Konsultasi: Cara PDKT ama Akhwat Aktivis

Tanya:

Assalamualaikum wr wb

Wah, Pak Shodiq buka konseling…congrats pak, moga2 banyak bawa berkah…aaamiiin

Mau jadi pasien ni pak. Gimana cara PDKT ma akhwat tipe aktivis yg ga mo kenal istilah pacaran dkk? kan rada susah… Kalo pake cara standar kayaknya bakal mentah (belom diuji si, tp gelagat anaknya tipe “sayap kanan: banget pak). Kalo pake cara dia…kayaknya saya yg susah, ga bisa “bebas” (baca: insya Allah masih dalam batas syar’i) Dilepas? waduuh jangan dong, blom usaha ni…kalo dah ditolak ntar baru cari lagi he.. Boleh minta opininya Pak Shodiq?

Wassalam

Jawab:

Wa’alaikum salam wr wb … aaamiiin

Ya, bener. Emang rada susah PDKT ama cewek bertipe gitu. Tapi untungnya, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Nih, beberapa jalan yang kusarankan untuk kau tempuh:

Pertama, PDKT sedikit demi sedikit. (Dikit-dikit lama-lama jadi bukit.) Biarpun cintamu menggebu-gebu, kendalikan diri! Jangan langsung nunjukin rasa “suka” padanya coz ia bisa langsung menjauh.

Ikut aktif/libatin diri di kegiatannya biar bisa sering komunikasi & jadi lebih deket. (Pepatah Jawa: Witing trisno jalran soko kulino.) Usahakan bahwa pada setiap kegiatan, di mana ada dia, di situ ada kamu (walaupun di mana ada kamu, belum tentu ada dia).

Cari tau dari orang2 yg deket dengannya, apa kesukaannya. Jadikan kesukaannya sebagai kesukaanmu pula. Kalau kau bener2 cinta padanya, tentu kau sukai pula segala yang dia sukai. Komunikasi kalian akan lebih lancar ketika kalian membicarakan hal2 yg sama2 kalian sukai.

Minta tolong dia untuk ikut membantumu menolong orang-orang lain. Misal: katakan padanya, “Aku mau beli buku anak-anak dan menyumbangkannya untuk perpustakaan SD itu. Kuperhatikan, kau tahu banyak tentang anak-anak. Maukah kau menolongku memilihkan buku apa saja yang sebaiknya kubeli?”

Beri perhatian mengenai hal-hal kecil pada dirinya. Contoh: beri dia selembar kertas kecil bertuliskan: “Kayaknya ada dua helai rambut menyembul dari balik jilbabmu. Kau mau merapikan, bukan?”

Sering-seringlah beri dia kejutan berupa “hadiah” yg emang dia butuhin. Umpamanya: bila dia gak masuk kuliah karena sakit, jenguk dia dengan bawakan catatan kuliah yang kau salin dari catatan temannya.

Bila dia sudah terlihat merasakan besarnya perhatianmu padanya dan bertanya-tanya (dalam hati) mengapa kau begitu, maka perlihatkanlah keseriusanmu secara “tak langsung”. Ungkapkanlah terus-terang kepada teman2nya. Contohnya: “Kelak jika Allah sudah membuatku mampu menikah, yang dalam perhitunganku sekitar tiga tahun lagi, si akhwat itulah yang kulamar. Mudah2an saat itu dia berstatus singel.”

Jika setelah mengetahui keseriusanmu itu sikapnya berubah (lebih menjaga jarak), maka tenanglah. Jangan buru2 berkesimpulan bahwa tiada harapan lagi bagimu. Berilah dia waktu selama beberapa minggu (atau beberapa bulan) untuk mempertimbangkannya secara lebih matang. Sementara itu, tetaplah bersikap kepadanya sebagaimana biasanya. Intensitas PDKT-mu tak perlu kau kurangi.

