Konsultasi: Bila Dia Nggak Mau Pacaran

Tanya:

assalammualaikum…. saya upi 20taon

sdh sjk 1th yang lalu saya menyukai laki2 yang menurut saya dy adalah laki2 yang sholeh… dy tahu perasaan saya, tapi saya ragu dg perasaan nya dan sekalipun tak pernah saling sapa apalagi mengobrol. . pernaha suatu ketika saya memergoki dy sedang memandang saya,kejadian itu sudah lbh dari2x,, kmdian saya bertanya pd shbtnya apakah dy jg menyukai saya,, dan shbtnya bilang dy jg menyukai saya tapi tdk maw berpacaran,dan hanya maw lgsg menikah..saat itu hati saya lgs runtuh seketika,,, memang apa yg dmaksud dg pacaran?sdg menrut pqran saya pacaran [yg islami] itu adl jalan utk saling mengenal lbh dkt tanpa saling berbuat yang dilarang agama,,, apakah seorg muslim yang baik tidak blh berpacaran?

Jawab:

Wa’alaykum salamm Dik Upi. 

Percintaan pranikah itu boleh. Bahkan, Abu Syuqqah (seorang ulama terpercaya dari Ikhawanul Muslimin) menganjurkannya.

Besar kemungkinan, si dia itu nggak mau pacaran karena salah paham. Mungkin dikiranya pacaran itu haram. Karena itu, saranku: Melalui sahabatnya itu, tunjukkanlah print-out empat artikel berikut ini (lengkap beserta komentar-komentarnya):

  1. http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/
  2. http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/
  3. http://pacaranislami.wordpress.com/2007/06/01/gaya-pacaran-yang-paling-efektif/
  4. http://pacaranislami.wordpress.com/2007/04/11/12-alasan-mengapa-bercinta-sebelum-menikah/

Kemudian, beri dia kesempatan untuk merenungkan isi empat artikel tersebut selama beberapa hari. Setelah itu, berdiskusilah dengannya disertai orang ketiga yang netral. Kalau hasilnya positif, akan mudahlah jalan kalian untuk menempuh jalan pacaran islami. Kalau hasilnya negatif, lebih baik kau menunda dulu (atau bahkan membatalkan) PDKT-mu kepadanya ini, karena sekarang bukan Saat Terbaik untuk PDKT.

5 responses

  1. pacaran jelas gak boleh.jls dlm al quran laa taqrabu zina.jgn dkati zina.
    kl mw nikah,masa pknalan msg2 pribadi lewat ta’aruf.bila krg cocok blh tdk dlanjutkan ke jenjang pnikahan.yahdinallah akhi.

  2. pacaran cuma istilah. yang penting prakteknya. kalau tidak melanggar syariat dan dengan tujuan ta’aruf, maka pacaran itu boleh2 saja.

  3. wah.. tulisan bunda yurida ada benernya juga tuh!!
    met kenal sesama bunda yaa…
    semoga menjadi pencerahan bagi kita! & tidak menjadikan pendapat satu dengan lainnya lebih baik atau tidak,
    insya Allah..

    “Segala bentuk pacaran mendekati zina” merupakan pendapat manusia (hasil ijtihad).
    “Pacaran Islami tidak mendekati zina” merupakan pendapat manusia
    (hasil ijtihad) juga.

    “… tidak ada sesuatu yang maksum (terpelihara dari kekeliruan dan
    dosa) selain apa yang telah dipastikan datangnya dari Allah SWT dan
    Rasul-Nya. … Karena itu,.. setiap orang –kecuali Rasulullah saw.–
    perkataannya boleh diikuti dan boleh pula diabaikan, walaupun mereka mengaku lebih unggul dari yang lainnya di dalam memperoleh petunjuk, cahaya, dan kebenaran.” (Yusuf Qardhawi, *Fiqih Praktis bagi Kehidupan Modern*, hlm. 138, 140)

    “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
    kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya).” (an-Nisa’: 59) “Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan kita untuk
    merujuk kembali kepada hati, perasaan, atau ide pemikiran kita.”
    (*Ibid.*, hlm. 139) “Sesungguhnya malaikat memiliki bisikan dalam
    hati anak Adam, dan begitu juga syetan.” (HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i,
    dan Ibnu Hibban). Sedangkan orang yang tidak maksum tidak
    bisa “membedakan antara bisikan malaikat dan bisikan setan”.
    (*Ibid.*, hlm. 127)

    Hadits “mintalah fatwa kepada hatimu…” tidak berlaku umum, tetapi
    untuk “peristiwa tertentu dan bagi seorang individu tertentu pula.”
    (*Ibid.*, hlm. 139) “Al-Ghazali pada poin ini menyebutkan bahwa tidak semua hati dapat diterima fatwa hukumnya. … Hati yang dapat diakui adalah hati seorang alim yang mengerti kondisi secara detail. Lalu iaadalah seorang alim ulama yang mampu menguji hakikat segala sesuatu.
    Hati yang sedemikian jumlahnya amat sedikit.” (*Ibid.*, hlm. 132)
    Namun, sekalipun fatwa ‘istimewa’ ini dapat diterima, statusnya
    tetaplah ‘pendapat manusia’ yang mungkin salah, di samping mungkin benar. (Lihat *Ibid.*, hlm. 138-140.)

    Sekarang, pihak penentang segala bentuk pacaran dan pihak pendukung pacaran islami telah mengemukakan dalil masing-masing. Bingung mau mengikuti pandangan yang mana? Jujurlah kepada diri sendiri!
    Perhatikanlah secermat-cermatnya argumentasi manakah yang lebih dekat dengan kandungan Al-Qur’an dan As-Sunnah, lalu ikutilah yang lebih dekat itu! Jangan bersandar pada perasaan atau pun pendapat pribadi!
    Jika anda sudah mengikuti suatu pendapat yang (dalam pengamatan
    cermat anda) lebih dekat kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi
    kemudian mendapati argumentasi lain yang menunjukkan bahwa pendapat lainlah yang lebih dekat kepada kandungan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah pandangan lama dan ikutilah pendapat lain tsb!

    Takut dosa bila salah pilih? Jangan takut! Nabi saw. bersabda, “Hakim [orang yang memutuskan hukum] bilamana berijtihad lalu hasil ijtihadnya tepat [dalam pandangan Allah], maka baginya dua pahala; dan jika hasil ijtihadnya salah [dalam pandangan Allah], maka baginya satu pahala.” (HR al-Hakim) Kesalahan hasil ijtihad ini tidak membawa dosa karena Allah “mengampuni kesalahan mereka”. (*Ibid.*, hlm. 140).
    Mengapa diampuni? Karena “Allah tidak membebani orang di luar
    kemampuannya.” (al-Baqarah: 286)

    Walallahu bi sawab

  4. @bunda
    Bunda Yurida itu tergolong pendukung, bahkan penganjur dan penyiar pacaran islami. Bunda Yurida sudah menerbitkan beberapa buku pacaran islami, termasuk karya ustad Shodiq Mustika.
    Saya ikut senang bahwa sebagaimana para pendukung pacaran islami, bunda pun mengakui bahwa hasil ijtihad itu tidak mutlak benarnya. Jadi, bunda dan para penentang pacaran islami tidak bisa memaksa kita untuk tidak pacaran. (Para pendukung pacaran islami pun tidak dapat memaksa kita untuk pacaran sebelum menikah.)

Komentar ditutup.