.

    3) Tanpa bukti, akhi Ibnu menuduh artikel ustadz Shodiq tidak qath’i. Lagi-lagi penentang pacaran islami menuduh tanpa bukti yang kuat. Na’udzu billah min dzalik.

  15. Ping-balik: Sentuhan sebagai Ekspresi Cinta (Menurut Sunnah Nabi) « Pacaran Islami

  16. apakah benar di buku shahih bukhari ada kitab “Nikah”, bab “Sesuatu Yang Membolehkan Seorang Pria Berkhalwat dengan Seorang Perempuan di Dekat Orang-orang”? jika benar, tentunya makin kuat saja argumen pak shodiq.

  17. pengamat yang adil tentu mengakui kuatnya argumen ustadz Shodiq

    sayangnya, kebanyakan penentangnya telah apriori lebih dulu; akibatnya, “pintu hati nurani” mereka tertutup

  18. untuk yang sudah baca shahih bukhari, mohon konfirmasinya ya, bahwa di situ ada bab “Sesuatu Yang Membolehkan Seorang Pria Berkhalwat dengan Seorang Perempuan di Dekat Orang-orang”

  19. diam itu emas
    apa yang anda semua disini katakan akan dipertanggungjawabkan
    apalagi jika orang terpengaruh dengan tulisan kita

    semoga ALLAH memaafkan kita

  20. @prima
    Pepatah “diam itu emas” bukanlah ajaran Islam.
    Sabda Rasul, “qul khayran aw liyasmut”. Berkatalah yang baik atau lebih baik diam. Jadi, kita diperintahkan untuk bicara yang baik lebih dahulu. Kalau tidak mampu bicara yang baik, barulah kita diperintahkan untuk diam.

  21. simpulan yang perlu dikaji ulang kang

    Silakan kaji ulang. Imam Bukhari, Hafizh Ibnu Hajar, dan Abu Syuqqah itu manusia biasa yang mungkin saja berkata keliru. Hanya saja, tidakkah kita yang tidak lebih ahli daripada mereka pun berkemungkinan keliru pula? Silakan periksa kitab-kitab beliau-beliau itu.

  22. @prima
    “diam itu emas
    apa yang anda semua disini katakan akan dipertanggungjawabkan
    apalagi jika orang terpengaruh dengan tulisan kita

    semoga ALLAH memaafkan kita”

    Untukmu agamamu, dan untukku agamaku, pa itu yang lebih pantas kita ucapkan sesama muslim??

  23. pak, saya ingin bertanya arti dari kata “khalwat”. apakah itu berarti menyendiri? contohnya, berkhalwat dengan seorang perempuan berarti berduaan di mana tidak ada siapapun di sekeliling, contohnya di kamar. nah, apabila di keramaian, apakah masih bisa disebut khalwat?

    terima kasih. wassalam.

  24. dimana – mana kage ade yang namanye pacaran bang!!!! ente ustad ape guru ” NGAJI” ( Ngajak Jina )….. berdua bole aje klo darurot bang
    klo ketemu berdue tar pegang2an lagih????

    waduh pendapet ente rade bener tapi perlu kayaknye dibenerin lagi tuh….. jangan lupe ..La takrobuzzina……

  25. @ ikhsan

    Ya, “khalwat” adalah “menyendiri”. Namun, “menyendiri” yang dimaksud itu tidak hanya di tempat sepi dimana tidak ada siapapun di sekeliling, tetapi juga mencakup “menyendiri” di dekat orang-orang sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang kita bahas di sini.

    @ hamba allah

    Menurutku, hukum ikhtilat (percampur-bauran) itu sama dengan hukum khalwat, yaitu boleh “bila terawasi”.

    wassalam.

    @ adi

    Wah, tanggapanmu gimana sih?
    Postingan ini ‘kan topiknya hadits mengenai berduaan, bukan pacaran!
    Haditsnya shahih, riwayat Bukhari.
    Apakah kau menganggap Bukhari itu imam ”NGAJI” (Ngajak Jina)?
    Na’uudzubillaah min dzaalik.

  26. bukankah shahih bukhari hanya sampai jilid 9??

    # ^ a b (id) Achmad Sunarto dkk. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid I. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Desember 1991.
    # ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid II. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Maret 1993.
    # ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid III. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Februari 1992.
    # ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid IV. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Maret 1993.
    # ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid V. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Mei 1993.
    # ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid VI. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Juli 1993.
    # ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid VII. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Juli 1993.
    # ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid VIII. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Juli 1993.
    # ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid IX. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Juli 1993.

  27. @ hamba allah

    Ya, ternyata lain penerbit, jumlah jilidnya berbeda.

    Yang di link tsb (mungkin juga yg terbitan Asy Syifa), hadits Bukhari itu terdapat di Jilid (Volume) 7:

    Volume 7, Book 62, Number 161:

    Narrated Anas bin Malik:

    An Ansari woman came to the Prophet and he took her aside and said (to her). “By Allah, you (Ansar) are the most beloved people to me.”

    Adapun yang diriwayatkan oleh Muslim dalam link berikutnya adalah sbb:

    Chapter 43 : THE MERITS OF THE ANSAR (ALLAH BE PLEASED WITH THEM)
    Book 31, Number 6102:

    Anas b. Malik reported that a woman from the Ansar came to Allah’s Messenger (may peace be upon him) and Allah’s Messenger (may peace be upon him) stood aside with her and said: “By Him in Whose Hand is my life, you are dearest to me amongst the people.” He repeated it thrice.
    This hadith has been reported on the authority of Shu’ba with the same chain of transmitters.

  28. sekarang pertanyaannya, apakah berduaan itu dibolehkan hanya jika ada kepentingan tertentu atau tidak?