Sesudah itu, bila dia tampak menerima keberadaanmu dengan lapang, ketika itulah kalian bisa berhubungan secara “bebas” (baca: insya Allah masih dalam batas syar’i) walau tidak lewat proses “jadian”. Percayalah, tanpa status “pacar” pun akhwat bisa setia menunggu dilamar pria yang dia kehendaki.

Yg terpenting, makin deketin diri pada Allah dan selalu mohon petunjuk-Nya.

Wassalam.

182 responses

  1. @ arawinda
    Terima kasih atas dukunganmu.

    @ andi saputra
    Kau orang Bogor? Tinggal di mana?

    @ akhwat
    Cara yang saya paparkan di atas itu cukup ampuh bagi banyak akhwat, bukan semua akhwat. Kalau bagi dirimu gak mempan, silakan tulis artikel lain mengenai cara pedekate yang jitu terhadap dirimu.

  2. dicari akhwat,
    kriteria:
    tinggi min 165cm
    kulit putih, hitam manis ga jadi masalah
    pendidikan S1, jurusan apa saja
    karyawan atau mahasiswa
    tarbiyah, non tarbiyah tidak jadi masalah yang penting salih
    domisili bandung/jabar

    ikhwan siap nikah,
    salam

  3. menjalankan perintah agama adalah sesuatu yang berat karena manusia diberikan nafsu yang terkadang bertolak belakang dnegna fitrah manusia, selain itu musuh bebuyutan manusia takkan pernha tinggal diam selalu berusaha menyesatkan manusia, ketika manusia belum mendapatkan mutivasi murni ikhlas karena allah, maka motivasi kepada selain-Nya adalah sebuah keniscayaan yang mutlak diperlukan, sembari ia belajar mengenal dan ikhlas hanya mengharap ridha allah, seperti rasulullah yang menawarkan kekuasaan kepada abu jahal agar ia mau masuk islam,karena abu jahal termasuk orang yang ambisi kekuasaan, dan dilain kesempatan rasulullah menawarkan ghanimah yang melimpah pada seseorang yang ambisi terhadap harta. semoga dengan ikut serta sang cowok yang ingin mendekati akhwat menjadi sebuah sarana ia mengenal tuhannya. tetapi pabila sang akhwat tergoda, maka ia tak layak disebut fatima

  4. assalaamu’alaikum,,

    wah,, aq kok jadi gak mudeng.
    ….Sesudah itu, bila dia tampak menerima keberadaanmu dengan lapang, ketika itulah kalian bisa berhubungan secara “bebas” (baca: insya Allah masih dalam batas syar’i) walau tidak lewat proses “jadian”….

    batas syar’i seperti apa maksudnya? kalau ingin akhwat seperti Fatimah maka berusahalah menjadi ikhwan seperti ‘Ali.

    wassalaamu’alaikum,,

    • @ Miftachudin
      wa’alaykumus salaam
      Ungkapan yang kau tanyakan itu merupakan pengulangan dari ungkapan yang telah disampaikan oleh si penanya di atas. Dan si penanya sudah memahami apa yang dimaksud dengan ungkapan tersebut. Di blog ini pun sudah berulang-kali kami memaparkannya. Di antaranya, “Fiqih Pacaran“.

  5. Hmm…
    Pacaran Islami? Kayaknya kalau udah nikah baru boleh tuh. Kalau belum nikah? He..he..ntar menjadikan Islam sebagai tameng untuk mendekati dong Boss. Asal berkerudung, dengan kosakata arab (akhi ukhti) trus…wah, apa bedanya? Mendingan berkerudung/berjilbab trus menjalankan sunnah, berperilaku shalih dan shalihah atas pemahaman yang benar. Nggak ikut hawa nafsu, atau mencari pembenaran perilaku dengan ayat-ayat. Wah, kasihan tuh ayat…

    • @ duniabaruku
      Pacaran sesudah menikah itu mustahil. Sebab, makna pacaran yang asli adalah persiapan menikah. Kalau ada yang “pacaran” sesudah menikah, maka “pacaran”-nya itu palsu.

  6. Wah .. penting nih soal pacaran..he.he.he.98x

    Ikhwan dan akhwat yang komen galak-galak banget ya?

    Apa emang gitu ya standarisasi kalo udah jadi Ikhwan dan akhwat..

    Sangar banget sih. Apa begitu perintah Allah kali ya? he.he.he

  7. jgn mngharap isteri sprti fatimah jika pribadi blm seperti ali

    ane stuju……
    yang penting niatnya…

    ga boleh qta berubah d depan akhwat doang….
    Mendingan saleh sekalian … Lillahi ta’alaa

  8. aduh ngaco–”
    saya sendiri ‘cukup mengerti’ akan hubungan ikhwan-akhwat,.
    tapi buat artikel ini (dan komen2 yg saya ckup lama bacanya)

    buat batasan..saya pikir semua sudah mengerti,.
    tapi kalo buat tips2 ini..sama saja dengan merusak akhwat itu secara diam2..melabuhkan perasaan yg tidak semestinya kpada akhwat yang niatnya ber-da’wah
    yahh..buat para ikhwan(sy sendiri ikhwan) buat yg ngebet pacaran tapi mengerti syari’at-syari’at Islam maka berpuasa lah
    Rasulullah mengajarkan kepada para pemuda yang ingin menikah tapi belum mampu..bukan dengan mencari-cari celah untuk pacaran dengan dalih Islam begini

    Jazakumullah khairan khatsira

    • @ preemz
      Ana belum ngerti atas dasar apa akhi bersangka buruk bahwa ini “ngaco… mencari-cari celah … dengan dalih Islam”. Ana menduga, akhi khilaf lantaran belum sepenuhnya membaca tulisan-tulisan lain yang terkait dengan artikel ini. Semoga Allah Sang Maha Pengampun mengampuni kekhilafan akhi tersebut. Aamiin.

  9. afwan akh
    saya sudah membaca artikel tsb dari awal sampai akhir juga semua komen2 nya
    hmm..
    bukan berprasangka buruk akh..
    cuma yahh..tulisan ini tidak ditujukan untuk para aktivis da’wah Islam yg msh di masa-masa di mana jiwa masih labil..arti lainnya ketertarikan dengan lawan jenis masih kuat..
    dan dengan tulisan ini..di mana para aktivis yang awalnya niat untuk berjihad di jalan Allah SWT tetapi di tgh jalan ada setan yg menghadang, akan memperkuat para aktivis2 kita untuk merubah niat mereka

    intinya akhi..yang namanya aktivis..tujuannya 1: berjihad di jalan Allah
    bukan dengan selingan mencari ‘calon istri’ di kemudian hari

    • @ preemz
      Ooo… Kalau begitu, ada perbedaan sudut pandang diantara kita terhadap fenomena asmara. Bagi akhi, asmara dapat menyimpangkan niat berjihad di jalan dakwah. Bagi ana, asmara bisa mengukuhkan niat jihad di jalan ilahi. Tentu saja, asmaranya bukanlah sembarang asmara, melainkan yang islami, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim di halaman Fiqih Pacaran.

  10. wahwah
    saya sudah baca Fiqih Pacaran yang akh shodiq barusa berikan link nya.
    nah akh..tulisan ttg Fiqih Pacaran itu menurut saya untuk orang2 yang sudah siap menikah
    bukan dengan AKTIVIS ISLAM.

    “Bagi ana, asmara bisa mengukuhkan niat jihad di jalan ilahi. Tentu saja, asmaranya bukanlah sembarang asmara, melainkan yang islami
    bisa dijabarkan maksudnya yg saya tebalkan di atas?
    menurut saya ya akh..yang namanya berda’wah tu atas niat Lillah yang artinya : karena Allah. bukan karena Lilakhwat. kalo menurut statement yang akh shodiq barusan katakan saya menangkap bahwa akh berda’wah dengan niatan karena Allah, TETAPI dengan adanya dorongan seorang akhwat.
    anda pikir itu benar?