  29. ikhsan yg kritis,
    maaf, ya, secara metodologis, pertanyaanmu keliru

    dalam muamalah, semuanya boleh kecuali ada dali qath’i yg mengharamkannya

    jadi, pertanyaan kita mestinya: adakah dalili qath’i yg mengharamkan berduaan bila tidak ada “kepentingan tertentu”?

    namun sebelum pertanyaan ini dijawab, mestinya diperjelas dulu apa yg dimaksud dg “kepentingan tertentu”;
    lalu kalau tidak ada “kepentingan tertentu”, aktivitasnya apa?

  30. baiklah pertanyaannya saya ganti, hehe. apakah ada dalil yang mengharamkan interaksi lawan jenis tanpa kepentingan tertentu? kepentingan tertentu di sini maksudnya dagang, belajar, dsb. apakah boleh berinteraksi dalam jalan2, makan2, dsb.?

  31. @ ikhsan

    apakah ada dalil yang mengharamkan interaksi lawan jenis tanpa kepentingan tertentu? kepentingan tertentu di sini maksudnya dagang, belajar, dsb.

    Sejauh pengamatan kita, tidak ada dalil yang mengharamkannya. Alih-alih, justru ada hadits shahih yang menyebut adanya interaksi ‘sepele’ yang berupa ‘sekadar mampir‘. “Adalah Nabi saw. setiap kali lewat di dekat Ummu Sulaim, beliau singgah menemuinya.” (HR Bukhari dari Anas r.a.)

    apakah boleh berinteraksi dalam jalan2, makan2, dsb.?

    Perhatikan, hadits di postingan ini menunjukkan berkhalwatnya Nabi saw. di jalan.

    Syeikh Abu Ni’mah al-Anqarawiy berkata: “Adapun mengenai makannya Nabi saw. bersama Ummu Sulaim, maka para ulama memperbolehkan seorang wanita makan bersama laki-laki ajnabi [nonmuhrim]. …” (Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 2, hlm. 346)

  32. lalu bagaimana dengan dalil2 yang digunakan oleh para penentang interaksi leluasa antar lawan jenis, seperti:

    “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka
    (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir
    …”(al-Ahzab: 53)

    apakah dalil tersebut bisa menunjukkan keharamannya?

  33. alhamdulillah ternyata kit semua masih peduli mengenai masalah ini ..
    stop…… !!! gini aja, klo qta dibingungkan dgn pendapat orang2,skr pake akal aja..pada umumnya kegiatan yang ada dalam ” pacaran ” itu banyak mudharat ato manfaatnya ? klo bnyak mudharatnya ya lebih baik jangan dech…klo dah siap langsung aja MENIKAH oke.. !

  34. @ ikhsan

    Perintah tsb ditujukan untuk ikhtilat dg istri Nabi, bukan untuk semua orang. Jadi, dari segi dalalahnya, ayat tsb tidak qath’i. Karena tidak qath’i, maka dalil tsb tidak memadai untuk untuk mengharamkan ikhtilat.

    Selain itu, di buku Kebebasan Wanita jilid 3, Abu Syuqqah mengemukakan bukti-bukti kekhususan perintah tsb. Ia menjelaskannya panjang-lebar dalam satu bab tersendiri di jilid tsb.

    @ mas_yer

    Benar, Mas. Kalo mudharatnya lbh banyak, gak usah pacaran. Tapi kalo manfaatnya lbh banyak, boleh dong pacaran secara islami!

    Btw, topik postingan ini “berduaan”, bukan pacaran. Lebih baik kita fokus saja yah!

  35. Ping-balik: Kalau memang serius menjalin hubungan « Pacaran Islami

  36. “Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)

    Pak M Shodiq,,Bagaimana pendapat bpk mengenai hadist diatas?

    Mohon penjelasannya.

    Syukron.

  37. Pada dasarnya hadits tersebut sudah benar hanya pemahaman kita masing2 saja yang kadang salah, jika memang pacaran tersebut tidak berbau zina/tidak menyalahi aturan agama dan lebih banyak hal positif yang anda dapat kenapa harus dibilang haram. jadi semua itu tergantung kita kan pacaran bukan berarti kita jalan berdua ketempat2 hiburan,mall,bioskop,atau taman bisa kita gunakan untuk pergi ketempat2 pengajian atau ketempat2 yang bernilai religi. jadi pada intinya kita sendirilah yang harus menjaga sikap,perbuatan,caraberfikir,dll bagai mana caranya berpacaran yang tidak menyalahi aturan agama.
    dijaman sekarang ini memang jarang sekali ditemui orang berpacaran tanpa berpelukan, bergandengan tangan, bahkan ciuman atau yanglebih parah lagi, tapi jangan menganggap semua orang yang berpacaran seperti itu, oleh karena itu landasilah jiwa anda dengan aqidah dan pengetahuan agama. jaman sekarang bukan hanya orang pacaran saja yang bisa berpelukan, gandengan, atau ciuman perttemanan saja banyak yang seperti itu.

    So itu semua kita sendiri yang harus menyadari bagai mana caranya untuk menghindarinya

  38. Sedangkan dlm Al – Qur’an aja kita disuruh menundukkan pandangan, apalagi pacaran!!kuat mana Hadist Bukhari n muslim sama Al – Qur’an!!…klu tujuannya nikah kan bukan pacaran lagi namanya…itupun ditemani muhrim wanita….ana takut islam itu dihancurkan penganutnya sendiri…..

  39. bgs bgt isi nyaa icah sukaa…………aplg tntng pcaran skrng ini byak bgt yng sl;ah mengartikan nyaaaaaaa
    mudah-mudahan dengan baca’an ini semua anak muda khudud nyaa anak muda ialam tau apa itu pacaran………

Komentar ditutup.