    • @ preemz
      Kalau memang akhi sudah membaca artikel tersebut, mestinya akhi sudah tahu bahwa cintanya adalah karena Allah. Jadi, dakwahnya pun karena Allah, bukan lilakhwat.
      Cukup sekian tanggapan ana.
      (Sudah tiga kali ana tanggapi komentar akhi. Sekarang, waktu ana hendak ana gunakan untuk kepentingan lain. Maaf.)

  11. wah tidak memecahkan masalah ni
    afwan kalau saya terlihat lebih tau ttg hal ini..saya hanya ingin tau..
    saya tanya lagi utk yg kedua kalinya. Terus maksud ustad shodiq ttg “Bagi ana, asmara bisa mengukuhkan niat jihad di jalan ilahi. Tentu saja, asmaranya bukanlah sembarang asmara, melainkan yang islami”?

  12. assalamualaikum.wr.wb

    Satu masalah utama yang selalu memancing komentar-komentar yang ga’ penting, yaitu kata

    “Pacaran” dan “Pacaran Islami”….

    dari semua artikel dan komentar yang sudah saya baca, karena kata itu yang selalu membuat beberapa artikel jadi bermakna negatif jika tidak dipahami baik2… jika pakai tanazhur mungkin tidak sampai segitunya…
    tapi saya cukup paham alasannya…

    pak, tidak semua orang membaca keseluruhan blog ini…
    saya maklum terhadap orang-orang yang berkomentar “pedas” “cepat” dan “singkat”.

    saya harap bapak juga bisa lebih kalem, lapang dan jelas dalam memberikan tanggapan balik, karena orang yang sejak awal sudah berfikiran keras, akan lebih susah diberi masukan…

    contohnya
    memang benar kalau ada yang mengatakan “rassulullah tidak pernah mengajarkan pacaran”, emang enggak… apalagi konotasi pacaran sekarang buruk dimata islam,

    singkat cerita, mana mungkin Rasul mengajarkan keburukan, apalagi seorang nabi muhammad yang jauh sekali dari citra keburukan… dari kalimat singkat itu, beberapa orang sudah bisa langsung berkomentar dan berkesimpulan…

    padahal yang dimaksud blog ini dengan “pacaran” rasul sangat jauh dengan realita pacaran saat ini…

    terkadang orang yang sudah terlanjur meng”judge” sesuatu dengan keras, diberi link penjelasannya pun bisa malas meng-“klik”…😛

    yah, hanya sebagai masukan saja pak… semoga diberi kesabaran dan jalan yang lebih baik… amin…

  13. Mungkin tanggapan diatas agak salah kamar ya…

    ta’ papa lah pak…hehe

    untuk tulisan bapak diatas, saya maklum dengan saudara preemzz karena (maaf beribu maaf) penulisannya mirip dengan tips di majalah2 remaja dengan tema “bagaimana cara ngedapatin hati si “dia” “.
    jadi seakan-akan memang PDKT nya menjadi terlihat tidak islami…

    dan sebenarnya inti maksud tulisan diatas/goalnya adalah cara mendapatkan calon istri seorang akhwat dengan tanazhur

    karena memang cuma ada 2 jalan yang umum untuk menuju pernikahan yang saya tau,
    ta’aruf seperti dikenalkan lewat uzdtad or kawan, atau tanazhur yang memang sudah bertemu hati dengan hati sebelum menikah…

    nah, maksud dari tulisan diatas ya yang tanazhur…
    Begitu kan pak maksudnya?🙂
    mungkin masalah penulisan tipsnya pak, (maaf)

    buat saya,
    karena kisah Siti Khadijah pun memang simpati dan menaruh hati secara mendalam kepada Rasulullah sejak sebelum menikah pada saat berbisnis dan berinteraksi dengan beliau,

    so, dimana salahnya jika pernikahan terjadi karena adanya pertemuan 2 buah hati dan pendekatan akibat simpati kepada seseorang sehingga menaruh perhatian mendalam dengan tetap menjaga pikiran, pandangan, sikap.
    pasti pernikahan akan menjadi lebih indah…😉

    satu hal yang saya yakini, simpati dan jatuh cinta (tanpa mengikutkan nafsu) adalah fitrah dan karunia dari Allah.SWT, apalagi mampu dikelola dengan baik…

    bagaimanapun jalannya, intinya luruskan niat kita…

    semoga kita semua selalu diberikan jalan yang lurus…amiinn…
    saya sedang bahagia jatuh cinta nih…🙂

  14. penulis maksiat nih…
    ingat ada jalur syar’i yang harus ditempuh untuk ini..
    dan ingat Bahwa PACARAN sebelum menikah itu HARAM dalam perspektif Islam..
    ga ada dan jangan mengada2 adanya pacaran sebelum menikah…
    Islam ga pernah mengajarkan itu…
    dan tolong bagi teman2 yang ingin berkonsultasi..berkonsultasilah kepada para ustadz2..bukan orang yang sok2 ustadz..ntar bisa menyesatkan lo…

    ada proses ta’aruf sebelum menikah,,itu satu2nya jalan sebelum menikah…
    dalam ta’aruf ada jg aturan2nya…
    setelah itu menikah…

    sadarilah teman2 pacaran setelah menikah itu lebih ni’mat dari pada sebelum menikah…
    Pacaran Sebelum MENIKAH hanya akan membawa kepada maksiat…
    mulay dari maksiat hati,,maksiat fiqir, dan kemaksiat yang lebih besar lagi..yaitu zina … Nauzubillahi mindzalik…

    jika ada yang tidak setuju dengan cara yang di ajarkan Islam seperti yang telah saya paparkan sedikit diatas tadi..silahkan hubungi saya… 085624386888…insyaAlloh akan saya tanggapi langsung…

  15. dan ada satu hal lagi yang harus diluruskan disini..
    tak ada yang namanya Pacaran Islami…

    itu mengada2…ana juga sudah pernah baca buku dari Ibnul Qayim at jauziyah ini…
    buku ini diperuntukkan terlebih bagi orang2 yang telah menikah..
    isinya pun menjurus untuk orang yang telah menikah…
    dalam artian kata pacaran yang dimaksudkan pun adalah pacaran setelah menikah…
    bukan sebelum menikah…
    amat disayangkan bila kita berpedoman pada buku ini, tapi kita asal memahaminya…
    dalam artian tidak dipahami dan diamati isi bukunya secara jelas…
    dan dalam artikel ini…buku ini tak dapat di jadikan dasar untuk memberikan jawaban…perhatikanlah kata2 yang ada dalam tanggapan bapak terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh orang yang berkonsultasi diatas…jujur…sangat menjurus kepada ajakan untuk bermaksiat…kasian akhwatnya…kasian juga ikhwan yang berkonsultasi kepada bapak…karena keawamannya, bapak secara tidak langsung menjerumuskan dia…
    jadi tolong jangan asal dalam menanggapi…
    lagi pula…ga da yang buku yang menerangkan tentang FIQH PACARAN..
    jangan sampe ini menjadi bid’ah pak…

    INGAT NERAKA ITU SANGAT DEKAT DENGAN MANUSIA…
    SEDANGKAN SYURGA ITU PENUH DENGAN IKHTIAR DALAM KEBAIKAN UNTUK KITA MERAIHNYA.!!!!

    CAM KAN ITU..!!!

  16. ASSALMU’ALIKUM!!!!!!!!
    Mo berzina ja pake bawa2 nama islam……..
    ribet amat?????
    gitu aja kok repot!!!!!!!!!!!

  17. Ping-balik: Pilih Sungguh-Sunguh Islami ataukah Kelihatan Islami? « M Shodiq Mustika

  18. Perasaan cinta itu adlh fitrah manusia. Alloh memberi manusia akal agar menggunakannya utk dpt membedakan yg baik dan yang buruk.

    Tanggapan saya:
    Buat si penanya:
    1. Utk tjuan apa dia PDKT? Utk menikah ataukah utk berhubungan sperti pemuda-pemudi yg hdp di sistem sekuler ini? Apa memang siap akan menikah?
    2. “Bebas” yg sesuai batas syari’at yg gimana yg dimaksud itu?
    Buat Pak Shodiq:
    Byk bgt hal ingin saya tanggapi atas pertanyaan bpk.
    1. Dlm melakukan aktivitas,khususnya agenda dakwah, biasanya ikhwan dan akhwat paham betul utk ga terlibat jauh dlm mendiskusikan hal2 yg ga urgent, selain itu mereka jg terpisah alias ga ikhtilat. Dg begitu gmn bisa si penanya melakukan hal yg disarankan bpk itu?
    2. Semua kebaikan2 yg ditunjukkan kpd si akhwat seperti meminta memilihkan buku2,dsb bila saya simpulkan bukankah itu merupakan “topeng” bagi si penanya yg kemudian bs aja hal itu dilakukan krn “ada maunya” yaitu utk mendptkan hati si akhwat, dan itu adalah sebuah penjebakan krn apa yg dilihat si akhwat adlah “kebaikan” si penanya.
    3. Kemudian pd saran yg berikutnya yaitu pd “beri perhatian”. Bila demikian saran bpk,apakah itu berarti si penanya ga menundukan pandangannya kpd si akhwat smpe-smpe 2 helai rmbut aja bs kelihatan sm dia?

    Sebenernya msh bnyk lg yg ingin sya tanggapi.
    Bagi si penanya, bila ingin berta’aruf dg si akhwat dg niat menikahinya krn Alloh maka lakukanlah dg jln syar’i.

    Langkah2nya bisa dilakukan dg cara2 sprti di bawah ini:
    1. cari tau dulu mengenai diri si akhwat melalui pihak ketiga yg terpercaya. Bgmn fikrah & nafsiyah (kepribadian) Islamnya.
    2.Bila stlh itu kamu merasa sreg, maka lanjutkan dg mengajukan diri utk berta’aruf dgnnya. Bs dgn mengajukan proposal/ato data dirimu & disampaikan melalui pihak ketiga.
    3. Bila ada balasan darinya mka ta’aruf udh bisa dijalankan dg mencari tau ttg visi misi hdp,kluarga sperti apa yg akan dibangun nanti, gmn pndngan dia mngenai kluarga yg akinah, mawaddah, warohmah, dsb.
    4. Bila diantara kalian udh merasa klop/cocok, maka segeralah temui wali/ortunya utk menghkhitbah/melamarnya mnjdi istrimu.
    5. Bila Alloh memang mentakdirkan dia utkmu, insyaAlloh dia akan mnjadi bidadarimu yg solehah.
    Demikian ikhtiar yg bs dilakukan utk mndapat jodoh yg insyaAlloh dg jln yg syar’i.

    Catatan PENTING:
    1. Dlm berta’aruf ga kan syar’i bila berkhalwat (berdua2an) ataupun ikhtilat (bercampur-baur) antara laki2 dg prmpuan. Bila hendak berdiskusi dgnya scara langsung maka si akhwat hrz ditemani mahromnya ato minimal 2 org akhwat yg dpt dipercaya. Dg demikian insyaAlloh akan terjaga dr bisikan syaitan,dan terhindar dari prasangka buruk/fitnah org lain.
    2. Topik yg dibicarakan jgnlah hal2 yg mnyangkut seperti; kangen, i love u, dan sebgainya yg sjenis krn itu akan dpt meresahkan & mlalaikan hati dr Alloh. Itulah batasan yg insyaAlloh syar’i. Perlu diketahui, bagi seorang akhwat ungkapan tersebut malah akan dirasakan merendahkannya.
    3. Dlm melangsungkan pernikahan & resepsinya/walimatul ‘ursy pun hendaklah dilangsungkan dg cara yg syar’i jg.

    Demikianlah, tanggapan saya. Walopun msh bnyak kekurangannya,namun moga bermanfaat bagi teman2 smua. Yang terpenting LURUSKAN NIATMU ITU SEMATA2 HANYA UTK IBADAH KRN ALLOH SWT 7 DG JLN YG DIRIDHOINYA!

  19. wah, bingung kok ga ada kotak comment nya ya di artikelnya?

    saya tanggapin disini saja ya pak…

    cuma mau meluruskan maksud saya,

    yang saya maksud ” “rassulullah tidak pernah mengajarkan pacaran”, emang enggak… ”
    itu kan emang rasulullah tidak pernah bilang begitu (mengatakan secara gamblang dan jelas untuk pacaran), sehingga sebagian orang memanggap memang tidak ada ajarannya… padahal ya, mksudnya pacaran seperti yang ada diartikel bpak itu lho…

    dan konotasi “pacaran yang buruk dimata islam” adalah pacaran sebagaimana pada umumnya (yang “bermesra2an” berdua, bercumbu2, dsb), jenis yang seperti itu lebih dominan pak dimana2, di sekitar saya masih banyak sekali, saya orang yang hidup di banyak jenis lingkungan dalam waktu yang bersamaan, dan berusaha untuk tetap lurus…

    sehingga hari gini ngebawa kata “pacaran” kearah mana pun memang pasti bakal ada saja pertentangan…

    yah, semoga saja makna pacaran pada umumnya dan aplikasi pacaran akan berubah menjadi lebih baik,
    Semoga apa yang bapak lakukan akan menimbulkan manfaat untuk kita semua n selalu diberi jalan yang lurus oleh Allah… amiiin…🙂

    terimaksih sudah ditanggapi pak, smpe dibuatin artikel jg… hehe😉

  20. sorry bos… yg gw tau akhwat tu bkn cari cowok yg dia suka tapi ada pesan dibalik itu semua. akhwat tu cari orang yg bisa ngebimbing n bentuk keluarga sakinah, mawadah, warohmah dng kata lain ngajak masuk surga. biar lo kulit item… n’ keling lo bisa ko dapetin simpati dia, asal lo tau aja, biar gak usah ribet2 pikirin metode dapetin hati dia pusing broo…

  21. Tiada kata lain
    selain Syaithon menyeru kepada perbuatan fahsya’ wa munkar

    Bagi ikhwan wa akhwat jangan ladeni hal2
    seperti ini…

    tinggalkam saja…
    klo kita ladeni syaithon akan merasa mereka menang karena kita ladeni ..
    hal ga bermutu begini

    • @ Salman
      Alhamdulillaah, aku bersyukur bahwa orang-orang yang mau menerima hidayah Allah semakin banyak. Kini, penentang pacaran islami semakin sedikit sedangkan pendukungnnya semakin banyak. Sekali lagi aku ucapkan: alhamdulillaah….
      Aku pun berdoa semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin.

  22. Salam bagi sumua…
    Tertarik untuk ikut sedikit bicara. membaca koment2 diatas sptnya banyak yg ga stuju dg kata pacaran. [kalo dari awal sudah tdk setuju, berikutnya akan sulit menerima kebenaran ] memang harus diakui beberapa dari saudara kita kurang sreg jika tidak memakai kata yg berbau ARAB(saya tidak mengatakan islam krn islam bukan arab), dalam kasus ini pacaran. mungkin dengan pemakaian kata yg sedikit arab akan mudah diterima penjelasannya. ganti saja kata pacaran / PDKT dengan taaruf, seperti jg kata cewek dg akhwat, kata cowok dg ikhwan.
    Perbedaannya hanya ada pada bahasa. Pacaran slama ini dilarang krn apa yg dilakukan slama proses pacaran. Ta’aruf boleh karena proses pendekatan yang (katanya) lebih santun. Pacaran pun boleh jika prosesnya benar (syar’i) dan ta’aruf pun bisa tdk boleh jika dalam prosesnya menyalahi aturan nabi.
    Rasa suka seseorang terhadap lain jenis adalah fitrah dan rahmat dari yang Maha Penyayang. Kita tidak boleh membuangnya. hanya saja smua itu ada aturan dan ada waktunya.

Komentar ditutup.